
Hari itu dan pada saat itu tubuh Angel kembali lemah sehingga membuatnya pingsan. Tak hanya itu banyak yang khawatir dengan sesuatu yang sudah disembunyikan akan terbongkar.
Apalagi dengan Varo yang sejak tadi tak berhenti menghakimi dokter untuk mengatakan yang sebenarnya mengenai keadaan Angel.
Glen sudah menyerah menjelaskan keadaan Angel yang tentu saja bukan yang sebenarnya. Terkadang Glen ingin sekali menembak kepala Varo untuk alasan yang sangat kecil.
Sean yang baru saja datang setelah mendapatkan kabar jika kakaknya kembali pingsan langsung menghampiri tubuh lemah Angel.
Varo masih tetap meminta kejujuran dokter karena merasa jika ada yang disembunyikan oleh Glen dan dokter.
"Kakak.."
Sean memegang tangan kanan Angek dengan hati-hati. Sean menatap kakaknya dengan tatapan kahwatir.
Ini sudah kesekian kalinya Angel pingsan dan selalu mendapat jawaban jika Angel lemah. Glen yang sudah tak tahan dengan keributan yang ditimbukan Varo akhirnya memegang lengan Varo.
"Maafkan saya tuan Varo, tapi.. tolong tenanglah. Anda sudah mendapatkan jawaban dari saya maupun dokter. Tolong.. jangan membuat suasana semakin tegang. Nona baik-baik saja dan hanya butuh istirahat. Tuan bisa tenang."
"Tapi.."
Varo ingin menyangkal omongan Glen tapi langsung dipotong oleh Glen.
"Semuanya akan baik-baik saja jika nona bangun. Jadi.. tolong tenanglah tuan Varo."
Varo akhirnya diam. Glen menatap dokter dengan tatapan penuh arti dan menyuruh dokter untuk meninggalkan mereka.
"Baiklah jika sudah tidak ada yang dipertanyakan tentang kondisi nona. Saya akan undur diri. Jika ada sesuatu yang berkaitan dengan kesehatan nona tolong segera panggil saya."
Dokter pun pamit dan diantar oleh Glen.
Varo yang lelah akhirnya duduk di kursi dan menatap wajah pucat Angel.
Keheningan menyelimuti kamar Angel hingga 20 menit. Tak ada yang berbicara atau menyapa. Semuanya diam dan menunggu kesadaran Angel.
Sean masih setia memegang tangan Angel dan menahan tangis. Takut jika kakaknya tak akan membuka mata lagi.
Sean merasakan gerakan kecil dari tangan Angel yang ia genggam. Mata Angel perlahan membuka dan membuat semua orang tersenyum.
Sean segera berdiri dan berlari keluar untuk mencari dokter. Varo menggantikan posisi Sean dengan menggenggam tangan Angel.
"Angel..?"
Angel menoleh ke arah Varo dan tersenyum.
"Aku baik-baik saja."
Varo membantu Angel duduk. Glen memberikan air minum ke Angel.
Varo membantu Angel minum dan duduk disampingnya.
Sean datang bersama dokter. Segera dokter memeriksa Angel dan tersenyum.
"Keadaan nona sudah jauh membaik. Saya akan memberikan resep obat untuk memulihkan kesehatan nona."
Seperti biasa dokter pergi diantar Glen untuk berbicara mengenai kondisi Angel.
"Maafkan aku telah membuat kalian sedih."
Angel mengulurkan tangannya kepada Sean dan diterimanya dengan baik.
"Maafkan kakak."
Sean yang tadinya hanya terdiam akhirnya menangis dalam pelukan Angel. Angel mengelus pundak Sean dengan perlahan.
"Kakak membuat Sean takut."
"Kakak di sini, Sean."
Acara menangis Sean hampir 10 menit dan akhirnya berhenti karena deheman Glen.
"Maafkan saya nona dan tuan-tuan. Tapi ada sesuatu yang harus saya bicarakan berdua dengan nona."
Merasa terusir Sean dan Varo segera meninggalkan kamar Angel tanpa kata dan diikuti oleh beberapa bodyguard hingga hanya menyisakan Angel dan Glen.
Glen melihat ke belakang untuk memastika jika sudah tidak ada orang lagi.
"Nona.."
"Katakan, Glen."
"Mungkin ini bukan kabar baik tapi kondisi kesehatan nona semakin menurun. Rambut nona juga semakin rontok hari demi hari. Nona juga sering pingsan karena melakukan sesuatu yang melelahkan."
"Aku tau, Glen. Aku tau."
Angel menunduk dab tersenyum kecut mengetahui kondisi tubuhnya yang semakin menurun.
"Maafkan saya nona."
"Tidak apa-apa, Glen. Ini bukan salah mu. Hanya saja.. mungkin memang ini takdir ku. Jangan beritahu ayah sama ibu. Mereka hanya mengetahui keadaan ku melalui surat yang ku kirim. "
"Tapi mereka berhak tau nona."
Angel melihat jendela dengan tatapan kosong.
"Aku tak mau menambah beban. Karena diriku.. ibu dan ayah berpisah dengan anak-anaknya. Bahkan kedua kakak ku saling bermusuhan dan saling melukai. Aku tak mau membuat beban baru lagi bagi mereka. Biarkan saja mereka mengetahui jika aku baik-baik saja."
"Nona..."
Glen menahan tangis saat melihat keadaan Angel.
"Glen.. tolong ambilkan pena dan kertas."
"Nona..."
"Ini sudah saatnya, Glen."
Angel tersenyum dan mau tak mau Glen menuruti nonanya.
Glen pergi meninggalkan Angel sendirian. Angel kembali melihat jendela dan tersenyum kecut.
"Bagaimana penyelidikan mu, Res?."
Angel melihat ke arah balkon kamarnya dan disana berdiri Ares. Dengan langkah pelan Ares memasuki kamar Angel.
"Keadaan mu semakin memburuk."
Ares duduk di sebelah Angel dan mengulurkan dokumen. Angel membuka dokumen itu dan senyuman hambar tercetak di wajahnya setelah membaca isi dokumen itu.
Tidak ada.
Tidak ada kesempatan untuknya hidup lebih lama.
Ares memegang tangan Angel untuk menyemangatinya.
"Semua akan baik-baik saja."
"Ya.. semua akan baik-baik saja."
🏵
Pesta amal kali ini begitu meriah dan dihadiri banyak kalangan. Mulai dari kalangan artis, pengusaha, kolektor bahkan para bos-bos mafia.
Angel datang bersama Sean dan Varo. Tak lupa Glen yang turut ikut membuntuti mereka.
Angel duduk di kursi yang berada di tengah. Dalam sekejab mata kursi-kursi disebelah Angel sudah terisi penuh. Tentu saja pelakunya adalah Glen, Sean, Varo dan anak buah Angel.
"Sepertinya kali ini mereka mengundang musuh."
Angel berbisik ke Glen dan mendapatkan anggukan.
"Sepertinya rumor yang beredar benar. Akan ada pernikahan antar kedua kubu."
"Benarkah? sungguh sesuatu yang mengejutkan."
Angel kembali duduk dengan tegap dan melihat sekitar sambil minum wine. Penglihatan Angel tak pernah lepas dari para tamu. Matanya meneliti satu persatu tamu dan berhenti pada satu orang yang sudah lama tak terlihat.
Tuan Wei.
Merasa diperhatikan, tuan Wei menoleh dan bertatapan mata dengan Angel. Tuan Wei mengangkat gelas wine yang ada ditangannya dan tersenyum.
Angel merasakan sebuah firasat yang tak enak ketika melihat senyuman tua bangka itu.
"Ada apa kak?."
Sean memegang tangan kakaknya karena melihat Angel yang menatap sinis entah ke siapa.
"Ah.. bukan apa-apa. Nikmati saja pestanya selagi bisa."
"Baik kak."
Acara dimulai dari mc membacakan sambutan dan memulai lelang. Ditengah acara ada cincin berlian yang cukup menarik perhatian Angel.
"Baiklah semuanya. Ini adalah barang lelang terakhir. Dapat kalian lihat disini.. Ini adalah Blue Diamond Ring. Kami menawarkan harga mulai dari Rp 134 M."
Para peminat pun langsung menawar harga cincin berlian itu. Awalnya Angel ingin menawar tetapi perasaan gelisah menyelimuti dirinya.
Entah kenapa Angel merasa jika ada yang sedang melihat kearahnya dan benar saja. Tuan Wei tersenyum ke arahnya. Angel menatap tajam tuan Wei yang menurutnya mencurigakan.
Tuan Wei bergumam sesuatu yang Angel tak tau apa yang ia ucapkan. Hanya saja Angel menangkap gerakan bibir yang seperti mengucapkan die.
Angel segera meraih tangan Glen yang masih fokus melihat lelang.
TOK
"Glen.. aku ingin kita segera pergi."
TOK
"Kenapa nona? Acaranya belum berakhir."
Angel khawatir entah untuk apa.
"Baiklah jika tidak ada penawar lagi. Maka Blue Diamond Ring sah milik tuan berjas hijau."
TOK TOK TOK
Setelah ketukan palu ke3 ada sebuah bola menggelinding dari arah belakang dan asap pun terlihat.
Semua orang panik dan segera menyelamatkan diri tetapi semua itu gagal karena ini merupakan gas tidur.
Angel yang sudah berpengalaman segera menutup hidungnya dan menarik pistol yang tersembunyi di dalam gaunnya. Angel menggenggam tangan Sean dan segera menuntunya ke arah jalan keluar sambil menahan nafas.
Tanpa Angel sadari jika semua bodyguardnya sudah tak sadarkan diri ditambah Glen yang tidak ada. Bahkan Varo juga tak ada saking ributnya suasana.
"Sean.. jangan lepaskan tangan kakak."
Sean mengangguk dan menggenggam erat tangan Angel.
Saat Angel akan maju ada seseorang berbaju serba hitam menghadang langkahnya. Gas tidur semakin tebal dan itu membuat konsentrasi Angel terpecah.
Dengan gerakan cepat orang itu menyerang Angel dan mau tak mau Angel melawannya menggunakan satu tangan.
Orang itu terlatih dan membuat Angel kewalahan. Angel akhirnya menendang laki-laki itu hingga terjatuh dan segera melarikan diri bersama Sean.
Saat sampai di dekat pintu keluar Angel melihat banyak sekali orang berpakaian hitam menggunakan masker berdiri tegap dan menodongkan pistol kearahnya.
Sean bersembunyi dibelakang kakaknya. Sean takut dengan keadaan ini. Mereka terpojok.
Angel melirik kanan dan kirinya yang sudah banyak orang tergeletak tak sadarkan diri. Angel melihat lagi orang-orang itu yang mulai bergerak mengepungnya bersama Sean.
Jika saja tubuhnya baik-baik saja mungkin ia bisa lolos. Tapi sekarang keadaan berbeda.
Angel ingat jika di dalam pistolnya hanya ada 4 peluru dan itu membuatnya makin terpojok.
Tak Tak Tak
Ketukan tongkat penyangga beradu dengan lantai membuat Angel mengalihkan fokusnya ke arah suara.
Angel melihat tua bangka yang tadi tersenyum ke arahnya. Angel tau jika ini semua jebakan dan salahnya tetap datang.
"Apa kau suka dengan kejutan ku?.. nona Angela Wang."
Tuan Wei tersenyum mengejek dan itu membuat Angel makin sebal.
"Tutup mulut mu, Wei."
🏵 TBC 🏵