Xcase

Xcase
Episode 5 : Bu Gina



Terpaksa aku harus pulang dan tidak melanjutkan perkuliahaanku, semua ini gara-gara anggun yang dengan sengaja mengotori pakaianku. mengingat-ingat tentang anggun membuatku tersenyum-senyum sendiri, bukannya jengkel karena kelakuannya kepadaku tapi aku malah merasa senang bisa mendapatkan perhatiannya.


Tapi kau diperhatikan secara dekat, wajahnya sangat cantik sekali walaupun tanpa make up juga terlihat cantik, mirip dengan seseorang yang aku kenal di masa lalu ku. paras ayu nan rupawan khas kecantikan wanita jawa, dialah sosok yang pernah singgah di dalam hatiku, herlina pramudya. dan kali ini aku merasakan hal yang sama pada sosok anggun wijayanata, parasnya sangat cantik dan natural sekali, cuma wajah dari anggun seperti blasteran cewek chinesse dengan indonesia.


"Aaahhh... apa seh yang gue pikirin !", gumamku sendiri.


Akhirnya bus kota yang kutunggu-tunggu datang juga, aku pun menaiki bus kota ini untuk mengantarku pulang ke rumah. duduk di pinggir jendela dan memandangi suasana kota surabaya yang nampak basah karena guyuran hujan, udara yang dingin nan sejuk di iringi dengan semilir angin yang melambai membuat mataku terasa berat sekali, ingin sekali aku tidur dalam bus kota ini.


Tunggu dulu jika adrian benar-benar ke kontrakanku maka aku akan memergokinya tapi kasian juga jika ku pergoki dia saat ini, karena dia telah membayar WP untuk menemaninya tidur tapi jika tidak aku berikan pelajaran dia akan mengulanginya terus-terusan. ehm... lebih baik aku menunggunya di ujung gang saja, aku akan bersembunyi di ujung gang dan memantau adrian dari kejauhan lalu saat adrian keluar aku akan merekamnya sebagai bukti yang otentik supaya dia tidak bisa ngeles dari tuduhanku.


Setelah beberapa menit akhirnya bus kota ini sampai juga di tempat tujuanku, aku pun turun di depan mall tunjungan plaza kemudian aku berjalan melewati setiap gang yang mengarah ke kontrakanku, disaat aku sedang berjalan dengan santainya tiba-tiba saja ada seseorang yang keluar dari sebuah toko dan berpapasan denganku, nampak pria tersebut terlihat buru-buru menyembunyikan belanjaannya.


"Hi.. nath, lu dah pulang !", ucapnya.


"Iya.. lu ngapain disini ?", tanyaku.


"Ini... apa... habis beli obat nyamuk... iya obat nyamuk !", ucapnya gugup.


"Bohong lu yee.. !", ucapku memojokannya.


"Masak seorang adrian bohong seh !", ucapnya.


Iya benar... pria yang berpapasan denganku adalah adria, dia nampak panik sekali saat berpapasan denganku dan dia terlihat begitu gugup saat menjawab pertanyaanku. sepertinya rencanaku akan gagal karena ternyata dia baru saja akan menuju ke kontrakanku, jika seperti ini maka semua jebakan yang aku siapkan akan percuma saja, dan bahaya sekali jika sampai adrian mengetahui jebakanku itu, bisa-bisa dia akan merancang sesuatu untuk menangkal jebakanku itu.


Sebentar... bagaimana jika dia telah tiba di kontrakanku dan dia kelupaan akan sesuatu makanya dia memutuskan untuk keluar membeli barang di toko ini. baiklah aku akan mencari tau tentang kebenaran ini tanpa menimbulkan kecurigaan baginya.


"Lu mau kemana habis ini ?', tanyaku pada adrian.


"Yaa.. ketempat lu lah, mau kemana lagi !", jawabnya dengan santai.


"Kan gue ga ada di rumah ?', tanyaku padanya.


"Kan sekarang lu ada disini !", jawab adrian.


"Kan sebelum gue ada, lu udah ada disini !", ucapku lagi.


"Kan feeling gue kuat, jadi gue tau kalau lu bakal pulang cepet !", sangkalnya lagi.


"Kan... !", ucapku terpotong oleh sautan adrian.


"Halah... kan.. kan.. solikan !", sautnya memotong pembicaraanku.


"Udahlah yuk ketempat lu aja !", ucapnya lagi dengan melambaikan tangan kanannya bertanda maju.


Saat tangan kanannya melambai ku lihat ada noda tinta di telapak tangannya adrian, dan bisa kupastikan bahwa dia telah berbohong kepadaku, sebenarnya dia sudah memasuki kontrakanku dan kemudian dia keluar untuk membeli sesuatu di toko tersebut. jika benar dia telah memasuki kontrakanku berarti di dalam kontrakanku sekarang ada WP, tapi melihat gelagat adrian yang begitu pede mengajakku ke kontrakanku seakan menyiratkan bahwa di kontrakanku tidak ada orang, jika memang seperti itu berarti dia datang ke kontrakanku hanya untuk mengintip bu gina.


"Eehh.. nath beli mansion yuk !", ucap adrian.


"Males !", jawabku.


"Adem-adem ngene enak'e ngombe mansion ben awak iki anget !", ucapnya.


(Dingin-dingin gini enaknya minum mansion biar tubuh jadi hangat).


"Lu aja yang minum gue kagak !", ucapku.


"Aaahh... gak asyik lu !", ucap adrian merayuku.


"Sebotol doank cuma buat angetin badan !", rayunya lagi.


"Terserah lu lah !", ucapku padanya.


"Siip.. iki baru koncoku, awakmu nang kene ae yoo.. aku tak tuku mansion disik !", sautnya.


(Siip.. ini baru teman gue, lu disini aja yaa.. gue mau beli mansion dulu).


Dengan cepat adrian pun kembali ke toko yang tadi untuk membeli sebotol mansion, saat aku perhatikan adrian dia terlihat sangat buru-buru sekali untuk segera masuk kedalam toko tersebut karena penasaran aku pun berjalan pelan-pelan untuk mengintip apa yang sedang dia lakukan di dalam toko tersebut, saat ku lihat dirinya ternyata adrian sedang asyik menelepon sambil membeli beberapa barang.


Lalu aku segera kembali ke posisi awalku supaya tidak di curigai oleh adrian, sesaat kemudian adrian kembali ketempatku menunggunya lalu kita berdua berjalan bersama-sama untuk masuk menuju ke kontrakanku, dan sesampainya di depan pintu kontrakan ku lihat bu gina keluar dari kontrakannya, bukan diri bu gina yang menarik perhatianku tapi sesuatu di bajunya.


Bekas noda di pinggul bu gina nampak seperti bekas telapak tangan dan noda tersebut seperti noda dari sebuah tinta, sepertinya adrian telah menyentuh pinggul dari bu gina dan kalau dilihat dari bentuk noda pinggul bu gina, kayaknya adrian menyentuhnya dari arah belakang bu gina. baiklah untuk menguatkan semua pradugaku ini aku harus menanyakan langsung pada adrian, semua bukti sudah cukup untuk membuat adrian tersudut.


"Heh.. jujur ama gue, lu udah ngapain bu gina ?", tanyaku dengan sangat serius pada adrian.


"Ngomong opo kon iki !", ucapnya mengelak dari pertanyaanku.


(Ngomong apa lu ini).


"Dancok.. tenan iki cok, sampai raimu gak gelem ngaku mending ora usah koncoan awak'e dewe !", ucapku dengan membentak adrian.


(Dancok.. serius ini cok, sampai muka lu gak mau ngaku mending gak usah temanan kita).


"Lu itu ngomong apa seh.. sumpah gue binggung ama omongan lu !", bantah adrian.


"Awakmu nuduh aku koyok ngunu emang'e onok bukti'e ta ?", tanya adrian padaku.


(Lu nuduh gue kayak gitu emangnya ada buktinya apa ?).


Gue pun langsung membuka pintuku dan mengajak adrian untuk melihat gagang pintu bagian dalam, lalu aku jelaskan tentang jebakan yang telah aku taruh di sana.


"Lihat nih bagian terdalam dari gagang pintu gue, sengaja gue kasih tinta agar gue tau kalau ada orang yang telah memasuki kontrakanku atau tidak, dan sekarang tintanya sebagian sudah hilang berarti ada orang yang telah memegang gagang pintu ini !", ucapku pada adrian.


"Bisa aja ada orang iseng yang memegang gagang pintu lu !", bantah adrian.


"Mustahil ada orang luar yang iseng megang gagang pintu ini, karena gagang yang aku olesin adalah gagang pintu yang terdapat tinta di sisi bagian dalam kontrakan bukan bagian luar, jadi kalau ada orang memegangnya pasti dia berada di dalam kontrakan !", tuturku.


"Bisa aja itu lu sendiri yang buka terus lupa deh !", sangkal adrian.


"Nih lihat telapak tangan gue.. ga ada noda tinta, sekarang tunjukin telapak tangan lu ?", perintahku pada adrian.


Kutatap wajah adrian dengan sangat serius dan sangat tajam untuk memberikan kesan intimidasi kepadanya, dan dengan sedikit gugup dia pun menunjukan telapak tangannya.


"Lihat tuh ada noda tinta di telapak tangan lu !", sautku memojokan adrian.


"Noda ini bisa aja gue dapat di tempat lain, tapi yang jadi masalah bagaimana cara gue buka pintu lu kalau gue gak punya kunci kontrakan lu ?", tanya adrian membantah pernyataanku.


"Lu punya kunci kontrakan gue, karena satu-satu orang yang pernah memegang kunci kontrakan gue !", ucapku pada adrian.


"Kapan gue pegang kunci kontrakan lu ?", tanya adrian.


"Saat pertama kali lu nginep di kontrakan gue, inget gak lu ?", tanya gue pada adrian.


"Tapi kan udah gue balikin saat lu pulang gawe !", bantah adrian.


"Sebelum lu kembali'in ke gue, lu udah duplikat kunci gue !", sautku padanya.


Perdebatan ini terjadi begitu sengit antara aku dan adrian, sampai-sampai kita berdua pun saling membentak untuk menguatkan alibi masing-masing.


"Lu gak bisa nuduh gue hanya dengan bukti yang keabsahannya masih di pertanyakan, lu gak punya saksi kunci yang melihat gue masuk ke kontrakan lu !", ucap adrian.


"Bu gina saksinya !", sautku.


"Eehh.. lu jangan sembarangan ngomong nath !", ucap adrian yang panik.


"Seminggu yang lalu gue udah curiga ama lu kalau lu udah memasuki kontrakan gue tanpa seijin gue, karena adanya aroma dari asap rok*k di ruangan ini dan di dalam kamar gue dan setelah itu kipas angin di dalam kamar gue juga sengaja di panjer ke arah pintu kamar untuk menghilang asap rok*k di dalam kamar !", paparku.


"Lalu gue mencoba bertanya pada bu gina tapi jawaban dari bu gina malah menguatkan kecurigaan gue kalau emang benar ada orang yang telah memasuki kontrakan gue !", paparku lagi.


"Kemudian gue melanjutkan untuk mencari bukti lainnya dan gue temukan platik di tempat sampah yang isinya bungkus rokok, bungkus permen dan dua bungkus k*nd*m, dan gue yakin kalau itu adalah punya lu !", ucapku pada adrian.


"Lu jangan asal nuduh, anj*ng !", ucap adrian marah kepada gue.


"Gue gak asal nuduh.. gue coba perkuat kecurigaan gue dengan menggabungkan dengan gelagat lu saat pertama kali menginap disini, lu terlihat sedang asyik mencari WP di sebuah situs internet, makanya gue berkesimpulan kalau lu sengaja memasukan WP tersebut kedalam kontrakan gue !", paparku.


"Kalau lu masih ngeyel, gimana kalau kita panggil bu gina aja !", tantang ku pada adrian.


"Ngapain bawa-bawa bu gina... ini gak ada hubungannya dengan bu gina !", sangkal dari adrian.


"Semakin lu ngeles dan ngebantah tuduhan gue, kecurigaan gue semakin jelas terjawab !", ucapku pada adrian.


"Gue semakin yakin kalau dua k*nd*m itu lu pakai kepada bu gina bukan kepada WP !", ucapku lagi.


"Kalau lu gak bisa bukti'in omongan lu, gue gak sudi punya temen kayak lu !", ucap adrian dengan nada emosi dan mengancam.


"Di pakaian bu gina yang di pakai sekarang terdapat noda tinta berbentuk telapak tangan, dan gue bisa pasti'in kalau itu adalah tangan lu karena lu udah memegang gagang dari pintuku !", tuturku.


"Dan lagi gelagat bu gina terlihat sangat jelas menutupi sesuatu yang berhubungan dengan lu, dengan kata lain pasti ada sesuatu yang sengaja dia sembunyikan untuk menutupi kelakuan lu ini, jika seseorang berani berbohong untuk orang lain bisa di pastikan jika orang tersebut ingin melindunginya !", tuturku lagi.


"Dan jika gue lihat dari kasus ini, gue bisa menyimpulkan kalau bu gina sengaja berbohong karena dia terlibat sesuatu dengan lu secara langsung, atau bahasa lainnya lu dan bu gina terlibat perselingkuhan !", ucapku memojokan adrian.


"Anj*ng lu !", maki adrian kepadaku.


"Ngapain lu memaki gue !", ucapku menanggapi makian dari adrian.


"Lu... lu bener-bener nath !", ucap adrian dengan gugup.


"Gue juga tau lu tadi sengaja membeli minuman hanya untuk mencuri waktu dariku supaya bisa menelepon bu gina yang sedang menunggumu di dalam kontrakanku, kau kabari ke dia untuk meninggalkan kontrakanku karena aku pulang lebih awal !', ucapku pada adrian.


"Wes... cooookkk !", bentaknya.


(Udah... coookkk).


"Gue cuma pingin lu ngakuin perbuatan lu doank !", ucapku santai.


Kulihat wajah adrian sangat terpukul dan terpojok dengan segala cercahan yang aku lontarkan padanya, dia sampai tidak bisa menahan emosinya kepadaku. aku harus menyudahi perdebatan ini karena akan sangat fatal akibatnya kalau sampai terjadi perkelahian antara aku dan adrian.


Botol mansion telah terbuka dan telah tertuang dalam gelas sloky, sebatang rokok telah terbakar serta kulit kacang berserakan di lantai kamarku. beberapa kali adrian menawariku minuman haram itu aku selalu menolaknya, aku benar-benar dibuat jengkel oleh kelakuan gilanya ini tapi untung saja dia sudah mengakui perbuatannya jadi aku bisa memberika ultimatum kepadanya untuk tidak mengulangi ulah konyolnya lagi.


"Ayolah nath sekali aja... !", rayu adrian dengan menyodorkan gelas minuman mansion kepadaku.


"Gak !", ucapku ketus.


"Yaa elah... masih aja lu marah ama gue !", ucap adrian dengan nada lemah.


"Otak lu ada dimana seh ?", tanyaku dengan nada kesal.


"Kan gue udah ngakuin semua perbuatan gue dan gue juga udah minta maaf !", ucapnya memelas.


"Kalau kayak gini cara lu sama aja lu ngebunuh gue pelan-pelan !", ucapku pada adrian.


"Terus gue harus gimana lagi nath biar lu gak ngamuk lagi ama gue ?", tanya adrian dengan pasrahnya.


"Aahh.. udahlah !", ucapku.


"Nih fanta kalau lu gak mau minum !", tawar adrian dengan menyodorkan sebotol fanta padaku.


Aku pun mengambil botol fanta itu dan tanpa curiga aku langsung menenggak air fanta itu dari botolnya, saat ku tenggak kulihat wajah adrian tersenyum lebar dan terkesan sangat mencurigakan, dengan cepat aku menghentikan aksiku meminum air fanta itu.


"Ngapain lu senyum-senyum ?", tanyaku sinis.


"Gak apa-apa !", jawabnya singkat dengan menundukan mukanya.


"Heh... lu kasih apa nih fanta ?", tanyaku lagi.


"Lu curigaan melulu ama gue... kayaknya semua yang gue lakuin salah mlulu di mata lu !", jawab adrian.


"Gue keluar dulu deh cari udara segar.. !", ucapnya lagi.


Kemudian adrian pun keluar meninggalkanku di dalam kamar sendirian, aku merasa curiga dengan minuman fanta yang telah aku minum mencoba untuk berpikir tentang apa yang dilakukan adrian. ku ambil air putih untuk mensterilkan sesuatu yang telah masuk dalam tubuhku, rasa fanta ini memang agak berbeda tidak seperti fanta pada umumnya.


Kubaringkan tubuh ini di kasur untuk menenangkan pikiran dari semua prasangka buruk terhadap adrian. beberapa saat kemudian kurasakan ada yang berbeda dengan tubuhku ini, seluruh tubuhku perlahan-lahan merasakan hawa yang aneh, bulu romaku berdiri dan yang paling aneh adalah nafsuku bergejolak tidak menentu, pikiranku benar-benar kacau dan tak tau harus bagaimana menghadapi kondisi seperti ini.


Rasa gemetar menghinggapi tubuh ini, aku seperti ini sekali melakukan hubungan se* dengan seseorang dan pikiranku tertuju pada seorang wanita yang selalu membuat masalah denganku yaitu anggun, tak tau kenapa pikiran serta nafsuku ingin sekali berhubungan badan dengannya.


30 menit kemudian...


Disaat aku tak menentu dengan kondisi tubuh yang seperti ini tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan kulihat sosok adrian sedang mencumbu bu gina dengan sangat bernafsu sekali. bu gina pun terlihat sangat menikmati cumbuan dari adrian dan membalasnya dengan penuh nafsu pula. melihat mereka berdua bercumbu di depanku, hasratku meluap seakan ingin ikut bergabung dengan mereka.


Namun saat bu gina melihatku ada di dalam kamar dan sedang terbaring di kasur, dia pun secara reflek melepaskan cumbuannya dengan adrian dan memberontak, tapi adrian memaksa untuk terus melakukan hubungan dengan bu gina.


"Hentikan... !", ucap bu gina dengan merontah.


"Ada nathael.. !", sambungnya lagi dengan masih merontah.


Adrian kemudian membalikan tubuh bu gina menghadap tembok dan tangan kanan adrian membekap kuat mulut bu gina sedangkan tangan kirinya berusaha untuk menaikan dress panjangnya hingga ke pinggul, dan terlihat kedua kaki yang sangat putih dan mulus, dengan paha yang besar dan p***** yang bahenol, cd dalam bu gina pun terlihat jelas berwarna putih.


Aku yang menyaksikan adegan ini pun berusaha untuk menghentikannya namun aku tidak punya daya untuk melawan hasrat birahiku, nafsuku begitu mengebu-gebu untuk ikut terjun menikmati tubuh bu gina. lalu aku pun berdiri dan mengarah ke adrian lalu ku tepuk pundaknya untuk menghentikan aksinya, saat aku sedang mencoba menghentikan adrian, adrian merenggangkan bekapan di mulut bu gina hingga bu gina bisa memberontak dan berucap kepadaku.


"Tollooooong nath... !", teriak bu gina kepadaku.


Mendengar nafsuku semakin menjadi-jadi dan jika dia terus menerus berteriak aku takut jika tetanggaku pada tau akan kejadian ini, aku sudah tidak bisa berpikir sehat lagi dan yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana melampiaskan nafsuku dan membuat bu gina tidak berteriak agar tidak di ketahui oleh orang lain.


"Ambil isolasi lakban di belakang !", perintahku pada adrian.


Lalu ku gantikan posisi adrian untuk membekap mulut dari bu gina, setelah itu tanpa banyak bacot adrian pun segera pergi kebelakang untuk mencari isolasi lakban. saat ku dekap bu gina terus menerus merontah untuk segera di lepaskan tapi aku mendekap dan membekapnya sangat kuat sehingga rontahannya tidak berarti sama sekali. tubuhku sangat menempel pada punggung bu gina dan dengan sengaja aku tempelkan k*****ku yang sudah tegak berdiri ke p***** bu gina, ku esek-esekan k*****ku di sekitar area b***** besarnya.


Beberapa saat kemudian adrian pun kembali dengan membawa isolasi lakban di tangannya, lalu ku perintahkan adrian untuk melepaskan cd bu gina, tanpa banyak tanya adrian pun melepaskan cd itu dan kusuruh lagi dia untuk memasukan seluruh cd bu gina kedalam mulut bu gina supaya bu gina tidak dapat berteriak. dan kini mulut bu gina telah tersumpal oleh cdnya setelah itu aku pun melakban mulut bu gina agar tidak bisa bicara.


"Eeeee...... eeee... !", suara erangan dari bu gina yang merontah-rontah.


"Baringin di kasur nath !", suruh adrian.


Aku pun membaringkan tubuh bu gina ke kasurku, dan saat aku mau membaringkan tubuhnya dekapanku sedikit merenggang hingga tiba-tiba tangan bu gina terayun ke wajahku dan "Plaaaakkk.... ", suara dari tamparan bu gina mengenai pipiku. dengan cepat aku segera mendekapnya lagi dengan kuat lalu ku suruh adrian untuk melakban kedua tangan dari bu gina dipunggung belakangnya, dan adrian lagi-lagi menjalankan perintahku dengan cepat.


Kini tubuh bu gina telah berada di atas kasur dengan posisi tangan terikat oleh lakban dan mulutnya juga tertutup oleh lakban, namun sayang bu gina masih mengenakan pakaian dan hijab yang menutupi tubuh indahnya, tak habis akal aku pun mengambil gunting dan ku gunting pakaian dari bu gina supaya bisa terlepas dari tubuhnya. kini tubuh indahnya benar-benar telah terlihat sempurna tanpa sehelai benangpun.


"Hijabnya copot nath !", ucap adrian.


"Jangan biarin aja.. gue pingin n****** dengan cewek yang masih gunain hijab !", sautku.


"Terserah lu.. gue dah ga tahan !", ucap adrian.


Dengan sangat bernafsu aku dan adrian pun sama-sama menelanjangi diri masing-masing, tanpa mengindahkan adanya perasaan jijik karena kita sama-sama telanjang, kita langsung ikut berbaring di kasur dan menyelimuti tubuh bu gina dengan tubuh kita. wajah bu gina nampak memelas untuk di lepaskan namun ini adalah kesempatan langkah aku harus bisa memuaskan seluruh nafsu birahiku padanya.


Ku miringkan tubuh bu gina hingga tubuh bu gina membelakangiku, lalu ku angkat salah satu kakinya dan kupegang pahanya untuk menahan kakinya tidak jatuh, dengan seperti ini posisi m**** bu gina terbuka sangat lebar, saat aku akan menghujamkan k*****ku ke dalam m**** bu gina ternyata adrian lebih dulu memasukan k*****nya ke dalam m**** bu gina, dia pun terlihat bersemangat sekali, dengan melakukan penetrasi kecil adrian terlihat menghisap p****** dari bu gina. melihat posisi dari adrian memang dia sangat di untungkan alias menang banyak.


Tak mau kalah dari adrian aku pun mencoba mengeksplore bagian punggung bu gina, ku ciumi punggung bu gina dan dan tangaku mengelus-elus pinggulnya yang lumayan besar itu, tubuhnya benar-benar endut dan berisi sekali namun hal ini malah membuatku sangat gemas ingin terus menjamahnya. kemudian kulanjutkan eksplorasiku pada bagian celah lengan yang menutupi ketiaknya, aku sangat menikmati aroma tubuhnya yang wangi ini.


Aku pun mengantri untuk menggilir bagian m**** bu gina, tapi rasa tak sabarku benar-benar membuatku hilang akal, kulihat ada satu lubang yang masih menganggur yaitu lubang p***** dari bu gina, dengan penuh nafsu aku menghujamkan k*****ku kedalam a*** bu gina, perlahan-lahan hingga seluruh k*****ku memasuki a*** milik bu gina.


"Eeee.... !", rintihan bu gina dengan meneteskan air mata.


Wajah yang chubby dengan balutan hijab dan linangan air mata membasahi paras ayunya, semua ini adalah bagian dari fantasiku, bukannya kasian tapi aku malah bernafsu untuk menggenjot lebih kuat area a*** bu gina. m**** bu gina yang di hujam oleh k***** adrian dan lubang a*** bu gina yang kuhujam dengan k*****ku, membuat bu gina mengerang-erang dan erangan itu semakin membuatku bersemangat untuk melampiaskan seluruh nafsuku.


"Dancok... edan, b*l'e mok hajar sisan !", ucap adrian.


(Dancok... gila, a***nya lu hajar juga).


"Gantian cok... aku yoo pingin ngerasakno b*l'e !", ucapnya lagi.


(Gantian cok.... gue juga pingin ngerasain a***nya).


Akhirnya kami pun merubah posisi kami, aku terbaring telentang dan tubuhku di tindih oleh bu gina tapi sebelumnya posisi tangan bu gina yang terikat aku pindahkan dari punggu ke depan tubuhnya, tubuhnya yang bahenol itu menindihku dengan penuh kehangatan, k*****ku pun menghujam telak ke m****nya dan adrian dengan posisi d**gy style nya menerjang lubang a*** dari bu gina.


Wajah bu gina tepat berada diatas wajahku, tetesan air matanya menjatuhi mukaku, ingin ku cumbu bibirnya namun isolasi lakban menghalangiku, biarlah aku seperti ini karena jika aku lepas dia akan berteriak. kedua tanganku meremas gemas kedua p*******nya hingga bu gina berekspresi menahan kesakitan karena remasanku ini, ekspresi yang membuat nafsuku semakin bergelora.


Dengan posisi seperti ini aku susah sekali melakukan penetrasi tapi kehangatan dari m**** bu gina membuatku merasa nyaman tindihannya juga sangat nikmat sekali walaupun tubuhnya terasa berat. disisi lain adrian begitu bernafsu dengan menggenjot kuat a*** bu gina, kencang dan semakin kencang hingga dia pun tak kuat menahan puncaknya.


"Aaaaaaahhhh.... !", desahan kepuasan dari adrian.


"Coookkk... ueeennnaaakkk tenan cok !", ucapnya lagi dengan puas.


(Cooookkk... enak banget, cok).


Adrian pun menarik k*****nya dan perlahan minggir dari posisinya, melihat kini aku hanya dengan bu gina, aku pun membalik tubuh bu gina dan posisi kita pun beralih menjadi missionaris, kulakukan genjot-genjotan ke lubang m****nya. pelan-pelan dan mulai mengencang hingga akhirnya ku genjot kuat m**** bu gina dengan RPM yang tinggi. tak berselang lama aku pun mencapai klimaksnya, sesaat sebelum semua keluar aku menarik k*****ku dan ku muncratkan seluruh m*niku ke atas pay*d***nya.


"Dancok... aku kape ny*s* cok, lapo pe**mu mok deleh kene !", ucap adrian kesal.


(Dancok... gue mau n*t*k, ngapain s***ma lu ditaruh disini).


"Mbok'ne ancok ancen arek iki !", ucap dari adrian.


(Maknya ancok emang nih anak).


Tanpa menggubris omongan adrian aku pun terus memuncratkan s***maku ke pay*d*** bu gina hingga tetes terakhir. aku pun tergulai lemas di sisi bu gina, semua nafsuku pun terpuaskan dan kurasakan kelegaan yang benar-benar lega. kondisi tubuhku yang tadinya gemetaran dan di banjiri nafsu kini telah puas tersalurkan pada bu gina. namun setelah ini aku harus memikirkan sesuatu karena aku dan adrian telah melakuan sebuah tindak kejahatan yaitu memperk**a bu gina.


Kulihat wajah adrian sepertinya dia juga sedang memikirkan sesuatu, dia nampak bertingkah ane dengan mencari-cari sesuatu yang aku sendiri tidak tau apa yang sedang dia cari sampai akhirnya aku pun bertanya kepadanya.


"Cari apaan lu ?", tanyaku.


"Bentar !", jawabnya singkat dengan kepala celingak-celinguk kesana kemari.


"Nah.. nih yang gue cari !", ucap dari adrian.


"Apaan tuh ?", tanyaku.


"Tutup botol mansion !", jawab adrian.


"Buat apaan ?", tanyaku penasaran.


"Udah lu lihat aja nanti !", ucapnya.


Kulihat adrian menuangkan sedikit minuman mansion ke tutup botol itu, lalu dia menghampiri bu gia yang tergulai lemas di sampingku, lalu dia merenggangkan kaki bu gina. kemudian dia tuangkan air mansion yang ada di tutup botol itu ke m**** bu gina dan "Sluuuuurrrppp... ", suara sruputan dari mulut adrian yang menghisap habis air mansion yang membasahi m**** bu gina.


"M**** rasa mansion... joosss !", ucapnya.


Dasar bocah ******.. kelakuannya benar-benar membuatku risih, kenapa dia masih bisa melakukan hal konyol kayak gitu dalam posisi seperti ini, sepertinya aku harus memeras otakku lagi untuk membungkam mulut bu gina supaya dia tidak menceritakan kejadian ini !.