
Stefani tersenyum mengejek keadaan Angel.
"Ternyata kau menutupi atensimu dengan berita kematian palsu mu. Sungguh picik sekali."
Stefani duduk di kursi yang ada di depan Angel.
"Selama 3 tahun ini.. rasanya kau tak berubah sama sekali."
Angel tetap diam. Malas menanggapi hal yang tak berguna. Yang menjadi fokus Angel kali ini adalah bagaimana bisa lolos dari mereka.
Stefani menatap gerak gerik Angel yang sedang menatapnya tapi seperti bukan menatapnya.
"Kau pasti sedang berfikir bagaimana bisa keluar dari sini bukan? Lupakan. Mereka tak akan bisa melacak mu karena kita bukan di China lagi."
Angel menatap tak percaya Stefani. Lebih tepatnya ucapannya.
"A.. apa maksud mu kita bukan di China lagi?."
Stefani berjalan mendekati Angel.
"Aku tak sebodoh itu. Menculik mu dan hanya menyembunyikan mu di China. Itu sama saja dengan bunuh diri."
"Kau ingin balas dendam?."
Stefani memegang rahang Angel dengan kuat.
"Pernahkah kau berfikir sebentar saja tentang Varo yang melepaskan ku dulu? Aku yakin dia tak bilang hal itu pada mu dan aku juga tau kau pasti sudah mengetahui hal itu juga tapi kau diam."
Stefani membelai wajah dingin Angel.
"Dulu mereka menggoreskan sesuatu di wajah ku yang cantik ini. Karena goresan itu juga lah yang membuat ku melakukan operasi plastik."
Stefani mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Sebuah cuter. Angel menatap cuter itu dengan tatapan tajam.
"Kau tak akan melakukan itu."
Angel mulai berontak dari tali yang mengekang pergerakannya.
"Sttt... tenanglah. Ini hanyalah sebuah cuter bukan belati yang dulu menggores wajah ku."
Stefani mendekatkan cuter itu ke muka Angel yang sudah ketakutan akan ketajaman cuter.
Karena merasa sia-sia memberontak, Angel diam saja dan menutup matanya. Alat pelacak darurat sudah ia nyalakan daritadi. Harusnya jika ada anak buahnya di sekitar sini, mereka akan segera mencarinya.
Cuter itu sudah berada di dekat wajah Angel. Semakin mendekat dan..
"Nyonya! Gawat nyonya!."
Seorang pengawal datang terburu-buru menghampiri Stefani.
"Ada apa?."
"Kita.. kita disergap nyonya."
"Sialan. Siapa yang berani mengacau di teritori ku?."
Pengawal itu menunduk takut.
"Saya tidak tau nyonya. Hanya saja mereka menggunakan.. "
Sebelum pengawal itu selesai bicara, kepalanya sudah terpisah dari badannya dan menggelinding.
Stefani berteriak histeris melihat pemandangan di depannya dan langsung jatuh terduduk.
Dibelakang tubuh yang rubuh itu terlihat seseorang berbaju hitam dan masker menutupi wajahnya.
"Kalian lama sekali."
Laki-laki itu segera menghampiri Angel dan melepaskannya.
"Maafkan saya nona. Saya pantas dihukum karena terlambat menyelamatkan nona."
"Lupakan."
Angel berdiri dan menghampiri Stefani.
"Ck.. lihatlah dirimu sekali lagi Fani."
Angel merebut cuter yang ada di tangan Stefani.
"Kau tau.. kau tak pantas mengancam ku apalagi hanya menggunakan cuter kecil ini."
Angel menyingkap bajunya dan mengambil belati yang tersimpan di bawah ketiaknya.
"Kau harus tau. Belati ini lebih tumpul dari cuter mu. Tapi belati ini punya racun yang mematikan."
Angel mendekatkan belatinya ke wajah Stefani dan mengelus wajah Stefani dengan belatinya.
"Aku bukan mereka yang akan melepaskan mu begitu saja."
Angel berdiri dan menyimpan kembali belatinya. Di belakang Angel sudah terdapat puluhan anak buahnya yang memenuhi ruangan ini.
"Ini adalah akhir mu."
Angel berbalik dan akan menyerahkan Stefani ke anak buahnya.
"TUNGGU!."
"Kalau aku harus mati sekarang.. maka kau akan ikut ke neraka bersama ku."
Stefani menyeringai. Angel hanya menatap datar Stefani.
"Apa kau sedang menggertak ku?."
Stefani menciut saat melihat tatapan tak bersahabat milih Angel.
"T..tidak. Aku.."
Stefani mendadak gugup.
"Kita akan mati bersama. Itulah pilihan ku sejak awal. Kau mati maka aku bahagia. Tapi kalau aku yang mati.. maka kau akan ikut bersama ku."
Sebelum Stefani menekan tombol, tangannya sudah tertancap sebuah belati.
"AKHH...."
Tombol itu jatuh dan segera diambil anak buah Angel. Stefani mengerang kesakitan karena tangannya tertancap belati kecil tapi mematikan. Dalam waktu 5 menit jika Stefani tak mendapat pertolongan pertama maka dia akan mati.
"Nikmati sisa hidup mu."
Angel bergegas pergi dari ruangan yang penuh dengan jeritan Stefani.
"AKU MENGUTUK MU ANGEL! KAU TAK AKAN BAHAGIA! SELAMANYA! KAU AKAN KEHILANGAN SEGALANYA! KAKAK MU! KELUARGA MU! DAN KEKASIH MU! INGAT ITU! KAU AKAN DIBUNUH OLEH ORANG YANG KAU CINTAI! AKU MENGUTUKMU DENGAN JIWA KU!."
Angel menulikan kupingnya dari kutukan Stefani. Ia tak perduli dan selamanya tak perduli. Biar takdir yang menentukan akhir jalan Angel.
Saat Angel sudah berada di luar gedung kosong tempat ia disekap, Angel menatap tombol yang ada ditangannya.
"Harusnya aku yang mengutuk mu."
Angel memencet tombol itu dan dalam waktu 10 detik gedung yang tak berpenghuni itu meledak dengan kobaran api yang besar.
.
🏵
Angel syock setelah mengetahui dirinya di Jepang.
"Hah.. makanya kalian yang datang menolong ku."
Angel baru sadar kalau anak buahnya sedari tadi selalu membawa pedang bukan pistol.
"Maafkan kami nona. Kami lalai."
Para pengawal yang pingsan karena asap tidur membungkuk 90 derajat. Meminta maaf akan kelalaian mereka gagal menjaga keamanan Angel.
"Lupakan. Dimana Glen?."
Anak buah Angel melirik satu sama lain karena mereka ragu menyampaikan.
"Yang kami tau.. tuan Glen ditahan.. oleh tuan Varo."
Angel menyipitkan matanya.
"Apa maksud mu?."
Satu orang anak buah Angel keluar dari barisan dan berdiri di depan Angel.
"Saya Jo, penanggungjawab regu 5. Saya mendapatkan tugas untuk menjemput nona dan memastikan keadaan nona aman. Saya juga dapat pesan dari Tuan Glen jika nona menanyakan beliau. Tuan Glen berpesan.. Ekhem..."
"Nona.. maafkan saya yang lalai melindungi nona. Jo akan menggantikan saya menjaga nona. Saya akan mengurus urusan disini. Tuan Varo dibawah dan pasti akan merecoki saya. Mohon maafkan saya nona."
"Laporan selesai."
Angel mengetuk-ngetuk jarinya di meja. Kalau Varo menahan Glen, artinya Glen akan jujur pada Varo untuk semua hal yang disembunyikan Angel.
"Kita kembali sekarang. Siapkan helikopter."
🏵
Sedangkan keadaan Glen sedang kacau melihat Varo yang sedari tadi mengintimidasinya.
"Tuan Varo.. saya sudah menjawab semua yang saya tau."
"Kau berbohong. Angel selalu bersama mu. Pasti kau tau hubungannya dengan si Wu itu."
Glen menghela nafas panjang.
"Saya hanya tau hubungan mereka sepasang kekasih sejak satu tahun lalu. Hanya itu yang saya tau tuan. Untuk hal lain saya tak tau karena nona menutupi segala urusan perasaan dari saya."
Varo mengerutkan dahinya. Dia harus bisa merebut Angel dari Wu. Harus.
🏵
TBC
🏵
maafkan author kali ini updet pendek T_T
Keadaan lagi sibuk sana sini T_T