
Rabu, 07 Desember
10:10, Sidang Perceraian
Akhirnya dapet izin juga untuk pergi ke sidang perceraian tante bella, aku pun sekarang sudah berada di pengadilan untuk mengikuti sidang perceraian dari tante bella, aku disini di tunjuk sebagai saksi atas perselingkuhan yang di lakukan oleh suami dari tante bella yaitu yohan, tak kusangkah kalau aku akan benar-benar menjadi saksi seperti ini.
Disidang kali ini aku di konfrontir oleh beberapa pertanyaan yang sangat menyudutkanku, bukan hanya diriku tapi tante bella pun juga seperti itu, adu argument antara pengacara pun terjadi dengan sengitnya, disidang kali ini semuanya hadir termasuk yohan juga. yang menentukan bisa tidakya tante bella bercerai dengan yohan tergantung dari kesaksianku ini.
"Saudara nathael, apa anda mengenal saudara yohan sebelumnya ?", tanya dari pengacara yohan.
"Sebelum apa ?", tanyaku balik dengan santainya pada pengacara yohan.
"Anda ini susah sekali yaa memahami sebuah pertanyaan !", ucap dari pengacara itu dengan maksud menyindirku.
"Pertanyaan anda masih menimbulkan tanda tanya, tapi bisa di maklumi karena anda memang dibayar untuk membela suami dari tante bella !", ucapku.
"Saudara disini hanya sebagai saksi, jadi anda harus bersikap sebagai seorang saksi !", ucap dari pengacara itu.
"Memang saksi gak boleh membela diri yaa ?", tanyaku polos pada pengacara itu.
"Ini bukan masalah membela diri atau apa pun itu tapi lebih ke arah kenapa anda ada disini dan disini anda hanyalah seorang saksi, masalah bela membela itu adalah tugas pengacara, lebih baik anda ikuti saja prosedur dan aturan yang ada !", ucap dari pengacara yohan.
"Silahkan !", ucapku pada pengacara yohan.
"Baiklah saya ulangi lagi, apa sebelum anda merekam yohan apa anda mengenal yohan ?", tanya dari pengacara itu.
"Ehm... saya tau yohan dan yohan juga tau saya, kalau di tanya masalah kenal atau gak, seharusnya anda juga menyadari akan kata 'kenal' itu sendiri, dalam hal ini kata 'kenal' memiliki banyak konotasi yang bisa memiliki beberapa arti !", ucapku mengurui pengacara yohan.
"Saya tidak butuh penjelasan anda yang panjang lebar, jawab saja secara singkat dan jelas !", ucap dari pengacara itu mulai kesal kepadaku.
"Ok, jika anda kenal.... !", ucap dari pengacara yohan terpotong.
"Saya tidak bilang kenal dengan yohan !", sautku memotong perkataan dari pengacara itu.
Sperti itulah seorang pengacara kalau melontarkan pertanyaan, semua pertanyaannya pastila bertunjukan untuk menjebak kita agar menjawab sesuai dengan konten yang telah dia rencanakan, ternyata ada gunanya juga aku mengambil jurusan hukum ini, ilmu pengetahuanku tentang hukum benar-benar sangat berguna terutama disaat-saat seperti ini. banyak sedikitnya aku bisa mengetahui apa-apa saja yang akan di lakukan oleh pengacara ini jadi aku bisa mengantisipasinya dengan memutar balikan pertanyaan tersebut.
"Saya tau dia dan dia tau saya, bukan berarti kita kenal kan !", terangku pada pengacara yohan.
"Ok, kita anggap anda dan yohan tidak kenal... !", ucap dari pengacara itu lagi-lagi terpotong.
"Tapi bisa juga seh kita kenal soalnya kita sama-sama tau dan juga pernah ngobrol, jika seperti itu bisa dibilang kenal kan !", ucapku memotong perkataan pengacara itu lagi.
"Saudara ini maunya apa... jangan main-main, ini pengadilan !", ucap pengacara yohan dengan membentakku.
"Sudah cukup.... saudara nathael, anda disini berkewajiban untuk menjawab pertanyaan dari pembela, jadi jalankan kewajiban anda dengan baik !", saut dari hakim untuk menghentikan sangkalanku.
"Silahkan di lanjutkan !", ucap pak hakim pada pengacara yohan.
"Terima kasih.. baiklah saya akan lanjutkan pertanyaan saya !", ucap dari pengacara yohan pada pak hakim.
"Saudara nathael, jika anda sama-sama tau atau kenal dengan yohan, apa ada pernah memiliki masalah dengan yohan sebelumnya kok sampai anda merekam yohan di malam itu ?", tanya dari pengacara yohan.
"Pernah !", jawabku singkat.
"Pernah apa ?", tanya dari pengacara yohan.
"Punya masalah !", jawabku singkat.
"Punya masalah dengan yohan ?", tanya pengacara yohan untuk menegaskan pernyataanku.
"Iya !", jawabku singkat untuk memancing emosi dari pengacara yohan.
"Iya apa... masalah apa yang terjadi antara saudara dengan yohan ?", tanya dari pengacara itu mulai terlihat emosi.
"Banyak !", jawabku singkat.
"Saudara jangan main-main dengan saya, jawab yang jelas... !", ucap dari pengacara itu dengan sangat kesalnya membentakku.
"Katanya tadi saya di suruh jawab dengan singkat dan jelas, gimana toh anda ini.. bingung aku !", ucapku dengan logat jawa.
"Saudara nathael, hormatilah sidang ini dan saya harap saudara bisa bersikap lebih sopan lagi untuk kelancaran sidang ini !", saut dari pak hakim yang juga kesal akan ulahku.
"Ok, silahkan !", ucapku.
"Baiklah saya lanjutkan lagi pertanyaan saya... saudara nathael tadi saudara bilang punya masalah dengan yohan bahkan saudara berani bilang banyak, coba ceritakan masalah tersebut ?", tanya dari pengacara yohan.
"Di basement saya ketemu yohan dengan seorang wanita bukan istrinya, lalu wanita itu ingin lari dari yohan dan kebetulan disini saya sedang lewat jadi wanita itu berlindung kepada saya untuk menghindari yohan !", paparku.
"Lalu yohan ngamuk-ngamuk dengan saya tak hanya di basement tapi dia juga mengejar saya di tempat kerja saya, bahkan sampai balik dua kali hanya untuk memaki-maki saya karena dia mengira kalau saya sengaja melindungi wanita tersebut !", paparku lagi.
"Dan yang paling membuat saya marah saat saya di keluarkan dari pekerjaan karena ulahnya yang sengaja ingin mencari perkara dengan saya !", ucapku lagi.
"Berarti saudara merekam ini karena ada dendam pribadi, lalu yang masih mengganjal di otak saya adalah apa tujuan anda merekam, apa saudara ingin mnggunakan rekaman ini untuk balas dendam ?", tanya dari pengacara yohan.
"Gak juga !", ucapku dengan santainya.
"Jelaskan maksud dari jawaban saudara itu ?", tanya pengacara itu lagi.
"Semua ini kan hanya karena kebetulan saja tanpa ada perencanaan terlebih dahulu !", ucapku.
"Bagaimana bisa kebetulan, orang merekam pastilah memiliki tujuan tertentu !", sangkal pengacara itu atas pernyataanku.
"Yaa waktu itu kebetulan saja saya bawa handphone jadi saya bisa merekam, coba kalau waktu itu saya gak bawa handphone pasti saya gak bisa merekam !", ucapku.
"Itu bukan sebuah alasan yang tepat !", ucap dari pengacara yohan.
"Lalu alasan yang tepat itu seperti apa yaa ?", tanyaku pada pengacara yohan.
"Di jaman yang modern seperti ini pastilah setiap orang akan selalu membawa handphonenya, pernyataan kebetulan membawa handphone itu hanya sebuah alasan yang mengada-ngada saja !", terang dari pengacara itu.
"Saya yakin setiap orang yang ada di sini pasti pernah lupa gak bawa handphonenya, jadi saat orang itu lupa gak bawa handphone bisa di katakan kebetulan kan.. berarti hal yang sama juga bisa berlaku untuk orang yang sedang bawa handphone, kebetulan saja dia membawa karena tidak sedang lupa !", terangku pada pengacara tersebut.
"Penjelasan saudara itu terlalu berbelit-belit, lebih baik kita berpikir secara real saja dengan apa yang ada sekarang ini !", ucap dari pengacara itu.
Hahaha... ketawa ku dalam hati begitu sangat senang dan puasnya melihat pengacara ini masuk kedalam siasatku, aku sengaja ingin memancing pengacara ini untuk membahas permasalahan ini tanpa berbelit-belit dengan memberikan dia sebuah pernyataan yang terkesan sangat membinggungkan untuk di di mengerti tapi masih bisa untuk di tangkap dengan logika.
"Jika anda bilang untuk berpikir secara real dengan keadaan yang ada sekarang dan tidak perlu berbelit-belit, kenapa kita tidak masuk ke inti permasalahan ini saja !", ucapku.
"Inikan sidang perceraian dimana yohan sudah terbukti bersalah dengan adanya rekaman itu dan ada saya di sini sebagai saksi, kenapa anda malah bertanya kepada saya tentang permasalahan saya dengan yohan !", ucapku pada pengacara yohan.
"Sudah jelas hal ini tidak sesuai dengan konten yang ada, dan menurut pandangan saya, pengacara ini sengaja ingin mengiring saya untuk menguak permasalahan pribadi saya dengan yohan karena... !", terang lagi.
"Yang mulia, saksi ini benar-benar telah melanggar atur... !", ucap pengacara yohan kepada pak hakim dengan memotong pembicaraanku.
"Silahkan lanjutkan saudara nathael !", ucap dari pak hakim dengan memotong perkataan dari pengacara yohan.
"Adanya rekaman itu bisa menjadi pisau bermata dua, jika saya kalah adu argument dengan pengacara yohan maka rekaman itu bisa dia gunakan untuk memutar balikan fakta yang ada !", ucapku pada pak hakim.
"Caranya adalah dengan menguak masalah pribadi saya dengan yohan lalu pengacara ini menggiring opini semua orang agar menyangkah bahwa saya sengaja menggunakan rekaman tersebut untuk menghancurkan rumah tangga dari yohan dan tante bella !", terangku.
"Bukan pangacara dari yohan sendiri yang bilang kalau jangan terlalu berbelit-belit dalam permasalahan ini, jika seperti itu kenapa kita langsung saja membahas tentang permasalahan yang ada yaitu antara tante bella dengan yohan, kenapa harus membahas permasalahan saya dengan yohan, bukankah hal ini sangat berbelit-belit !", terangku lagi.
"Saudara nathael ada benarnya juga.. baiklah, kalau begitu untuk saudara pembela silahkan bertanya sesuai dengan konten dari persidangan ini !", ucap dari pak hakim pada pengacara yohan.
Aku melihat ekspresi dari pengacara yohan begitu nampak tegang dan kesal sekali karena merasa di permalukan olehku, dan begitu pula dengan yohan yang sangat begitu emosi melihatku. aku yang sudah berada di atas angin berusaha untuk tetap tenang dan selalu berpijak pada bumi dalam artian lain tidak sombong dan jumawa. menghadapi orang-orang yang paham dengan hukum seperti pengacara ini adalah hal yang mudah jika kita bisa mematahkan semua argumentnya, cara paling ampuh adalah memutar balikan pertanyaannya sebagai senjata kita karena setiap pertanyaan yang di lontarkan oleh seorang pengacara/jaksa sudah terkonsep dengan baik, jadi untuk jangan sampai kita masuk kedalam konsepnya karena akan sulit bagi kita untuk keluar lagi dan bisa di pastikan kita akan kalah dalam adu argument.
Dan akhirnya jalannya sidang perceraian ini bisa berlangsung dengan lancar tapi hasil keputusannya masih harus menunggu sidang berikutnya yang berjarang dua minggu dari hari ini. tante bella dan pengacaranya pun nampak senang sekali dengan kesaksianku tadi, mereka pun menghampiriku dengan mengucapkan selamat atas keberanianku dalam bersaksi dan bisa membantahkan semua pernyataan dari pengacara yohan.
"Joss... muantep pokok'e !", ucap dari pengacara tante bella.
"Katanya bantu'in saya ngomong, tapi diem mlulu dari tadi !", celetukku pada pengacara tante bella.
"Lhooo... lawan kamu aja sudah ampun-ampun, apa lagi lawan saya !", ucap dari pengacara tante bella.
"Halah.. udahlah !", saut dari tante bella memotong pembicaraanku dengan pengacaranya.
"Makasih banyak yaa nath.. tadi itu hebat banget lho kamu !", ucap dari tante bella memujiku.
"Kan pengacara tante yang ngajari saya !", ucapku pada tante.
"Gak usah gitu, terlalu memuji kamu tuh... jadi gak enak nih !", ucap pengacara tante dengan gayanya yang tengil.
"Yaa udah kalau gitu, untuk ngerayain hari ini.. kita makan-makan yuk !", ucap dari tante bella.
"Makasih deh tante, saya masih harus ngikuti ujian lagi di kampus !", tolakku secara halus pada tante bella.
"Yaa udah kalau gitu, nanti malam kamu dateng yaa ke rumah tante, tante ingin ngucapin terima kasih ke kamu !", ucap dari tante.
"Gak janji yaa !", sautku.
"Usahain donk !", rayu tante.
"Pasti saya usahain tapi saya gak berani janji !", terangku.
"Yaa udah deh, nanti kamu kabari tante yaa !", ucap dari tante.
"Ok, kalau gitu saya pamit dulu yaa !", ucapku.
"Hati-hati nath !", ucap dari tante.
Setelah itu aku pun pergi keluar dari ruang pengadilan ini, aku pun segera menuju ke kampusku untuk mengikuti ujianku selanjutnya di hari ketiga ujian semesterku ini. setelah ujian pertama aku tidak ikut, aku harus mengejar agar di ujian kedua ini aku bisa ikut karena sayang banget kalau misalnya aku harus kehilangan nilai hanya gara-gara hal seperti ini.
14:17, Kampusku
"Tok.. tok.. tok.. ", suara tanganku saat mengetuk pintu kelas.
"Masuk !", ucap dari pak dosen.
"Permisi pak !", ucapku sesaat setelah membuka pintu kelas.
"Saya masih bisa mengikuti ujian kan pak ?", tanyaku pada pak dosen.
"Iya.. buruan masuk dan kerjakan soalnya !", ucap dari pak dosen.
"Terima kasih pak !", ucapku.
Aku pun langsung memasuki kelas dan duduk di kursi yang masih kosong untuk mengikuti ujian semester, lembar kertas soal dan lembar kertas jawaban telah tersedia di kursiku lalu aku pun segera mengerjakannya. kulihat jam tanganku sudah menunjukan pukul 14:17 siang, ternyata aku hanya terlambat sekitar 2 menit saja berarti masih cukup banyak waktu untuk mengerjakan soal-soal ujian ini.
Dengan sangat serius aku mengerjakan setiap soal ujian semester ini, tanpa adanya adrian yang biasanya bawel minta contekan, aku bisa fokus untuk mengerjakan soal-soal ini dengan cepat dan tepat. tak butuh waktu lama aku untuk menyelesaikan soal-soal ujian ini, kurang lebih aku hanya butuh waktu sekitar 45 menit saja untuk menjawab semua soal ujian.
"Pak sudah selesai !", ucapku pada pak dosen dengan mengacungan tanganku.
"Koreksi dulu !", ucap dari pak dosen.
"Sudah pak !" sautku.
"Kalau begitu kumpulkan, lalu kau boleh keluar !", ucap dari pak dosen.
Lalu aku pun berdiri untuk mengumpulkan soal dan lembar ujian ini, semua mahasiswa lainnya pun menatapku dengan keheranan karena aku datang sudah telat tapi aku bisa menyelesaikan soal ujian ini dengan cepat. tapi bukan hanya aku saja yang mengumpulkan soal dan lembar ujian itu, ternyata ada anggun yang satu ruangan denganku, dia juga telah selesai mengerjakan soal-soal ujiannya.
Semua mahasiswa lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat aku dan anggun keluar dari ruangan ujian dengan menyisakan waktu yang masih 45 menit lagi, hanya butuh separuh waktu dari total waktu yang telah di tentukan untukku dan anggun bisa menyelesaikan menjawab seluruh soal ujian tersebut. aku keluar dari ruangan di iringi oleh anggun, kulihat anggun wajahnya begitu berseri-seri sepertinya dia sangat senang sekali hari ini.
"Seneng banget bisa satu ruangan denganmu !", ucap dari anggun.
"Sama, aku juga seneng banget bisa satu ruangan denganmu !", ucapku pada anggun.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu telat ?", tanya dari anggun.
"Gak kedengeran tadi bel masuknya !", jawabku pada anggun.
"Untung saja cuma beberapa menit saja tadi telatnya !", ucap dari anggun.
"Ehh.. habis ini kamu mau kemana ?", tanya dari anggun.
"Pulang kerumah !", jawabku.
"Kita ngobrol dulu di kantin bisa gak !", ucap anggun mengajakku.
"Maaf, aku bener-bener harus pulang karena ada urusan yang penting !", tolakku pada anggun secara halus.
"Ehmm... ya udah deh gak apa-apa kalau gak bisa !", ucap dari anggun melemah nampak kecewa karena ajakannya aku tolak.
"Ok, lain waktu.. kalau gitu kita pisah sampai disini yaa !", ucap anggun.
Ehm... mungkin sekarang saat yang tepat untuk melancarkan rencanaku pada anggun, walaupun rada berresiko karena aku akan kehilangan sejumlah uang tapi dengan begini aku bisa memprediksikan apa yang sebenarnya terjadi pada anggun, perubahan sifatnya yang sangat mendadak itu benar-benar membuatku sangat mencurigainya.
"Tunggu dulu !", ucapku pada anggun menghentikan langkahnya untuk pergi.
"Iyaa.. ada apa nath ?", tanya anggun dengan menoleh kembali kepadaku.
"Ini ambillah uang ini !", ucapku pada anggun dengan memberikan amplop yang berisi uang.
"Uang apa ini ?", tanya anggun setelah menerima amplop uang itu.
"Uang buat ganti'in uangmu dulu yang aku robek-robek saat di perpustakaan !", terangku pada anggun.
"Hitung aja dulu, nilainya sama kok dengan uang yang aku sobek waktu itu !", ucapku pada anggun.
"Kan kita masih belum tau siapa yang menang !", ucap anggun dengan ekspresi terheran-heran.
"Sudah pasti kau yang menang karena tadi pagi aku tidak bisa mengikuti ujian !", ucapku dengan santainya dan menebarkan senyuman agar terlihat tidak tertekan sedikit pun.
"Kenapa ?", tanya anggun nampak prihatin.
"Ada halangan !", jawabku.
"Habis ini aku akan ke ruang rektor untuk mengurus segala administrasinya agar aku bisa keluar dari kampus ini !", ucapku pada anggun.
"Nath.. aku... !", ucap anggun terbata-bata.
"Sudahlah, bukankah ini kabar baik untukmu !", ucapku memotong pembicaraan anggun.
"Kau benar-benar menganggap ini semua seserius itu ?", tanya anggun padaku.
"Tentu saja !", ucapku.
"Lebih baik aku kalah dengan terhormat dari pada aku harus menang dengan menghalalkan segala cara !", ucapku memancing ekspresi dari anggun.
"Maksudmu ?", tanyanya dengan wajah yang binggung namun tatapannya tajam padaku.
"Kan aku sudah pasti kalah karena gak ikut ujian tadi pagi, kalau aku ingin menang berarti aku harus menghalalkan segala cara untuk menghentikanmu, tapi sayangnya aku bukan orang yang seperti itu !", terangku pada anggun.
"Lebih baik kalah dari pada menang tapi dengan cara kotor, sangat hina sekali bagiku !", ucapku dengan maksud menyindir anggun.
"Terserah kau saja, kan ini semua sudah jadi keputusanmu !", ucap anggun dengan nada yang sedikit tegang.
"Kalau begitu aku pergi dulu !", ucap anggun seperti terburu-buru.
"Hati-hati !", ucapku anggun.
Anggun pun pergi dan berlalu begitu saja, aku sengaja melakukan ini untuk mengetahui apakah prediksiku benar atau tidak, tapi melihat dari ekspresi dan tutur bicaranya aku bisa menyimpulkan jika anggun memiliki rencana lain untukku, bukannya hanya ingin melihatku keluar dari kampus ini tapi lebih dari itu, tapi lebih baik kita kumpulkan semua kepingan-kepingan puzzle yang masih tersisa. dan kali ini kepingan puzzle berikutnya adalah pak rektor, aku akan menuju ke ruangannya sekarang.
Aku berjalan menuju ke ruangan pak rektor yang telah menungguku karena sebelumnya aku telah meneleponnya untuk menungguku di ruangannya karena aku ada perlu dan meminta tolong kepadanya. pintu ruangan pak rektor pun aku buka dan terlihat pak rektor telah bersiap menyambut kedatanganku disana, aku pun masuk dan duduk berhadapan dengan pak rektor untuk menyampaikan maksud tujuanku.
"Gimana.. gimana.. ?", tanya dari pak rektor.
"Untung aja aku di kasih kesempatan untuk keluar sebentar !", ucapku pada pak rektor.
"Terus alasanmu apaan ?", tanya dari pak rektor.
"Ujian dan ada hal lain lagi yang harus aku jalani !", jawabku.
"Hal apa itu ?", tanya pak rektor.
"Ada deh !", jawabku.
"Hahahaha... ok lah kalau masih main petak umpet denganku !", ucap dari rektorku.
"Pak mau tanya donk ?", tanyaku pada pak rektor.
"Waktu dulu si anggun dan mamanya datang nemuin bapak, apa yang kalian bertiga obrolin ?", tanyaku pada pak rektor.
"Hahaha... rupanya kau menyadarinya yaa !", ucap dari pak rektor dengan tertawa terbahak-bahak.
"Kau benar-benar hebat nath tapi tenang saja, aku masih bisa menjaga rahasia kok, lagian mana mungkin aku ngecewain teman baikku si teguh om mu itu !", ucap dari rektor itu.
"Emangnya kenapa ?", tanya dari pak rektor itu kepadaku.
"Ada yang aneh dengan sifat anggun belakangan ini, biasanya dia galak banget tapi beberapa hari ini dia baik banget denganku, sifatnya berubah 180 derajat !", terangku pad pak rektor ini.
"Hahaha... sayang sekali waktu itu aku tidak melihat kau dan hans saling adu strategi dan kejeniusan, oleh karena itu aku ingin melihatmu beradu strategi dan kejeniusan dengan anggun !", ucap dari pak rektor.
"Haah... pantes saja waktu itu bapak sengaja banget ngomong keceplosan nyebutin nama belakangku dan ngasih clue-clue ke anggun lagi, maksud untuk buat anggun penasaran lalu menyelidikiku gitu ?", tanyaku ada pak rektor.
"Tentu saja, hahahaha... !", ucap dari pak rektor ini.
"Jangan seperti itu lah pak... anggun itu bukan anak sembarangan, aku sudah beberapa kali berhadapan dengannya dan analisanya nyaris sempurna bahkan aku pun pernah dia jebak !", tuturku pada pak rektor.
"Woow.. sesuai prediksiku berarti, memang benar kalau anggun itu benar-benar sangat jenius dan bisa menjadi pesaingmu nantinya !", ucap dari pak rektor.
"Hanya kurang jam terbang saja !", ucapku pada pak rektor dengan santainya.
"Maksudmu ?", tanya pak rektor.
"Latar belakangnya sangat jauh berbeda dengan latar belakangku dulu, sejak aku kecil aku tidak di manjakan bahkan terbiasa mandiri sangat berlawanan dengan latar belakang dari anggun !", paparku.
"Walaupun waktu itu dia bisa menjebakku tapi aku sudah bisa membaca semua rencananya dan memprediksi apa yang akan di lakukan olehnya, dan satu lagi yang paling fatal adalah dia membuka blak-blak'an semua kemampuannya di depanku !", ucapku pada pak rektor.
"Yaa... kayaknya nathael vs hans gak bakal terjadi lagi donk, padahal aku ingin sekali membuat versi lainnya yaitu nathael vs anggun !", ucap dari rektor tersebut.
"Sudahlah jangan terlalu bermimpi, aku cuma ingin hidup tenang dan mendapatkan kepercayaan kembali dari om teguh !", ucapku pada pak rektor.
"Terlalu mentah dan levelnya masih terlalu jauh dariku, hehehe... !", sambungku dengan bercanda.
"Lalu bagaimana temanmu, apa dia masih di kantor polisi ?", tanya dari pak rektor.
"Iya.. yuk berangkat sekarang yuk !", ucapku pada pak rektor.
"Ok, yuk !", ucap dari pak rektor.
"Ehh.. pak tunggu dulu, aku ingin minta tolong lagi nih !", ucapku pada pak rektor.
"Apa itu katakan ?", tanya dari pak rektor.
"Untuk semester depan aku akan cuti tapi tolong hilangkan namaku dari daftar cuti biar terkesan aku keluar dari kampus ini !", ucapku pada pak rektor.
"Kenapa ?", tanya pak rektor merasa keheranan.
"Ingin melihat aku lawan anggun kan ?", tanyaku balik.
"Wooww.. bakal seru nih kayaknya !", ucap dari pak rektor.
"Deal ?", tanyaku pada pak rektor dengan menyodorkan tanganku.
"Deal !", ucap dari pak rektor dengan menjabat tanganku.
Pak rektor.. pak rektor.. obsesi terlalu berlebihan kepadaku dan juga anggun, tapi tak apa lah menghiburnya sedikit dan juga akan akan memberikan pelajaran kepada anggun agar tidak terlalu berlebihan dalam menyikapi sebuah permasalahan, sifatnya yang sangat ambisius itu bisa menjadi bumerang untuknya nanti.
Aku dan pak rektor pun keluar dari ruangan, tentu saja aku berjalan lebih dan meninggalkan pak rektor jauh di belakangku agar tidak terlalu mencolok kalau antara aku dan pak rektor mempunyai hubungan yang special. tujuanku kali ini adalah meminta tolong pak rektor untuk bisa membebaskanku dan juga adrian atas masalah yang menimpaku tadi pagi.
16:55, Kantor Polisi
"Krriiiiiiinnnggg.... ", suara dering teleponku berbunyi, lalu aku pun mengangkatnya.
"Hallo !", ucapku.
"Hallo nath, ini bu anna.. mamanya adrian !", saut dari bu anna.
"Ohh iya bu.. ada apa ?", tanyaku pada bu anna.
"Nath, gimana keadaan dari adrian katanya tadi pagi kecelakaan ?", tanya dari bu anna.
"Iya bu waktu kejadian juga ada saya disana !", ucapku.
"Lalu gimana keadaannya, kenapa kamu gak langsung hubungi ibu ?", tanya lagi bu anna dengan paniknya.
"Keadaannya baik-baik aja kok cuma sekarang lagi ada di kantor polisi !", ucapku.
"Iya ibu tau, soalnya tadi ibu juga di telepon ama polisi kalau adrian kebut-kebutan lalu kecelakaan !", ucap dari bu anna.
"Tolong jenguk dia nath lalu coba yakinin polisi agar bisa bebasin adrian, kamu sudah bebaskan nath !", ucap dari bu anna.
"Iya bu ini saya lagi di kantor polisi juga, saya usahain agar adrian bisa pulang hari ini juga !", ucapku pada bu anna.
"Makasih banyak ya nath, nanti tolong kabari ibu lagi yaa !", ucap dari bu anna.
"Iya bu.. nanti hasilnya bakal saya kabari ke ibu !", ucapku.
Aku pun mematikan panggilan telepon dari bu anna, lalu ku lanjutkan perjalananku untuk ke ruangan yang sekarang adrian berada. mamanya begitu nampak sangat menyayangi adrian karena hanya adrianlah yang dia miliki dan anak satu-satunya jadi pantes saja kalau adrian sangat di manjakan oleh mamanya.
"Siapa nath ?", tanya pak rektor.
"Mamanya adrian !", jawabku.
"Yaa udah kalau gitu, bapak langsung saja ke kapolseknya.. kamu temuin saja adrian !", ucap dari pak rektor.
"Nanti kabari yaa pak kalau dah kelar !", ucapku pada pak rektor.
"Sep !", sautnya.
Aku pun langsung menuju ke tempat adrian berada, sedangkan rektorku pergi ke ruangan kapolsek untuk berunding membebaskan kami dari masalah ini. benar-benar hari yang sangat melelahkan sekali, dan setelah ini aku ingin pulang ke kontrakan lalu langsung tidur walaupun aku memiliki janji dengan tante bella.
Aku pun masuk ke dalam ruangan yang di tempati oleh adrian, ku lihat adrian nampak murung dan ketika melihat dia begitu kesal sekali, kemarahannya padaku masih belum padam juga ternyata apa mungkin dia merasa kalau aku tinggalkan saat terpuruk, padahal aku meninggalkannya karena ada urusan sidang perceraian dan juga mengikuti ujian dan setelah itu aku datang kembali untuk menolongnya dari masalah ini.
"Ngapain lu balik, anj*ng lu... ?", tanya adrian dengan memaki ku.
"Gue pingin bebasin lu !", ucapku.
"Gue gak butuh bantuan lu, bangs*t... !", makinya lagi.
"Terserah lu lah !", ucapku pada adrian dengan nada kesel karena bantuanku tidak dia gubris.
"Inget... gue bakal sebarin video lu ama bu gina !", ancam dari adrian.
Mendengar ucapan dari adrian aku pun merasa sangat shock sekali, aku benar-benar tidak pernah menyangkah jika adrian akan menggunakan video itu untuk mengancamku. ini adalah tentang video dimana saat itu aku dan adrian memperkosa bu gina, karena ulahnya aku menggunakan cara kotor agar bu gina tidak menceritakan tentang threesome tersebut.
Namun untung saja bu gina ternyata wanita yang binal juga yang doyan akan belaian laki-laki jadi setelah tenang dia pun tidak mempermasalahkan hal tersebut malah jadi ketagihan dengan aku di jadikan budak se*nya, tapi kali ini ceritanya berbeda dari sebelumnya, adrian ingin menggunakan video itu untuk mengancamku dengan cara menyebarkan video itu, bukan hanya dia yang akan kena getahnya tapi aku juga akan kena imbasnya apa lagi aku yang mempunyai rencana seperti itu.
"Lu temen baik gue dan gue gak pingin ngelihat lu celaka makanya gue lakuin semua ini !", ucapku untuk merayu adrian agar tenang.
"Banyak bacot lu !", ucap dari adrian.
"Hari ini gue jammin lu bakal bebas dan masalah mobil lu biar gue yang nanggung, sekalian juga ama orang yang nabrak mobil lu !", ucapku pada adrian.
"Pokoknya lu terima beres deh !", ucapku lagi untuk menenangkan adrian.
"Temen kayak ta* lu.. udah salah gue nilai lu !", ucap dari adrian.
"Udahlah.. ini masalah kan udah kelar, apa lagi yang perlu di ributin !", ucapku untuk membujuk adrian.
"Gue yang tanggung semuanya, dan tadi nyokap lu juga telepon gue nanyain keadaan lu.. gue dah bilang kalau semuanya bakal baik-baik aja !", ucapku lagi.
"Tok.. tok.. tok.. ", suara seseorang mengetuk pintu ruangan ini.
"Kalian berdua sudah boleh pulang !", ucap dari polisi yang berjaga.
"Terima kasih pak !", ucapku pada polisi itu.
"Jangan bikin ulah lagi, kuliah yang pinter dan bangga'in orang tua kalian !", pesan dari polisi itu.
Adrian pun pulang tanpa menghiraukanku, aku yang melihat hanya bisa diam dan geleng-geleng kepala saja. aku benar-benar berharap semoga kepalanya bisa cepat dingin dan tidak melakukan hal-hal konyol seperti ancamannya tadi.