Xcase

Xcase
Episode 13 : Nathael PHK



12:00, Beberapa jam yang lalu...


"Woi berhenti.. !", teriakku pada mobil misterius itu.


Berlari dengan sekuat tenaga dengan meneriaki pengemudi yang mengemudikan mobil misterius dengan plat nomor L 3513 IAN, dengan maksud supaya dia mau berhenti tapi apa daya mobil itu malah tancap gas dan melaju dengan kencangnya. aku benar-benar dibuat mati penasaran dengan mobil tersebut, tidak ada angin tidak ada hujan tapi secara tiba-tiba saja mobil itu melintas di tempat ini.


Karena tidak mungkin lagi aku mengejar mobil tersebut akhirnya aku pun memutuskan untuk menghentikan pengejaranku ini. sudah ketiga kali ini aku hampir di tabrak oleh mobil tersebut namun kali ini benar-benar sangat parah, dia telah menyerempetku sampai-sampai aku hampir saja terjatuh, saat ku lihat mobil tersebut ini berhenti aku pun segera menghampirinya tapi melihat orang-orang di sekitarku juga ikut menghampiri jadi mobil itu pun terpaksa tancap gas dan berlalu pergi begitu saja tanpa sempat aku mencari tau siapa pengemudi mobil tersebut.


"Anjrit... hampir aja tadi gue celaka gara-gara mobil itu !", ucapku sendiri.


"Mobil siapa seh itu ?", gumam dengan bertanya sendiri.


"Sampeyan piye cak.. ora opo-opo ta ?", tanya salah satu warga sekitar.


(Dirimu gimana mas... gak apa-apa ?).


"Ora opo-opo cak.. !", jawabku.


(Gak apa-apa mas).


"Kurang ajar ancen wong kuwi... mentang-mentang sugeh, maen serempet ae !", ucap warga ini.


(Kurang ajar emang tuh orang... mentang-mentang kaya, maen serempet aja).


"Yo wes lek ora opo-opo.. ati-ati cak lek mlaku !", sambungnya.


(Ya udah kalau gak apa-apa... hati-hati mas kalau jalan).


"Iyo cak.. suwon !", ucapku.


(Iya mas.. makasih).


Sudah beberapa kali aku bertemu dengan mobil tersebut namun sampai sekarang aku tidak juga bisa mengetahui siapa pemilik mobil tersebut. mobil sialan, aku pun hanya bisa memaki saja karena ulahnya yang membahayakan diriku. lain kali aku tidak akan membiarkan mobil ini lolos lagi dari genggamanku, saat aku tau siapa pemilik dari mobil ini aku akan membuat perhitungan dengannya, pastinya dia juga tidak akan asing lagi melihat wajahku, wajah orang yang sudah tiga kali hampir dia celakai.


Aku kembali berjalan menuju ketempat tujuanku yaitu tempat service jam tangan yang ada di salah satu sudut kota ini tempatnya tidak jauhlah dari kontrakanku, mungkin bisa di tempuh dengan waktu sekitar 30 menitan dengan berjalan kaki. jam tangan kesayanganku ini rusak setelah terjatuh kedalam bak mandi di kamar mandiku.


Blauran adalah nama tempat yang sekarang aku tuju, sebenarnya bisa saja aku menaiki becak tapi bakal membuang-buang duit saja jadi lebih baik jika jalan kaki saja walaupun panas terik menyayat kulitku. di kota surabaya ini menemukan bangunan-bangunan kuno bekas penjajahan belanda sangatlah muda, bahkan di tengah kota seperti ini saja kita masih bisa melihat bekas-bekas bangunan sejarah ini masih kokoh berdiri dan masih digunakan sampai saat ini, hal ini mengingatkanku dengan kota tua di jakarta.


"Aahh.. apaan ini, pikiranku ini selalu aja terbuai jika mengingat masa lalu !", ucapku sendiri dengan memukul-mukul kepalaku.


"Selalu saja seperti ini !", gumamku.


Langkah demi langkah akhirnya aku pun sampai pada tujuanku dan aku segera memperlihatkan jam tanganku pada tukang service tersebut, seorang kakek yang sudah cukup berumur sedang mengotak-atik jam tangan pemberian dari seseorang yang di anggap sebagai pahlawan, ahh sudahlah masa itu sudah lewat sekarang, dan saat ini adalah dimana aku harus kembali menata kehidupanku untuk lebih baik lagi.


Kakek tersebut sangat tekun dan serius sekali memperbaiki jam tanganku ini, satu persatu jam tanganku pun di bongkar hingga terlihat semua dalaman dari jam tersebut. dibersihkan dan di cek satu persatu dari komposisi jam tanganku, dan akhirnya di rangkai kemali satu persatuu sampai kembali ke bentuk semula, semua proses tersebut aku pun menyaksikannya dengan cermat, dan kulihat jam tanganku normal kembali.


"Berapa kek ?", tanyaku pada tukang jam tersebut.


"50ribu nak !", jawabnya.


"Nih kek !", ucapku dengan menyerahkan selembar 50ribuan pada kakek tersebut.


"Makasih yaa nak !", ucap dari kakek tersebut.


"Sama-sama kek.. mari !", ucapku dengan berpamitan.


"Hati-hati !", saut ddari kakek.


Setelah 30 menit menunggu service jam tangan akhirnya aku pun kembali pulang dengan jalan kaki lagi, mencoba untuk mengirit pengeluaran karena beberapa hari yang lalu bencana menimpaku sampai harus menguras isi tabunganku. di saat aku berjalan tiba-tiba saja dari belakang ada yang menegurku dengan menepuk pundak kananku, aku pun berpaling untuk melihat siapa orang tersebut.


"Oohh.. bu gina toh !", ucapku setelah melihat orang yang menyapaku.


"Dari mana ?", tanya bu gina.


"Ini benerin jam tangan !", jawabku.


"Ohh.. udah selesai apa belum nih ?", tanya lagi dari bu gina.


"Barusan aja selesainya !", jawabku lagi.


"Terus sekarang mau kemana nih ?", tanya lagi bu gina.


"Mau pulang bu !", jawabku.


"Bareng ama ibu aja yuk !", ucap bu gina menawarkan tumpangan padaku.


"Naik apa ?", tanyaku pada bu gina.


"Naik becak aja, murah meriah !", jawab dari bu gina.


Weleh.. weleh.. naik becak dengan bu gina, dengan badannya yang tembem gitu, kayaknya bakal dempet banget kita berdua duduknya apa lagi ada anaknya yang masih kecil. tapi emang dasar otak kotor yang penuh dengan pikiran mesu* selalu saja datang di saat-saat seperti ini, sepertinya otak mesu* ini tau dimana ada kesempatan dalam kesempitan di situ dia harus keluar merasuki pikiranku.


Aku pun membayangkan saat bu gina dan diriku duduk di atas becak, dah kayak apaan tau tuh rasanya paha ketemu paha. karena otak ini sudah terasuki pikiran mesu* akhirnya aku pun mengiyakan saja tawaran ari bu gina ini, itung-itung sebagai pelepas lara setelah tadi terkena musibah karena di serempet mobil misterius.


"Pak becak, pak !", ucap bu gina pada tukang becak.


"Iya bu kemana ?", tanya tukang becak.


"Ke kali asin, turun di depan TP aja yaa !", jawab bu gina.


"10ribu bu !", ucap dari tukang becak dengan mematok harga.


"7ribu pak biasanya !", tawarku pada tukang becak.


"Kalau sendiri seh gak apa-apa mas.. bertiga, berat !", ucap tukang berat dengan ekspresi yang memelas.


"Berat.. berat.. nyindir yaa !", saut bu gina pada tukang becak tersebut.


"Hahaha.. maaf bu !", ucap ari tukang becak tersebut.


"Yaa uah nath gak apa-apa... yuk !", ucap dari bu gina padaku.


Aku pun menyuruh bu gina menaiki becak tersebut lebih dulu dari pada aku karena tubuhnya yang tembem bakal butuh space yang lebih jadi aku mengalah saja untuk dirinya. saat bu gina menaiki becak tersebut gesturnya benar-benar membuatku ng*c*ng, dengan p*nt*tnya yang menungging saat menaiki becak lalu dia pun mendudukan b*k*ngnya tersebut dengan mantap ke atas becak tersebut.


Kulihat hanya ada sedikit saja space untuk kududuki dengan otak kotor yang sedang bergejolak aku pun menaiki becak tersebut dan mencoba duduk di tempat sempit itu, kurasa paha besar dari bu gina begitu menempel pada pahaku, sedikit kurasakan rasa hangat dari pahanya. aku dengan sengaja menggesek-gesekan pahaku pada paha bu gina untuk mendapatkan kehangatan yang lebih.


"Sini nak makan permennya !", ucap bu gina pada anaknya dengan menyuapkan sebuah permen.


"Ng*c*ng yaa !", ucap lirih bu gina di telingaku.


"Gak !", sautku dengan menggeleng-gelengkan kepala.


"Bo'ong !", ucap dari bu gina.


"Titip tas donk !", ucap dari bu gina dengan memberikan tasnya padaku.


Saat tas tersebut berada di atas pangkuanku, tiba-tiba tangan bu gina pun meraba area kemal**nku lalu dia pun dengan gemasnya meremas kemal**nku yang sudah tegang. sentak saja aku kaget dan mencoba untuk bersikap senormal mungkin karena posisi ini benar-benar tidak menguntungkan, di belakang ada bapak tukang becak dan kanan kiri merupakan jalanan dimana banyak pengguna jalan yang wara-wiri.


Kubungkukkan sedikit punggungku untuk menutupi tangan bu gina yang masih meremas-remas kemal**nku, lalu kututupi tangannya dengan tas bu gina yang berada di pangkuanku. ku lihat wajah bu gina pun tersenyum-senyum genit menggodaku, dan tangannya masih saja meremas pen*sku dengan nafsunya.


"Masih berani bo'ong !", ucapnya dengan berbisik lirih pada telingaku.


"Udah bu.. ini di tempat umum !", sautku lirih meminta bu gina untuk menghentikan aksinya ini.


"Enak gak ?", tanya bu gina dengan menguatkan remasannya.


"Enaaaakkk... !", jawabku dengan menahan rasa nikmat karena remasan bu gina.


Tangan bu gina pun semakin menjadi-jadi, bukannya mengakhiri hal ini tapi malah semakin parah, kali ini bu gina secara pelan-pelan membuka resleting celanaku dan aku pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena keenakan, aku pun membantunya dengan melurukan kakiku tapi tetap dengan menutupi area kemal**nku dengan tas dan kedua tanganku ini. perlahan tapi pasti akhirnya resletingku pun terbuka lalu bu gina pun merogoh kedalam resletingku untuk mengeluarkan pen*sku.


Aku pun melepaskan jaketku lalu taruk di atas tangan bu gina biar tidak kelihatan kalau tangan dan lengannya sedang menjalar ke pen*sku, setelah pen*s berada di luar bu gina pun perlahan mengkocok-kocok pen*sku. di antara malu karena takut orang melihat dan berprasangka buruk aku pun mencoba memalingkan mukaku dan bersifat masa bodoh sambil menikmati kocokan dari tangan bu gina.


Kulihat wajah bu gina dengan sengaja menggodaku dengan menjulurkan lidahnya ke arah permen lolipop anaknya, dia pun menjilat permen tersebut dan mengkulumnya sambil melirik kearah, sedangkan tangannya masih saja terus mengkocok pen*sku dengan perlahan. lalu bu gina memberikan permen yang sudah penuh dengan ludahnya tersebut kepadaku, dia pun menyuapkan permen tersebut masuk kedalam mulutku, rasa manis dari permen berbaur dengan rasa hampa dari ludahnya.


"Buruan keluarin udah hampir sampai ini !", ucap lirih dari bu gina.


"Gak usaaahh... !", jawabku lirih dengan mendesah.


"Hehehe... udahan nih !", ucap bu gina.


"Udah !", jawabku pelan dengan menunduk malu.


"Beneran gak nyesel !", rayu kembali dari bu gina.


"Gak !", jawabku lagi.


Akhirnya bu gina pun melepas kocokannya sesaat sebelum kita tiba di tempat tujuan, sebelum turun aku pun dengan cepat membetulkan kemal**nku yang sedang keluar dari sarangnya, tanpa sempat membetulkan resletingku, aku pun turun dari becak karena sudah sampai tempat tujuan, dan dengan jaketku aku berusaha menutupi resletingku yang terbuka tersebut, ku ikat melingkar kedua lengan jaketku pada pinggangku lalu ku putar hingga bagian punggung jaketku menutupi resletingku dan kedua lengan jaketku berada di belakang punggungku, layaknya koki masak.


"Hahaha... lucu banget kamu tuh !", ucap bu gina dengan tertawa.


"Ssssttt... !", ucapku untuk mendiamkan bu gina.


Setelah bu gina membayar ongkos dari becak tersebut, kita pun berjalan bebarengan menuju ke kontrakan dengan menelusuri lorong-lorong gang ini. aku pun mencuri-curi kesempatan saat sepi tak ada orang yang memperhatikan, dengan cepat aku pun membetulkan resletingku yang terbuka tersebut, lalu aku pun bisa melepas jaketku dan mengenakan dengan semestinya.


"Naahh gitu kan lebih ganteng... masak jaket di taruh di bawah !", sindir dari bu gina.


"Hussshh.. !", ucapku dengan menyuruh bu gina untuk diam.


Dan akhirnya aku pun sampai di kontrakanku dengan selamat dan puas, disamping itu juga perasaan malu, deg-deg'an dan juga was-was bercampur dengan sebuah sensasi yang luar biasa karena baru pertama kali ini di kocokin di atas becak walaupun gak sampai keluar, tapi adrenalin ini benar-benar terpacu habis.


Kulihat jam tanganku sudah menunjukan pukul 14:50, sebentar lagi waktunya untuk kerja. dan aku pun menyiapkan semua keperluan yang akan aku bawa dalam pekerjaanku, mulai dari tas dompet dan juga handphone tak lupa aku siapkan semuanya, lalu aku pun merebahkan sejenak tubuh ini sebelum berangkat mandi kemudian pergi kerja.


Minggu, 27 Agustus


17:30, Caffe tempat kerja


Sudah empat hari berlalu aku tidak lagi bertegur sapa dengan adrian teman baikku, hanya gara-gara masalah sepele yang seharusnya tidak perlu terjadi di antara kita, tapi yaa sudahlah toh udah kejadian ini, yang penting sekarang aku harus memanfaatkan kebebasan ini selama adrian tidak ada disini dan membuat onar lagi.


"Fokus nyari duit aja dah dari pada ngurusin hal gak guna macam itu !", ucapku sendiri.


Langkah kaki ini pun secara perlahan memasuki caffe tempat dimana aku mengais rupiah, dengan senyuman ramah aku pun menyapa rekan-rekan kerja ku yang sedang bekerja. sepertinya aku terlambat lagi hari ini, tapi tak apalah yang penting besok aku ganti keterlambatan ini supaya rekan tidak ngambek padaku.


Aku pun segera menuju kebelakang untuk mengganti pakaianku dan dengan cepat pula aku kembali lagi dan sekarang aku sudah berada di tempatku bekerja seperti biasanya, sebagai barista aku pun langsung membaca nota pesanan yang ada di atas mejaku, aku pun menggantikan teman baristaku yang sudah bekerja di shift pagi. dengan cekatan tanganku mengambil beberapa komponen yang di perlukan untuk membuat kopi sesuai dengan pesanan pelanggan.


"Nath, besok lu bisa gak agak sorean dikit datangnya ?", tanya teman baristaku.


"Bisa.. ohh ya maaf ya hari ini telat lagi nih !", ucapku pada temanku.


"Udah gak apa-apa... yang penting besok soalnya cewek gue pingin ngajak nonton !", ucap dari temanku.


"Ok bro.. pokoknya beres dah !", ucapku.


"Thanks yaa nath !", ucap dari temanku.


"Iyaa gak apa-apa... lu juga sering nolong gue jadi saling gantian aja !", tuturku.


"Ohh yaa nath.. lu lihat tuh orang yang duduk di meja nomor 8 !", tanya dari temanku.


"Firasat gue gak enak ama lu nath... soalnya tadi tuh bule sempet nanyain lu !", ucap dari temanku.


Aku pun langsung memperhatikan dua orang bule yang tinggi besar sedang duuk di meja nomor 8, ingatanku pun langsung merespon dengan cepat dan memunculkan salah satu dari bule tersebut dalam otakku, aku pernah bertemu dengannya waktu di basemant dimana waktu itu dia marah kepadaku karena aku di tuduh melindungi seorang wanita yang lari darinya, padahal wanita itu dengan sengaja berlindungi darinya dengan menggunakan tubuhku ini sebagai tamengnya.


Dan karena dialah aku sampai di tegur oleh bossku dan sampai keluar SP 1 untukku, memaki-makiku sampai di depan pintu caffe lalu pergi begitu saja tanpa mendengarkan penjelasanku, kemudian kembali lagi dan meneruskan makiannya disaat aku sedang bekerja, kemudian meminta kepada bossku untuk memecatku. sebenarnya aku tidak memiliki masalah apa-apa dengannya hanya karena sebuah kesalah pahaman saja aku bisa sampai habis-habisan dimaki olehnya.


Dan kini dia ada disini lagi dengan tujuan dan maksud yang aku sendiri tidak tau, tapi yang pasti aku harus menghindari kontak langsung darinya dari pada memancing emosi dan bisa membahayakan pekerjaanku, itulah cara paling efektif yang bisa aku lakukan saat ini. tidak hanya untuk menghindari masalah tapi lebih untuk melindungi pekerjaanku ini karena aku masih bergantung dari pekerjaan baristaku ini untuk mencukupi seluruh kebutuhanku.


"Heh.. malah ngelamun lu !", bentak rekan kerjaku untuk membangunkanku dari lamunan.


"Eehh.. sorry !", ucapku.


"Yaa udah.. gue balik dulu yaa nath !", pamit dari temanku.


"Yuukk... hati-hati !". sautku.


Rekanku pun pergi dan kini pekerjaannya aku gantikan, aku mulai meracik kopi sesuai dengan nota pesanan, sudah hampir satu jam aku belum istirahat dan rasa capek pun mulai menghinggap pada kakiku karena terlau berdiri. lalu aku pun melihat nota pesanan yang tersisa, tinggal dua lagi lalu aku pun mempercepat kerjaku untuk bisa istirahat sejenak.


"Aahh.. akhirnya kelar juga !", ucapku lega.


"Napa lu nath ?", tanya teman baristaku satu lagi.


"Gak apa-apa.. kaki gue capek banget, gue istirahat sebentar yaa !", ucapku pada rekanku itu.


"Ok !", jawabnya singkat.


Belum sempat aku duduk di kursi tiba-tiba sosok pria bule atau lebih tepatnya seorang monster datang menghampiri meja tempatku membuat kopi dan dia pun memanggil namaku dengan bentakan yang cukup kencang terdengar, melihat aksinya ini aku pun mencoba menanggapinya dengan sangat tenang karena ini adalah tempatku mencari nafkah.


"Hey.. lu nathael kan ?", tanya pria itu dengan menunjukku.


"Yaa pak.. ada apa ?", jawabku dengan bertanya balik.


"Gue mau pesan mocca coffe latte, dan gue mau lu yang buatin untuk gue !", ucap dari pria itu.


"Coba untuk melakukan order kepada pelayan pak !", ucapku.


"Halah.. langsung kayak gini juga sama aja, udah buruan buatin !", ucap dari pria itu.


"Maaf.. anda haruss mengikuti prosedur yang ada !", tolakku halus.


"Braaaakkk.... ", pria tersebut menggebrak mejaku.


"Pelanggan adalah raja, buatin sekarang atau gue akan memanggil pemilik caffe ini lagi !", ucapnya dengan membentakku.


"Udahlah nath jangan cari masalah, mending ikuti aja maunya dia !", saran dari temanku dengan berbisik lirih padaku.


"Baiklah, tunggu sebentar aku akan buatkan pesanan anda !", ucapku mengalah.


Tak sempat istirahat aku pun kembali lagi bekerja membuatkan satu pesanan lagi sesuai yang di minta oleh monster ini, andai tidak di tempat kerjaanku mungkin aku akan mengajaknya ribut. sialan, aku harus ekstra sabar menghadapi manusia ini mengingat aku sudah mendapatkan SP 1, jika sekali lagi aku mendapatkan SP maka tamatlah riwayatku karena harus keluar dari pekerjaanku ini.


Dengan sangat hati-hati aku pun meracik pesanan dari monster itu, dari tadi dia tidak kembali ke tempat duduknya tapi malah berdiri dan melihat caraku kerja, sepertinya dia sengaja mencari-cari kesalahanku untuk bisa menyudutkanku lagi. monster ini benar-benar sangat mendendam kepadaku padahal aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadinya waktu itu, aku sangat sial karena harus berurusan dengan manusia seperti dia.


"Ini pak pesanannya sudah selesai !", ucapku pada monster itu dengan memberikan kopi pesanannya.


"Kopi macam apa ini, dari baunya saja tidak enak !", ucap pria tersebut sambil mencium aroma kopi itu.


"Apaaaaa ini... !", teriak pria itu setelah mencicipi kopi racikanku.


"Gue gak mau bayar untuk ini !", ucapnya lagi.


"Maaf tuan... tolong jangan buat keributan disini !", ucapku padanya untuk menenangkan keadaannya.


"Diam.. coba lu cicipi kopi ini !", ucap dari pria itu dengan membentakku.


"Byuuuuurrr... ", pria itu menyiramkan kopi kearah tubuhku, hingga pakaianku pun kotor semua oleh noda kopi.


"Makan itu... gue gak bakal sudi minum di caffe ini lagi !", ucap dari pria itu dengan berteriak.


Mendengar segala bentuk keributan dan kegaduhan ini, seluruh rekan kerjaku dan pelanggan pun memperhatikan kearah kita, dan sebagai pengunjung caffe ini pun memilih untuk pergi meninggalkan caffe ini karena merasa tidak nyaman, dan tentu saja tak lama kemudian muncullah bossku dari ruangannya dan menghampiri ku untuk mencari tau permasalahan yang ada.


"Ada apa ini nath ?", tanya dari bossku padaku.


"Tuan inii..... !", ucapku terpotong.


"Pegawaimu ini bodoh dan tidak becus meladenin pelanggan !", saut monster ini dengan memotong perkataanku pada bossku.


"Maaf pak atas ketidak nyamanan ini !", ucap bossku pada pria itu.


"Oohh ternyata anda pak yohan, maaf saya baru menyadari kehadiran anda !", sambung dari bossku.


"Aku dulu pernah bilang kepadamu untuk memecat dia... sekarang apa, dia membuat ulah lagi denganku !", ucap dari pria itu yang di panggil yohan.


"Boss ini bukan seperti yang anda pikirkan, ini hanya sebuah salah paham saja !", ucapku untuk menyakinkan bossku.


"Tenanglah dulu biar aku yang selesaikan ini !", ucap bossku padaku.


"Lebih baik jika ngobrol saja di dalam ruangan saya... terlalu berisik kalau disini !", ucap dari bossku.


"Ok !", ucap dari monster itu.


Jantungku pun berdetak dengan sangat cepat dan merasa sangat underpressure, pikiran pun tidak karuan, entah apa yang aku perbuat sampai bisa seperti ini. perasaan aku membuat kopi ini dengan benar tapi kenapa bisa tidak enak, lalu bagaimana caraku membuktikan kalau kopi buatanku tidak enak sedangkan bukti kopinya sudah tidak ada lagi karena di tumpahkan ke badanku oleh pria itu.


Tunggu dulu, sepertinya pria itu sengaja membuat kejadian ini. dia sengaja menumpahkan kopi ini ke badanku agar tidak ada bukti untukku kalau kopi racikanku tidak enak, dari awal memang dia terlihat dengan sengaja ingin mencari-cari kesalahanku. menurutku ini semua sudah dia rencanakan karena dia tiddak senang denganku, jadi seperti ini caranya untuk memberikanku pelajaran.


Beberapa rekanku pun terlihat menghiburku dan menenangkanku atas kejadian yang menimpaku, setelah agak tenangan aku pun pergi ke belakang untuk mengganti bajuku yang kotor. setelah selesai aku pun kembali lagi ke tempat kerjaku, dan saat aku kembali aku pun melihat monster itu keluar ruangan bossku dan pergi dengan di temani oleh temannya.


"Nath.. kemarilah !", panggil dari bossku menyuruhku masuk ke ruangannya.


"Baik pak !", aku pun menjawabnya.


Dengan langkah santai aku melangkah masuk ke dalam ruangan bossku, dan dengan seribu doa aku juga memanjatkan supaya tuhan memberikan pertolongan kepadaku agar selamat dari masalah ini. tapi melihat wajah serius dari bossku menciptakan perasaan yang tidak tenang padaku, sepertinya aku akan mendapatkan kabar buruk.


"Nath, sebelum saya ucapkan terima kasih banyak atas kinerja mu selama ini !", ucap dari bossku.


"Maksud bapak apa yaa ?", tanyaku balik.


"Mulai besok kau resmi di pecat dari pekerjaan ini !", jawab bossku dengan menatap serius kepadaku.


"Tapi boss ini bukan seperti yang boss pikirkan, dia sengaja mencari-cari kesala.... !", terangku yang terputus.


"Stop !", ucap bossku menghentikan semua penjelasanku.


"Sudahlah kau bisa mencari pekerjaan lain di tempat yang lebih baik dari sini !", ucap bossku.


"Boss... !", ucapku melemah.


"Kau bisa keluar sekarang nath !", usir bossku secara halus.


"Anj*********nnnnnggg..... !", teriakku dalam hati.


Aku pun berjalan keluar dari ruangan bossku dan kembali kebelakang untuk mengambil semua barang-barang pribadiku, lalu tak lupa aku pun berpamitan dengan rekan-rekanku yang selama ini setia menemaniku dalam bekerja, mereka juga merasakan kesedihan yang sama dengan ku, kehilangan seorang rekan kerja.


Aku benar-benar tak habis pikir kalau hari ini adalah hari terakhir aku bekerja disini, lalu bagaimana dengan semua tunggakanku, kontrakan, cicilan handphone anggun, kebutuhanku dan lain-lainnya. bagaimana aku bisa membayar semuanya kalau aku tidak bekerja, kenapa bisa nasibku jadi seperti ini, ohh my god... help me please !.


Harus bisa, aku harus bisa mencari pekerjaan lain untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah, apa pun itu yang penting dapet uang. aku akan mencoba pekerjaan freelance, SPB, atau apa lah yang penting menghasilkan uang untuk mencukupi semua kebutuhanku. aku akan mencoba mencari info pekerjaan di internet.


Namun dari semua kebinggunganku aku masih tidak bisa terima dengan kelakukan monster itu, aku akan mencari tau tentang dia dan aku akan membuat perhitungan dengannya, tidak perduli siapa pun dia, aku harus memberikannya sebuah pelajaran tentang bagaimana cara menghormati seorang bocah !.