
Happy reading
Semoga suka 🫶🏻
🖤🖤🖤
Seusai mendapatkan perkataan menyakitkan dari Virgo, Scorpio memilih untuk mengambil jarak dari gadis itu. Mereka berdua bagai orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain. Di sekolah keduanya kembali duduk secara terpisah dan memilih untuk tidak bertegur sapa.
Virgo membuat keputusan yang sangat mendadak membuat kedua orang tuanya shock sehingga mamanya memutuskan untuk pulang dan berbicara secara langsung dengan anak gadisnya itu.
"Vi, kamu yakin gak mau ambil jurusan pastry di Paris atau Australia?" tanya mama Virgo mencoba menyakinkan anak semata wayangnya.
Virgo meneguk air dalam gelas di genggamannya hingga tandas lalu mengangguk. "Aku mau ke Swiss."
Terdengar helaan napas dari mulut mama Virgo. Wanita paruh baya itu seperti kehilangan kata-kata dengan perkataan Virgo. Berbulan-bulan dirinya dan papanya berkeliling negara untuk mencari universitas pastry terbaik, tetapi pada akhirnya, Virgo memutuskan untuk kuliah jurusan perhotelan dan memilih pergi ke Swiss.
Mama Virgo menatap lekat wajah anak semata wayangnya. Anak gadisnya itu sama sekali jarang meminta sesuatu padanya. Virgo selalu menerima berapa pun uang saku yang dikirimkan kedua orang tuanya tanpa mengeluh. Bahkan untuk ponsel, orang tuanya lah yang berinisiatif untuk membelikan yang baru, bukan berdasarkan permintaan dari Virgo sendiri.
"Ya sudah, kalau memang itu kemauan kamu. Mama bakal bantu apply buat ke sana. Kamu ikut ujian dulu dengan tenang." Virgo memeluk erat mamanya dengan senyum lebar di wajah cantiknya.
"Ma, tolong rahasiain ini dari keluarga Scorpio. Virgo gak mau mereka tahu Vi kuliah di mana. Vi mohon sama mama." Kedua alis mama Virgo bertaut satu sama lain, heran dengan permintaan kedua Virgo yang seperti tidak biasanya. Apa mungkin, Virgo dan Scorpio sedang tidak baik-baik saja hubungannya?
Virgo menggoyangkan tangan mamanya sambil memasang wajah memelas. "Ma, please! Demi kebaikan Vi dan Sco bersama." Mama Virgo mengangguk terpaksa. Di dalam kepalanya penuh dengan tanda tanya.
🖤🖤🖤
Setelah dua hari yang lalu ia sudah berhasil melewati ujian kelulusan sekolah yang cukup menguras pikiran, Virgo segera berkemas untuk ikut mamanya pergi ke luar negeri. Gadis cantik itu membawa semua barang-barang yang ia perlukan tanpa terkecuali.
Virgo memilih untuk tidak mengikuti upacara wisuda kelulusannya. Orang tuanya sudah meminta izin secara langsung kepada pihak sekolah tanpa diketahui murid atau orang tua murid yang lain sesuai dengan keinginan Virgo sendiri.
Gadis cantik itu tidak berpamitan dengan teman sekelasnya, termasuk Scorpio. Sejak kejadian malam itu, keduanya sudah tidak pernah bertegur sapa lagi. Bahkan jika mereka berpapasan, salah satu menghindar atau saling mengabaikan. Virgo cukup sedih dengan keadaan mereka seperti itu, tetapi semua ia lakukan demi kebaikan masa depan Scorpio dan hubungannya dengan kedua orang tua pemuda itu.
"Kita pamit sama keluarga Scorpio dulu yah. Mau bilang kita mau berangkat ke Kanada, nemuin papa kamu." Mama Virgo meminta izin pada anak semata wayangnya terlebih dahulu.
Virgo mengangguk. "Asal mama gak ngomong kalo Vi langsung berangkat ke Swiss." Wanita paruh baya itu berdeham.
Keduanya melewati pintu khusus untuk masuk ke dalam pelataran rumah Scorpio. Saat itu secara kebetulan Scorpio dan keluarganya sedang berkumpul bersama di ruang santai karena weekend. Pekikan heboh keluar dari mulut mama Devi saat melihat mama Virgo, Tari, menyapa mereka semua.
"Selamat sore semuanya." Sapaan ramah mama Virgo membuat semua orang menoleh dan segera mama Scorpio, Devi, memberi pelukan hangat dan mencium pipi kanan kiri.
Kehadiran mama Virgo membuat terkejut anggota keluarga Scorpio, karena biasanya mama Virgo akan memberi tahu mama Scorpio mengenai kedatangan dan keperluannya. Namun, kali ini terasa berbeda.
Virgo berdiri canggung di samping mamanya, sedangkan Scorpio tampak tak acuh dengan kehadiran Virgo di sana. Pemuda itu hanya menyalimi mama Virgo dan pamit pergi ke kamarnya. Pelototan tajam papanya, tidak mempan untuk membuat Scorpio duduk di antara mereka semua.
"Sini, Jeng, duduk sini. Anak cantik mami, sini juga dong. Ya ampun, sudah lama banget kita gak ketemu." Virgo dirangkul untuk duduk di sebelah mama Scorpio.
"Malam ini kami langsung mau terbang ke Montreal, pesawat jam 21.45 nanti," ucap mama Virgo membuat terkejut pasangan suami istri itu.
"Kenapa cepet banget? Ini maksudnya, Virgo juga ikut berangkat ke sana? Jadi, Virgo milih kuliah di Kanada?" Rentetan pertanyaan diberikan oleh mama Scorpio dengan mata berair karena sedih.
Tari, mama Virgo menoleh sekilas ke arah anak gadisnya. "Virgo kangen sama papanya. Saya pulang ke sini juga terburu-buru karena anak ini minta dijemput, gak mau berangkat sendirian. Lagian udah hampir setahun ini, Vi gak ketemu papanya. Jadi, yah karena sudah kelar ujian sekolah, mangkanya saya ajak Vi ke sana aja sekalian liburan." Virgo bernapas lega karena mamanya sangat pintar memberikan alasan yang logis dan tidak mencurigakan.
"Jadi, Virgo apply kuliah di mana, Jeng?" tanya Devi, mama Scorpio penasaran.
Mama Virgo kembali melirik anak gadisnya dan membelai lembut rambutnya. "Vi bilang mau istirahat dulu tahun ini. Gak langsung lanjut kuliah. Dia mau puas-puasin liburan dan kumpul keluarga dulu. Mangkanya kami belum apply di mana-mana." Mama Virgo merapal permintaan maaf di dalam hatinya karena telah berbohong.
"Scorpio gimana? Dia jadi apply ke Columbus, Ma?" Mama Scorpio mengedikkan bahu dengan ekspresi wajah muram.
"Masih 50:50, Vi. Kami lagi berusaha kuat buat bujuk dia, semoga aja di hari terakhir, dia setuju." Virgo mengangguk sembari melirik ke lantai atas.
"Kamu gak mau pamitan sama Sco? Sudah berbulan-bulan kamu sama Sco gak ada interaksi. Mama rindu sama kebersamaan kalian. Kalau Sco punya salah sama kamu, mama mewakili untuk minta maaf ya, Vi." Mama Scorpio menggenggam erat telapak tangan Virgo dan berkata dengan nada penuh penyesalan.
Virgo menahan diri untuk tidak menangis dan terlihat baik-baik saja. Dia sudah berbohong. Akan tetapi, ini demi kebaikan Scorpio dan keluarganya. Gadis itu pun ingin mencoba hidup mandiri tanpa bergantung pada Scorpio.
"Mama bakal kangen banget gak ketemu sama kamu. Setelah puas liburan, nanti kamu balik ke sini. Mama ajak kamu belanja puas-puas," bujuk mama Scorpio dengan penuh kasih sayang. Tari, mama Virgo hanya tersenyum miris. Dirinya bahkan tidak sanggup untuk menimpali perkataan sahabat sekaligus tetangga terbaiknya.
Setelah satu jam berbincang santai, Virgo dan mamanya pamit untuk segera pergi ke bandara. Menolak dengan halus tawaran makan malam karena harus mengejar perjalanan ke bandara. Orang tua Scorpio bahkan menawarkan diri untuk mengantar ibu dan anak itu ke bandara, tetapi mama Virgo segera kembali beralasan sudah ada mobil yang menunggunya saat ini. Akhirnya, semua orang berpelukan satu sama lain.
'Sco, maafin aku yah. Ini demi kebaikan kita bersama. Semoga suatu saat nanti, kita bisa ketemu dan jadi sahabat lagi.' Virgo menatap lekat ke arah kamar Scorpio.
Gadis itu menghapus air mata dengan punggung tangan. Tidak ingin kesedihannya terlihat jelas. Gadis itu memandang ke sekelilingnya, merekam semua yang ada di sana dengan kedua bola matanya. Virgo pasti akan merindukan rumahnya dan rumah Scorpio, tempat mereka menghabiskan waktu bersama.
Virgo terus menoleh, berharap Scorpio muncul untuk ia peluk sebentar saja. Namun, sampai mobil yang ia tumpangi melaju ke luar dari gerbang rumahnya, tetap saja sosok pemuda tampan itu tidak muncul. Air mata Virgo mengalir deras selama perjalanan menuju bandara. Mamanya memeluk tanpa ingin bertanya karena wanita paruh baya itu tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh Virgo. Namun, ini sudah menjadi konsekuensi dari keputusan yang diambil oleh Virgo.
🖤🖤🖤
Biarlah mimpi terhenti di sini.
Mungkin nanti bisa ku kejar lagi, jika semesta menghendaki
Scorpio mengetikkan kata-kata itu pada status terbarunya di twitter dengan akun anonim yang tidak satu pun orang tahu kecuali, dirinya sendiri. Pemuda itu menjadikan aplikasi burung biru itu menjadi tempat menampung keluh kesah dan kisahnya.
Dirinya sudah mengetahui tentang kepergian Virgo. Kedua orang tuanya membujuknya untuk menemui Virgo di bandara, tetapi Scorpio tidak bergeming. Pemuda itu hanya diam dan mengurung diri di dalam kamar.
Scorpio hanya ingin menghormati keputusan yang sudah diambil dan dibuat oleh Virgo. Dirinya tidak ingin mengecewakan gadis itu. Penolakan tegas Virgo padanya sudah membuka lebar kedua bola matanya untuk membiarkan gadis itu pergi ke mana pun ia mau.
"Aku bakal terus bertahan, Vi. Sekuat apa pun kamu ngedorong aku menjauh, sekuat itu pula aku berusaha buat terus maju. Aku punya cara sendiri buat mencintai kamu."
"Kamu selalu di hati aku dan gak akan pernah tergantikan. Aku bisa pastikan itu." Scorpio bermonolog sambil mengelus layar ponselnya yang menampilkan potret keduanya saat sedang tersenyum bahagia.