Unusual Romance

Unusual Romance
23 - Orang Baru?



Happy reading


Selamat menikmati bacaan jelas gak jelas ini 🤭🤭


🖤🖤🖤


Scorpio memutuskan untuk kembali ke London, setelah Shasha memutuskan hubungan mereka. Kebersamaan Scorpio dan Shasha di Shanghai, China, karena Shasha mendesak Scorpio untuk ikut menemani wanita itu mengisi acara pagelaran busana terkait profesi Shasha sebagai seorang model.


Pria tampan itu sudah berkali-kali menolak permintaan Shasha, dan pada akhirnya, karena tidak enak hati ia memutuskan untuk menemani wanita cantik itu terbang ke Shanghai, meninggalkan kuliahnya beberapa hari. Shasha adalah mantan mahasiswi asal Indonesia, sempat berkuliah di kampus dan jurusan yang sama dengan Scorpio, tetapi pada tahun kedua Shasha memutuskan untuk mengundurkan diri karena lebih mementingkan karir model dibanding pendidikan kuliahnya.


Sepanjang perjalanan pulang ke London, Scorpio merenungi semua yang terjadi dalam kurun waktu beberapa jam yang lalu. Kesalahannya cukup besar karena menerima kehadiran orang lain disaat hatinya masih berharap hati yang lainnya. Scorpio terlalu takut untuk berbicara secara langsung dengan Shasha. Pria itu memilih bungkam dan menerima apa pun yang terjadi.


Layaknya pria berengsek, ia melarikan diri setelah mematahkan hati wanita yang dengan tulus menyerahkan hatinya. Sungguh, Scorpio menyesal. Pria itu memutuskan untuk menutup diri agar tidak menyakiti hati orang lain lagi.


Di tengah rasa sesalnya, tetapi hatinya merasa sangat bahagia saat mengetahui akun Virgo kembali aktif. Pria itu membuka kembali ponselnya dan menyalakan wifi pesawat untuk melihat kembali akun wanita pujaan hatinya.


Tidak ada postingan terbaru di akun media sosial Virgo. Postingan terakhir di akunnya, hanya sebuah pemandangan daun maple yang berguguran dengan caption, Good bye.


Kalimat singkat yang ternyata menjadi salam perpisahan secara tidak langsung yang baru kini dimengerti oleh Scorpio. Dalam dua tahun belakang ini, pria itu sempat mencari tahu keberadaan Virgo di awal kepergian wanita itu, tetapi ketika sudah masuk dan aktif dalam pembelajaran di kuliahnya, keinginan untuk mencari Virgo tergeserkan.


"Aku bakal cari kamu setelah aku sukses, Vi." Scorpio bergumam sendirian.


🖤🖤🖤


Seluruh waktu seolah tersita hanya untuk kuliah. Virgo mengikuti saran Disty untuk membuka hati bagi pria lain yang ingin menjalin hubungan dengannya karena Virgo mengatakan dengan tegas pada Disty jika dirinya tidak jatuh cinta pada Scorpio dan hanya menganggap pria itu sebatas sahabatnya, tidak lebih.


Hanya tinggal menghitung hari, Virgo akan segera menyandang gelar sarjana. Empat tahun lebih dirinya menimbah ilmu di negeri orang. Banyak hal yang sudah ia lakukan. Selama empat tahun ini pula, Virgo sudah belajar hidup mandiri, tidak tergantung dengan orang lain.


"Nanti malam, Cloe mengundang kita untuk datang ke rumahnya. Di sana akan ada pesta perpisahan. Kau tidak boleh untuk menolaknya, Vi." Disty masih menjadi roommate Virgo meskipun mereka sudah tidak tinggal di asrama kampus lagi pada tahun ketiga. Keduanya sepakat untuk menyewa apartemen bersama agar bisa menghemat.


Virgo hampir setiap kali menolak diajak pergi ke pesta. Wanita itu tidak begitu suka keadaan hingar bingar suara musik yang EDM.


"Baiklah, aku akan ikut," kata Virgo pasrah.


Disty memperhatikan penampilan Virgo. "Jangan gunakan kaos dan jeans jelek itu saat datang ke pesta. Kau harus memakai dress yang seksi sesekali." Virgo memutar bola matanya malas.


"Kau mau ke mana?" Virgo mengalihkan pembicaraan mereka.


Disty tersenyum menggoda. "Aku ingin memberi vitamin untuk Jose. Sudah dua hari aku tidak menemuinya. Kau pasti paham maksudku, Babe." Disty mengedipkan salah satu matanya dan Virgo mengangguk mengerti.


Virgo paham maksud Disty. Beberapa kali bahkan kekasih Disty menginap di apartemen mereka. Pasangan itu menghabiskan malam penuh desah dan erangan yang bisa didengar dengan sangat jelas dan jernih oleh telinga Virgo. Tidak ada rasa canggung bahkan malu, justru Virgo yang merasa tidak enak hati.


Tinggal di lingkungan yang hampir semua temannya sudah dan sering melakukan pergulatan panas membuat Virgo memiliki keinginan yang tinggi untuk mencobanya, hanya saja Brixton, kekasihnya, tidak pernah mencoba memberikan sinyal padanya ajakan serupa. Hampir dua tahun berpacaran, keduanya hanya sebatas berpelukan dan berciuman, tidak pernah melebihi batasan lainnya.


"Kau sudah satu minggu tidak bertemu dengan Brixton? Apa kalian baik-baik saja?" tanya Disty penasaran.


Pertemuan Bixton dan Virgo pertama kali saat Virgo sedang magang di Geneva, sedangkan Bixton sedang menikmati liburan musim gugur. Saat itu, Virgo berkenalan dengan Bixton di salah satu bar. Virgo bersama beberapa teman magangnya menghabiskan hari libur di salah satu bar terkenal di Geneva.


Saat itu, salah satu teman magang Virgo memperkenalkan teman-temannya yang kebetulan sedang berlibur di sana, termasuk Bixton salah satunya. Pria bermata biru itu tampak tenang di antara yang lainnya. Virgo dan Bixton didesak untuk saling mengenal satu sama lain. Sejak perkenalan itu, Bixton selalu menunggu Virgo pulang magang dan menghabiskan waktu bersama selama dua pekan. Hubungan mereka berjalan sangat lancar, Bixton sosok pria yang sangat pengertian dan perhatian dengan hal-hal kecil yang bisa menyenangkan hati Virgo. Pria itu pula banyak bercerita tentang kehidupan perkuliahannya selama di Zurich.


Pria asal Zurich itu berhasil mendobrak hati Virgo yang sempat tertutup rapat. Virgo pikir, sudah saatnya dirinya membuka hati untuk menjalani sebuah hubungan. Prestasi di perkuliahannya terbilang bagus dan lancar, sudah tidak ada kekhawatiran lagi yang harus dipikirkan oleh wanita cantik itu.


Virgo melirik ponselnya yang berkedip, menandakan notifikasi baru masuk ke dalam ponselnya. Satu baris pesan singkat dikirimkan oleh Bixton. Sebuah permintaan maaf karena tidak bisa menemani dirinya untuk pergi ke pesta. Senyum terbit di wajah cantik Virgo. Hal yang ia sukai dari pria itu adalah tidak ragu untuk meminta maaf, meskipun pria itu tidak melakukan kesalahan apa pun.


🖤🖤🖤


"Kutu buku kampus akhirnya, muncul." Celetuk seorang gadis berambut merah terang, berlesung pipi sambil menunjuk ke arah Virgo yang baru saja tiba dan melepas sepatu.


Ungkapan seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari Virgo karena dirinya memang sangat jarang sekali mendatangi pesta seperti saat ini.


"Waktunya bersenang-senang, Vi. Gerakan tubuhmu, jangan terlalu tegang." Cloe, si pemilik acara merangkul Virgo sambil menyodorkan segelas wine sebagai ucapan selamat datang dan bergabung.


Apartemen milik Cloe tergolong mewah dan berada di rooftop, kedap suara sehingga tidak mengganggu tetangga lainnya. Kolam renang di outdoor, sudah dipenuhi pasangan yang sedang dimabuk cinta. Bukan hal yang mencengangkan lagi bagi Virgo, hanya saja dirinya hanya sebagai penonton, bukan pelaku karena Bixton berbeda dengan pria pada umumnya. Kekasih Virgo tampak sangat menghormati dan menghargai Virgo yang masih perawan. Keperawanan Virgo bahkan sering menjadi bahan ejekan teman-temannya dan cukup menjadi beban mental Virgo. Dirinya ingin melepas segel di tubuhnya bersama Bixton, tetapi pria itu seolah tidak pernah tertarik untuk melakukan pergulatan sengit di atas ranjang bersamanya, meskipun Virgo sudah berulang kali memberi sinyal keinginannya.


"Apa kau akan kembali ke Indonesia setelah lulus?" tanya Paul yang duduk di sebelah Virgo. Pemuda itu merupakan teman satu kampus Virgo, tetapi berbeda jurusan.


Virgo mengangguk singkat. "Aku akan pulang," jawab Virgo singkat.


"Kau akan bekerja di Indonesia? Aku dengar, kau sudah diterima di beberapa hotel besar dari beberapa negara, Indonesia, China, Paris dan London? Benarkah itu?" Ternyata berita tentang pekerjaannya sudah tersebar di semua kalangan kampus. Virgo hanya bisa tersenyum kecil.


Wanita cantik itu meneguk winenya secara perlahan. "Aku masih mempertimbangkan penghasilan terbesar yang bisa aku raih di mana. Aku pulang ke Indonesia bukan untuk bekerja melainkan untuk mengobati kerinduan akan tanah kelahiranku. Sudah empat tahun lebih aku tidak pernah pulang. Kebetulan orang tuaku juga akan pulang, kami berencana berkumpul di sana." Virgo menjelaskan dengan detail.


"Kau akan LDR dengan Bixton? Oh, sungguh menyedihkan. Aku tidak suka berhubungan jarak jauh. Menyebalkan sekali hal seperti itu." Karren, wanita yang duduk di sebelah Virgo bertanya sembari mengeluh membuat Virgo terkekeh.


"Bukankah aku dan Bixton selalu berhubungan jarak jauh. Aku di sini dan dia di Zurich. Bahkan kami bertemu hampir satu bulan sekali, itu pun jika jadwal kuliah dan tugas tidak padat. Sepertinya kami sudah terlatih untuk LDR, semua akan baik-baik saja." Virgo sangat santai mengatakannya.


"Kau begitu tenang. Kau tidak takut jika Bixton ... selingkuh?" tanya Karren hati-hati. Virgo menggeleng.


"Aku masih sangat muda. Aku tidak takut dengan semua itu. Jika itu terjadi, kami hanya akan putus dan aku akan mencari pria lain sebagai gantinya. Sesuatu yang sangat mudah, bukan?" Semua orang di sekeliling Virgo bertepuk tangan mendengar jawaban enteng wanita itu. Namun, beberapa juga ada yang mencibir pemikirannya dan Virgo tidak ingin ambil pusing.


Pesta Cloe begitu meriah dan berakhir pukul 03.30 dini hari. Semua orang mabuk berat, terkapar di lantai. Beberapa yang memilih untuk menempati kamar-kamar kosong di apartemen itu untuk menghabiskan malam panas bersama pasangan masing-masing. Namun, hanya Virgo yang masih terjaga dengan sadar. Virgo berjalan menuju pinggir kolam renang dan duduk di sana.


Saat ini, sudah akhir musim semi dan musim panas akan segera tiba. Virgo menatap langit malam Swiss yang sebentar lagi akan ia tinggalkan. Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar, selama di sini ia harus merasakan pahit manisnya kehidupan mandiri. Virgo bersyukur karena dirinya bisa lulus tepat waktu.


Ujung bibirnya terangkat tinggi. Jari jemarinya mengetikan deretan huruf di sana sebagai balasan pesan yang sudah masuk beberapa jam yang lalu di ponselnya.


You've been running thought my head all night ☺️


Can't wait to see you