Unusual Romance

Unusual Romance
09 - Tersiksa Rindu



Happy reading πŸ₯°


Jangan lupa komen + vote yah 🫢🏻


Ailafyuu


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


"Sco, ayo turun! Makan dulu!" teriak Devi pada Scorpio yang sedang fokus mengerjakan tugas sekolahnya. Pemuda itu menutup buku tulis dan menyimpan peralatan belajar untuk turun ke bawah, memenuhi panggilan mamanya untuk makan malam bersama.


Scorpio berjalan menuruni satu per satu anak tangga santai dengan kedua tangan di dalam saku celana. Pemuda itu melirik meja makan yang sudah diisi oleh dua laki-laki, satu paruh baya dan satu lagi bocah SD.


"Malem, Pa, Ma, bocil," sapa Scorpio sambil menarik salah satu kursi di sebelah adiknya.


Sang adik yang tidak terima dipanggil bocil melayangkan protesnya pada sang kakak. "Nama aku tuh Arvin Taurus, bukan bocil," rajuk Arvin.


"Pa, marahi dong abang! Abang panggil Arvin, bocil terus." Arvin mengadu pada papanya meminta pembelaan. Bibirnya mencebik begitu menggemaskan membuat Scorpio mencubit pipinya, gemas.


Sang papa, Arian Agam, hanya tersenyum dengan gelengan kecil sambil mengunyah kerupuk.


"Kalo gak mau dipanggil bocil, abang ganti panggilannya." Scorpio mulai menggoda Arvin yang memandangnya penuh harap.


"Ganti jadi apa?" Arvin bertanya sambil memicing melihat Scorpio.


"Panggil Virus, singkatan dari Arvin Taurus. Oke, deal! Deal dong yah." Scorpio memaksa Arvin untuk berjabat tangan dengannya dan adiknya terus mengelak sambil cemberut.


Scorpio tertawa puas karena dirinya sangat suka mengusili Arvin. Melihat wajah cemberut bocah SD kelas lima itu begitu menyenangkan.


"Arvin gak mau ngomong lagi sama abang. Abang jahat!" Arvin membuang muka sambil menyendokkan nasi ke dalam mulutnya.


"Sco, udah dong. Doyan banget ngusilin adiknya." Mama Devi menengahi perang ejekan antar adik kakak itu.


Mereka berempat makan bersama. Suasana yang jarang terjadi karena papa Scorpio biasanya lebih banyak di luar kota dari pada di rumah.


"Kenapa Virgo gak diajak makan sekalian di sini?" celetuk Arian, papa Scorpio.


Mama Devi menatap Scorpio yang tampak tidak menghiraukan pertanyaan papanya.


"Sco, kenapa kamu gak ajak Virgo ke sini? Astaga, mama juga lupa buat kasih tau anak itu," kata mama Devi terlihat panik.


Scorpio tetap tenang mengunyah makanan di dalam mulutnya. Mama dan papanya memicingkan mata penuh selidik ke arah Scorpio.


"Kamu berantem sama Virgo?" tanya papa Arian. Scorpio tetap diam, tidak ingin menjawab.


"Sco! Punya mulut kok gak dipake buat ngejawab pertanyaan orang. Kamu sama Virgo kenapa? Bener kamu berantem sama dia?" desak mama Devi penasaran.


Scorpio mengkode mama dan papanya dengan ujung dagu ke arah Arvin dan mereka cepat menyadarinya lalu memilih menyelesaikan makanan masing-masing.


Arvin sudah kembali ke dalam kamarnya untuk belajar, sedangkan Scorpio, papa Arian dan mama Devi, duduk di sofa ruang keluarga untuk melanjutkan investigasi mereka pada anak sulungnya.


"Kamu kenapa sama Virgo? Berantem tentang apa?" tanya papa Arian membuka obrolan.


Scorpio menghela napas berat. Malas untuk membahas masalah antara dirinya dan Virgo, tetapi pemuda itu yakin, kedua orang tuanya tidak akan berhenti mencecarnya jika tidak mendapatkan penjelasan sedetail-detailnya.


"Vi udah gak mau diingetin lagi. Vi sekarang udah punya pacar. Vi juga marah karena aku ngingetin kalo pacarnya kurang baik." Scorpio memberikan jawaban singkat seadanya.


Scorpio tampak berpikir dan menghitung. "Hampir dua minggu."


Mama Devi mendesah. "Pantes aja, kamu ada terus di rumah setiap hari. Ternyata berantem."


"Pacarnya Virgo, cakep gak?" Papa Arian bertanya tanpa ekspresi di wajahnya.


"Gak tau. Kayaknya gak punya muka!" ketus Scorpio.


Kedua orang tuanya saling pandang satu sama lain dan mengulum senyum.


"Ya udah. Kamu cari waktu buat ajak ngomong lagi Virgo baik-baik. Kalian sudah sahabatan dari bocil sampe remaja kayak gini, masa gak kenal sama sifat masing-masing. Seenggaknya, kamu ngalah sama cewek. Pasti nanti Vi baik lagi sama kamu." Mama Devi memberi nasihat panjang lebar pada Scorpio.


Scorpio mengangguk dan pamit untuk kembali ke kamarnya.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Di dalam kamar, Scorpio merebahkan diri ke atas kasur sambil menatap layar ponselnya. Pemuda itu membuka akun media sosial dan hampir setiap hari pula, foto Virgo dan Leo muncul di timeline-nya.


Gadis itu terlihat baik-baik saja tanpa Scorpio. Senyum merekah saat berdiri di sebelah Leo. Jari jemari mereka juga saling bertaut satu sama lain. Binar kebahagiaan memancar di kedua bola mata Virgo. Scorpio mendesah, gadis itu sepertinya kini benar-benar sudah melupakannya.


Dalam dua minggu terakhir ini, Virgo sama sekali tidak berniat untuk berdamai dengannya. Saat di sekolah, gadis itu akan menghabiskan waktu dengan teman-teman sekelasnya yang lain atau bersama dengan Leo. Ketika mereka berpapasan, Virgo memilih untuk menyibukan dirinya sendiri atau membuang muka ke arah lain, sama sekali tidak ingin bertatap muka dengan Scorpio. Hubungan mereka benar-benar merenggang.


Scorpio membuka galeri foto di ponselnya. Ribuan foto Virgo ada di sana. Gadis itu lebih suka mengambil gambar wajahnya lewat ponsel Scorpio dibanding ponselnya sendiri. Scorpio menggerakkan jempol ke atas layar, menggosoknya dengan lembut.


"Aku kangen kamu, Vi," lirih Scorpio.


"Kamu tau gak? Aku mungkin orang paling jahat sama kamu, karena hampir setiap hari, aku berdoa biar kamu cepet putus sama Leo." Scorpio bermonolog. Pemuda itu tersenyum getir.


Sepanjang malam, sebelum tidur dihabiskan oleh Scorpio untuk memandangi foto Virgo di ponselnya.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Virgo menatap ke sekeliling kamarnya, sepi, sunyi. Tidak ada siapa pun yang bisa ia ajak berbincang di sana. Gadis itu mengambil ponselnya dan melihat akun Scorpio. Sejak mereka bertengkar hebat hari itu, Scorpio sama sekali tidak pernah membuat status apa pun di media sosialnya. Virgo berharap bisa melihat kabar pemuda itu lewat media sosial, tetapi harapannya sia-sia belaka.


Saat di kelas, Scorpio sibuk mengobrol dengan kelompok cowok, teman sekelasnya. Ketika pelajaran mulai membosankan, Scorpio memilih untuk tidur. Kebiasaan Scorpio tetap berjalan seperti biasanya, tanpa ada perubahan yang berarti. Terlihat sekali, sahabatnya itu baik-baik saja. Hanya saja, beberapa waktu terakhir ini, Virgo tidak melihat keberadaan Mira di sekitar Scorpio. Virgo ingin mencari tahu tentang pasangan itu, tapi tidak sempat. Waktunya kini tersita untuk bersama Leo.


Berpacaran dengan Leo membuatnya senang. Setidaknya keinginannya dalam beberapa bulan terakhir sudah tercapai. Akan tetapi, semakin Virgo mengenal Leo, semakin gadis itu merasa hampa. Perlakuan Leo manis. Pacarnya itu begitu perhatian, tetapi banyak sifat yang tidak begitu Virgo sukai. Namun, gadis itu berusaha keras menerimanya, menganggap semua itu kekurangan pasangan yang mungkin bisa diperbaiki pelan-pelan.


Virgo melirik lebam di pergelangan tangan kirinya akibat cekalan kuat Leo beberapa hari yang lalu. Gadis itu tersenyum miris. Virgo menggigit bibirnya kuat, menahan air mata agar tidak jatuh dari rongga matanya.


Ucapan Scorpio saat mereka bertengkar, benar terjadi. Virgo malu untuk mengakui jika dirinya salah menilai Leo. Semakin lama bersama pacarnya itu, semakin menderita pula Virgo dibuatnya. Sifat asli Leo, satu per satu terlihat jelas membuat Virgo tak habis pikir.


Virgo ingin terlihat baik-baik saja di depan semua orang. Dirinya cukup malu dan belum siap untuk diejek bodoh oleh orang lain. Untuk itu, Virgo selalu membagikan momen dirinya bersama Leo yang terlihat bahagia, meskipun di balik foto itu ada percekcokan yang tidak habisnya.


"Aku capek. Aku mau kamu di sini, Sco," isak Virgo.


Pada akhirnya, orang yang dicari dan dibutuhkan Virgo disaat merasa terpuruk saat ini hanyalah Austin Scorpio. Namun, gadis itu takut menghubungi Scorpio. Dirinya tidak yakin kali ini Scorpio akan memaafkan kekeraskepalaannya.


"Maafin aku yang keras kepala ini, Sco." Virgo tenggelam dalam isak tangisnya sendirian.


Gadis itu menyimpan tubuhnya rapat di balik selimut tebal. Menyembunyikan wajahnya yang tengah menangis. Suara alunan lagu galau yang ia putar, turut mendukung hatinya yang rasanya tidak karuan. Virgo menatap sekali lagi, foto dirinya dan Scorpio yang tersisa di ponselnya dan mendekapnya erat.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€