
Angel tiba di rumah sakit sesaat setelah menerima telepon dari salah satu anak buah Wu. Angel bahkan hanya menggunakan baju tidur dan jaket saja.
Angel melihat beberapa bodyguard yang berjaga di lorong rumah sakit.
"Nona Angel?."
Angel menoleh ke samping saat namanya dipanggil.
"Ya."
"Ah maafkan kelancangan saya. Nama saya Li Yuan. Panggil saja Yuan. Pengurus rumah tuan Wu."
"Ah.. jadi anda yang tadi menelepon saya."
"Iya nona."
Yuan membungkukkan badannya untuk memberi hormat ke Angel.
"Mari nona.. saya antarkan ke ruang operasi tuan. Lewat sini."
"Bagaimana keadaannya?."
Angel mengikuti Yuan dengan perasaan campur aduk. Entah mengapa Angel merasa jika akan ada sesuatu yang besar terjadi.
"Tuan.. mengalami pendarahan hebat saat saya sampai disini."
"...."
Yuan berhenti berjalan dan membuat Angel juga ikut berhenti.
"Kenapa?."
"Saya lupa. Maaf jika ini lancang nona. Tapi ada tamu yang sedang menjenguk tuan."
"Tamu? siapa?."
Yuan menatap Angel dengan tatapan khawatir dan juga sedih.
"Tuan Varo."
🏵
Angel sekarang duduk di sebelah Varo yang sejak tadi hanya diam membisu. Baju putihnya ternoda oleh darah.
"Varo.."
"Jangan bicara."
Suasana kembali hening. Angel berinisiatif mencairkan suasana tetapi nyatanya hanya mendapatkan penolakan.
Sudah 2 jam sejak Angel datang dan operasi masih tetap dilakukan. Angel melihat ponselnya yang bergetar dan menampilkan nama Sean.
Angel berdiri dan segera pergi untuk mengangkat telepon dari Sean. Sedangkan Varo melirik kepergian Angel dengan diam.
Sekarang bahkan Angel tak mau berbicara padanya. Tanpa Varo sadari ada air mata mengalir dari matanya
"Tuan.."
"I'm Fine."
Varo mengusap air matanya karena tak mau terlihat lemah.
Tak berselang lama, seorang dokter keluar dari ruang operasi. Varo segera menghampirinya.
"Dokter.. bagaimana keadaannya?."
"Pasien sudah dalam keadaan baik, hanya saja butuh waktu yang agak lama untuk pasien sadar karena pengaruh obat bius."
"Syukurlah."
"Bisa saya berbicara dengan keluarganya? Ada hal penting yang ingin saya diskusikan mengenai kondisi pasien."
"Saya dok. Saya saudaranya."
"Baiklah ikuti saya."
🏵
Varo masuk ke dalam ruangan dimana Wu dirawat. Disana juga ada Angelnya yang menemani Wu.
"Kenapa kau masih disini?."
Angel hanya melirik Varo yang berada di sampingnya.
"Karena aku mau disini."
"Pulanglah."
"Tidak."
"Angel.."
"Apa yang dikatakan oleh dokter?."
"..."
Akhirnya Angel menatap Varo yang juga sedang menatapnya.
"Dia butuh donor mata."
Angel menggenggam erat tangan Wu.
"Jadi itu yang dibutuhkannya sekarang."
"Ya. Itu dikarenakan serpihan kaca mengenai matanya."
"..."
Varo agak iri dengan keadaan ini. Jika dirinya yang disana apakah Angel akan seperti ini?
"Pulanglah. Kau pasti lelah. Biarkan aku yang menjaga Wu."
Varo mengepalkan tangannya.
"Kau mengusir ku?."
"Aku tak mengusirmu. Hanya saja.. kau terlihat menyedihkan."
"Aku akan pulang jika kau pulang."
Angel menghela nafas lelah.
"Baiklah."
🏵
Dan disinilah mereka berakhir. Angel berakhir ikut pulang bersama dengan Varo. Keheningan menyelimuti keduanya.
Angel melihat pemandangan malam di luar mobil sedangkan Varo fokus menyetir.
"Sejak kapan?."
Angel menoleh ke arah Varo yang masih tetap fokus menyetir.
"Apa?."
"Sejak kapan kamu tau kalau dia mirip dengan ku?."
"Lama. Panjang ceritanya."
"Kenapa kamu gak bilang?."
Angel meremas kedua tangannya dengan gelisah.
"Dia melarang ku."
"Harusnya kamu bilang."
Keheningan kembali menyelimuti mereka hingga sampai rumah Angel.
"Istirahatlah. Jangan khawatirkan Wu. Aku akan menjaganya."
Angel menatap Varo dengan tatapan menyesal.
"Kau juga harusnya istirahat. Masih ada Yuan disana. Jika terjadi sesuatu terhadap Wu, pasti Yuan akan mengabari kita."
"Tetap saja aku akan menjaganya."
"Bagaimana dengan orang tua mu? apakah kamu sudah mengabari mereka tentang hal ini?."
Varo menatap Angel dengan tatapan sendu.
"Ya."
"Lalu?."
"Mereka akan datang dalam 4 jam."
Entah bisikan dari mana tapi Angel tiba-tiba memeluk Varo. Yang dipeluk pun kaget dengan aksi Angel. Tanpa basa basi Varo membalas pelukan Angel dengan erat. Mencium aroma khas Angel yang sudah lama ia rindukan.
"Aku ada disini jika kamu butuh sandaran."
"I know."
Varo semakin memeluk erat Angel. Entah kenapa tapi Varo merasa jika ini akan menjadi momen terakhir ia bisa memeluk wanitanya.
🏵 Di rumah sakit 🏵
Yuan memandang tuannya yang sudah siuman.
"Tuan.. saya harus mengabari kondisi tuan ke nona Angel."
Wu hanya diam saja.
"Tuan.."
"Yuan.. jangan beritahu Angel tentang kondisiku."
Yuan hanya mengangguk dan undur diri meninggalkan sang tuan yang sedang dalam keadaan terguncang. Kaki patah dan mata buta. Apalagi yang bisa membuat tuannya sedih selain hal ini. Apalagi identitasnya sudah terkuak.
*Semua akan baik-baik saja."
*Ya.. semua akan baik-baik saja.
🏵*
Angel merasa kalau akhir-akhir ini kepalanya pusing dan sering mimisan. Sean yang melihat kakaknya mimisan pun menjadi heran.
"Kak.."
Angel mengalihkan pandangannya dari kebun bunga ke Sean yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja Angel.
"Ya Sean?."
"Kakak.. aku mau tanya sesuatu. Akhir-akhir ini kakak sering mimisan. Padahal kakak gak punya riwayat penyakit apapun selama ini. Kakak sakit?."
Deg
Ternyata cepat atau lambat Sean akan mulai curiga dengan kondisi Angel yang mulai melemah.
"Kakak hanya sedang lelah."
Angel memeluk Sean dengan erat.
"Kakak tidak boleh meninggalkan Sean sendirian lagi."
Angel hanya tersenyum dan mengulas senyum untuk meyakinkan Sean. Hanya saja itu tidak bisa terwujud.
Tok Tok Tok
"Nona... Bolehkah saya masuk?."
Angel melepaskan pelukannya dan menyuruh Sean untuk membuka pintu. Dengan polosnya Sean mengikuti apa yang Angel suruh.
"Maafkan saya mengganggu waktu nona san tuan muda. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu."
Pelayan itu melirik ke arah Sean dan Angel mengerti dengan lirikan itu.
"Sean.. pergilah berlatih pistol dengan paman Jo."
"Baik kak."
Setelah kepergian Sean, pelayan itu mulai mengeluarkan surat dari dalam jasnya.
"Ini nona."
Angel membuka surat itu dengan hati-hati karena ini mungkin saja sesuatu yang sangat penting.
Angel membaca dengan seksama apa yang ada di dalam surat.
"Panggilkan Glen."
"Baik nona."
Pelayan itu pergi dan tak lama kemudian Glen datang.
"Nona mencari saya?."
"Baca ini."
Angel membanting surat itu dengan kasar. Glen hanya bisa menghela nafas melihat nona mudanya mulai badmood lagi.
Glen membaca isi surat tersebut dan langsung emosi. Di dalam surat tertulis jika para tetua klan sepakat untuk mengganti kursi kepemimpinan Angel secepat mungkin.
Kandidat untuk pemilik kursi kepemimpinan hanya ada dua, Sean dan Ferdian.
Ferdian Sebastian
Laki-laki berusia 28 tahun.
Single.
Pengedar narkoba jaringan internasional.
Mata-mata klan.
dan yang paling utama, Ferdian merupakan ..
Anak haram Glen.
🏵 TBC 🏵