
Hallo, hallo, hallo!
Jangan lupa komen yang banyak yah!
Happy reading ✨🫶🏻
🖤🖤🖤
Dua tahun dilalui Virgo dengan cukup berat. Dirinya perlu beradaptasi dengan lingkungan, cuaca, bahkan orang-orang di sana. Dalam kurun waktu satu tahun ini, Virgo sendiri fokus menghabiskan waktunya dengan belajar, tidak memikirkan hal lainnya. Dirinya mengejar beasiswa dari universitas untuk menekan biaya hidup yang mahal di negara itu. Tidak ada waktu untuk Virgo berpesta pora atau bersenang-senang menghabiskan waktunya. Gadis itu sudah bertekad kuat, jika dirinya akan fokus pada kuliah dibandingkan hal lainnya.
"Kau terus memandanginya, apa dia kekasihmu?" tanya Disty, seorang gadis asal German yang menjadi teman satu kamarnya selama tinggal di asrama kampus.
Saat ini Virgo sedang menatap foto Scorpio di layar laptopnya. Foto pria yang sudah dua tahun penuh tidak ia lihat secara langsung.
Virgo menggeleng. "Dia sahabatku."
Disty terkekeh dan mengamati wajah Virgo dari dekat. "Kau bercanda? Itu omong kosong, Vi." Seketika Virgo mengerutkan dahi mendengar ucapan Disty.
"Aku tidak bercanda. Dia memang sahabatku. Kami tumbuh kembang sedari kecil bersama, sampai ... aku memutuskan untuk kuliah di sini." Disty menepuk pundak Virgo.
"Persahabatan di antara pria dan wanita adalah omong kosong. Hampir bisa dipastikan, salah satu di antara mereka memiliki perasaan lebih." Virgo diam. Gadis itu mencoba mencerna semua ucapan Disty.
"Sepanjang tahun, sejak hari pertama kita bersama di dalam kamar ini. Kau selalu menghabiskan waktu untuk menatap wajahnya. Menonton video-video mesra yang kalian lakukan berdua. Aku pikir, sahabat tidak akan berciuman berkali-kali layaknya sepasang kekasih." Semua perkataan Disty adalah fakta. Itulah yang dilakukan Virgo sejak hari pertama ia menjadi penghuni asrama kampusnya.
Disty menggigit apel di tangannya sambil memperhatikan Virgo yang sedang melamun, seolah memikirkan ucapannya.
"Kenapa kau tidak menghubunginya?" tanya Disty dan Virgo menoleh lalu menggeleng pelan.
"Aku takut mendapatkan fakta kalau pada akhirnya, dia membenciku karena aku membohonginya dan tidak berpamitan dengannya saat akan kemari," lirih Virgo penuh kekhawatiran.
Terdengar helaan napas Disty. "Hubungan kalian ternyata sangat rumit dan tidak biasa."
"Kau tahu dia sekarang di mana?" Virgo menggeleng. "Aku sama sekali tidak pernah mencari tahunya. Aku sudah mengganti semua akun media sosialku dengan yang baru. Aku tidak berani membuka akun lamaku."
Disty berdiri dan mengambil ponsel Virgo secara paksa. "Jika kau tidak berani, maka aku yang akan melihatnya." Disty adalah sosok yang apa adanya, blak-blakan.
Jari jemari Disty bergerak lancar mengetuk-etuk layar ponsel Virgo. Gadis itu menyodorkan kembali ponsel pada Virgo agar teman satu kamarnya itu mengetikan password akun media sosial miliknya. Dengan tangan gemetar dan gugup, Virgo mengetik satu per satu kombinasi angka dan huruf selanjutnya memberikan kembali ponselnya pada Disty.
Gadis berwajah oval dengan rambut panjang cokelat terang, bermata abu-abu itu asyik menggulir layar ponsel Virgo. Ia mencari akun Scorpio dan melotot sambil menutup mulut dengan sebelah telapak tangannya.
"Holy ****! He's so hot! Damn!" pekik Disty histeris. Virgo menoleh dan mengerutkan dahi dalam, tampak bingung.
"Bisakah pria ini untukku saja." Disty memperlihatkan layar ponsel Virgo yang menampilkan foto Scorpio dengan kemeja putih yang sedang menunduk.
Virgo menelan salivanya susah payah. Dua tahun tidak melihat Scorpio, saat kembali menatap foto pria itu, jantungnya berdebar tidak karuan. Keinginan untuk berlari dan memeluk meluap dalam diri Virgo, tetapi ia tidak berani menunjukkannya.
"Dia sedang di Shanghai. Apa yang dilakukannya di sana?" ucap Disty membuat Virgo kembali berpikir. Gadis itu mengedikkan bahu, tidak ada yang bisa ia jawab dan tebak, karena selama satu tahun ini benar-benar tidak ada komunikasi apa pun.
"Eh, tunggu ... sepertinya, hmm ... sahabatmu ... sudah punya kekasih baru. Lihat ini." Disty berkata dengan terbata-bata sambil mengamati ekspresi wajah Virgo sembari memberikan ponsel itu kepada Virgo.
Foto Scorpio tersenyum bersama seorang wanita yang tidak dikenal oleh Virgo. Caption dengan menggunakan emoticon hati berwarna kuning. Tiba-tiba dada Virgo terasa sesak, hatinya seolah diremas kuat dan rongga matanya berair. Virgo segera memilih untuk mengeluarkan akun lamanya. Gadis itu tidak ingin perasaannya kacau balau.
"Kau ... baik-baik saja, Vi?" tanya Disty hati-hati.
Virgo mencoba memaksakan diri untuk tersenyum. "Aku baik-baik saja. Sebagai sahabat, aku merasa tenang kalau dirinya kini baik-baik saja juga di sana." Disty menghela napas dan mengangguk.
"Sahabatmu sudah memiliki kekasih. Sudah saatnya pula kau membuka diri untuk menjalin hubungan dengan pria kampus kita. Ayolah, Vi, kau sudah setahun penuh mengabaikan pesona pria -pria tampan yang ingin mengenalmu lebih dekat." Disty mencoba membujuk Virgo.
"Akan aku pikirkan nanti." Virgo menjawab seadanya.
Gadis itu pamit untuk pergi tidur. Kepalanya mendadak pening, hatinya kalut, pikirannya menerawang jauh. Virgo ingin beristirahat dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Gadis itu mematikan ponselnya dan memejamkan mata di balik selimut.
🖤🖤🖤
Kedua bola mata Scorpio terbelalak lebar. Pria itu mencoba mengerjapkan kedua matanya berkali-kali untuk memastikan kebenarannya. Akun media sosial milik Virgo yang sudah dua tahun terakhir mati suri, kini terlihat kembali aktif dan menjadi salah satu penonton video yang ia publikasikan. Senyum mereka di wajah tampan Scorpio. Seolah mendapatkan angin segar jika keadaan Virgo baik-baik di sana.
Scorpio menyesal karena memilih untuk menghindari Virgo saat gadis itu berpamitan ke rumahnya dua tahun yang lalu. Dirinya pikir, Virgo hanya pergi berlibur beberapa bulan. Akan tetapi ternyata sampai dua tahun, gadis itu menghilang tidak meninggalkan jejak apa pun tentang keberadaannya. Bahkan kedua orang tuanya ikut merahasiakan keberadaan Virgo.
"Aku pasti nemuin kamu, Vi. Pasti!" gumam Scorpio penuh tekad.
Seseorang mengalungkan kedua lengan ke sekitaran leher Scorpio membuat pria itu terkejut dan menyimpan cepat ponselnya. Wajah Scorpio yang beberapa detik lalu semringah kini berubah menjadi tersenyum kaku.
"Kamu ngomong sama siapa?" Seorang wanita cantik, bermata sipit, tubuh langsing, berprofesi sebagai model bertanya lembut dan penuh senyum pada Scorpio.
"Gak ngomong sama siapa-siapa," elak Scorpio.
Shasha melepaskan pelukan di lehernya dan berjalan untuk duduk di hadapan Scorpio untuk menatap lekat wajah pria yang sudah satu tahun terakhir menjadi kekasihnya.
Wajah wanita itu berubah muram dan terlihat jelas raut kekecewaan muncul di sana. "Kapan kamu bisa ngelupain dia? Apa kehadiran aku ... masih gak bisa ngegantiin dia di hati kamu?" Shasha mengungkapkan rasa kecewa, sedih dan tertekan yang ia rasakan pada Scorpio.
Pria itu menggosok wajah tampak frustasi dan serba salah. Scorpio sangat menyadari letak kesalahannya. Pria itu terpaksa menerima Shasha menjadi kekasihnya dengan tujuan hatinya mungkin saja bisa berpaling dari Virgo atau dengan kata lain, menerima Shasha hanya untuk pelarian perasaannya semata. Namun, setelah satu tahun dijalani, perasaannya tetap tidak pernah pudar untuk Virgo.
Shasha mengembuskan napas berat. Wanita itu menunduk sambil menautkan kedua telapak tangannya kuat. Wanita itu menunggu jawaban Scorpio atas pertanyaannya, tetapi pria itu memilih bungkam. Diamnya Scorpio seolah menjadi jawaban untuk pertanyaan Shasha. Dadanya terasa sesak, hatinya sakit, bertahan selama ini ternyata berakhir sia-sia. Menemani pria yang berkarir bersamanya selama satu tahun ini, selalu mendengarkan cerita-cerita lawas Scorpio bersama sahabat masa kecilnya yang selalu diulang-ulang tanpa pria itu sadari. Setelah Shasha mencari tahu tentang sosok yang sering diceritakan Scorpio, kini dirinya tahu kalau ternyata sosok itu adalah cinta yang tidak terlupakan bahkan tergantikan, meskipun kini sudah ada dirinya.
"Kita punya banyak persamaan, kecuali perasaan. Aku pikir, ketulusan aku selama satu tahun ini buat jadi kekasih kamu, seenggaknya bisa kamu hargai. Ternyata ekspetasi aku terlalu tinggi. Sesulit itu buat ngedapetin hati kamu secara utuh." Tetes air mata Shasha jatuh perlahan di pipinya.
"Aku pikir, aku harus mundur sekarang. Aku gak mau terus-terusan ngasih ruang di hati aku buat orang yang bahkan gak berusaha untuk tinggal di dalamnya." Perkataan Shasha merupakan sindiran keras untuk sikap Scorpio selama ini padanya.
Shasha beranjak dari tempat duduknya sambil menangis dan melangkah perlahan pergi meninggalkan Scorpio yang tetap bergeming. Pria itu sama sekali enggan untuk beranjak dari tempat duduknya. Sikapnya sudah menunjukkan jelas jika kata-kata Shasha benar adanya.
"Maafin aku, Sha," lirih Scorpio.
Pria itu kembali menyakiti hati wanita karena keegoisannya. Tindakannya tidak dibenarkan sama sekali dan Scorpio memutuskan untuk berhenti mencoba menerima wanita lainnya karena ia yakin, semua akan berakhir sama seperti Shasha. Scorpio tidak bisa memberikan hati sepenuhnya untuk wanita lain, karena di hatinya milik Virgo seorang.
🖤🖤🖤
Jangan buang waktumu untuk seseorang yang hanya menjadikanmu pilihan,
ketika kamu menjadikannya yang utama