
Malam yang begitu tenang bagi Reyga karena mendapat banyak sekali informasi dari 7 Akuma.
"Sudah larut, sebaiknya kau beristirahat Greg"
ucap Reyga kepada Greg
"Bolehkah saya bertanya sesuatu tuan?"
"hmm, apa itu?"
"Bagaimana rencanamu kedepannya dengan semua petunjuk yang kita punya ini tuan?"
"jika semua petunjuk, informasi yang valid dan bukti yang kuat telah terkumpul, maka aku akan bergerak, namun jika sampai sekarang petunjuk yang kupunya masih tidak jelas, mungkin aku akan berfikir pendek dan langsung menyerang para Petinggi Ego itu"
"Kami akan selalu disisimu tuan, walau nyawa taruhannya"
"aku tidak ingin ada yang mati lagi, sudah pergilah beristirahat"
"Baik tuan"
Reyga dan Greg pun kembali ke rumah dan beristirahat dikamar masing-masing.
Ketika Reyga berjalan menuju kamar nya, dia melihat Ibu nya yang masih terbangun, ibu nya duduk sambil melihat foto Suaminya (Ayahnya Reyga).
"loh, belum tidur Bu?" tanya Reyga sembil menghampiri ibu nya
"ibu tadi sudah tidur, tapi terbangun"
"apa yang ibu lihat?"
"ini, hanya melihat foto ayahmu, lihatlah senyumannya Rey, sama seperti senyumanmu dan Reyna tapi senyuman ayahmu lebih seperti mengejek orang" tawa kecil dari ibu Reyga sembari melihat foto ayahnya Reyga
"haha, iya Bu, ayah kadang emang agak menyebalkan"
tetesan air mata menjatuhi foto yang dipegang ibunya Reyga
"kenapa kau meninggalkan kami dengan cepat? apa kau tidak ingin melihat anakmu tumbuh besar? apa kau tidak ingin memarahi Rey yang sering keluar malam? apa kau tidak ingin menyanyikan lagu tidur untuk Reyna? kenapa?"
Reyga yang melihat ibu nya menangis pun tak sanggup menahan bendungan air matanya.
"ayah memang sudah pergi Bu, tapi ayah menitipkan pesan kepadaku untuk menjaga ibu dan Reyna, aku akan selalu menjaga kalian Bu"
tangis Reyga sambil memeluk ibunya dari belakang.
"ah, maafkan ibu karna membuat mu ikut menangis, kenapa kau ikut menangis? dasar cengeng, sudah tidur sana, besok kau sekolah"
Reyga membalas dengan ejekan
"yeeee, ibu sendiri juga menangis"
Reyga naik ke atas menuju kamarnya, dan langsung tiduran di kasurnya sambil memikirkan bagaimana cara dia mengeksekusi orang-orang brengsek yang membuat penderitaan kepada orang yang tidak bersalah.
kringgg.....kringg...kringg... (bunyi Alarm)
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.20 pagi dan dengan bunyi alarm yang sekencang itu Reyga bahkan belum bangun
ibu Reyga yang sudah menyiapkan sarapan pagi menyuruh Reyna membangunkan kakaknya yang ada diatas.
"Reyna sayang, bangunkan kakakmu diatas ya, ibu mau menyiapkan sarapan untuk anak-anak yang lainnya ( anggota Akuma)"
"Baik Bu"
Reyna bergegas naik keatas menuju kamar kakaknya.
Reyna mengetuk pintu kamar kakaknya namun tidak ada respon, Reyna langsung masuk kekamar kakaknya melihat kakaknya masih tertidur pulas.
Reyna yang melihat kakaknya masih tertidur berusaha membangunkan kakaknya dengan perlahan sambil menyentuh pipi kakaknya
"kak, sudah pagi, sekolah, sekalian antar Reyna"
"kak"
"kak"
Reyna yang asik memainkan pipi kakaknya yang masih tertidur, tiba-tiba tangan Reyga langsung memeluk Reyna , Reyga yang masih ngantuk mengira adiknya adalah guling.
"aaaaa kakak, bangun, Reyna bukan bantal guling, kakak"
Reyga yang terbangun dengan suara Reyna pun heran kenapa adiknya ada dikamarnya
"Reyna? kenapa disini?" tanya Reyga yang masih mengantuk sembari memeluk adiknya
"kakak nanya kenapa Reyna disini? ya ibu suruh Reyna buat bangunin kakak, kan kakak harus sekolah"
"baiklah Reyna, kakak sudah bangun"
"ya lepasin pelukan kakak, Reyna mau turun sarapan"
Reyga yang tersenyum melihat adiknya sambil berkata
"loh, Reyna ga mau dipeluk kakak?"
"engga, kakak belum mandi"
"hahaha, iya- iya, turun duluan saja Reyna, kakak mau mandi dulu"
Adelia melihat Reyna yang turun dari atas bertanya kepadanya
"loh, Reyna tidur diatas?"
"engga kok, Reyna cuman mau bangunin kakak"
"ayok sini Reyna, duduk sama kakak Adel" ucap Adelia sambil menepuk kursi yang ada disampingnya.
Reyna menolak nya sambil membuang muka
"ga mau, nanti Reyna dipeluk kaya kemarin, Reyna mau disamping Paman Sam aja"
seketika Greg, Hans, dan Serena memuncrat kan minuman karena mendengar Sam yang dipanggil paman.
"Tuan putri kecil, aku masih 23 tahun loh" ucap Sam dengan raut wajah yang kesal
Reyga yang telah selesai bersiap lalu turun kebawah untuk sarapan.
"wah kakak sudah wangi" ucap Reyna sambil mencium aroma kakaknya
"hei, kapan kakakmu ini bau?"
"tadi, pas kakak tidur"
"haha, iya iya, sudah selesaikan sarapannya dulu"
Reyga ikut sarapan bersama yang lainnya.
Setelah selesai sarapan mereka pun langsung pergi dengan tujuannya masing-masing.
"biar saya antar tuan" ucap Sam kepada Reyga
"baiklah, kesekolah Reyna dulu Sam, setelah mengantar Reyna baru antar aku ke sekolah"
"baik tuan"
"hati-hati ya dijalan" ucap ibu Reyga sambil melambaikan tangan
Reyga yang ingin memasuki mobil seketika melihat Asep yang baru keluar dari rumah untuk berangkat kesekolah
"Asep, ayo sama-sama, aku sekalian mengantar adikku juga ini"
"wahh, naik mobil ya, terimakasih Rey, aku juga disuruh untuk mengantar adikku, kau emang temen yang baik"
Asep langsung menerima tawaran dari Reyga dan berangkat bersama.
sesampainya disekolah tempat adiknya Reyga dan Asep belajar, Reyga juga ikut turun sambil memberikan pesan untuk adiknya
"Sekolah yang pintar ya Reyna sayang, nanti pulang sekolah ibu yang jemput ya"
Reyna yang membalas dengan wajah imut
"oke kakak"
beda cerita dengan Asep.
"ga usah kau harap aku yang jemput kau nanti ya, pulang sendiri, jangan nyusahin ibu" ucap Asep kepada adik perempuannya Raisya.
"yeeh, Ica juga ga minta dijemput kakak juga kok"
(emang agak lain 2 bersaudara ini).
selesai mengantar mereka, Reyna dan Raisya yang melambaikan tangan ke arah kami saat kami pergi
"Sam, langsung ke sekolah ya"
"baik tuan"
Asep dengan spontan berbicara kepada Reyga
"wah kau emang suka memperbudak orang ya Rey" ucap Asep
"brengsek, sembarangan mulutmu sep"
Sesampai nya disekolah, Reyga menyuruh Asep untuk masuk kekelas terlebih dahulu.
Setelah Asep pergi, Reyga berbicara kepada Sam.
"Sampaikan perintahku kepada anggota Akuma yang lainnya, selidiki Petinggi Ego Kama, dan cari tahu dimana markas mereka, berapa jumlah anggotanya, dan kapan mereka berkumpul, jika informasi sudah terkumpul beritahu aku secepatnya, aku yang akan turun langsung membasmi mereka"
Sam terkejut dengan perintah dari Reyga
"anda akan turun tangan juga tuan?, bukankah kami saja cukup tuan?"
"Ini balas dendamku, aku juga harus turun langsung"
"apakah perlu pasukan tuan?"
"tidak, sekalipun anggota elit mereka banyak, tidak akan menghambatku untuk menghabisi mereka, cukup membawa Adelia,Serena dan Tom saja"
"baik tuan, secepatnya akan ku cari tuan".