
Haloooowww, Bestiee!
Jangan lupa komen komen komen 😗
Vote vote vote!!
Selamat berbahagia,
Selamat membaca bebebs2 kesayangan! 😗
*eh iya! Betewe, cerita ini bukan genre teenlit yah, tapi adult romance 🫣 cerita SMA ini cuma permulaan aja ðŸ¤
Btw, ikutin cerita ini pas on going yah! Nanti klo udah tamat, trs Shin ubah isinya, kalian gak boleh ngamuk2 🤣
🖤🖤🖤
Virgo dan Scorpio kembali dekat. Mereka menghabiskan waktu bersama seperti sedia kala sebelum keduanya memiliki pasangan masing-masing.
Tingkat rasa penasaran teman-teman Virgo dan Scorpio melonjak tajam karena keduanya lengket seperti pasangan yang sedang kasmaran. Pika adalah salah satu orang yang ingin mengorek info lebih banyak mengenai status hubungan Virgo dan Scorpio. Saat para gadis pergi ke kantin bersama-sama, maka saat itu pula Pika melancarkan aksi tanya jawab bersama Virgo.
"Vi, kamu jujur deh sama kita. Kamu pacaran 'kan sama Austin?" Pika menatap lekat Virgo yang mengerutkan dahi dan menatap balik Pika dengan tatapan aneh.
"Emang harus jujur gimana lagi? Aku sama Austin sahabat, bestfriend forever. Ngapain harus ngaku-ngaku pacaran. Aneh deh," jelas Virgo berbicara dengan sangat tenang dan sama sekali tidak ada raut keraguan yang muncul di wajahnya.
Namun, Pika tidak menyerah sampai di sana. Gadis itu tetap berusaha keras mengorek informasi, dirinya tidak mau percaya begitu saja dengan perkataan Virgo. Bisa saja Virgo membohongi mereka semua.
"Kamu yakin cuma sekadar bestfriend doang? Gak mau lebih gitu?" Pika menggoda Virgo dengan menaik turunkan alisnya.
Virgo tampak bingung. "Lebih gimana?"
"Ya, pacar mungkin?!" Virgo menggeleng. "Ngaco banget. Ya, enggaklah. Demi apa aku pacaran sama Austin."
"Tapi kalo diliat-liat, kalian itu kayak pacaran loh. Ke mana-mana gandengan tangan. Ya, persis kayak orang pacaran," kata Dewi menanggapi. Pika mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Dewi.
Virgo menggeleng. "Ya ampun, gandengan tangan aja dikatain kayak pacaran. Gimana kalo kalian liat kita lagi ciuman? Dianggap apa ntar?!" jawab Virgo santai. Gadis itu tidak menyadari perkataannya membuat Pika dan Dewi tampak shock berat. Keduanya menatap lekat Virgo sambil melotot dengan mulut terbuka.
"Kamu ... ciuman? Ah- enggak maksudnya, kamu pernah ciuman sama Austin?" tanya Pika dengan suara sepelan mungkin agar orang di sekitarnya tidak mendengar pergibahan mereka saat itu.
Virgo tersedak oleh minumannya. Gadis itu memukul dadanya pelan, terkejut dengan pertanyaan Pika. Sepertinya Virgo mulai menyadari jika dirinya sudah ceroboh membocorkan sesuatu yang penting. Bagi Virgo berbohong adalah hal tersulit yang harus ia lakukan. Apalagi ketika orang memancingnya dengan pertanyaan berulang dan menjebak.
Virgo mengibaskan telapak tangannya dan mencoba berbohong pada Pika dan Dewi. "Enggak, enggak pernah." Bola mata Virgo bergerak, begitu terlihat jika gadis itu sedang gugup.
Telunjuk Pika dan Dewi secara bersamaan mengarah ke ujung hidung Virgo. Tatapan penuh selidik membuat Virgo semakin gugup dan gelisah di tempatnya.
Virgo mendesah lalu mengangguk pelan. "Bener-bener sulit buat bohong," keluh Virgo sambil mengaduk es jeruk di dalam gelas.
Pika dan Dewi tampak antusias ingin mendengar lebih lanjut penjelasan Virgo tentang ciuman antara dirinya dan Austin. "Ayo, ceritain!"
Virgo tampak berpikir sejenak dan menatap kedua temannya itu dengan tatapan penuh ancaman. "Dasar tukang paksa!" Hanya cengiran yang diberikan Dewi dan Pika tanpa rasa bersalah.
"Dia bantu aku buat latihan ciuman. Soalnya, kalo cuma teori doang, gak dipraktekin, ya percuma aja." Virgo berkata dengan entengnya membuat kedua temannya speechless. Rasanya jantung Pika hampir lepas dari tempatnya, begitu pula Dewi yang hanya bisa menggeleng takjub dengan pemikiran Virgo yang benar-benar terlampau polos.
"Latihan? Bibir ketemu bibir gitu?" tanya Pika ragu, tapi penasaran. Virgo mengangguk dan Pika lemas di tempat duduknya.
Dewi menegak habis jus jambu miliknya. Aura di sekitar mereka mendadak panas. Virgo tetap tenang karena sudah jujur dan merasa tidak ada yang salah dari ceritanya. Gadis itu mengaduk es jeruk sambil menoleh ke arah kantin, menunggu pesanan makan siangnya diantar. Kedua teman Virgo menatapnya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.
"Aku udah jujur. Kenapa kalian masih ngeliat aku kayak begitu? Emang ada yang salah?" Virgo tampak kebingungan melihat ekspresi Pika dan Dewi.
"Jadi, ciuman pertama kamu, sama ... Austin?" tanya Dewi dengan suara pelan. Virgo mengangguk santai seolah tidak ada beban sama sekali.
Pika dan Dewi kembali mengatur napas mereka yang terengah akibat kepolosan Virgo. Mereka masih tidak habis pikir jika Virgo merelakan ciuman pertamanya diambil oleh sahabatnya sendiri dengan dalih latihan. Pika melipat tangan di atas meja dan menatap lekat Virgo.
"Kalo Austin punya pacar, perasaan kamu gimana? Sedih, seneng, biasa aja? Atau gimana?" Virgo tampak berpikir.
"Jawaban ambigu banget," keluh Dewi. "Lebih spesifik dong. Kan ditanya perasaan kamu. Jangan libatkan perasaan Austinnya."
"Ya seneng aja. Apalagi yang dipacari itu cewek yang dia sukai sudah lama. Paling yah, mungkin bakal cemburu dikit, karena perhatian dia pasti bakal minim banget buat aku, gak kayak biasanya, sebelum dia punya pacar." Pika dan Dewi bertepuk tangan merayakan kejujuran Virgo. Sudah jelas terbukti jika temannya itu begitu jujur dan polos tanpa dibuat-buat.
Topik pembicaraan mereka berubah haluan ke artis-model tampan mancanegara sembari menunggu datangnya makanan yang sudah hampir 10 menit belum kunjung datang. Saat sedang asyik memuji wajah tampan Rafael Miller, tiba-tiba ponsel Virgo direbut oleh seseorang dari arah belakangnya. Sontak ketiga gadis itu mendadak berang dan ingin memaki, tetapi urung saat tahu siapa dalang yang mengambil ponsel Virgo.
Scorpio menatap satu per satu gadis yang duduk di depannya dengan tatapan tajam. Pemuda itu menunjukkan layar ponsel Virgo kepada teman sekelasnya bernama Wawan.
"Yang model beginian dibilang ganteng. Gantengan aku ke mana-mana," kata Wawan penuh percaya diri.
Virgo mendengkus, Pika dan Dewi berakting seolah ingin memuntahkan sesuatu mendengar perkataan Wawan. Scorpio mendudukkan bokongnya di sebelah Virgo dan menatap gadis itu sambil bertanya, "Gantengan dia apa aku?" Virgo menatap layar ponsel dan wajah Scorpio bergantian, memastikan jawabannya akurat. Ketiga orang yang lainnya ikut menantikan jawaban Virgo.
"Gantengan Rafael," jawab Virgo jujur.
Scorpio mengembalikan ponsel Virgo dan beranjak dari tempat duduknya membuat Virgo mendadak panik. Gadis itu buru-buru mengejar, tidak ingin Scorpio marah lagi padanya.
"Ih, kan ditanya ganteng mana? Ya, jujur gantengan Rafael, tapi kalo kamu tanya siapa yang bikin nyaman, ya pasti aku jawab kamu," jelas Virgo sambil menarik-narik jari manis Scorpio. Pemuda itu mengulum senyum dan langsung merangkul Virgo tanpa ragu begitu saja di depan banyak orang.
Pika, Dewi dan Wawan memekik histeris melihat pemandangan manis itu dari tempat duduk mereka. Ketiganya saling pandang dan saling memukul karena terlalu girang melihat kedekatan Virgo dan Scorpio bak couple goal idaman mereka meskipun keduanya selalu berkata hanya sekadar sahabat.
"Anjir! So sweet banget!"
"Fix! Ini sih pacaran berkedok sahabatan!"
"Gak, gak! Itu tuh yang dinamakan sahabat, tapi mesra. Aduh melehoyyy banget!"
🖤🖤🖤
Scorpio dan Virgo tidak berhenti membuat sekitar mereka iri. Scorpio selalu memberikan perhatian pada Virgo, mulai dari hal-hal kecil sampai besar secara terang-terangan. Tidak heran gosip miring mulai beredar di lingkungan sekolah mereka, apalagi kabar tentang putusnya Virgo dan Leo serta Scorpio dan Mira sudah tersiar luas. Banyak orang yang menganggap putusnya mereka karena faktor orang ketiga, dan Virgo serta Scorpio menjadi tersangka utama.
Sindiran diberikan secara terbuka oleh beberapa orang ketika berada di sekitar Virgo maupun Scorpio. Sudah hampir satu minggu belakangan ini, sindiran terus berdatangan silih berganti, tetapi tidak ada satu pun dari Virgo atau Scorpio yang ingin membalas mereka.
Siang ini, Virgo dan beberapa teman perempuan satu kelasnya sengaja menonton latihan futsal yang kebanyakan pemainnya satu kelas dengan mereka tidak terkecuali, Scorpio. Dari pinggir lapangan mereka bersorak bergembira dan memberikan semangat.
Tidak jauh dari tempat duduk Virgo, para pemain band sekolah juga latihan dan mereka meminjam lapangan basket sebagai tempatnya sehingga cukup banyak menarik perhatian orang-orang yang ingin melihat mereka.
"Tumben banget band latihan di luar ruangan. Kayak mau konser aja," celetuk Anisa membuat Virgo dan yang lainnya menoleh ke arah yang dimaksud.
Pada saat yang sama Leo juga sedang melihat Virgo. Keduanya saling tatap, tetapi Virgo segera memalingkan wajah. Sorak sorai para siswi yang ada di sekitar lapangan basket meneriakkan nama Leo.
Pika sengaja menyenggol lengan Virgo sambil menggodanya. "Gimana rasanya nama mantan diteriakin cewek lain." Virgo menoleh ke arah gerombolan cewek yang meneriakkan nama Leo lalu mengedikkan bahu. "Biasa aja."
Virgo berdiri sambil membawa botol air mineral untuk diberikan pada Scorpio yang berdiri di dekat jaring pintu keluar lapangan futsal. Gadis itu membantu Scorpio untuk mengelap keringatnya sehingga sorakan penuh godaan diberikan orang di sekitar mereka berdua. Scorpio sengaja mengusili Virgo dengan menaruh bekas keringatnya di pipi kanan gadis itu sehingga Virgo mengentakkan kaki kesal sambil memberi pukulan ringan di lengan Scorpio.
Pemandangan itu tidak lepas dari pandangan Leo. Pemuda itu sengaja menabuh drumnya dengan asal untuk membuat suara gaduh sehingga semua pandangan tertuju ke arahnya termasuk, Virgo dan Scorpio.
"Mantan pacar lagi cari perhatian!" sindir Scorpio.
Virgo melotot dan gadis itu membekap mulut Scorpio. "Gak mau perhatiin dia," sungut Virgo.
Scorpio tersenyum dalam bekapan Virgo. Pemuda itu menaruh kedua tangannya di kedua sisi pipi Virgo agar menatapnya. Virgo melepas bekapan di mulut Scorpio. "Kalo gak mau perhatiin dia, matanya liat ke sini aja. Gak usah lirik sana sini. Anggap yang lain itu makhluk tak kasat mata." Virgo mengangguk patuh.
Fokus pandangan Virgo beralih ke bibir merah Scorpio yang tampak begitu segar dan menarik. Gadis itu berkedip, jantungnya berdebar kencang, keinginan untuk mengecupnya tiba-tiba muncul begitu saja. Namun, untung saja Scorpio segera menyadarkannya sehingga Virgo tidak jadi terjerumus dalam masalah besar di sekolahnya.
"Kalo mau cium-cium nanti aja di rumah. Kalo cium di sini, nanti banyak yang antri mau minta gantian," bisik Scorpio di samping telinga Virgo.
Gadis itu mendorong tubuh Scorpio dan ia berbalik untuk kembali ke tempat duduknya, bergabung dengan yang lain.
🖤🖤🖤