Xcase

Xcase
Pinang dibelah 2 (2)



16:25, Caffe Starbucks


Setelah mengantar bu anna membawa barang belanjaannya ke mobil miliknya, aku pun segera ke tempat kerjaanku untuk bertemu dengan anggun yang sedang menunggu disana, aku harus bertanggung jawab untuk mengganti kerusakan handphone miliknya yang tadi sempat aku senggol dan jatuh.


Sampai saat ini aku juga binggung gimana cara ganti handphone milik anggun itu, harganya saja sangat mahal dan aku tidak akan sanggup jika membelinya secara cash. aku akan mencoba untuk bernegosiasi dengan supaya dia mau memberikan keringanan kepadaku, siapa tau dia mau menerima usulanku untuk membayarnya secara kredit alias cicilan.


"Tapi yang anehnya kenapa anggun kesini sendirian yaa... kemana kedua temannya itu, bukankah kemana pun anggun pergi dia selalu di temani oleh temannya itu !", ucapku dalam hati.


Setibanya di tempat kerjaanku kulihat anggun sedang duduk sendirian menunggu kedatanganku, dengan tampang begitu cemas dan kesal karena menungguku. langkah demi langkah ku ayunkan untuk mendekatinya, saat melihat kedatanganku dia pun menatapku tajam sangat emosi, lalu aku pun duduk di depannya. kulihat rekan-rekan kerjaku sedang asyik dengan kerjaannya dan sapaan kecil mereka kepadaku terlantun begitu saat, sepertinya anggun hanya datang dan menungguku tanpa ada bertanya kepada rekan-rekan kerjaku tentang diriku.


"Sory kalau lama !", ucapku.


"Gak usah basa-basi deh... mana sini gantinya !", ucap anggun dengan nada kasar meminta ganti handphonenya.


"Bentar dulu dengarin dulu penjelasan gue !", ucapku pada anggun yang sedang kesel.


"Gue gak butuh penjelasan lu.. mana sini handphone baru gue !", ucapnya lagi dengan kasar.


"Gue gak ada duit buat beli handphone baru kayak punya lu !", jawabku.


"Sumpah... nyolot banget lu yee ama gue !", ucap anggun dengan mengacungkan telunjuknya ke arahku.


"Gue bakal ganti tapi gue cicil.. kalau gue disuruh ganti baru dengan beli cash, gue ga ada duit !", paparku meminta perngertiannya.


"Gue gak mau tau... yang penting sekarang gue harus dapet handphone baru !", ucapnya.


"Itu bukan baru tapi bekas, karena udah lu pakai !", sangkalku.


"Tuh handphone baru 2 bulan gue beli !", ucap anggun.


"Iya tapi tetep aja bekas.. kalau lu jual juga harganya turun !", sangkalku lagi.


"Terus mau lu apa sekarang... gak mau ganti ?", tanyanya ketus.


"Gue bakal ganti sesuai dengan harga barunya tapi gue cicil !", jawabku.


"Yaa udah lu cari aja sono toko yang jual iphone secara kredit... tapi inget, gue gak mau jika garansinya abal-abal !", ucapnya.


"Banyak banget persyaratan lu !", sindirku.


"Yaa.. iyalah.. iphone gue belinya di gerai apple, garansinya juga asli dari apple langsung !', ucapnya.


Karena minimnya informasiku tentang kios-kios handphone yang jual iphone secara kredit dengan garansi resmi dari apple, aku pun mencoba bertanya pada rekan-rekan kerjaku barang kali di antara mereka ada yang tau tempat yang menjual barang tersebut. tapi apa daya tangan tak sampai, semua menyangkal jika tidak ada yang jual iphone dengan kredit karena type dari handphone anggun adalah type terbaru yang baru keluar sekitar 2-3 bulanan yang lalu.


"Nath coba lu ke lantai 2, kalau gak salah di situ ada pameran handphone-handphone terbaru, kali aja lu bisa nemu barang yang lu cari !", saran dari rekan kerjaku.


"Ok, makasih yaa !", ucapku.


Kemudian aku pun memberitahu kepada anggun akan informasi ini, lalu ku ajak dia untuk ke lantai 2 mencari handphone yang sesuai dengan milik anggun dan tentu saja yang bisa di angsur. kita pun berjalan bersama-sama menuju tempat yang dimaksud, setelah tiba pun kita berdua berkeliling melihat-lihat model handphone keluaran terbaru, teknologinya sudah sangat canggih sekali dibandingkan dulu dan perkembangannya begitu cepat.


Sembari berkeliling ku lihat anggun juga menikmati suasana gallery pameran handphone-handphone terbaru yang ada disini, wajahnya tidak lagi kesal dan marah terhadapku karena fokus sudah teralihkan kepada deretan handphone-handphone canggih ini. dan sesekali aku pun mencoba mengajak berbincang, jawabannya juga sudah mulai enak terdengar dan lunak.


"Gue ganti pakai handphone ini aja yaa !", ucapku pada anggun dengan menunjukan handphone merk lain.


"Gak sudi !", jawabnya.


"Kalau ini ?", tanyaku lagi dengan menawarkan handphone lainnya.


"Lu jangan coba-coba ngerayu gue... !", ucapnya dengan nada mengancam.


"Nih, yang ini kan handphone milik lu ?", tanyaku pada anggun.


"Iyaa.. tanya'in dulu garansinya apaan baru beli !", ucapnya.


"Bawel lu !", ucapku lirih.


"Bawal... bawal... ikan bawal, habis ini gue mau makan ikan bawal !", ucapku menegaskan pada anggun biar bisa diem.


"Berisik lu.. buruan beli, gue ga ada HP nih jadi gak bisa komunikasi dengan seseorang !", ucapnya.


Aku pun menanyakan tentang handphone yang di inginkan oleh anggun, kepada salah satu customer service dari pihak apple, dan memang benar bahwa handphone ini adalah handphone yang sama persis dengan milik anggun tapi sayangnya handphone ini di jual dengan angsuran 6 bulan atau 6 kali cicilan yang perbulannya aku harus membayar sebesar Rp. 2.766.000,00.


"Hah.. mbak gak bisa kurang lagi tuh cicilan, mahal amat !", ucap sangat kaget mendengar harga cicilannya.


"Ini dari sananya mas.. gak bisa lagi di nego !", jawab dari mbak customer service.


"Kalau angsuran yang setahun ada gak mbak ?", tanyaku lagi.


"Gak ada mas.. angsurannya maksimal cuma 6 bulan atau 6 kali angsuran !", jawab mbak customer service tersebut.


"Yaa elah mas... kalau demi pacar jangan perhitungan tar di tinggalin lho !", goda dari mbak CS ini.


"Pacar apaan.. ogah banget punya pacara kayak dia !", saut anggun dengan keselnya kepada mbak CS itu.


"Sekarang tau kan kenapa saya perhitungan, karena dia gak mau jadi pacar saya !", ucapku meledek anggun.


"Hehehe... sabar aja mas !", ucap lirih dari mbak CS ini.


"Ngomong apaan kalian berdua... !", tegur anggun kepadaku dan mbak CS.


Setelah terjadi negosiasi yang sangat alot yang dimana harga yang sudah di tentukan tidak bisa untuk di ganggu gugat, dan seribu rayuanku pada mbak CS dan anggun sama sekali tidak mempan jadi dengan sangat berat hati aku membelikan handphone itu untuk mengganti handphone anggun yang rusak, setelah membeli aku pun menyerahkan handphone itu pada anggun.


"Eehh.. jangan pergi dulu.. tunggu disini sebentar !", ucap dari anggun kepadaku.


Lalu anggun segera memasukan SIM Cardnya kedalam handphone barunya tersebut, dan dia menyalakan handphonenya, tak lama kemudian terlihat kini anggun sedang menelepon seseorang.


"Haloo... kamu dimana ?", tanya anggun pada seseorang yang di teleponnya dengan nada yang manja.


"Iihh.. apaan seh, ngomong kok gitu kamu !", ucap anggun.


"Tadi handphoneku jatuh gara-gara di senggol oleh orang.. orang gak penting lah !", ucap anggun via telepon.


"Hahaha... aku tunggu di lantai 2 yaa di pameran handphone !", ucap lagi anggun pada seseorang yang dia telepon.


"Enggaklah.. aku suruh aja dia buat beli'in handphone baru, sekalian ngasih pelajaran buat dia agar tidak macam-macam lagi !", ucapnya terdengar menyindirku.


"Yaa udah buruan yaa... !", ucap anggun pada orang yang di handphone itu.


Kemudian anggun pun menutup panggilan tersebut, aku yang di minta untuk menunggu hanya bisa menuruti perintahnya dan menunggu seseorang disini. entah siapa yang anggun tunggu aku juga masa bodoh akan hal itu, yang ada di benakku sekarang hanyalah segera pergi dari keadaan ini dan segera kerja karena jam kerja sudah berjalan dari tadi.


Setelah beberapa menit menunggu berdua dengan anggun tanpa adanya basa-basi di antara kita, sosok pria muda nan tampan pun datang mendekati anggun lalu pria tersebut cipika-cipiki dengan anggun, melihat hal tersebutaku merasa sangat risih dan terasa seperti anggun dengan sengaja ingin aku menyaksikan pertunjukan cipika-cipiki ini.


"Lama banget seh ?"', tanya anggun pada pria itu.


"Kamu gak bisa di hubungi !", jawab pria itu.


"Mana orang jatuhin handphone kamu ?", tanya pria itu pada anggun.


"Udahlah, manusia gak penting.. cabut yuk !", ucap anggun.


Mereka berdua pun berlalu pergi meningalkanku sendiri tanpa sepatah kata yang terlontar untuk berpamitan denganku. aku merasa diacuhkan begitu saja, dia benar-benar ingin menghinaku dan menginjak-injak harga diriku, sangat ingin membalas semua perbuatanku yang pernah aku perbuat kepadanya, wanita ini penuh dengan dendam mirip sekali dengan seseorang yang pernah aku kenal dulu.


"Akhirnya kelar juga masalahku.. kini aku harus kerja ekstra keras lebih supaya bisa mendapatkan uang lebih banyak lagi !", ucapku dalam hati.


Setelah semua selesai aku pun kembali ke tempat kerjaku untuk memulai pekerjaanku yang sempat tertunda karena si anggun, saat aku akan memasuki caffe tempatku bekerja nampak sosok wanita paruh baya sedang menunggu di depan pintu caffeku, melihat wajahnya aku seperti pernah melihatnya, aku pun mencoba mengingatnya-ingatnya.


Tidak selang beberapa lama kemudian muncullah bosku dari dalam caffe keluar menuju kearah wanita tersebut, bossku memberikan ciuman dari arah belakang ke rambut wanita tersebut, nampak mereka sangat mesra sekali seperti pasangan suami istri saja, aku pun terbesit pikiran kalau mereka berdua memang pasangan suami istri.


Sesaat mereka pergi aku pun baru ingat kalau wanita paruh baya itu adalah wanita yang pernah order disaat caffe sudah tutup, dimana di waktu bersamaan aku hampir saja tertabrak oleh mobil berplat nomor L 3513 IAN, apa jangan-jangan dia yang memiliki mobil tersebut.