Xcase

Xcase
Episode 30 : Penjara



Minggu, 02 Januari


09:15, Sel Penjara


Sebuah ruang yang sangat pengap dengan di huni oleh 6 orang di dalamnya termasuk juga diriku ini. tidak ada satu pun tempat yang bisa membuatku merasa nyaman di ruangan kecil ini karena hanya ada lantai datar saja dengan sebuah tikar dari panda yang menjadi alas. tikar yang sudah usang dengan beberapa sudutnya telah terkoyak dan robek, di atas tikar itu biasanya di buat tidur oleh 5 orang sebelum diriku.


Dinginnya lantai sel penjara ini mampu menusuk sampai kedalam pori-poriku, hanya sebuah baju tahanan yang menempel di kulit dan sebagai penghangat tubuh ini kalah dinginnya jeruji besi menusuk kulitku. suasana yang sangat membuatku ingin meneteskan air mata karena ketidak adilan ini, rasa marah jengkel dan juga kesal karena posisi yang terpojok tak berdaya.


Tatkala aku harus merujuk ke sebuah pengaduan hanya untuk mencari sebuah keadilan, yang aku dapatkan hanyalah sebuah penghinaan dan penyiksaan. beberapa kali seorang penjaga datang hanya untuk menyiksaku dengan pukulan-pukulan yang dia lontarkan pada perutku, semua ini mereka lakukan hanya untuk mendapatkan pengakuanku saja.


"Teng.. teng.. teng.. ", suara dari pintu jeruji besi yang di pukul dengan tongkat oleh para sipir penjaga.


Kulihat tiga sosok pria dengan tampang yang sangat garang dan juga tidak ramah seddang berjalan menuju ke arah sel penjaraku, langkahnya sangat mantap dan tegas sekali menyakinkan kalau dia adalah orang yang berkuasa disini. saat ketiga orang itu sudah sampai di depan sel penjaraku mereka pun memandang dengan tatapan sangat galak padaku.


"Ambil dia !", ucap dari salah satu petugas dengan melirik ke arahku.


Pintu jeruji besi pun di buka dan aku yang sedang duduk termenung langsung di tarik dengan kasarnya agar mau berdiri dan ikut dengan mereka bertiga. firasat buruk pun kembali datang menghantui pikiranku, aku merasakan sesuatu yang tidak enak bakal terjadi padaku. kemungkinan besar aku akan di siksa lagi dan di paksa untuk mengakui semua perbuatanku.


"Berdiri.... !", bentak dari petugas itu dengan galaknya padaku.


Dengan terpaksa aku pun berdiri dan mengikuti semua perintahnya, lalu di dorongnya tubuhku yang masih kesakitan karena sisa-sisa siksaan kemarin masih terasa di tubuhku. aku pun keluar dari kamar tahananku dengan mengikuti dan di kawal oleh 3 orang petugas itu. langkah demi langkah akhirnya sampai pada sebuah ruangan tempat biasanya aku di interogasi.


Saat aku masuk ku lihat seorang daniel wiryawan sedang duduk disana dan juga tante christine berada di sebelahnya. lalu aku pun menuju ke arah mereka dan duduk di depan daniel dan juga tante christine, sebuah meja panjang menjadi penghalang di antara kita. raut tenang terpancar dari daniel dan sebuah aura kemarahan mengelilingi tante christine saat melihatku.


"Pembunuh.. !", gumam dari tante christine dengan tatapan tajam mengarah kepadaku.


"Nathael wirabrata, anda sendiri atau aku yang akan bercerita tentang siapa diri anda yang sebenarnya !", ucap dari daniel padaku.


"Percuma, aku bukan lagi bagian dari keluarga itu !", sautku dengan menundukan kepala.


"Baiklah kalau begitu, biarkan aku saja yang menceritakan semua tentang anda !", ucap dari daniel.


"Buat apa ?", tanyaku dengan pandangan masih mengarah ke bawah.


"Karena aku ingin tau siapa kau sebenarnya, kenapa kau sampai di takutin oleh kakakku !", saut dari christine dengan nada yang begitu emosi.


"Sudah.. tenangkan diri anda !", ucap dari daniel menenangkan tante christine.


"Aku akan menceritakan siapa nathael sebenarnya !", sambungnya lagi.


"Kau bisa menceritakannya tanpa harus memanggilku, kenapa kau ingin aku berada disini dan mendengarkan ocehanmu ?", tanyaku dengan menatap pada sosok daniel.


"Aku bekerja berdasarkan hukum dan kebenaran, aku tidak akan gentar terhadap nama besar atau pun kekuasaan yang berada di balikmu, tidak peduli siapa pun dirimu jika kau bersalah maka aku akan menghukum dengan seadil-adilnya !", ucap dari daniel dengan santainya.


"Bagaimana jika semua bukti yang ada telah di manipulasi untuk menjeratku, karena aku sangat yakin sekali ada seseorang di luar sana yang sedang tertawa bahagia melihatku masuk kedalam perangkapnya !", ucapku pada daniel.


"Jika anda begitu yakin ada orang yang menjebak anda lalu siapa orang itu ?", tanya dari daniel padaku.


"Aku tidak tau !", jawabku.


"Jawaban anda mencerminkan kalau anda hanyalah orang bodoh yang mencoba mengelabuhi polisi !", ucap dari daniel.


"Hahaha... lalu kau sendiri seperti orang bodoh yang telah termakan oleh sebuah teori yang kau ciptakan sendiri !", ucapku pada daniel dengan tertawa lepas.


"Apa maksud anda ?", tanyanya dengan nada mulai serius padaku.


"Kau menjadikan semua bukti-bukti itu untuk menjerat tersangka, dari bukti-bukti itu kau sengaja melakukan analisa untuk mengetahui siapa tersangka sebenarnya. dari sini satu hal yang kau lupakan yaitu tentang keakuratan bukti-bukti tersebut !", terangku pada daniel.


"Bukti itu sudah akurat karena sidik jari anda ada disana !", saut dari daniel.


"Bagaimana jika pelaku sebenarnya sudah tau tentang semua aktifitasku di dalam rmah itu dan dengan sengaja menggunakan benda-benda yang aku sentuh untuk mengakhiri hidup dari korban !", ucapku.


"Bukti hanyalah sebuah bukti, bukti bisa kita permainkan dan kita manipulasi sesuka kita, yang menjadi bukti itu kuat adalah adanya seorang saksi !", ucapku lagi.


"Pertanyaanku adalah, apakah ada saksi kunci yang menyaksikan tindakanku itu ?", tanyaku pada daniel dengan tatapan yang menantang.


"Ehm.. sama persis dengan informasi yang aku dapat, anda bukanlah orang yang sangat jenius.. memang tidak ada satu pun saksi kunci yang bisa menguatkan bukti-bukti itu tapi berhubungan disana hanya ada anda dan korban jadi sudah pasti andalah pelakunya !", ucap dari daniel.


"Bukankah anda sendiri yang memberikan keterangan kalau pada malam itu hanya ada anda dan korban saja di rumah itu !", sambungnya lagi.


"Aku tidak tau sudah berapa banyak kasus yang telah anda hadapi, tapi menurutku anda masih terlalu bodoh untuk memimpin penyelidikan ini !", ucapku pada daniel dengan sangat merendahkannya.


"Anda ingin mengintimidasiku.. percayalah aku tidak takut dengan siapapun, selama aku benar aku akan terus berjalan di jalanku, walaupun itu seorang teguh suryadharma yang harus aku hadapi !", ucap dari daniel dengan nada menantangku.


"Apa anda tuli, aku sudah bilang kalau aku bukan lagi bagian dari keluarga itu, jadi disini aku hanyalah orang sipil biasa yang tidak memiliki power apa pun !", ucapku pada daniel.


Perdebatan antara aku dan daniel begitu sangat memanas karena kita berdua tidak ada yang mau mengalah sedikit pun, keduanya merasa di posisi yang benar dengan mempertahankan argumentasi mereka masing-masing. dan aku sendiri pun telah bersumpah sampai kapan pun tidak akan mau mengakui perbuatan yang tidak aku lakukan, walaupun siksa demi siksaan terus aku terima dari para petugas gila itu.


Namun disisi lain aku lihat tante christine begitu serius dan termenung diam saat melihat perdebatanku dengan daniel, dia nampak kebinggungan dengan apa yang sebenarnya terjadi di antara kita berdua. ini adalah tentang dimana aku membela diriku dan disisi lain daniel mencoba menuturkan semua argumentasinya yang berdasarkan dari analisa barang bukti.


"Kelemahan dari semua analisa anda adalah ketidak adaannya saksi yang menguatkan semua bukti-bukti itu !", ucapku pada daniel.


"Bukti-bukti ini sudah sangat kuat untuk menjerat anda !", saut dari daniel.


"Hahaha... jika bukti itu sudah sangat kuat, lalu kenapa anda masih mengejar pengakuan dariku dengan menyiksaku dan memaksaku untuk mengakui perbuatan yang tidak aku lakukan !", sangkalku.


"Aku masih punya seribu alasan untuk membantah semua bukti-bukti itu, dan juga analisa-analisa bodohmu itu !", ucapku dengan nada menantang daniel.


Kulihat daniel begitu sangat terpojok dengan keteranganku dan semua sangkalanku itu, raut wajah yang tenang dan dingin seketika berubah memerah bertanda malu dan juga kesal atas kelakuanku. sangat jelas terlihat kalau dia ingin membalasku namun tidak bisa apa-apa karena di ruangan ini ada tante christine yang membatasi ruang geraknya, andai saja tidak ada tante christine mungkin aku sudah babak belur di hajar oleh algojo-algojonya.


"Sebenarnya kalian berdua berbicara tentang apa ?", tanya dari tante christine pada kita berdua.


"Kita akan kembali ke topik utama kita, aku akan menjelaskan kepada anda tentang siapa nathael ini sebenarnya !", jawab dari daniel pada tante christine.


"Ehm... mengalihkan perhatian !", sautku lirih dengan senyuman sinis pada daniel.


"Nama aslinya adalah nathael suryadharma, dia merupakan anak kandung dari teddy suryadharma yang merupakan anggota dari keluarga besar suryadharma !", saut dari daniel dengan nada yang emosi.


"Dia adalah seorang pembunuh yang membunuh dengan keji keluarga angkawijaya yang merupakan saingan dari keluarga besarnya, dan dia jugalah yang telah mengakhiri hidup dari teddy suryadharma yang masih ayah kandungnya !", tutur dari daniel dengan menatapku tajam.


"Aku sama sepertimu, berjalan di jalan kebenaran, jika membunuh adalah sesuatu yang bisa di anggap adil maka aku akan melakukannya !", ucapku pada daniel.


"Dan jangan asal bercerita jika kau tidak tau kejadian yang sebenarnya !", sautku lagi.


Nampak sekali wajah yang tegang dan serasa tak percaya dari tante christine, dia begitu gugup dan sedikit ada rasa takut saat menatapku. kepanikannya benar-benar sangat menjadi sampai-sampai sepatah kata pun tidak bisa dia keluarkan dari mulutnya. hanay memandang dengan tatapan hampa dan raut wajah yang pucat pasi.


"Aku bukan pembunuh kakakmu, percayalah !", ucapku pada tante christine.


"Lebih baik anda keluar dan aku akan mengirimkan dua orang pengawal untuk mengawal anda agar tidak terjadi apa-apa pada diri anda !", ucap dari daniel pada tante christine.


Tante christine yang terpaku diam menuruti perkataan dari daniel dan keluar dari ruangan interogasi ini dengan di antar oleh petugasnya, kini di dalam ruangan itu hanya ada aku, daniel dan dua orang algojo yang berada di belakangku. dan firasat buruk pun kembali menaungi pikiranku, penyiksaan akan segera datang padaku apa lagi setelah aku membuat malu daniel di mata tante christine.


"Buuuugggg.... ", sebuah pukulan mengarah tepat di perutku.


Dan selanjutnya adalah penganiayaan terhadap diriku yang tidak melawan ini, penyiksaan yang tidak berdasar dan hanya berawal dari tuduhan yang masih kurang akurat. inilah yang terjadi pada penegak hukum di negara ini, semua berjalan dengan dan tanpa adanya kebenaran yang konkrit.


15:00, Ruang Jenguk


"Piye, wes penak tak durung awakmu ?", tanya dari teman tahananku.


(Gimana, udah enak apa belum lu ?).


"Lumayan !", jawabku dengan merintih menahan sakit.


"Di gawe turu ae ben penak koe !", ucapnya lagi.


(Dibuat tidur aja biar baikan diri lu).


"Suwon cak !", ucapku padanya.


(Makasih mas).


"Iyo podo-podo, aku biyen yo tau koyok awakmu, di gepuk'i gak karu-karuan di kongkon ngaku dadi maling padahal aku iki gak ngerti opo-opo !", sedikit curhatan dari tahanan ini.


(Iya sama-sama, gue dulu juga pernah kayak dirimu, di hajar habis-habisan disuruh ngaku jadi maling padahal gue ini gak tau apa-apa).


"Wes biasa cak kelakukane polisi indonesia kan ngunu iku !", saut dari teman tahananku lainnya.


(Udah biasa mas, kelakuannya polisi indonesia kan kayak gitu).


"Seng bener dadi salah, seng salah dadi bener !", sautnya lagi.


(Yang benar jadi salah, yang salah jadi benar).


Itulah sebagian dari keluh kesah tahanan lainnya yang ternyata mengalami nasib serupa denganku, dan karena merasa sependeritaan inilah aku mendapatkan belas kasihan dari mereka. mereka sangat baik padaku dengan memberikanku tempat untuk beristirahat di atas tikar pandan ini. merekalah yang merawatku dan menjagaku bisa di bilang mereka adalah teman serta keluargaku saat ini.


Setelah habis-habis aku menerima pukulan dan juga tendangan di ruangan interogasi itu, aku pun di kembalikan ke dalam sel penjara dengan kondisi yang sangat buruk. sakit sekujur tubuhku ini benar-benar sangat menyiksaku, tapi aku pun yang mereka lakukan aku tidak akan sudi mengakui perbuatan yang tidak pernah aku lakukan.


Di saat aku baru saja berbaring dan akan memejamkan mata ini, tiba-tiba terdengar suara seseorang petugas datang ke sel penjaraku dan dia pun berteriak memanggil namaku untuk segera keluar dari sel penjara itu.


"Teeeennnggg.... ", suara pukulan dari tongkat petugas pada jeruji besi.


"Nathael, keluar !", teriak dari petugas itu.


"Pak, baru aja dia tidur.. kasihan dia !", ucap dari teman tahananku pada petugas.


"Duwe ati opo ora toh sampeyan iku, wong kok koyok iblis !", saut dari teman tahananku yang lainnya.


(Punya hati apa gak seh lu itu, orang kok kayak iblis).


"Ini ada keluarganya yang mau bertemu !", ucap dari petugas itu dengan galaknya pada teman tahananku.


"Aku ora opo-opo kok cak, mungkin onok dulurku seng sambang !", ucapku pada teman tahananku.


(Gue gak apa-apa kok mas, mungkin ada saudaraku yang jenguk).


Aku pun berjalan mengikuti langah kaki dari petugas itu menuju ke sebuah ruangan yang di peruntuhkan untuk keluarga-keluarga tahanan menjenguk keluarganya yang di tahan. dengan perlahan-lahan aku berjalan menahan sakit, langkah sempoyongan dan terpincang-pincang karena kaki sangat sakit untuk di buat berjalan normal.


Saat aku memasuki ruangan tersebut ku lihat seorang tua bangka teman dari om teguh sedang menunggu sendiri di sudut ruangan ini. dia adalah rektor di kampusku, nampak sekali dia begitu sangat tenang dengan ekspresi yang slengek'an khas dirinya, saat melihatku datang dia juga malah menebar senyuman dan rasa senang, tidak tau apa yang berada di otaknya saat ini.


"Hahaha... nathael.. nathael.. !", ucapnya tertawa lepas saat melihatku.


"Ada apa ?", tanyaku padanya sembari duduk tepat di hadapannya.


"Ada apa... seharusnya aku yang tanya kepadamu, ada apa dengan dirimu nathael ?", uucap dari rektor ini dengan cengengesan.


"Bapak kesini ngapain kalau gak tau kejadiannya ?', tanyaku balik pada rektor ini.


"Hahaha.. lu tuh dah menderita masih aja belagu ama gue !", ucapnya nyolot.


"Om teguh udah tau apa belum ?", tanyaku pada pak rektor.


"Semua keluargamu sudah tau, orang semua media sekarang sedang memberitakan tentang dirimu tapi tenang aja yang mereka tau hanyalah sebatas nathael wirabrata bukan suryadharma !", ucap dari pak rektor.


"Terus ?", tanyaku lagi.


"Terus apaan ?", tanya balik rektorku dengan nada meledekku.


"Jadi bapak orang yang membelaku !", ucapku lagi.


"Pasti si polisi **** itu yang bilang !", ucap dari pak rektor.


"Iya, dia bilang akan ada orang yang datang membelaku !", ucap dariku pada pak rektor.


"Bukan.. bukan aku, lagian jika aku disuruh bela dirimu juga ogah, mending aku nonton pertunjukan ini dari kursi penonton !", ucap dari rektorku.


"Tua bangka !", ucapku lirih karena kesel dengan ucapannya.


"Hahaha... kayaknya mimpiku bakal jadi kenyataan, bisa lebih seru gak dari perang nathael vs hans ?", tanya dari pak rektor padaku dengan ekspresi yang kegirangan.


"Bodoh !", sautku tak menggubris pertanyaan dari rektor.


"Siapa yang bakal membantuku ?", tanyaku pada pak rektor.


"Coba tebak siapa dia ?", tanyanya balik padaku.


"Dia bakal kesini hari ini atau gak ?", tanyaku balik.


"Bentar lagi dia akan datang !", jawab dari rektorku.


Dasar tua bangka, udah mau mati masih saja cari-cari masalah denganku. bukannya membantuku untuk keluar dari masalah ini malah asyik menonton dengan girangnya. sangat yakin sekali dia itu dengan kemampuanku dan dia nampak percaya sekali kalau aku bisa keluar dari permasalahan ini. kalau bukan karena hubungan dekatmu dengan om teguh mungkin aku sudah menjadikanmu kelinci percobaanku.


"Ehh.. ngomong-ngomong hasil olah TKP nya bagaimana ?", tanya dari pak rektor.


"Semua bukti memberatkanku karena hanya ada sidik jariku disana !", jawabku.


"Ada saksi ?", tanya dari pak rektor.


"Gak ada !", jawabku.


"Lalu motif pembunuhan, apa polisi sudah mengemukakan motif pembunuhannya ?", tanya dari rektor padaku.


"Aku kurang tau tentang itu karena selama aku di dalam penjara, aku tidak mendapatkan informasi apa pun !", jawabku.


"Tentang motif pembunuhan mungkin sampai saat ini polisi hanya menerka-nerka saja tanpa bisa memberikan kepastian !", ucapku lagi.


"Kenapa ?", tanya dari pak rektor.


"Karena pelakunya belum ketangkap dan selama ini aku juga tidak mengaku walaupun aku di siksa habis-habisan !", jawabku.


"Tapi wajahmu baik-baik aja ?", tanya dari rektor dengan memperhatikan wajahku.


"Kalau wajahku sampai luka lebam dan di sorot oleh kamera bakal rame di berita kalau aku mengalami siksaan di dalam penjara, jadi mereka menghajar di bagian tubuh yang lainnya !", ucapku pada pak rektor.


"Lalu kenapa polisi gak bisa menentukan motif pembunuhan dari hasil bukti-bukti yang telah di kumpulkan ?", tanya dari pak rektor.


"Selama pelaku utama belum di tangkap motif pembunuhan masih menjadi sebuah prediksi saja, dan sebuah prediksi bisa salah bisa benar !", jawabku.


"Benar-benar.. tapi menurutmu siapa pelakunya ?", tanya dari rektor padaku.


"Gak tau !", jawabku.


"Lalu prediksimu tentang motif pembunuhan ini ?", tanya pak rektor.


"Kemungkinan pelaku ingin membalas dendam padaku, dia sengaja menjebakku dengan memberikan semua bukti-bukti yang mengarah dan memberatkanku !", tuturku.


"Ohh.. dia sudah datang rupanya !", ucap dari pak rektor dengan pandangan mengarah ke belakangku.


"Siapa ?", tanyaku pada pak rektor.


"Lihat tuh belakangmu !", jawab dari pak rektor.


Aku pun memalingkan wajah untuk melihat ke arah belakang, dan ku lihat sosok wanita yang sangat aku kenal yang pernah mengisi masa laluku. dengan langkah tegap nan tegas wanita ini berjalan dengan percaya dirinya mendekat kepadaku, pakaian kebesarannya dimana tempat dia mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengangkat profesinya, dialah herlina pramudya seorang polisi wanita yang pernah singgah di hatiku.


Dengan wajah berseri dan tegang serta prihatin dia pun melihat kearahku, aku merasa sangat malu dengan kondisiku saat ini, aku merasa tidak layak untuk bertemu dengannya. ternyata dialah orang yang datang untuk membelaku, lalu aku pun mendiri dengan segenap kemampuanku untuk menyambut kedatangannya. sebuah pelukan hangat kita lakukan berdua untuk melepas rasa kangen ini.


"Bagaimana keadaanmu ?", tanya dari herlina setelah terlepas dari pelukan.


"Lumayan !", ucapku pada herlina.


"Aku sudah bicarakan pada om teguh tentang ini dan ada kemungkinan jika semua berkasmu akan di limpahkan ke polda, jika kau berada di sini kau akan terus-terusan di siksa !", ucap dari helina.


"Terima kasih !", ucapku padanya.


"Siapa pelaku sebenarnya ?", tanya dari helina padaku dengan sangat serius.


"Aku tidak tau !", jawabku dengan menggelengkan kepala.


"Apa punya bukti untuk menyangkal semua tuduhan ini ?", tanya dari herlina.


"Tidak ada, tapi dengan logika aku bisa membantah semua bukti-bukti itu !", ucapku pada herlina.


"Baguslah kalau begitu !", ucap dari herlina.


"Hey... aku ini juga manusia bukan obat nyamuk !", saut dari pak rektor dengan tampang bloonnya.


"Hahaha... ", tawa dariku dan juga herlina terdengar pelan namun cukup untuk mengobati kepenatan pikiran ini.


Aku benar-benar tidak menyangkah jika herlina lah yang akan datang sendiri kesini untuk membela dan membantuku lepas dari permasalahan ini. sebuah masa lalu kini akan terlukis kembali bersama dengan sebuah petualangan baru. aku sangat yakin kepada mereka yang ada disini, walaupun si tua bangka ini hanya sebagai penonton tapi dia adalah suppoter yang selalu memberikan semangat.


"Kalian sebenarnya sudah putus apa belum seh ?", tanya dari rektorku.


"Bodoh amat !", saut dari herlina dengan tersenyum gembira.


"Kalau putuskan aku bisa jodohin nathael dengan anggun, hehehe... !", ucapnya.


"Siapa anggun ?", tanya dari herlina.


"Teman kampus !", sautku menjawab pertanyaan dari herlina.


"Mantan !", saut dari pak rektor.


"Mantan ?", tanya herlina dengan menatapku tajam.


"Mantan teman maksudnya !", saut lagi dari pak rektor dengan polosnya.


Dasar tua bangka, sudah tau aku sedang dalam masalah tapi masih saja ingin mencarikanku masalah baru. tapi seru juga dengan ulah konyolnya ini, lumayan untuk menghilangkan sedikit rasa sakitku. aku harap setelah ini aku bisa di berikan kesempatan untuk menguatkan alibiku agar aku bisa lepas dari jeratan hukum ini.


"Kapan kita akan beraksi ?", tanya dari herlina.


"Photo semua bukti yang telah terkumpul dan juga photo setiap sudut di TKP itu, dengan perintah dari om teguh mungkin kamu bisa melakukan ini !", ucapku pada herlina.


"Hehehe... aku lupa beli popcorn !", saut dari pak rektor.


"BERISIK.. !", bentakku serentak dengan herlina pada pak rektor.