
15:30, Ruang Jenguk
Seorang petugas datang dengan sebuah pentungan dia tenteng kesana kemari untuk menakut-nakuti para narapidana yang ada disini. dia pun berjalan ke arah tempatku di tahan lalu dia memanggilku dengan nada santai tidak seperti sebelumnya saat aku belum berada disini.
"Nathael.. ada orang yang ingin bertemu denganmu", ucap dari penjaga tersebut memanggilku.
"Siapa pak ?", tanyaku pada penjaga tersebut.
"Seorang pria seumuranmu", jawab dari penjaga tersebut.
Dengan perasaan sangat senang aku pun berjalan untuk menemuinya yang sedang menungguku di ruangan untuk menjenguk para narapidana, tamuku kali ini adalah teman baikku yaitu si adrian. aku telah memintanya untuk datang hari ini karena aku perlu dirinya untuk melakukan sesuatu untukku, aku harap dia akan melakukan hal itu untukku.
"Hari ini banyak sekali yang datang menjengukmu, ada apa ini ?", tanya dari penjaga ini.
"Mungkin mereka kangen", jawabku simpel.
"Ohh.. gimana teman-temanmu di dalam sel, ada yang resek gak ?", tanyanya kembali.
"Mereka semua baik", jawabku.
"Baguslah kalau begitu", saut dari penjaga itu.
Setelah berjalan beberapa saat akhirnya aku sampai di ruang tunggu dimana disana aku lihat sosok adrian sudah menungguku. sepertinya biasanya gayanya sangat begajulan gak karuan benar-benar anak tanpa aturan, pantes saja jika anggun enggan untuk menerimanya sebagai pacar. sangat susah untuk mengubah dirinya yang seperti ini, walaupun sifatnya masih labil dan bisa berubah-ubah sewaktu-waktu tapi selama dia mencoba dekat denganku aku akan memanfaatkannya.
"Hey.. apa kabar lu ?", sapaku pada adrian.
"Woi.. udah dateng lu, baik.. baik.. kabar gue, lu sendiri gimana ?", jawab dari adrian dengan bertanya balik.
"Baik juga", jawabku singkat.
"Ada apa nyuruh gue datang kesini ?", tanya dari adrian.
"Gue mau minta tolong ama lu, boleh gak ?", tanyaku balik.
"Yaa elah... kayak ama siapa aja lu, pasti gue tolonglah kan kita sohib bro", jawab dari adrian.
"Gue mau lu mata-matai seseorang, gue yakin lu bisalah kan waktu itu lu pernah mata-matai gue dan gue ga tau tentang hal itu", terangku.
"Ehmm... mata-mata siapa nih ?", tanya adrian dengan sedikit berpikir.
"Suami dari korban si bella aprillia, namanya yohan garnett", jawabku.
Perlahan ku perhatikan wajah adrian nampak berubah ekspresinya, dia nampak berpikir ekstra keras sebelum menjawab apa bisa melakukan hal yang aku suruh itu. dan sesaat kemudian dia pun berubah ekspresi nampak sedikit tenang dan mencoba untuk kembali dengan gaya semulanya.
"Tentu saja bisa, mana sini photo orangnya dan alamat rumahnya, biar gue intai dia sampai ke liang kuburnya, hahaha... ", ucap adrian dengan tertawa.
"Lu cuma intai dia donk dan laporin ke gue tentang apa yang dia lakukan", ucapku.
"Ok bos", saut adrian.
"Jangan sampai dia tau yaa... kalau dia mulai curiga lu hentikan aja pengintaiannya", ucapku lagi.
"Seep.. emang ada apa dengan orang itu ?", tanya dari adrian.
"Gue curiga kalau dia adalah dalang dari pembunuhan ini", jawabku.
"Maksudmu dia itu otak dari pembunuhan dari si bella istrinya", pertegas adrian atas pernyataanku.
"Benar.. dia otaknya dan ada satu lagi pelakunya yang gue gak tau siapa dia", ucapku lagi menambahi keterangan yang aku berikan.
"Maksudmu ada dua orang pelakunya, dan salah satunya adalah si yohan itu ?", tanya lagi adrian dengan sangat serius menatapku.
"Benar.. tapi sayangnya aku tidak bisa melacak siapa orang yang membantunya", ucapku dengan santainya.
"Kenapa lu bisa yakin kalau ada dua orang pelakunya ?", tanya adrian lagi.
"Feeling aja seh, hehehe.. ", jawabku dengan bercanda.
"Aah.. *** lu gue kira gue bakal beberin analisa lu", ucap adrian dengan nada tidak puas.
"Saat ini waktu gue hanya bersisa 2 minggu, jika dalam 2 minggu ini gue gak bisa membela diri maka kasus ini akan naik ke meja pengadilan", terangku pada adrian.
"Jadi tolong gue yaa.. ", ucapku memelas memohon pada adrian.
"Santai aja.. gue pasti bakal bantu lu kok", ucap adrian menyakinkanku.
"Lu emang benar-benar teman baik gue, makasih yaa.. ", ucapku pada adrian.
"Tapi kenapa lu bisa yakin banget kalau si suami korban yang ngelakuin itu ?", tanya dari adrian.
"Ehm.. apa yaa, ya gue curiga aja kalau dia adalah pelakunya soalnya cuma dia doank yang bisa keluar masuk rumah itu dengan bebasnya", jawabku.
"Apa mungkin mereka berdua sedang ada masalah, kan biasanya gitu kalau di film-film", ucap dari adrian.
"Tapi menurut lu biasanya masalah apa yaa yang memicu seseorang membunuh istrinya ?", tanyaku pada adrian.
"Mungkin dia mergoki istrinya selingkuh ama lu kali", jawab dari adrian.
"Gak mungkin kalau itu, dan juga kemungkinan besar dia bakal melampiaskan kekesalannya ama gue bukan ama istrinya", sangkalku.
"Mungkin perceraian kali, kan gue denger-denger kalau si korban nuntut si yohan untuk bercerai", ucap dari adrian.
"Ohh gitu.. mungkin juga seh, terus di yohan gak mau di cerai gara-gara ingin menguasai harta korban gitu yee", sautku atas ucapan adrian.
"Benar tuh, biasanya seh seperti itu", ucap dari adrian.
"Lu kebanyakan nonton sinetron kayaknya, hahaha.. ", ucapku sambil tertawa.
"Hahaha.. tapi emang beneran lho, kan gue selalu ngikuti perkembangan tentang kasus lu ini", ucap dari adrian.
Ada yang sedikit aneh dengan ucapan adrian ini tapi yaa sudahlah yang penting dia mau bantu gue semoganya bakal berjalan dengan lancar. tapi sebelum aku harus minta maaf dulu kepadamu adrian karena aku sedikit berbohong tentang keterangan yang aku berikan, dan tentang rencanaku hanya aku dan herlina saja yang tau jadi dirimu hanyalah sebuah umpan.
"Udah cuma itu doank yang bisa gue bantu buat lu ?", tanya dari adrian.
"Ehm.. itu doank seh", jawabku.
"Ehh.. ngomong-ngomong gimana kuliah lu ?", tanyaku pada adrian.
"Bosen gak ada lu", jawab dari adrian.
"Kan ada cewek pujaan lu si anggun", ucapku menyindir adrian.
"Sialan tuh cewek cuma manfaatin gue doank", ucap adrian.
"Manfaatin gimana ?", tanyaku.
"Udahlah.. gue gak mau bahas hal itu, pokoknya sifatnya kayak *** tuh cewek", ucap dari adrian dengan kesalnya.
"Tadi pagi dia kesini lho jenguk gue", ucapku pada adrian memberitahu kalau anggun kesini.
"Serius ?", tanya adrian dengan sangat terkejut.
"Beneran, gak bohong gue, lu lihat aja di daftar pengunjung hari ini", ucapku pada adrian.
"Ngomong apaan aja dia ?", tanyanya sangat ingin tau sekali.
"Gak ngomong apa-apa, dia kesini cuma pingin nampar gue doank", jawabku pada adrian.
"Serius lu ?", tanya adrian nampak sangat serius.
"Beneran gak bohong gue, nih lihat pipi gue masih merah gara-gara di tampar ama dia", ucapku lagi dengan menunjukan pipiku bekas tamparan anggun.
"Lah kenapa dia sampai nampar lu ?", tanya adrian lagi.
"Gak jelas", jawabku singkat.
"Lho piye toh.. mosok asal di kaplok ae gak onok alasane ?", tanya adrian lagi.
(Lho gimana seh.. masa asal di tampar aja gak ada alasannya ?).
"Dia marah gara-gara gue minta tolong untuk jadi saksi buat gue", jawabku.
"Napa gak gue aja ?", tanya dari adrian.
"Tar juga lu bakal di panggil buat di jadi'in saksi", jawabku.
"Emang selama ini yang udah jadi saksi siapa saja ?", tanya dari adrian.
"Kakak korban dan managernya, suami korban dan satpam komplek perumahan tempat tinggal korban", jawabku.
"Terus semua kesaksian mereka beratin lu gitu ?", tanya adrian.
"Sepertinya", jawabku singkat.
"Tenang aja tar kalau gue yang jadi saksi pasti bakal ngeringanin lu deh", ucap dari adrian.
"Thanks you yaa", sautku.
"Ya udah kalau gitu gue balik dulu ya dah sore nih takut yokap gue nyari'in", ucap dari adrian.
"Seep.. ", sautku padanya.
Adrian pun pergi dan aku kembali lagi sebuah tempat dimana aku di belenggu seperti biasanya, tapi ada satu hal yang patut untuk di garis bawahi dari hasil pertemuanku dengan adrian, dan hal itu akan menjadi senjata untukku melumpuhkan dirinya.