Xcase

Xcase
Episode 38 : Manipulasi kasus



Senin, 04 April


10:00, Ruang Interogasi


Dua jam yang lalu...


"Seharusnya kamu tidak bisa seperti itu nath !", ucap herlina sangat menegaskan pernyataannya.


"Kenapa.. kenapa gak bisa ?", tanyaku sedikit kasar.


"Dia yang memulai ini semua !", sautku lagi dengan sedikit membentak.


"Kamu sudah berjanjikan ?", tanya herlina padaku dengan nada melemah.


"Ini yang terakhir, setelah ini aku tidak akan mengulanginya lagi, itulah janjiku", jawabku pada herlina.


"Aku tidak yakin kamu bisa menepati janjimu itu", saut herlina dengan bergumam.


"Apa yang aku lakukan ini adalah bentuk dari pembelaan diriku", alibiku pada herlina.


"Bukan.. ini bukan bentuk pembelaan diri tapi ini adalah balas dendam", sangkal dari herlina.


"Kamu sendiri yang bilang kalau balas dendam itu tidak baik dan ingin hidup bebas, tapi kenapa kamu munculkan dendam yang baru lagi ?", tanya herlina.


"Aku tidak memunculkan dendam baru tapi aku memusnahkannya", jawabku.


"Sudahlah lin... hal ini sudah kita bahas kemarin, kenapa kita harus bahas lagi hal ini", ucapku menenangkan herlina.


"Bukan seperti itu nath, aku tidak akan seperduli ini pada seseorang jika aku tidak mencintai orang tersebut", ucap dari herlina.


"Aku tau.. ", ucapku terpotong.


"Tidak.. kamu tidak tau, tidak tau sama sekali.. yang kamu pikirkan hanyalah mengakhiri ini dengan segala cara tanpa memperdulikan efek dari permasalahan ini kedepannya", ucap dari herlina.


"Dan satu lagi yang tidak kamu ketahui adalah tentang perasaanku, sampai saat ini pun kamu masih saja seperti saat itu, tidak satu pun kamu bisa mengetahui perasaanku nath !", sambungnya dengan mata berkaca-kaca.


Aku pun tertegun tak berdaya melihat pemandangan ini, bagai hujan di hari yang cerah. disaat aku sudah menemukan titik terang dan akan bebas dari masalah ini tiba-tiba aku mendapatkan satu halangan dari herlina yang ingin menghentikan semua rencanaku. dan lagi-lagi dengan senjatanya yang mampu meluluhkan hatiku yaitu sebuah tetesan air mata, membuatku hanya bisa memandangnya sebagai mahkluk lemah yang ingin di lindungi.


"Sedikit lagi semua berakhir", gumamku lirih.


"Aku bisa saja menolak saat aku di tawari untuk datang kemari tapi aku tidak bisa melihatmu terbelit dalam masalah ini, oleh karena itu aku berinisiatif untuk datang kesini dan membantumu", ucap dari herlina.


"Berharap kamu telah banyak berubah dan kamu bisa kembali lagi saat kuliahmu selesai, aku selalu memimpikan hal itu", sambungnya.


"Aku bisa berubah dan aku bisa menepati janjiku", ucapku menegaskan alibiku.


"Kamu masih belum berubah nath, melihatmu sama saja dengan melihat sosok hans bahkan jauh lebih keji dari hans, kau dan hans memiliki kesamaan", ucap dari herlina.


"Aku melakukan ini semua, meninggalkanmu sendiri adalah sebuah pilihan agar kamu bisa intropeksi diri dan aku ingin melihat sosok yang berbeda darimu", ucap dari herlina lagi.


"Aku bukan hans dan hans bukan aku, aku adalah aku dan hans adalah hans.. kenapa kamu selalu menyudutkanku dengan menyamakanku dengan hans !", ucapku sedikit emosi pada herlina.


"Kamu tidak tidak bisa menilai dan melihat dirimu sendiri, orang lainlah yang bisa melakukan itu dan aku melihat sosok hans ada dalam dirimu saat ini", ucap dari herlina.


"Aku hanya ingin kamu menyadari hal ini nath", sambungnya mencoba menyadarkanku.


"Aku mencintaimu dan oleh karena itu sampai sekarang aku berusaha untuk menempati janjiku, aku berjanji padamu akan menikahmu saat lulus kuliah, dan aku berusaha untuk mengumpulkan uang dari keringatku sendiri karena aku tidak ingin lagi ada sangkut paut dengan keluargaku", ucapku.


"Dan sekarang aku telah berjanji lagi tidak akan balas dendam lagi bila ini semua telah usai, itulah janjiku", ucapku pada herlina.


"Hentikan.. aku mohon padamu, hentikan semua ini", ucap herlina. dengan menatapku sangat tajam.


"Sudah cukup nath, aku tidak ingin ada korban jiwa lagi.. yohan adalah yang terakhir, jika sampai ada lagi korban jiwa, aku akan... ", ucapan herlina terpotong olehku.


"Akan apa.. ?", tanyaku dengan sedikit membentaknya untuk menggertaknya agar tidak meneruskan ucapannya.


"Aku bersumpah tidak akan sudi mengenalmu lagi !", ucapnya sangat serius dengan sorotan matanya menatapku tajam.


Dia tidak main-main kali ini, dia sangat serius dengan ucapannya bahkan otakku pun di buatnya berhenti sejenak untuk memikirkan tentang ucapannya tersebut. wanita yang aku puja-puja kini dia berani secara blak-blakan menentangku, tidak tau apa yang harus aku lakukan agar bisa menyakinkannya tapi aku yakin semua usahaku bakal sia-sia karena herlina yang saat ini berada di depanku adalah sosok yang kuat akan pendiriannya.


"Aku sangat berharap kamu bisa membantuku sampai ini semua berakhir", ucapku pada herlina.


"Aku akan membantumu tapi tidak dengan cara seperti ini", saut dari herlina.


"Baiklah, ini adalah yang terakhir", ucapku pasrah dan mengalah pada herlina.


"Bebaskan dia dari rencanamu dan jangan mengiring opini publik dan juga para penegak hukum untuk menjatuhi hukuman mati padanya", ucap dari herlina.


"Aku tau dia bersalah tapi dia berada dalam posisi yang serba salah saat menerima tawaran dari yohan, kamu harus bisa mengerti akan hal ini", ucap dari herlina lagi.


"Aku mengerti tapi dia tidak boleh lepas dari jeratan hukum", ucapku.


"Tentu saja dia harus di hukum karena telah menghilangkan nyawa orang lain", saut dari herlina.


Aku benar-benar tidak punya pilihan lain selain mengikuti ucapan herlina, tapi jika di pikirkan dengan seksama dan dengan kepala dingin, apa yang di ucapkan oleh herlina ada benarnya juga. dan semoga saja hal ini tidak mempengaruhi sifatnya yang bisa menimbulkan dendam kesumat padaku dan juga pada orang-orang terdekatku.


"Kali ini aku mengampuni nyawamu", ucapku dalam hati.


Kemarin malam di TKP...


"Sangat aneh dan penuh dengan misteri pak", ucap dari anak buah daniel dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Benar, kasus ini jauh lebih berat dari kasus sebelumnya bahkan jauh lebih rapih dan tidak tercium sama sekali siapa pelakunya", ucap daniel dengan tangan kanannya mengelus dagunya seperti orang yang sedang berpikir keras.


"Sepertinya kasus ini bakal masuk dalam X-File, karena saya tidak yakin jika akan ada orang yang mampu memecahkan kasus ini dalam waktu dekat", ucap dari anak buah daniel.


"Bagaimana menurutmu ?", tanya dari daniel padaku.


"Tidak.. semakin rapih kasus ini maka semakin menguatkan kecurigaanku kalau korban di bunuh bukan bunuh diri", jawabku dengan santai.


"Tapi pak, semuanya sudah kita cek dan cermati dengan sangat teliti, hasilnya tidak ada satu pun unsur yang melibatkan orang lain dalam kasus ini, dengan kata lain korban memang bunuh diri", ucap dari anak buah daniel.


"Anak buahku ini benar juga, jika tidak ada satu pun bukti yang mengarah pada orang lain berarti korban bisadi nyatakan bunuh diri, tapi jika kau masih kekeh dengan pernyataanmu maka kau harus bisa buktikan itu semua", ucap dari daniel.


Aku tidak tau apa yang terjadi pada polisi-polisi bodoh ini, kenapa mereka selalu saja berorientasi pada bukti yang ada di TKP. bukti bisa di manipulasi bahkan saksi pun bisa untuk di manipulasi seperti apa yang telah aku lakukan pada saksi-saksi kasus kematian tante bella. sepertinya aku harus mengiring otak mereka agar tidak terlalu terpokus pada bukti, bukti hanyalah sebuah alat penghubung saja dalam kasus ini.


"Cobalah untuk berpikir secara luas", ucapku pada mereka.


"Maksud anda apa pak ?", tanya dari anak buah daniel.


"Korban bella adalah istri dari yohan, dan sekarang adalah yohan telah menjadi korban berikutnya, coba kalian tarik garis lurus dari kasus pastilah akan menemukan satu kesatuan, atau dengan kata lain ini adalah sebuah pembunuhan berantai yang sengaja di lakukan untuk menghilangkan bukti-bukti yang mengarah pada pelaku sebenarnya", ucapku pada mereka.


"Jika benar seperti itu berarti pelakunya adalah nathael, tapi bagaimana mungkin dia melakukan ini sedangkan dia sendiri ada di tahanan ?", tanya dari anak buah daniel dengan rada kebingungan.


"Berarti nathael bukanlah pelakunya", sautku pada anak buah daniel.


"Belum tentu, jika melihat dari kematian korban yang layaknya orang bunuh diri berarti ada kemungkinan jika nathael yang ada di dalam penjara melakukan intimidasi terhadap korban sehingga korban melakukan tindakan bunuh diri", sangkal dari daniel.


"Benar juga ucapan komandan, ada kemungkinan jika nathael melakukan intimidasi atau ancaman pada korban sehingga memicu tindakan bunuh diri", ucap dari anak buah daniel menguatkan pernyataan dari daniel.


"Jika itu terjadi kalian semua, apa kalian akan melakukan bunuh diri juga seperti korban ini ?", tanyaku pada mereka semua.


"Ehm... bunuh diri, buat apa kita lakuin bunuh diri kalau yang mengancam kita ada di penjara", ucap dari anak buah daniel nampak berpikir keras.


"Kita tidak tau apa bentuk ancamannya jadi kemungkinan seperti itu masih bisa terjadi", sangkal dari daniel.


"Bunuh diri disaat anda akan mendapatkan uang senilai 25M, sangat tidak masuk akal", ucapku.


"Ohh iya.. saya baru ingat, di kasus sebelumnya ada claim asuransi senilai 25M yang akan jatuh ke tangan yohan jika istrinya meninggal, tapi kali ini yohan suaminya juga ikut meninggal.. apa mungkin pelakunya adalah christine, soalnya dalam claim asuransi itu jika yohan bercerai dengan istrinya maka yang berhak adalah christine adik dari bella", tutur dari anak buah daniel.


"Kasus ini bukan hanya karena uang semata tapi lebih dari itu, jadi tolong jangan hanya terpokus pada satu hal saja karena masih banyak benang merah yang belum terhubung", ucapku pada mereka.


"Dari ucapan anda terlihat sekali kalau anda ini sangat berpengalaman dalam menangani kasus yang rumit, kalau boleh tau siapa anda ini ?", tanya anak buah daniel padaku.


"Aku teman lama dari daniel yang sengaja dia panggil untuk menemaninya dalam memecahan kasus ini", jawabku pada anak buah daniel.


"Dia seorang detektif swasta, jadi hal seperti ini adalah makanan sehari-harinya", saut dari daniel menguatkan jawabanku.


"Ohh.. pantes saja dari penuturannya sangat matang sekali", ucap kagum anak buah daniel padaku.


"Dengan begini mungkin kasus ini tidak akan masuk dalam X-File", ucapnya lagi dengan sangat bersemangat dan antusias.


"Sudahlah, sekarang ada informasi baru atau tidak ?", tanya daniel pada anak buahnya dengan wajah memerah tanda malu.


"Ohh iya ini pak berkas yang pak daniel minta, dan ini adalah orang-orang yang bekerja pada shift pertama di hari ini", ucap dari anak buah daniel dengan memberikan sebuah berkas pada daniel dan menunjukan sebuah barisan palayan hotel ini.


"Terima kasih, pergilah dan bekerja lagi", ucap dari daniel pada anak buahnya.


"Tunggu dulu", sautku menghentikan anak buah daniel pergi dari ruangan ini.


"Ada apa pak ?", tanya dari anak buah daniel.


"Interogasi semua koki yang bekerja pada hari ini, terutama yang bekerja pada pukul 06:00 sampai di temukannya korban meninggal dunia", suruhku pada anak buah daniel.


"Baiklah pak", ucap dari anak buah daniel dengan penuh hormat.


Anak buah daniel pergi meninggalkan kami semua disini, kini hanya ada aku dan daniel di temani oleh empat belas orang pelayan yang bekerja pada shift pertama. aku butuh mereka semua karena aku ingin mencari informasi tentang keberadaan korban selama seharian ini, mengenai siapa-siapa pembunuh korban akan terbukti dari kesaksian mereka.


"Aku harap kau tidak minder mendengar kekaguman anak buahmu padaku", bisikku pada daniel.


"Hahaha.. buat apa minder, dari awal aku sudah bilang kalau aku ini bukanlah lawan yang seimbang untukmu", ucap dari daniel.


"Bertanya sesuatu", jawabku.


Aku pun berjalan mendekat pada para pelayan yang sedang berbaris rapih di depanku, dan aku pun memulai menanyakan sesuatu pada mereka semua disini. mengkorek informasi sebanyak mungkin dari mereka akan aktifitas korban selama ini.


"Aku akan bertanya sesuatu pada kalian, dan kalian hanya perlu mengangkat tangan kalian jika merasa pertanyaan saya sesuai dengan kondisi yang kalian alami", terangku pada pelayan.


"Siapa di antara kalian yang pernah melihat korban ?", tanyaku pada para pelayan.


"Ada 4 orang yang mengangkat tangannya", ucapku dalam hati dengan menghitung jumlah pelayan yang mengangkat tangan.


"Siapa yang pernah berinteraksi dengan korban ?", tanyaku lagi pada mereka semua.


"Kali ini ada 3 orang yang mengangkat tangannya", ucapku dalam hati.


"Siapa di antara kalian yang pernah masuk kedalam ruangan ini ?", tanyaku pada para pelayan ini.


"Tidak ada satu pun dari mereka yang mengangkat tangannya", ucapku dalam hati lagi.


"Pertanyaan terakhir, siapa kenal dengan anggun ?", tanyaku pada mereka semua.


"7 pelayan mengangkat tangannya dan beberapa dari mereka adalah orang yang telah mengangkat tangannya dua kali", ucapku dalam hati.


"Di antara kalian bertujuh siapa yang terakhir kali melihat anggun pada hari ini ?", tanyaku pada ketujuh pelayan.


"2 Orang mengacungkan tangannya dan dua orang ini telah mengacungkan tangannya sebanyak tiga kali, jadi mereka bisa menjadi saksi dan aku akan mengkorek informasi dari mereka", ucapku dalam hati.


Dari 14 pelayan ini ternyata ada 2 orang pelayan yang berhubungan kuat dengan kasus ini, aku akan bertanya pada mereka berdua tentang keterdekatan mereka dengan anggun. dan semua yang di lakukan anggun sebelum dia menemukan kalau korban ini meninggal, aku mencium gelagat yang mencurigakan dari anggun karena keterangan yang dia berikan sangat tidak valid.


"Apa yang sedang kau pikirkan ?", tanya dari daniel.


"Aku menaruh kecurigaan pada anggun si pelayan tadi karena keterangannya sedikit berbohong, oleh karena itu aku butuh orang-orang yang bisa aku korek informasinya untuk mengetahui aktifitas anggun seharian ini", jawabku dengan berbisik pada daniel.


"Ehmm... begitu, lalu sekarang ?", tanya daniel lagi.


"Bawa mereka berdua menghadap ke herlina, biarkan herlina yang menginterogasi mereka berdua", ucapku pada daniel.


"Kalian semua silahkan bubar kecuali 2 orang ini, dan kalian berdua silahkan tunggu di luar sambil menunggu orang yang akan menginterogasi kalian", ucap daniel membubarkan para pelayan.


"Bisa lihat berkas yang di berikan oleh anak buahmu tadi", ucpaku pada daniel.


"Ini ambilah", saut daniel memberikan berkasnya padaku.


Aku pun melihat berkas-berkas yang di sodorkan oleh daniel ini, sebuah hasil olah TKP dari para anak buah daniel. saat aku baca dengan teliti mereka telah menggambarkan kalau korban bunuh diri dengan dasar tidak adanya sidik jari orang lain di TKP, sangat berat dan begitu misterius kasus ini sampai-sampai semua polisi berani memberikan kesimpulan seperti ini.


"Gak ada sama sekali sidik jari orang lain selain sidik jari dari korban", ucapku.


"Oleh karena itu anak buahku berani menyimpulkan kalau korban bunuh diri", saut dari daniel.


"Bisa kau kerahkan anak buahmu untuk cek kereta makanan itu dan juga semua tempat makannya", ucapku pada daniel.


"Termasuk tempat makan yang kotor itu ?", tanya daniel.


"Iya", jawabku singkat.


"Tapi apa hubungannya troli atau kereta makanan ini, korban mati sebelum makanan ini berada di kamar", ucap dari daniel


"Justru itulah pointnya", sautku.


"Ikuti saja perintahku jika ingin menyelesaikan kasus ini", sambungku.


"Baiklah, aku akan menyuruh anak buah melakukan perintahmu", ucap dari daniel.


Point sebenarnya dari kasus ini ada pada anggun dan juga troli makanan itu, sangat aneh dan mencurigakan. aku akan terus melakukan penyelidikan sama semua selesai malam ini juga, tidak perduli lagi jika aku harus menginap semalaman disini.


"Nath.. ", tegur dari herlina padaku.


"Iya.. bagaimana lin ?", tanyaku pada herlina.


"Ini semua data yang kamu minta", ucap dari herlina dengan memberikan berkas padaku.


"Terima kasih", ucapku pada herlina.


"Sekarang ikut aku untuk menginterogasi 2 pelayan itu", ucapku pada herlina.


Sebelum masuk ruang interogasi...


"Maaf meminta waktumu sebentar", ucap dari tante julia padaku.


"Ada apa tante ?", tanyaku pada tante julia.


"Aku cuma mau menagih janjimu saja", jawab dari tante julia.


"Tenang saja, aku akan menepati janjiku", ucapku pada tante julia.


"Kapan ?", tanya lagi dari tante julia.


"Kasus ini baru saja memasuki babak baru, jadi bersabarlah dan satu hal yang penting adalah aku sudah tidak ada lagi hubungannya dengan kematian bella, mulai saat ini", jawabku.


"Kau tau kan apa yang bakal terjadi bila kau tidak menepati janjimu !", ucap dari tante julia dengan nada mengancamku.


"Tenang saja, aku tidak akan menyentuhnya", sautku.


"Maaf memotong pembicaraan kalian, tapi menurutku sebaiknya masalah ini lebih baik di bicarakan nanti saja ditempat yang lebih steril bukan disini", saut dari herlina.


"Tidak masalah lin.. ", ucapku pada lina.


"Bisa meminta waktumu sebentar saja, hanya 10 menit saja", ucap dari tante julia padaku.


"Hanya kau dan aku saja", sambungnya.


"Baiklah", ucapku.


"Tapi nath kau harus masuk ruang interogasi sekarang juga", saut herlina mengingatkanku.


"Tidak masalah sebentar saja kok", ucapku pada herlina.


"Tenang saja aku tidak akan mengambil nathael dari tanganku", saut tante julia pada herlina.


"Hanya 10 menit, tidak lebih dari itu", ucap dari herlina padaku.


"Ok, 10 menit", ucapku pada herlina.


Aku pun mengikuti langkah kaki dari tante julia ini, langkah demi langkah dia langkahkan hingga tertuju pada sebuah sudut ruangan dimana hanya ada aku dan tante julia saja disini. hingga saat ini aku masih saja menaruh kecurigaan kepadanya walaupun aku sudah memegang kartu as darinya, ketakutanku ini bukan tak beralasan karena sangat jarang ada manusia yang masih berani mengancamku disaat aku telah memegang kartu as nya.


"Apa yang ingin tante bicarakan ?", tanyaku membuka obrolan.


"Tentang anggun", jawabnya.


"Sudah aku bilangkan kalau aku tidak akan melibatkannya dalam masalah ini", ucapku pada tante julia.


"Bukan, bukan anggun anakku tapi anggun orang yang kau tahan itu", ucap dari tante julia.


"Hehehe... rupanya sudah tercium yaa !", ucapku dengan sedikit malu karena tante julia telah mengetahui penyelidikanku.


"Aku tidak akan basa-basi karena waktu kita tidak banyak, to the point saja", ucap dari tante julia.


"Apa yang akan kau lakukan padanya ?", sambungnya dengan bertanya padaku.


"Hanya bermain-main saja", jawabku.


"Lalu siapa targetmu setelah ini ?", tanya tante julia lagi.


"Tidak ada, semua telah berakhir sampai disini", jawabku.


"Kau mengubah rencanamu ?", tanya tante bella.


"Tidak, tidak aku ubah.. aku hanya membiarkannya mengalir begitu saja, entah dimana semua ini akan bermuara aku juga tidak tau", jawabku.


"Jika bukan karena herlina kekasihmu itu mungkin aku akan menjadi batu sandunganmu juga", gumam dari tante julia.


"Bisa jadi dan akan semakin merepotkan karena bukan hanya tante yang aku lawan, melainkan anggun anak tante juga akan turun tangan", sautku.


Wanita ini benar-benar di luar akal sehatku, perilakunya begitu sangat aneh sekali. dia tak ubahnya seperti seekor rubah saja, terlihat cantik dari luar namun penuh dengan kelicikan di dalamnya. tidak takut dengan apa pun walau itu mempertaruhkan dirinya, dia selalu saja mencari kesempatan dalam kesempitan, selama hal itu menguntungkan untuknya dia akan berusaha mengambil kesempatan itu, itulah tante julia.


"Lalu bagaimana sekarang ?", tanya dari tante julia padaku.


"Teruskan saja apa yang telah di mulai, jangan berhenti sampai aku bilang berhenti", jawabku pada tante julia.


"Baiklah sesuai dengan permintaanmu, dan aku harap aku bisa menuai benih dari semua ini", sautnya.


"Terima kasih atas kerja samanya", ucapku pada tante julia.


"Jika tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, aku akan pergi", sambungku.


"Pergilah, aku juga sudah selesai interogasinya", ucap tante julia.


Aku pun pergi menuju ke ruang interogasi untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya, sebuah cerita yang sangat memeras otak, jika bukan karenanya mungkin cerita ini tidak akan pernah ada.