
Rumah yang besar dan di huni oleh keluarga kecil yang terdiri aku(anggun) dan kedua orang tuaku serta seorang pembantu rumah tangga dan satu orang supir yang selalu mengantarku kemana saja aku pergi. kehidupan yang serba mewah dan penuh gelimang harta namun tidak ada kebahagian di dalamnya, kedua orang tuaku begitu asyik dengan pekerjaannya sendiri sampai perhatian kepada anaknya sendiri sangat berkurang.
Dan saat ini aku sedang melakukan rutinitas seperti biasanya, sebelum berangkat kuliah dia selalu sempatkan waktunya untuk sarapan bersama dengan mamanya di meja makan.
"Aku berangkat dulu !", ucap anggun pada mamanya.
"Sarapanmu tidak dihabiskan !", saut mamanya.
"Males ahh.. tiap hari menunya itu-itu aja, bosen !", celetuknya.
"Yaa udah.. nanti mama lebih'in uang jajanmu !", ucap mamanya.
"Buat apa ?", tanya anggun dengan ketus.
"Yaa buat nanti kamu makan di luar.. katanya kamu bosan dengan menu yang ada !", jawab mamanya.
"Hah.. mama tuh bener-bener gak peka banget jadi orang tua !", ucap anggun.
"Gak peka bagaimana.. mam... !", ucap dari mamanya yang langsung di potong oleh sautan anggun.
"Aahh.. sudahlah, aku berangkat dulu !", ucap dari anggun.
Aku segera nyelonong pergi tanpa menggubris lagi mamaku, berjalan keluar menuju kesebuah mobil yang sudah siap untuk mengantarku ke sekolahan. kunikmati perjalanan ini dengan lamunan tentang kehidupanku, kadang aku merasa ku terlalu berlebihan dalam bersikap terhadap mamaku, aku tau kalau mama dan papaku adalah seorang pekerja yang ulet dan keprofesionalannya dalam profesinya bisa di acungi jempol tapi mereka terlalu asyik dengan dunianya sendiri sehingga mengacuhkan diriku.
Walaupun mereka bekerja untuk menghidupiku dengan kehidupan yang layak tapi mereka melupakan bagaimana memberika rasa kasih sayang kepada anaknya, hampir setiap hari aku merasa kesepian dan jenuh berada di rumah itu, aku seperti orang asing yang terdampar di sebuah pulau, apapun yang aku lakukan terlalu bebas tanpa adanya larangan. jika aku tidak bisa menjaga diriku sendiri dan berpikir matang-matang dalam bertindak mungkin aku akan jatuh kedalam dunia gelap di kehidupan ini.
"Non.. sudah sampai !", ucap supirku.
"Jangan parkir disini pak.. agak masuk kedalam saja, nanti di isengin mobilku !", ucapku pada supir.
"Baik non.. !', jawabnya.
"Parkir saja di antara kedua mobil hitam itu pak !", ucapku dengan menunjungkan tempat parkiran.
"Ohh.. disana yaa non, baik non.. !", ucap dari supirku.
"Jangan jauh-jauh kalau pergi, lihat terus mobilnya lho.. jangan sampai ada yang ngereseki !", pesanku pada supir itu.
"Siap non !", saut supir itu.
Aku pun keluar dari mobil dan menuju ke kantin dimana kedua temanku sedang menungguku disana. mereka adalah teman baruku di kampus ini, aku kenal mereka sejak berkuliah disini, mereka berdua adalah shanti dan shinta. bukan... mereka bukan saudara kembar, mereka dari keluarga yang berbeda mungkin nama mereka rada-rada mirip makanya banyak yang mengira kalau mereka ada saudara kembar.
Sesampainya di kantin...
"Lama amat lu ?", tanya shinta.
"Iya kena macet tadi di depan delta !", jawabku.
"Mau pesen apa lu, biar sekalian gue pesenin !", ucap dari shanti.
"Green tea aja deh !", jawabku.
"Gak pesen sarapan !", ucap shinta.
"Lagi gak nafsu makan !", ucapku.
Shanti pun pergi untuk memesan menu yang kita pesan, lalu basa-basi antara aku dan shinta pun terus berlanjut tanpa menunggu kedatangan dari shanti. mereka ini bukanlah dari keluarga kaya seperti diriku, bahkan kehidupannya sangat jauh berbeda denganku, keluarganya hanyalah keluarga sederhana biasa. mereka berteman denganku karena mereka sangat tertarik dengan kehidupanku yang serba mewah, selama mereka tidak macam-macam mungkin aku masih bisa menerima mereka.
Aku bukanlah orang yang pilih-pilih teman, dimana kau harus berteman dengan orang yang memiliki kasta yang setara denganku, aku sangat welcome terhadap siapa pun walaupun aku sangat berhati-hati dan selektif terhadap seseorang yang mau masuk kedalam kehidupanku. aku berpikir jika bukan diriku sendiri yang memfilternya lalu siapa lagi yang akan melakukannya, ini adalah salah satu cara untuk menjaga diriku supaya tidak salah arah.
"Lu kenapa seh cemberut gitu ?', tanya dari shinta.
"Seperti biasalah !", ucapku singkat.
"Orang tuamu ?", tanya dari shinta rada kepo.
"Iya... mama gue bener-bener gak peka dengan perasaan gue !", jawabku.
"Kenapa lu gak to the point aja ?", tanyanya lagi.
"Percuma.. paling di janji-janji'in doank !", jawabku rada kesel.
"Harusnya lu bisa bersyukur kali dapat orang tua kayak mereka, yang bisa bertanggung jawab memenuhi semua kebutuhan lu !", ujar dari shinta.
"Kebutuhan... kebutuhan duniawi, emang kita hidup di dunia ini bisa bahagia gitu dengan hanya mengandalakan barang-barang mewah tanpa adanya kasih sayang !", sangkal dengan nada tinggi.
"Biasa aja kali jawab.. kenapa harus pakai urat seh !", ucap shinta untuk meredam emosiku.
"Kesel banget gue kalau ada orang yang berpikiran kayak gitu !", ucapku.
"Jujur seh gue gak munafik.. gue juga butuh duit dan barang-barang mewah lainnya tapi kan itu semua gak bisa menjamin kebahagiaan !", ucapku lagi.
Sesaat kemudian shanti pun datang membawakan pesanan kita semua, nih anak memang rajin banget kalau dalam urusan makanan. apa lagi kalau ada gue di sampingnya pasti bawaannya pingin ke kantin mlulu, maklumlah selama ini gue selalu traktir mereka berdua ini, itung-itung bantu keuangan mereka dan anggap saja sebagai amal.
"Ngomong apaan seh, seru banget kayaknya ?", tanya shanti.
"Kepo aja lu !", celetukku.
"Mana sini minuman gue !", ucapku lagi.
"Nih nyonya minumnya.. !", ucap shanti dengan nada meledek.
"Sialan lu !", ucapku pada shanti.
Perdebatan ringan pun terjadi lagi di antara kita bertiga, mulai dari membahas pribadi masing-masing sampai membahas tentang perkuliahan. dalam masalah perkuliahan mereka berdua tidak sepintar diriku bahkan mereka selalu bergantung kepada kalau ada tugas-tugas kuliah, mungkin terlihat jika aku seperti dimanfaatkan saja oleh mereka berdua tapi sebenarnya akulah yang memanfaatkan mereka.
Jika bicara soal percintaan, sudah berkali-kali aku gagal menjalin hubungan dengan seorang lelaki karena dari keseluruhan mantanku otak mereka selalu saja berpikiran mesum saja, saat berdua denganku mereka selalu bernafsu sekali untuk menyentuh tubuhku, entah itu dengan ciuman, meraba atau juga yang paling ekstream adalah mengajakku untuk berhubungan intim. kalau untuk ciuman mungkin aku bisa menerimanya tapi tidak untuk hubungan se*.
Dan di kampus ini pun sama saja, hampir semua lelaki sangat ingin mendekatiku dan mencuri perhatianku. mereka sangat ingin menjalin hubungan denganku dan masuk kedalam kehidupan pribadiku, entah itu hanya sekedar berteman atau pun ingin menjadikanku sebagai kekasihnya, tapi aku selalu saja menampik setiap lelaki yang datang kepadaku.
"Heh.. anggun liat tuh ada musuh lu !", ucap shinta kepadaku dengan matanya menunjukan arah ke seorang lelaki.
"Siapa ?", tanyaku dengan pandanganku masih mengarah ke handphoneku.
"Itu lihat.. sebelah sana !", ucap dari shinta yang merampas handphoneku supaya mau melihat seseorang yang dia maksud.
Aku pun mengarahkan pandanganku pada dua orang lelaki yang menjadi musuhku pertamaku sejak aku berkuliah disini, mereka adalah nathael dan adrian. kulihat mereka berdua sedang berjalan menuju ke arah kantin, nathael yang terllihat cool dan sangat tenang saat berjalan tapi tidak sebaliknya dengan adrian yang terlihat sangat petakilan dengan gestur kepalanya menengadah layaknya seorang jagoan.
"Berandalan !", ucapku.
"Tapi ganteng juga lhoo dia walaupun gayanya sok jagoan gitu !", saut shanti.
"Bener juga seh.. dari pada nathael, adrian lebih ganteng dan laki banget !", saut shinta.
"Emang lu berdua suka dengan dua berandalan itu ?", tanyaku pada mereka.
"Iihh.. gue masih sayang ama masa depan gue !", jawab shinta.
"Bener.. bisa suram masa depan kita kalau demen ama mereka !", ujar dari shanti.
"Anggun.. kalau menurut lu antara adrian dan nathael, lu pilih mana ?", tanya shinta padaku.
"Ogah milih !", ucapku.
"Harus milih.. cuma perandaian aja kok ?", tanya shinta memaksaku.
"Ehmm... Adrian terlihat sangat liar dan bertindak dengan instingnya tanpa pikir panjang, lelaki seperti dia biasanya sering terlibat dalam masalah dan akan melakukan apa pun untuk mencapai tujuannya, sangat riskan jika menjadikan dia sebagai teman hidup !", papar dariku.
"Lalu kalau nathael dia lebih tenang dan terkesan tertutup, cuek dan dingin atau bahasa inteleknya adalah introvert... seorang bersikap introvert karena dia sengaja ingin melindungi privasinya dari orang lain, orang seperti ini sangat jarang memiliki teman dan masalah untuk bersosialisasi namun sekalinya dia nyaman dengan temannya dia akan membela temannya tersebut !", sambungku.
"Terus siapa yang lu pilih ?", tanya shanti.
"Nathael !", jawabku singkat.
"Karena dia introvert ?", tanya shinta.
"Lebih dari itu... nathael sangat misterius !", ucapku.
"Maksudmu ?", tanya shinta.
"Mulai dari pertemuan pertama di toilet, lalu di kantin, kemudian di perpustakaan dan saat aku mengotori pakaiannya... seluruh sikapnya sangat tenang walaupun dia sedang dalam masalah, bahkan dia sangat percaya diri bisa mengalahkanku dalam pertaruhan itu !", ucapku.
"Pintar, percaya diri dan cepat mengambil keputusan jika ketiga sikap itu digabungkan maka terkesan kalau dia sudah tau akan hasil akhirnya... bisa dipastikan kalau setiap tindakannya sudah dia pikirkan dengan matang, lalu coba gabungkan lagi dengan sikapnya yang introvert, yang bisa membuat musuhnya jadi mati penasaran karena menebak-nebak rencananya !", sambungku lagi.
"Prediksi lu terlalu berlebihan !", ucap dari shinta.
"Apa lu ingin bukti ?", tanyaku pada shinta.
"Lu mau ngapain ?", tanya balik shinta dengan penasaran.
"Lu beritahu nathael kalau gue tunggu dia di tempat parkiran, inget hanya nathael saja yang datang jangan sampai adrian juga ikut !", perintahku pada shinta.
"Terus apa yang akan lu lakuin ?", tanya shinta.
"Sudah ikuti saja perintah gue... gue dan shanti akan nunggu lu di parkiran mobil gue !", ucapku pada shinta.
"Baiklah !", saut dari shinta.
Kemudian kita bertiga pun pergi dari kantin tersebut, shinta sedang menuju ke arah nathael berada untuk menyampaikan pesanku, sedangkan aku dan shanti bersama-sama menuju ke tempat dimana mobilku terparkir. aku sudah menyiapkan rencana kecil untuk mengetes kemampuan dari lelaki misterius itu, nathael wirabrata !