
Angel dan Sean sedang duduk di meja makan. Mereka menunggu dengan sabar hidangan datang.
"Sean.. bagaimana rasanya tinggal di Korea?."
Sean tampak berfikir.
"Tidak sesenang disini."
Angel tersenyum.
"Kau hanyalah anak manja dulu.. beberapa tahun tak bertemu tak membuat kamu berubah. Kau memang lah Sean kecil."
Angel mengelus puncak kepala Sean. Sedangkan Sean tersenyum bahagia setelah mendapatkan pujian dari kakaknya.
Tak lama kemudian makanan datang. Sean dan Angel sudah bersiap-siap akan makan tapi kegiatan makan mereka terganggu karena sosok yang beberapa waktu ini tak muncul.
"Hai semuanya..."
Wu datang dan memeluk Angel lalu melihat Sean dengan tatapan bingung.
"Siapa dia sayang?."
Dengan tidak tau dirinya Wu duduk di kursi sebelah Angel.
"Siapa?."
Wu menunjuk Sean dengan dagunya. Angel hanya menghela nafas.
"Sean."
"Siapa?."
Angel memutar matanya jengah.
"Namanya Sean. Waktu itu aku sudah cerita bukan."
"Ohhh.. anak itu. Kau menunjukkan foto dia saat dia telanjang bukan? Jadi agak.. beda sekarang."
Sean tersedak oleh makanannya dan langsung minum air. Sean menatap Angel dan laki-laki misterius di depannya.
"Tunggu.. Foto? Foto telanjang? Foto yang mana? Kapan aku punya foto telanjang?."
Angel mencari foto yang dimaksud oleh Sean di dalam tasnya lalu menunjukkannya ke Sean.
Sean yang melihat foto memalukannya pun langsung merebutnya hanya saja kalah cepat dengan reflek Angel.
"Gak segampang itu, Sean."
"Kakak apaan sih! Itu foto memalukan Sean! Cepet sini balikin ke Sean!."
"Ini kan foto punya kakak."
Angel menyembunyikannya di belakang tubuhnya dan tersenyum mengejek ke arah Sean.
"Kakak!."
"Ini foto kakak. Anggap saja kenang-kenangan dari Sean buat kakak."
"Kak.. Kan setiap hari kakak lihat Sean.. Buat apaan coba simpen foto telanjang Sean. Malu kak."
"Udah.. Kakak gak akan bongkar aib kamu kok. Tenang aja."
Angel menyimpan kembali foto memalukan Sean kembali ke dalam tasnya.
"Lanjutkan makan mu. Maaf kakak tidak bisa menemanimu makan. Kakak ada urusan dengan om ini."
Angel datang dan mencium puncak kepala Sean.
"Ayo ke ruang kerja ku."
Angel pergi duluan dan diikuti Wu. Tetapi sebelum Wu mengikuti langkah Angel, Wu sempat tersenyum ke arah Sean.
"Om.. tunggu sebentar."
Wu tersenyum menatap Sean.
"Ada apa?."
"Om siapanya kakak?."
Wu mengangkat sebelah alisnya dengan senyum manis.
"Tebaklah. Aku tau kau tak sebodoh itu."
Wu berjalan menyusul Angel yang sudah berada di tangga dan mempelototinya.
"I'm coming babe."
Angel mengacuhkan Wu dan segera menuju ruangannya dan disusul Wu.
🏵 Ruang kerja Angel 🏵
Sudah 30 menit lebih Angel dan Wu beradu mulut karena membahas masa depan klan dan Sean.
"Aku tak punya pilihan lagi Wu."
"Ada. Aku akan membantumu. Kau hanya perlu lakukan apa yang dokter minta."
Angel menatap keluar jendela. Di luar jendela ada kebun bunga mawar luas yang sengaja dibangun oleh Angel. Tentu saja bunga mawar hitam.
Kesukaan Angel.
"Angel.."
"Kau tak bisa memaksa ku."
"Aku yang sekarang tak bisa. Tapi Sean pasti bisa."
Angel langsung menatap Wu dengan tajam.
"Jangan libatkan Sean. Dia tak tau apa-apa."
"Dia akan jadi pemimpin sebentar lagi. Mau tak mau dia juga harus tau tentang kondisimu. Tak bisa selamanya kau sembunyikan penyakit mu dari Sean atau dari Varo."
Angel menghela nafas. Berdebat dengan Wu tidak akan ada habisnya.
"Sekali ini saja.. turuti perkataan ku."
"Kau tau aku tidak bisa mengabaikan yang satu ini."
"You can."
"Angel.."
"Aku tau apa yang terbaik buat Sean."
Suasana hening menyelimuti mereka. Selama beberapa menit mereka tidak ada yang bicara.
"Baiklah. Itu keputusan mu. Aku akan mengikutinya kali ini.. Tapi.. jika urusannya adalah nyawa mu, aku terpaksa ikut campur."
Angel tersenyum ke arah Wu yang sudah berjalan meninggalkan dirinya di ruang kerjanya.
"Maafkan aku. Maafkan aku Wu."
🏵
Wu turun dari lantai 2 dan disuguhi pemandangan Sean yang sedang berlatih pedang dengan seorang pelatih.
Wu mengamati gerakan Sean yang cukup lincah untuk seukuran orang yang baru saja berlatih dalam beberapa hari.
"Kenapa om menatap ku sepeeti itu?."
"Dengar-dengar kau baru saja belajar menggunakan pedang dalam beberapa hari dan sudah bisa menguasai teknik-teknik yang diajari oleh gurumu."
Sean melihat pedang kayu yang sedang ia pegang.
"Aku tak ingin mengecewakan kakak."
Wu sekilas melihat raut sedih di mata Sean.
"Mau berlatih bersama ku?."
Sean menatap ragu ke arah Wu.
"Apa? kau meragukan kemampuan ku?."
"Jujur saja... Iya."
Wu tertawa pelan dan menghampiri Sean.
"Wajah tampan ku memang meragukan ya.."
Sean dan Wu saling baku hantam. Saling menyerang satu sama lain. Disini Wu tetap bertahan terhadap serangan Sean yang lumayan kuat.
"Sean.. "
Sean menahan pedang yang baru saja diarahkan lada dirinya.
"Apa?."
"Kalau kau menang, kau bisa meminta apapun pada ku."
"Apapun?."
"Apapun asalkan kau bisa mengalahkan ku."
"Jika aku yang kalah?."
"Kau harus menuruti kemauan ku. Yes or no?."
"Of course yes."
Dan permainan berakhir dengan kemenangan Wu. Sean masih dalam posisi duduk karena tadi dia diserang oleh Wu dan tumbang.
"Soal perjanjian kita tadi.. akan ku katakan lain kali."
Wu mengulurkan tangannya ke Sean dan diterima dengan baik oleh Sean.
"Jangan aneh-aneh. Aku masih kecil om."
"Jangan panggil om dong. Panggil kakak saja.."
Sean melirik Wu.
"Tapi kalau dilihat dari penampilan om.. lebih mirip om-om."
Wu tersenyum terpaksa.
"Panggil saja Gege."
"Baiklah. Ge.."
🏵
Varo menatap arloji di tangannya. Sudah 2 jam sejak pertemuannya dengan Angel. Varo gatal ingin menghubungi Angel.
"Tuan.."
Varo melihat ke depan.
"Ada apa? Kenapa berhenti?."
"Maaf tuan tapi sepertinya ada yang baru saja mengalami kecelakaan."
Varo akhirnya turun dari mobilnya dan melihat kerumunan orang-orang.
Varo berjalan menuju depan dimana korban kecelakaan berada. Perasaan Varo tak enak dan ia takut jika itu Angelnya.
Varo akhirnya bisa melihat korbannya setelah menerobos banyak orang.
Varo terpaku dengan wajah korban kecelakaan itu.
"Tidak mungkin."
Varo jatuh terduduk. Air matanya mulai mengalir. Beberapa pengawal Varo langsung mengamankan posisi tuannya dan sang sekretaris langsung menenangkan si bos.
"Tuan.. "
"Tidak mungkin."
"Tuan tenanglah."
"Bella.. ini tidak mungkin.."
Bella, sekretaris baru Varo langsung menghubungi Jo.
Bella beberapa waktu lalu diminta Varo untuk menyelidiki apa yang disembunyikan oleh orang tuanya. Baru saja tadi di perjalanan pulang Bella memberikan laporan tentang rahasia itu.
Varo yang masih dalam keadaan syok pun masih belum bisa percaya dengan apa yang Bella katakan. Apalagi selama ini orang tuanya selalu bilang jika Varo adalah anak tunggal.
Tapi pada detik ini, Varo akhirnya percaya dengan isi dokumen dari Bella.
Kembarannya..
Alvian
Ada di depan matanya dan dalam keadaan bersimpuh darah.
🏵 TBC 🏵