Xcase

Xcase
Episode 23 : Artis Settingan



Senin, 26 Desember


19:00, Dalam Mobil


Hujan rintik-rintik turun mendinginkan kota surabaya, bias-bias embun pun terbesit dalam kilauan kaca mobil ini. sesosok wanita anggun melangkah dengan ayunya, genggaman jemarinnya memeluk erat payung hitam untuk menahan tangisan langit malam ini. senyum sumingrahnya terpancar saat membuka pintu mobilku dan perlahan duduk di kursi depan bersamaku.


"Basah gak ?", tanyaku dengan membantu anggun melipat payungnya.


"Cuma sepatu aja seh yang basah !", jawab anggun dengan menyikap-yikap dressnya dan membersihkannya dari tetesan air.


"Lagian kamu gak mau masuk kedalam !", saut anggun lagi.


"Gak enak ama teman-temanmu, minder aku !", ucapku dengan perlahan menekan pedal gas.


"Ngapain seh pakai minder segala lagian yang hadirkan teman-teman fakultas kita semua itu !", ucap dari anggun.


"Ehmm... mana aku kenal dengan mereka !", celetukku.


"Makanya jadi orang tuh bergaul ama yang lain !", ucap anggun menyindirku.


"Kamu tuh kenapa seh kok jarang banget bergaul dengan teman-teman lainnya, introvet kamu udah akut kayaknya yaa ?", tanya anggun padaku.


"Gak juga seh !", ucapku dengan menenggok spion tengah untuk memastikan belakang kosong karena aku akan membelokkan mobil.


"Temenmu si adrian aja tadi ada disana !", ucap anggun.


"Ohh.. kenal juga kamu ama dia ?", tanyaku pada anggun.


"Kenallah.. udah beberapa bulan belakangan ini dia nguber-nguber aku mlulu, sampai enek banget aku ama ulahnya !", jawab dari anggun dengan ekspresi enggak banget.


"Kok bisa seh kamu berteman ama dia, padahal kan sikapnya enggak banget ?", tanya dari anggun.


"Dia tuh sebenarnya baik lho, walaupun suka bikin masalah dan nyusahin doank tapi seru juga berteman ama dia !", ucapku pada anggun.


"Sifatnya kan kayak berandalan gitu, ati-ati lho bisa aja dia nikam kamu dari belakang !", saran dari anggun.


"Kalau dia sepintar kamu mungkin aku akan selalu waspada tapi sayangnya otaknya rada lemot, jadinya aku udah bisa naker apa yang bakal dia laku'in !", ucapku pada anggun.


"Jangan terlalu meremehkan orang tar kamu kena getahnya lho !", ucap dari anggun dengan asyik memainkan handphonenya.


"Bisa bijak juga yaa kamu !", ucapku menyindir anggun.


"Aku kan belajar dari kamu !", saut dari anggun.


Setelah menjemput anggun di acara anak-anak fakultas hukum kampusku yang di adakan di sebuah caffe, aku pun pergi bersama anggun ke royal plaza untuk menonton film di XXI. ku kendarai mobil pinjaman dari tante bella ini untuk jalan berdua dengan anggun, setelah aku memutuskan untuk mengambil cuti sementara waktu, anggun nampak merasa bersalah sekali kepadaku sampai-sampai tiap hari dia meminta maaf padaku lewat telepon mau pun pesan singkat via whatsapp.


"Hujannya bener-bener deh !", ucap dari anggun.


"Iya lebat banget !', sautku.


"Ehmm.. nath, boleh tanya sesuatu gak ?", tanya dari anggun.


"Apa tuh, tanya aja !", ucapku pada anggun.


"Ehm... suasananya romantis yaa.. !", ucap dari anggun seperti orang yang salah tingkah.


"Tanya aja gak usah malu-malu !", tandasku agar anggun tidak salah tingkah.


"Aku bener-bener gak enak sama kamu, aku udah salah nilai kamu.. ternyata kamu orangnya jauh dari apa yang aku bayangkan selama ini !", ucap dari anggun.


"Kamu orang asyik, enak dan nyaman deh kalau deket ama kamu !", ucapnya lagi.


"Biasa aja !", ucapku pada anggun.


"Beneran tau.. pantes aja si adrian betah banget berteman ama kamu !", ucap dari anggun.


"Ehm... ada yang aneh nih !", ucapku pada anggun dengan memberikan ekspresi curiga padanya.


"Hahaha.. iya.. iya.. aku ngaku, kamu tuh susah banget buat di kelabuhi !", ucap dari anggun.


"Tapi aku gak nyangkah lho kok bisa seh kalian berdua bertengkar dan jadi musuhan kayak gini, apa lagi tadi kamu bilang kalau adrian tuh baik !", ucap dari anggun.


"Salah paham aja !", sautku simpel.


"Gara-gara ngerebutin aku !", celetuk anggun.


"Emang dia cerita ?", tanyaku pada anggun.


"Enggak seh.. tapi kelihatan banget dari gelagatnya jadi aku manfaatin aja untuk cari tau apa yang sebenarnya terjadi !", ucap dari anggun.


"Ohh.. gitu, terus kamu deketin aku sekarang ini untuk manas-manasi adrian gitu biar dia ngejauhin kamu atau jangan-jangan kamu ingin ngadu domba aku dengan dia, dengan cara membuatnya cemburu ?", tanyaku asal nyeplos aja.


"Terserah deh kmau mau ngomong apa yang penting aku gak punya pikiran kayak gitu !", jawab anggun dengan santainya.


"Kamu kan pinter, seharusnya kamu tau donk.. aku ini tulus atau memiliki maksud terselubung selama dekat dengan kamu !", ucap dari anggun.


"Boleh jujur gak nih ?", tanyaku.


"Why not !", saut anggun.


"80% aku masih mencurigaimu dan aku sengaja membiarkanmu masuk kedalam keseharianku agar aku tau apa yang kau inginkan dariku, dan sisa persentasenya adalah aku mencium bau-bau tidak sedap darimu dan juga adrian, sepertinya kamu dan dia saling kerja sama untuk hal yang aku sendiri masih ragu untuk mengungkapkannya !", ucapku pada anggun.


"Jangan ngerusak suasana yang romantis ini deh !", saut dari anggun dengan wajah yang memerah.


"Kan tadi aku udah minta izin ama kamu dan kamu jjuga udah ngasih izin untuk aku ngomong begitu !", ucapku pada anggun dengan senyum kecil dari wajahku.


"Coba jelasin, awas aja kalau penjelasan kamu bisa aku bantahkan !", ucap dari anggun dengan nada serius rada kesel kepadaku.


"Perubahan sifat dan sikapmu yang sangat mendadak, setelah pertemuan kita di ruang rektor, aku dan kamu tidak pernah bertemu lagi cukup lama dan tiba-tiba kau muncul di seminar itu dengan sifat hangatmu... dan perubahan sifatmu ini beriringan dengan perubahan sifat dari adrian !", paparku pada anggun.


"Semua orang bisa kali berubah sifat secara drastis !", sangkal dari anggun.


"Tapi tidak denganmu !", sautku pada anggun.


"Sok tau !", saut dari anggun dengan keselnya.


"Yang mendasari perubahan sifatmu adalah saat kau mendengarkan ucapan dari rektor itu, sangat manusiawi sekali jika seorang pesaing mencari tau seluk beluk tentang pesaingnya. sifat aslimu adalah tidak mau kalah dan menerima kekalahan, kebiasaan buruk yang di tularkan oleh keluarga broken home dan seorang anak manja yang hanya mengandalakan orang tuanya !", tuturku pada anggun.


"Sudah cukup.. dari mana kau tau semua itu ?", tanya anggun dengan ekspresi marahnya.


"Cari tau aja sendiri !", ucapku dengan santainya pada anggun.


Tidak mungkin aku memberi taunya dengan jujur karena akan sangat berbahaya sekali, bisa-bisa anggun bakal bertindak di luar nalarku soalnya ini menyangkut mamanya anggun. dan saat aku lihat wajah anggun dia seperti memendam kemarahannya. tidak jadi masalah bagiku untuk mengungkapkan semua kecurigaanku padanya, malah justru ini akan jadi lebih baik bagiku karena selepas ini anggun akan merasa malu dan pergi jauh dari kehidupan pribadiku.


"Pasti kau berpikir kalau aku akan merasa malu dan selepas itu aku akan pergi jauh darimu.. jangan harap, aku akan bukti'in ke kamu kalau aku ga ada niatan kayak gitu !", sangkal dari anggun dengan seriusnya.


"Ada kabar buruk untukmu !", ucapku pada anggun dengan senyuman kecil padanya.


"Apa ?", sautnya bertanya.


"Pertama, aku sudah memprediksi kalau kau bakal mengambil langkah tersebut dan yang kedua, kecurigaanku semakin besar padamu !", ucapku dengan santainya.


"Kau seperti dewa saja yang bisa mengetahui masa depan.. !", saut dari anggun dengan ketusnya.


"Inget, kamu tuh manusia biasa.. dan seperti pada manusia umumnya, tidak ada satu manusia pun yang bisa membaca pikiran atau pun membaca perasaan manusia lainnya !", tutur dari anggun dengan menatap tajam ke arahku yang sedang mengemudi.


"Itulah salah satu kelemahanku, aku selalu menggunakan instingku dan cara berpikirku berdasarkan logika, jadi perasaanku terhadap orang lain tidak begitu terasah !", ucapku pada anggun.


"Jadi itu alasanmu kenapa kau lebih memilih untuk menutup dirimu dari orang disekitarmu !", ucap dari anggun.


"Salah satunya !", ucapku.


"Kalau gitu aku akan mengasah perasaanmu agar lebih peka !", ucap dari anggun dengan ekspresinya yang seolah-olah ingin menantangku.


20:15, XXI Royal Plaza


Sebelumnya aku dan anggun sudah janjian untuk nonton bioskop hari ini, berkali-kali anggun mengajakku untuk bisa jalan berdua dan untuk memuaskan keinginannya aku pun menyanggupinya dan baru bisa hari ini aku jalan dengannya. kini aku dan anggun telah sampai di bioskop XXI dan kita sedang mengantri tiket untuk nonton film hollywood.


"Sudah jangan di tekuk gitu mukanya !", ucapku pada anggun.


"Bodo amat !", sautnya ketus dengan kedua tangannya terlipat di atas perutnya.


"Malu yaa.. ketauan rencananya !", sindirku pada anggun.


"Iihh.. resek banget seh kamu tuh !", ucap dari anggun dengan sebelnya.


"Sampai kamu bahas yang tadi lagi, aku bakal pergi naik taksi !", ucapnya dengan mengancamku.


"Hehehe.. ya udah kita ganti topik aja !", ucapku.


"Nonton film apa ?", ucapku selanjutnya dengan bertanya.


"Poison Ivy aja !", saut dari anggun.


"Tunggu bentar, aku beli'in tiketnya dulu !", ucapku pada anggun.


Setelah menentukan film apa yang akan kami tonton aku pun pergi ke loket untuk membeli tiket nonton film Poison Ivy, melalui antrian yang lumayan panjang akhirnya dua tiket telah aku pegang dan kini aku pun membeli popcorn dan juga minuman bersoda untuk menemani kami nonton film tersebut, lalu aku pun kembali ke tempat anggun dan mengajaknya masuk ke dalam gedung bioskop.


"Aku yang popcorn manis aja ama cola !", ucap dari anggun.


"Nih ambil !", ucapku dengan menyodorkan popcorn dan cola pada anggun.


"Makasih !", saut dari anggun dengan mengambil makanannya.


"Yuk masuk !", ucapku.


Aku dan anggun pun melewati gerbang pemeriksaan untuk mengecek tiket nonton kita berdua dan setelah itu kita pun di berikan masuk ke dalam bioskop, sampai di dalam suasana gelap pun terasa sedih mengganggu kita berdua dalam mencari-cari tempat duduk kami sesuai dengan yang tertera pada tiket nonton ini.


"Disana !", ucap dari anggun dengan menunjuk tempat duduk kita berdua.


Aku pun berjalan mengikuti langkah dari anggun untuk menuju ke tempat duduk kita berdua, sebuah tempat duduk yang terbilang sangat nyaman karena terdapat selimut serta temapt duduk ini bisa di buat memanjang untuk digunakan tidur oleh penontonnya, maklumlah tiket yang aku beli tadi adalah kelas VVIP jadi pelayanan dan fasilitasnya pun tergolong mewah.


"Masih belum mulai, mau pesan makanan gak ?", tanyaku pada anggun.


"Makanan apa ?", tanya balik anggun dengan binggungnya.


"Dasar norak, gak pernah masuk kelas VVIP yaa !", ucapku menyindirnya.


"Belagu banget seh, kamu juga paling-paling baru kali ini masuk ke sini !", ucap dari anggun membalas sindiranku.


"Udah bosen karena saking seringnya !", sautku menyombongkan diri.


"Udah ahh.. aku pulang aja deh, males banget kalau kayak gini !", ucap anggun dengan juteknya.


"Iya.. yaa.. maaf.. hahahaha... !", ucapku dengan tertawa sambil menahan tangan anggun untuk tidak pergi.


"Cuma bercanda doank.. jangan dimasukin hati yaa !", ucapku pada anggun.


"Bodo ahh !", sautnya ketus.


"Ehh.. nih film ceritanya tentang apaan seh ?", tanyaku untuk mencairkan suasana.


"Perselingkuhan !", ucap dari anggun dengan singkat dan ketus.


"Ehmm.. tapi kalau di lihat-lihat semakin kamu cemberut semakin cantik lho !", ucapku merayunya.


"Aahh.. bisa diem gak seh !", ucapnya lumayan keras dengan kesel namun tersenyum kecil.


"Ssssttt... jangan berisik !", ucapku pada anggun untuk memelankan suaranya.


Film pun di mulai dan kita berdua pun menontonnya dengan serius dan terkadang aku dan juga anggun saling mengomentari film tersebut, mulai dari aktor dan artisnya sampai setting waktu dan tempatnya.


"Overall seh 7,5 lah.. bagus !', ucapku pada anggun.


"Cuma sayang banget yaa musik soundtracknya harus pop mellow, coba kalau di buat ke music classic, mungkin akan cocok dengan setting tempat dan waktunya !", ucap dari anggun.


"Bener juga pengamatanmu.. kalau gini terkesan bentrok antara musik dan settingnya !", ucapku.


"Nih genrenya romantic, drama, erotisme yaa.. ?", tanyaku pada anggun.


"Hehehe.. iya, namanya juga film tentang perselingkuhan !", jawab dari anggun.


"Andai di kasih unsur misteri mungkin lebih bagus kali yaa.. !", ucap dari anggun.


"Tentang pembunuhan yang terjadi di antara mereka, gitu ?", tanyaku menegaskan pernyataan anggun.


"Iya.. bagus kan yaa !", ucapnya.


"Ehmm... iya seh jadi biar gak monoton tentang perselingkuhan saja, tapi ribet juga lho bikin cerita yang memiliki unsur multi genre kayak gitu !", ucapku pada anggun.


"Sok tau.. emang kamu penulis apa ?", ucap dari anggun dengan muka menyindir.


"Hahaha... beneran lho, aku dulu punya teman seorang penulis dan dia pernah bilang kalau nulis cerita dengan multi genre itu susah, dan sering fail karena kurang dalam penghayatannya !", penjelasanku.


"Seorang penulis emang harus butuh penghayatan yaa ?", tanya dari anggun.


"Pasti butuhlah, penulis harus memberikan penghayatan pada ceritanya, pemberian sebuah nyawa/karakter pada tokoh-tokohnya agar pembaca dapat mengerti dan mampu masuk kedalam dimensi cerita kita !", tuturku.


"Kalau udah ada pembaca yang sudah terbawa oleh cerita kita, udah enak banget untuk penulis memainkan imajinasi, perasaan dan pola pikir dari pembaca itu !", sambungku.


"Aku kurang paham tentang dunia seperti itu !", ucap dari anggun.


Itulah perdebatanku dengan anggun mengenai film dan juga penulis, disaat seru-serunya berdebat getar dari handphoneku pun terasa dari dalam saku celanaku. saat aku melihatnya ternyata sebuah panggilan dari nomor yang tidak di kenal, aku pun meminta izin kepada anggun untuk keluar sebentar mengangkat teleponku.


"Aku keluar bentar yaa, ada telepon masuk !", ucapku pada anggun.


"Emm... !", ucapnya dengan mengangguk-anggukan kepalanya sambil menyedot sedotan minumannya.


Aku pun berjalan keluar dari ruang bisokop tersebut, sesampainya di luar aku pun melakukan panggilan balik kepada nomor tersebut.


"Hallo !", sapaku.


"Iya hallo !", jawab dari seorang wanita.


"Ini siapa yaa.. tadi telepon ke nomor saya ada apa ?", tanyaku pada wanita tersebut.


"Kamu bisa keluar dari gedung bioskop gak, tante nunggu kamu di caffe exelso tepat di depan bioskop !", ucap dari wanita tersebut.


"Ini siapa yaa ?", tanyaku pada wanita yang menyebut dirinya tante tersebut.


"Ini tante julia, mama dari anggun.. cewek yang sedang nonton denganmu sekarang !", jawab dari tante julia.


Mendengar namanya aku pun langsung berpikir tak karuan, semua pertanyaan tentang tante julia pun bermunculan di otakku. untuk apa dia ingin menemuiku dan juga dia mengetahuiku sekarang berarti dia mengikutiku dari tadi. dari pada mati penasaran mending aku cari tau sajalah tentang apa maksud dari tante julia ini ingin menemuiku.


Aku pun berjalan keluar dari gedung bioskop ini untuk mencari sebuah caffe exelso tempat tante julia ini sedang menungguku. setelah keluar aku pun tengok kanan kiri untuk mencari tempat tersebut dan sebuah lambaian tangan terlihat dari dalam caffe, saat aku lihat ternyata itu adalah lamabaian tangan dari tante julia. aku pun segera menghampirinya yang tengah duduk sendiri menungguku.


"Tante julia ?", tanyaku pada tante julia.


"Iya tante !", jawabku.


"Duduklah !", ucap tadi menyuruhku duduk.


"Ada apa tante mencariku ?", tanyaku pada tante julia sesaat setelah duduk tepat di hadapannya.


"Ehm.. hanya ingin ngobrol saja dengan kekasih dari anakku !", ucap dari tante.


"Kita hanya berteman tante !", sautku.


"Teman kok mesra banget !", ucap dari tante.


"Tanya ama anggun aja deh tante !", ucapku pasrah karena tuduhan dari tante.


"Hahaha... tante cuma bercanda aja kok !", ucap tante dengan tertawa lirih.


"Ohh iya.. tante tau darimana nomor teleponku ?", tanyaku pada tante.


"Kita pernah bertemu kan di caffe di mall tunjungan plaza, di tempat kerjamu yang dulu.. jadi aku sengaja tanya tentang kamu sama ownernya lalu dikasihlah nomor handphone kamu !", jawab dari tante julia.


"Ohh.. gitu toh !", sautku.


"Aku gak yakin kalau tante cuma pingin basa-basi aja denganku, pasti tante punya maksud lain kan kenapa ingin bertemu denganku karena tante sampai bela-bela'in mencari tau tentangku di tempat kerjaku yang dulu ?", tanyaku pada tante julia.


"Kamu maunya to the point aja yaa, baiklah... tante ingin bertemu denganmu karena ingin membahas masalah yohan dan sidang perceraiannya !", jawab tante dengan santainya.


"Maksud tante ?", tanyaku pada tante julia.


"Tante ingin kamu hentikan kesaksianmu di sidang perceraian itu !", jawab dari tante julia.


"Kenapa ?", tanyaku pada tante julia.


"Lebih baik kamu sebutkan saja berapa jumlah uang yang kamu minta !", ucap dari tante julia dengan ekspresi yang begitu tenang.


"Maaf saya gak bisa !", sautku pada tante.


"Selama ada kamu di pihak mereka maka hasil persidangan ini sudah bisa di pastikan kalau bakal ada perceraian antara yohan dan bella !", ucap dari tante julia.


"Apa lagi kamu punya video rekaman itu, sangat susah untuk di bantahkan !", sautnya lagi.


"Sebenarnya ada apa antara kalian bertiga ?", tanyaku penasaran pada tante julia.


"Bella adalah kakak kelasku dulu waktu SMA dan saat kuliah juga di kakak angkatanku, aku dan bella berteman baik sampai suatu saat aku dia dijodohkan dengan yohan, dimana yohan adalah kekasihku saat itu !", ucap dari tante julia dengan santainya tanpa ekspresi.


"Perselingkuhanku dengan yohan terjadi karena kita berdua masih memiliki perasaan yang sama !", sambungnya lagi.


"Terus alasan tante apa sehingga tidak menginginkan mereka bercerai ?", tanyaku pada tante julia.


"Aku sudah punya suami dan anak yang sudah besar, sedangkan yohan pun juga sama sepertiku, dia memiliki kehidupannya sendiri walaupun belum di karuniai seorang anak, oleh karena itu aku tidak ingin melihat mereka berdua bercerai !", ucap dari tante julia dengan santainya.


"Dan aku juga sudah berjanji pada diriku sendiri begitu juga dengan yohan, andai perceraian ini tidak terjadi maka aku dan yohan sepakat untuk menghentikan perselingkuhan ini !", ucap dari tante julia.


"Aku mohon kepadamu untuk mempertimbangkan hal ini !", sambung dari tante julia.


"Ehmm... sebelum aku mempertimbangkan hal tersebut, aku ingin bertanya pada tante ?", tanyaku pada tante julia.


"Silahkan !", sautnya singkat.


"Ehmm... tante sengaja mengikutiku atas kehendak tante sendiri atau disuruh oleh yohan ?", tanyaku pada tante dengan menatapnya curiga.


"Kehendakku sendiri !", jawabnya singkat.


"Tante bertemu denganku seakrang ini karena kehendak dari tante sendiri ?", tanyaku lagi.


"Iya, kau benar !", jawab dari tante julia.


"Tante bilang kalau tante dan yohan masih cinta satu sama lainnya, ehmm... cinta dan nafsu itu bedanya tipis sekali !", ucapku pada tante julia.


"Maksudmu ?", tanya tante julia.


"Dari cerita tante tadi aku tidak melihat sedikit pun ekspresi penyesalan dari tante julia, bahkan sangat datar tanpa ekspresi jadi aku ragu jika tante jujur dalam bercerita tadi !", ucapku.


"Kemudian jika di lihat dari kejadian-kejadian sebelumnya antara tante dan yohan, terlihat sekali kalau hubungan kalian bukanlah berdasarkan cinta tapi lebih ke nafsu saja. jika kalian berdua saling mencintai kenapa kalian memilih tempat pertemuan di diskotik dan di tempat terbuka tante dan yohan melakukan adegan yang se-hot itu, apakah hal ini bisa di bilang cinta atau nafsu ?", tanyaku pada tante julia.


"Menurutku itu wajar saja karena kita sekarang hidup kota megapolitan !", jawab dari tante julia dengan sangat dingin.


Ekspresi dan jawabannya benar-benar memuatku tidak bisa memprediksi apakah yang dia katakan ini benar atau tidak, jika melihat dari sudut pandangku jelas hal tersebut bukanlah sebuah jawaban yang tepat tapi jawabannya bisa menjadi tepat dan terkesan wajar jika kita melihat dari sisi kehidupan jaman sekarang, hal tersebut bukanlah hal yang tabu lagi. antara cinta dan nafsu memanglah sangat susah untuk dipisahkan, dua hal tersebut bukanlah seperti air dan minyak yang tidak akan bisa melebur jadi satu.


"Ada hubungan apa tante dengan owner tempatku bekerja dulu ?", tanyaku lagi pada tante julia.


"Dia adalah teman kampusku dulu !", jawabnya dengan santai dan dingin.


"Suami tante tau tentang mantan bossku itu ?", tanyaku pada tante dengan semakin mencurigainya.


"Ehm.. mungkin tau mungkin juga tidak karena sudah lama mereka tidak bertemu dan berkomunikasi !", ucap dari tante julia.


"Kamu pasti mencurigaiku kalau aku ada hubungan dengannya yaa !", ucap dari tante.


"Iya benar karena kalian terlihat sangat mesra sekali !", ucapku pada tante.


"Mesra tapi dalam kewajaran mungkin masih bisa untuk di tolerir.. kecuali jika kamu melihatku dengannya saling bercumbu seperti pada rekaman videomu itu mungkin kamu bisa mencurigai tante melakukan perselingkuhan dengannya tapi nyatanya gak seperti itu kan !", ucap dari tante julia dengan pede nya.


"Aku bisa menebak kalau tante bakal menjawab seperti itu, hampir sama dengan jawaban tante dalam menyikapi videoku !", ucapku pada tante.


"Lalu apa lagi yang ingin kamu tanyakan ke tante ?", tanya tante padaku.


"Sudah cukup untuk saat ini !", jawabku.


"Terus apa keputusanmu ?", tanya tante seperti mendesakku untuk menentukan keputusanku segera.


"Aku akan tetap berada di pihak tante bella dalam sidang selanjutnya !", jawabku.


"Kenapa ?", tanya tante julia dengan nada yang sedikit mulai kesal.


"Setiap perbuatan yang kita lakukan pastilah ada konsekuensinya, dan untuk dalam kasus ini konsekuensi yang harus diterima oleh yohan adalah perceraian !", tutur pada tante julia.


"Sepertinya kamu keras kepala jadi percuma saja berdebat terlalu lama dengamu !", ucap dari tante julia terlihat menahan amarahnya.


"Kalau begitu jauhilah anggun, jangan sampai aku melihatmu dengannya lagi !", ucap dari tante julia dengan nada sinis.


"Dengan senang hati !", ucapku pada tante.


"Bisa kita akhiri pembicaraan ini ?", tanyaku pada tante julia.


"Pergilah !", ucap tante dengan ketus.


Aku pun pergi meninggalkan tante julia di caffe tersebut, bukannya aku berpamitan dengan anggun tapi aku memilih untuk melangkah menuju ke parkiran. aku pun pergi meninggalkan anggun sendirian di dalam gedung bioskop itu, tapi aku menyempatkan untuk mengirimkan pesan singkat padanya via whatsapp.


"Kamu di tunggu mamamu di caffe exelso depan XXI, pulanglah dengannya !", pesnku pada anggun.


22:00, Kediaman Tante Bella


"Akhirnya sampai juga di rumah tante bella !", gumamku sendiri.


Aku pun memencet bel rumah tante bella yang berada di samping pintu masuknya, saat aku lihat jam tanganku ternyata baru menunjukan pukul 22:00 malam, masih belum terlambat dan tepat waktu karena aku janji akan mengembalikan mobil dari tante bella pada pukul 22:00 malam.


Dan karena belum juga ada orang yang membuka pintu ini, aku pun memencet bel rumah ini sekali lagi, terdengar langkah kaki seperti sedang berlari dari dalam rumah menuju ke pintu, kemudian terbukalah pintu tersebut dan sosok bencong taman lawang pun nonggol dari balik pintu tersebut.


"Hi.. ganteng, masuk yuk !", sapa dari bencong ini.


"Tante bella mana ?", tanyaku masih berdiri di luar.


"Ada di dalam !", jawabnya.


"Ehm... aku gak lama, tolong balikin kontak mobil dan ngucapin terima kasih ke tante bella !", ucapku pada bencong ini dengan memberikan kontak mobil tante bella padanya.


"Iihh.. emang eike pesuruh yang bisa disuruh-suruh.. kasih aja sendiri !", cetus dari si bencong.


"Aku tunggu di luar aja kalau gitu !", ucapku padanya.


"Terserah yu deh.. !", ucap dari bencong itu.


"Ada apa seh ?", tanya dari tante bella yang keluar menghampiriku.


"Tau tuh berondong yu !", jawabd ari si bencong.


"Nath.. masuk yuk !", ajak dari tante bella.


"Gak deh tante, aku buru-buru.. !", ucapku pada tante bella.


"Ohh iya nih kunci mobilnya dan makasih ya tante !", ucapku lagi.


"Mau kemana seh buru-buru amat ?", tanya tante bella.


"Pulang tante !", ucapku pada tante.


"Ngapain pulang.. udah tidur sini aja !", ucap dari tante.


"Waduh.. makasih banyak tante tapi gak deh dulu untuk sekarang !", tolakku secara halus.


"Yaa udah kalau gitu saya pulang dulu deh tante !", pamitku.


"Ehh.. tar dulunath, sekalian aja deh kalau gitu kita keluar bareng !", ucap dari tante bella.


"Maksudnya ?", tanyaku.


"Tante mau keluar juga jemput adik tante jadi sekalian aja ngantar kamu pulang !", ujar tante.


"Ohh.. ya udah kalau gitu !", ucapku.


"Bentar yaa !", ucap dari tante.


Tante bella pun masuk kedalam rumah untuk ganti baju sedangkan aku menunggunya di luar rumah duduk sendirian. setelah beberapa saat kemudian tante bella dan si bencong pun keluar rumah dengan pakaian yang sudah rapih, lalu si bencong pun mengemudikan mobil tante bella untuk mengantarnya menjemput adiknya.


"Kamu duduk di belakang aja nath !", ucap dari tante bella.


"Ok !", sautku.


Tante bella duduk di kursi depan bersama dengan si bencong sedangkan aku berada di belakangnya, sangat tumben sekali aku di perlakukan seperti ini. biasanya juga aku yang mengemudikan mobil ini dan disuruh jadi supir, mungkin mereka ingin mengantarku pulang dulu jadi aku di suruhnya untuk duduk di kursi belakang.


"Ini ngantar aku pulang dulu kan ?", tanyaku pada tante.


"Jemput christine dulu donk habis itu ngantar kamu biar gak bolak-balik !", jawab tante.


"Emang tante christine dimana ?", tanyaku pada tante bella.


"Lagi ada di hotel !", jawab tante.


"Ehmm... bukan jebakan kan ini !", ucapku merasa curiga.


"Curiga amat seh !", saut tante bella.


"Takut aja kayak waktu itu !", ucapku.


"Tenang aja gak bakal ada apa-apa kok, habis jemput kita langsung pulang !", ucap dari tante bella.


"Hayoo... jebakan apa nih !", saut dari si bencong.


"Kepo deh aahh.. !", ucap tante pada si bencong.


Dalam perjalanan ini aku pun mengkonfrontir tante dengan beberapa pertanyaan karena aku takut jika tante bella menjebakku lagi seperti pada waktu itu di sebuah hotel meteor. dan setengah jam telah berlalu kita bertiga pun sampai di tempat hotel yang di tuju, mabil tante bella pun di parkirkan di depan pintu masuk hotel bertanda kalau kita ingin menjemput seseorang dan tidak ingin berlama-lama.


"Nath, masuk ke dalam di jemput adikku di ruang tunggu !", suruh tante bella padaku.


"Di telepon kan bisa tante !", ucapku.


"Udah buruan, gak ada pulsa nih !", ucap dari tante.


Dengan terpaksa aku pun turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam hotel tersebut, sesampainya di dalam aku pun clingak-clinguk kanan kiri untuk melihat dimana ruang tunggu itu berada, dan tiba-tiba si bencong memegang tanganku dari belakang dan menyeretku ke masuk agak ke dalam di bagian kanan dari tempat receptionist berada.


"Sini ikut !", ucap dari bencong ini menarik tanganku.


Kulihat kerumunan orang masuk dengan berkalung kamera sedang mengelilingi tante christine, dan si bencong ini dengan bangganya melambaikan tangannya sehingga menarik perhatian dari para wartawan itu, kemudian tante pun berjalan cepat menuju ke arahku dan dia tanpa ragu langsung memeluk tanganku dan berjalan dengan di iringin oleh para wartawan ini.


"Yuk sayang.. !", ucap tante christine buru-buru.


"Mbak christine, siapa ini mbak kok di panggil sayang ?", tanya dari salah satu wartawan tersebut.


"Kekasih barunya yaa mbak, muda banget mbak ?", celetuk dari salah satu wartawan lagi.


"Ini yang anak pengusaha itu ya mbak ?", tanya dari wartawan lagi.


Sorot kamera pun nampak jelas menyorot kita bertiga dan terutama mereka ingin sekali mengambil wajahku dan tante christine yang sedang bergandengan tangan, aku pun berpikir yang tidak-tidak, aku sengaja di jebak untuk hal ini. blitz kamera terus saja meyilaukan mata dan dengan tanganku aku pun menghalangi tatapan dari puluhan kamera yang siap menyorotku.


"Mas.. kekasih dari mbak christine yaa ?", tanya salah satu wartawan kepadaku.


"Mas anak dari pengusaha batu bara itu bukan ?", tanya dari wartawan lainnya.


"Udah berapa lama mas menjalin kasih dengan mbak christine ?", tanya dari wartawan lainnya.


Si bencong degan cepatnya masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya, sedangkan aku dan tante christine duduk di kursi belakang, tante christine masuk terlebih dahulu dengan tanpa memperdulikan dan menjawab semua pertanyaan dari wartawan, di susul kemudian aku yang memasuki mobil tersebut. setelah semua berada di dalam mobil kita pun langsung cabut pergi dari tempat itu untuk menghindari rentetan dari pertanyaan wartawan.


"Hahaha... seru kan !", tertawa senang dari tante christine dengan melihat ke arahku.


"Sengaja banget yaa !", ucapku dengan menahan kesal.


"Yaa elah.. tar pasti di kasih fee kok kalau berjalan dengan lancar !", saut dari si bencong sambil menyetir.


"Lumayan kan nath.. kamu bisa mendompleng popularitas dari adikku, jadi artis dadakan deh !", ucap dari tante bella.


"Ohh iya nih.. anggap aja sebagai DP nya, 25juta dulu yaa !", ucap dari tante christine dengan memberiku sejumlah uang yang dia taruh di dalam amplop coklat.


"Wajahku kelihatan gak yaa tadi !", gumamku sendiri.


"Yaa elah tenang aja, nikmati aja nanti yang penting kan dapet duit !", ucap dari tante christine.


"Nih ambil !", sambungnya lagi dengan memaksaku menerima uangnya.


"Mending habis ini kamu pindah aja nath dari tempatmu yang sekarang, kalau kamu mau aku ada apartement kosong, tinggal aja disana !", ucap dari tante bella.


"Iya bener, soalnya wartawan pasti nguber-nguber kamu nantinya dan bakal nyari-nyari informasi tentang kamu deh !", saut dari tante christine.


"Udah pindah aja nanti eike temenin deh tiap malam !", saut dari si bencong.


Aku harus gimana ini kalau sampai wajah kesorot kamera dan masuk ke dalam pemberitaan media, semuanya bakal terbongkar dan malah akan membuat malu keluarga besarku. aku pun di buat binggung bukan kepalang dengan permasalahan ini tapi ini semua sudah terjadi, tidak ada gunanya menyesali lebih baik aku berpikir untuk mencari jalan keluar dari permasalah ini.