
Seperti yang sudah Angel presiksi, berita pertunangannya sudah keluar dan yang paling penting adalah judul artikelnya.
Siapa itu Angel dan apakah percepatan pernikahan mereka karena tunangan Pengusaha Muda Alvaro sedang hamil?
Angel memandang datar judul berita di koran yang terpampang dengan jelas ditangannya. Angel meremas koran itu dan menatap sadis orang di depannya.
Siapa lagi kalau bukan Varo yang pagi-pagi sudah berada di kamarnya dan sekarang berada di meja makan bersama keluargannya.
Suasana hening karena semua orang punya kesibukan masing-masing dan Varo sejak tadi menyangga kepalanya dengan satu tangannya.
"Varo.. ada yang ingin ku bicarakan."
"Katakan, sayang."
Angel menatap cincin di jari manisnya.
"Batalkan acara pernikahan kita."
Hening. Varo yang tadinya tersenyum kini menunjukkan wajah tak bersahabat.
"Baru saja kau bilang apa?."
Angel merinding mendengar suara Varo yang dingin.
"Aku.. belum siap. Apalagi aku juga masih ingin menjalani masa muda ku."
Angel menatap agak ragu Varo yang menatapnya tajam.
"Apa kau tau arti dari perkataan mu sebelumnya?."
"Varo.. aku tau ini mengecewakan mu tapi.. setidaknya lihatlah dari sudut pandang ku. Kita baru kenal terus tunangan. Semua itu bisa ku terima tapi tidak dengam menikah. Apa kau tau apa itu menikah disaat kau hanya berputar-putar pada obsesi mu saja?."
Varo duduk tegak dan menatap tajam Angel.
"Kau melampaui batas Angel."
"Ya. Aku tau. Tapi sebagai seorang dokter mu, aku harus bisa menyadarkan mu jika hubungan kita ini tidak sehat. Varo.. dengarkan aku dulu."
Varo beranjak dari duduknya dan berjalan pergi. Angel mengejar Varo dan menangkap tangannya.
"Varo.. dengarkan aku dulu."
Varo menghempaskan tangan Angel dan itu membuat Angel agak terdorong ke belakang. Varo menatap tajam Angel.
"Kali ini ku maafkan segalanya pagi ini. Jangan bahas ini lagi dan terima saja kenyataan jika kita akan menikah seminggu lagi. Aku tak butuh jawaban mu."
Angel tertegun dengan suara sinis nan tajam Varo yang menghampiri telingannya. Varo pergi dari hadapan Angel dengan kemarahan yang terkumpul.
Angel segera duduk di kursi dan mengepalkan erat tangannya. Angel tak punya kesabaran seluas laut. Angel hanya punya kesabaran sebesar biji semangka.
Kalau sudah begini, Angel malas untuk ke kantor dan bergadapan dengan berkas yang menggunung.
Drrrrrttt Drrrrrttt
Angel tanpa melihat nama si penelepon langsung menjawab panggilan masuk di ponselnya.
"Hal.."
"**Ke kantor. S E K A R A N G **!!!."
tut tut tut
Angel menatap layar ponselnya dengan nanar. Asisten ayahnya sepertinya tau apa yang akan Angel lakukan.
Dengan malas Angel segera bersiap-siap ke kantor.
🏵
Pemandangan pertama yang Angel lihat di meja ayahnya adalah tumpukan berkas. Padahal baru kemarin ia tinggalkan meja itu dengan bersih tanpa ada berkas satupun sekarang sudah dikotori oleh berkas sialan yang harus ia periksa.
Angel membanting tas selempang yang ia bawa ke sofa. Angel kesal setelah melihat tumpukan berkas yang pastinya akan membuatnya lelah.
"Ayah.. aku merindukan mu..."
*Cepatlah pulang dan bebaskan aku dari tumpukan berkas ini T_T..
🏵*
Drrrrrttt Drrrrrttt Drrrrttt
Angel yang fokus dengan berkas terganggu dengan suara getaran ponselnya. Suara getar ponselnya mengganggu konsentrasi Angel. Dengan kesal Angel mengangkat telepon masuk tanpa melihat nama si penelepon.
"Hallo.. dengan Angel sendiri disini. Ada yang bisa saya bantu?."
"Jangan terlalu fokus dengan kerjaan mu sehingga tak mengenali siapa yang menelepon mu."
Angel segera menjauhkan ponselnya dan melihat nama si penelepon.
Varo.
"Ada apa?."
"Kau tak melihat jam?."
"Jam? Ada apa dengan jam?."
Angel melirik jam yang terpajang dengan indah di dekat sofa. Jam 12.22 pm. Jam istirahat. Jam makan siang.
"Apa kau tak ingin makan siang?."
"Sebenarnya kau ingin mengajak ku makan siang atau hanya basa basi saja yang ingin kau ucapkan?."
"Angel.!."
Suara tajam dengan nada rendah Varo menyadarkan Angel dari berkas yang sedang Angel baca. Matilah aku kalau Varo marah dengan ucapana ku.
"Dimaafkan. Ayo makan siang. Katakan kau dimana sekarang dan akan ku jemput segera."
"Tidak usah repot-repot menjemput ku. Katakan saja tempat makannya dimana."
"Aku tak suka penolakan."
"Aku tak suka dipaksa."
".. Fine. Ayo ke kafe XC."
"Oke."
🏵
Kafe XC berada dekat dengan kantor Angel. Sehingga membuat Angel berjalan kaki menuju kafe yang ditempuh sekitar 10 menit dengan berjalan kaki.
Angel segera masuk ke dalam kafe saat melihat Varo yang baru saja masuk ke dalam kafe. Angel tak mau memicu pertengkaran tak berarti diantara mereka.
"Hai.."
Varo tersenyum ke Angel yang duduk di depannya.
"Mau makan apa?."
Varo melihat menu.
"Apa saja asalkan bukan sea food dan sayuran."
Varo terkekeh pelan. Varo memesan makanan yang sama untuk mereka berdua. Tadinya Varo ingin makan udang goreng, tapi ketika ingat wanitanya tak suka seafood membuatnya mengurungkan niatnya.
"Hari mu berat?."
"Tidak."
Angel memeriksa email yang baru saja ia terima.
Angel menatap serius isi dari email yang ia dapatkan.
***From Glen
To Angela Wang
Nona muda, nanti malam akan ada pertemuan dengan para tetua klan. Nona muda harus hadir. Nanti malam salah satu anak buah kepercayaan saya akan menjemput nona muda.
Ah satu lagi. Saya mohon nona datang sendiri tidak membawa "tunangan" anda***.
Angel menatap datar Varo. Alasan apalagi yang harus ia buat agar Varo mengizinkannya keluar malam ini.
"Varo..."
"Hmm.."
Perhatian Varo yang tadinya di ponsel beralih ke Angel yang menatapnya seperti ada yang disembunyikan.
"Nanti malam.. bolehkah aku pergi?."
Varo mengerutkan dahinya.
"Mau kemana?."
"Emm.. itu.. aku mau pergi ketemu sama temen lama. Temen.. seprofesi juga. Bolehkan..?."
"Mau ku antarkan?."
Angel reflek membuat tanda silang dengan tangannya.
"Gak perlu. Ini hanya reuni biasa dengan teman-teman. Aku bisa pergi sendiri dan tau jalan pulang juga."
"Jaga dirimu."
Tumben Varo gak nanya-nanya?. Angel berfikir keras perubahan sikap Varo.
Tak lama kemudian makanan mereka sampai. Mereka makan dalam keheningan.
"..."
Tanpa kata-kata, Varo mengambil piring makanan Angel dan memotong steak Angel menjadi kecil-kecil. Angel tersenyum tipis. Entah kenapa hatinya terasa berbunga-bunga dengan perlakuan Varo padanya.
"Makanlah."
"Makasih."
"Kalau mau berterima kasih, lakukan hal lain selain ucapan."
Angel menatap curiga Varo.
"Aku akan mentraktir mu "
"Aku tak butuh traktiran mu. Aku butuh yang lain."
Angel melirik sekitar. Menghindari tatapan tajam Varo. Kalau Varo sudah menatapnya seperti ini pasti ada udang dibalik gajah.
"Katakan.. kamu mau apa?."
"Berjanjilah.. kau akan mengabulkan apapun permintaan ku."
"Janji."
🏵
TBC
🏵