
Happy reading π«Άπ»
Jangan lupa vote dan komen yah
π€π€π€
"Kamu happy?" tanya Scorpio pada Virgo yang kini berada dalam dekapannya.
Virgo duduk di atas pangkuan Scorpio, mereka sedang menonton film Teletubies. Keduanya punya kesamaan selera dalam hal tontonan.
Virgo mengangguk dan menaruh wajahnya di dalam ceruk leher Scorpio. Gadis itu sudah mengantuk, tetapi tidak ingin tidur. "Happy banget. Happy sampe gak bisa diungkapin pake kata-kata." Suara Virgo sudah serak melemah.
"Kamu ngantuk? Ayo, tidur!" Scorpio menyibak rambut Virgo dan gadis itu menggeleng.
Pemuda itu menarik wajah Virgo agar bisa ia lihat dengan jelas. Kedua mata gadis itu sudah merah, redup, terlihat jelas sekali jika sudah mengantuk. Scorpio menggendong Virgo dan membawanya ke atas kasur. Merebahkan tubuh gadis itu dan menyelimutinya. Scorpio ikut berbaring di sebelahnya. Virgo memeluk tubuh Scorpio erat dan tidak sampai beberapa menit gadis itu sudah terlelap. Scorpio membelai lembut pipi Virgo dan mencium dahinya sebagai ucapan selamat malam. Keduanya tidur di satu ranjang, dengan pakaian tertutup lengkap dan tidak melakukan hal-hal negatif sama sekali.
π€π€π€
Virgo tersenyum manis sambil memperhatikan wajah Scorpio di hadapannya saat ini. Batang hidung tinggi, alis cukup tebal rapi, bulu mata panjang, rahang tegas, bibir merah muda, baru kali pertama Virgo memperhatikan wajah Scorpio detail seperti pagi ini. Gadis itu terkagum-kagum melihat ketampanan Scorpio.
'Kenapa aku gak pernah sadar kalo Sco ganteng banget yah?' batin Virgo.
Sepengetahuan Virgo, Scorpio bukan seseorang yang suka merokok, minum-minuman beralkohol, Scorpio sosok remaja yang selalu berjalan di jalan yang lurus tanpa celah. Benar-benar idaman para gadis.
'Buat cewek yang jadi pasangan kamu di masa depan, pasti beruntung banget. Kamu hampir mendekati kata sempurna jadi cowok. Aku mau kamu terus bahagia, Sco.' Virgo menyangga wajahnya dengan kedua telapak tangan.
'Buat jodohnya, Sco, aku pinjem Sco dulu yah. Nanti kalo aku udah ketemu cowok yang 11-12 sama Sco, aku balikin Sco.' Virgo tersenyum geli dengan ucapan dalam hatinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 09.05, Virgo sudah siap, sedangkan Scorpio masih tidur pulas. Sudah dari satu jam yang lalu Virgo berusaha membangunkannya, tetapi gagal. Salah satu minus yang dimiliki Scorpio yaitu jika sudah tidur pulas akan sulit untuk bangun.
Virgo mencubit kedua pipi Scorpio dan mata pemuda itu mulai bergerak serta dahinya mengerenyit.
"Sco, bangun dong. Tidur kenapa kayak orang pingsan sih? Kebo banget, ya Tuhan!" Virgo mengomel sambil terus mencubit pipi pemuda itu. Tidak kuat, tidak juga begitu pelan cubitannya.
Tidak ada tanda-tanda Scorpio untuk membuka mata. Virgo menghela napas sambil berkacak pinggang memperhatikan pemuda yang matanya masih tertutup rapat seolah dilem. Virgo sudah menggelitik, mencubit, memukul, dan mendorong, tapi tetap gagal. Akhirnya, Virgo mencoba alternatif selanjutnya yaitu menyerang wajah Scorpio dengan ciuman bertubi-tubi.
"Awas kalo gak bangun juga. Aku tinggal pergi sendirian!"gumam Virgo.
Virgo mulai mencium dahi, pipi, mata, hidung, dagu, Austin berkali-kali dan dengan sangat cepat. Saat bibir Virgo menyentuh bibir Scorpio, gadis itu terpekik tertahan karena kepalanya tiba-tiba ditekan. Ciumannya tidak sekadar singkat, menempel, tapi lebih dalam lagi. Pelaku utamanya tentu saja Scorpio. Virgo segera menggigit bibir Scorpio kesal dan pemuda itu terkekeh dengan mata masih terpejam. Virgo mendengkus sambil memukul lengan pemuda itu.
"Ternyata kamu cari kesempatan dalam kesempitan!" omel Virgo sambil berkacak pinggang menatap garang Scorpio yang sedang melihatnya dengan senyum semringah.
"Ruangan luas begini dibilang sempit! Ini otak yang sempit," ejek Scorpio sambil mengacak rambut Virgo. Pemuda itu beranjak dari kasur dan membawa serta pakaiannya ke dalam kamar mandi. Virgo bersungut-sungut di belakangnya, cemberut karena rambutnya kembali berantakan diacak oleh Scorpio.
π€π€π€
Seharian menghabiskan waktu berjalan-jalan, makan, belanja, dan kini keduanya duduk di tepi pantai menikmati deburan ombak dan menunggu momen matahari tenggelam.
"Kamu mau kuliah di mana nanti?" tanya Scorpio dan Virgo menggeleng.
"Tinggal berapa bulan lagi, Vi, kamu gak mungkin gak ada tujuan," kata Scorpio.
Virgo mengangkat kepalanya dari bahu Scorpio dan memainkan pasir di kakinya. "Masih galau, mau ke Paris, London, atau Australia. Aku mau ke semua tempat, tapi gak mungkin banget 'kan. Kamu mau ke mana?" Virgo menatap Scorpio yang sedang melihatnya.
"Aku pergi ke mana kamu pergi." Virgo mendengkus. "Emang kamu gak bosen sama-sama aku terus?" Scorpio mengambil sejumput rambut yang menjuntai menutupi sebelah mata Virgo dan menaruhnya di belakang telinga.
"Gak usah sok romantis deh. Bikin aku mau terbang melayang." Scorpio merangkul Virgo dan berkata lirih, "Sebelum terbang nanti aku iket kencang-kencang biar gak ilang." Keduanya terkekeh geli dengan topik pembahasan mereka.
Keduanya kemudian diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya, Virgo bertanya pada Scorpio.
"Cewek kayak apa yang kamu cari?" Pertanyaan Virgo membuat Scorpio menatapnya terkejut.
'Kayak kamu, Vi,' batin Scorpio, tapi tentu saja bukan jawaban itu yang diucapkan.
"Kamu mau cariin aku pacar?" tanya Scorpio balik. Virgo memutar bola mata merasa kesal.
"Pengen tau aja," jawab Virgo sekenanya.
"Aku mau pacar yang manis, gak keras kepala, bisa diajak sharing semua hal, gak suka ngomel kalo aku susah bangun, terus dia harus good looking, biar seimbang sama aku yang cakep ini." Virgo mengerenyitkan dahi mendengar jawaban narsis Scorpio.
"Kebalikan semua yang ada di aku," gumam Virgo. Scorpio mendengarnya, tapi pemuda itu tidak menanggapinya.
"Oh iya, kamu dulu bilang pengen banget jadi pengusaha, pembisnis sukses. Kamu mau kuliah di universitas ... hmm ... apa yah, ya ampun aku lupa." Virgo berupaya mengingat nama Universitas yang diimpikan Scorpio.
"Sok tau! Aku gak pernah punya universitas impian. Eh, ayo kita foto, lihat mataharinya bagus banget!" Scorpio mengajak Virgo untuk merekam momen langit jingga mereka berdua.
Pikiran Virgo seketika teralihkan dengan perkataan Scorpio. Gadis itu segera bersiap-siap dengan tripodnya.
Sebenarnya Virgo hendak membenahi posisi topi yang dipakai Scorpio, tetapi ternyata timer di kameranya sudah memotret keduanya. Pose yang tidak diinginkan, ternyata hasilnya cukup bagus.
Pose amat sangat santai. Hanya berdiri sambil bergandengan lengan dan menatap kamera. Perbedaan tinggi badan yang cukup mencolok antara Scorpio dan Virgo. Lagi dan lagi, pose sederhana itu begitu bagus hasilnya.
Tidak ada rasa canggung lagi di antara keduanya. Mereka secara natural berciuman layaknya pasangan kekasih. Keduanya berdiri saling memeluk dan menempelkan bibir satu sama lain.
Keduanya juga sempat mengambil gambar duduk sambil berciuman dengan latar indahnya langit jingga. Mereka juga sepakat jika foto mereka yang sedang berciuman tidak dipublikasikan di akun media sosial karena tentu akan mengundang reaksi berlebihan dari banyak pihak. Foto itu hanya untuk koleksi pribadi dan kenangan mereka.
"Liburan usai. Udah siap ngadepin hari esok?" Scorpio bertanya pada Virgo yang berjalan di sebelahnya.
Gadis itu memandang Scorpio dan mengangguk. "Aku siap nerima konsekuensi dari sekolah. Seenggaknya hati aku udah lega karena udah ngeluarin semua unek-unek yang ada di dalam hati ini," kata Virgo sambil merentangkan tangan dan tersenyum.
"Leo ngehubungi kamu?" tanya Scorpio penasaran.
Virgo mengangguk. "Dia minta maaf. Dia ngajak aku balikan." Scorpio berhenti melangkah dan terbelalak mendengar perkataan Virgo.
"Balikan?" tanya Scorpio memastikan dan Virgo mengangguk cepat.
"Kamu mau? Kamu gak inget kalo kamu udah disakiti sama dia? Kamu juga tau kan kalo dia itu over possessive? Dia juga suka selingkuh, kamu nanti diselingkuhi lagi. Dia gak baik buat kamu, Vi." Scorpio mendadak uring-uringan mendengar perkataan Virgo. Pemuda itu khawatir jika Virgo terjerat dalam kata-kata manis Leo dan terperosok dalam hubungan toxic lagi dengan mantan pacarnya itu.
Virgo menggeleng dan melangkah mendekati Scorpio. Gadis itu menarik wajah Scorpio dengan menempatkan kedua telapak tangannya pada kedua sisi wajah tampan Scorpio. Mereka berdua saling tatap satu sama lain.
"Aku belum separah itu bodohnya mau balikan sama orang yang udah nyakiti aku berlipat-lipat. Kamu gak perlu khawatir. Untuk sekarang aku udah gak butuh pacar lagi. Kamu udah memenuhi semua kriteria kakak, pacar, papa, semuanya udah lengkap. Jadi, aku gak akan pacaran dulu dalam waktu dekat ini." Jawaban Virgo membuat jantung Scorpio berdebar kencang. Senyum manis gadis itu membuat dirinya jatuh cinta berkali-kali.
Scorpio berpikir keras, apakah Virgo menaruh hati padanya sama seperti yang ia rasakan? Baru saja Scorpio ingin nekad bertanya pada Virgo tentang perasaannya, tetapi perkataan Virgo selanjutnya membuat pemuda itu harus tersenyum miris.
"Aku cuma butuh sahabat terbaik dan terhebat kayak kamu sekarang di dalam hidupku! Ini aja udah lebih dari cukup buat aku." Virgo mencium bibir Scorpio sekilas dan tersenyum lebar.
Scorpio sendiri berusaha keras untuk menarik kedua sudut bibirnya agar terangkat ke atas. Memperlihatkan senyum bahagianya. Mungkin memang lebih baik, dirinya menyimpan rapat perasaannya pada Virgo. Jika tidak, risiko terbesar yang harus dihadapinya adalah kehilangan Virgo. Pemuda itu menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan, di dalam hati ia terus berdoa semoga suatu saat nanti Virgo akan menerima kehadirannya bukan sekadar sebagai sahabat melainkan pasangan yang mau bersamanya sehidup semati.
π€π€π€