
Happy reading π«Άπ»
Jangan lupa komen + vote, Bebs! Tengcuu π«Άπ»
π€π€π€
Virgo berdiri di depan pelataran rumahnya, menunggu kedatangan Leo untuk menjemputnya pergi sekolah. Virgo melirik mobil putih baru saja keluar dari halaman rumah Scorpio. Pemuda itu sudah pergi sekolah lebih dulu darinya.
"Mbak Vi, apa gak telat ke sekolahnya? Ini sudah jam 07.40, Mbak." Pak Abdul mencoba mengingatkan Virgo.
"Iya, Pak, saya tau, tapi pacar saya belum datang," jawab Virgo terlihat khawatir.
"Sudah dicoba hubungi, Mbak? Kalo enggak, nanti bapak anter aja." Pak Abdul memberi tawaran.
Virgo melirik jam tangan dan ponselnya bergantian. Tidak ada tanda-tanda balasan pesan atau telepon dari Leo. Gadis itu sudah mencoba menghubungi Leo berkali-kali, tapi nihil. Ponselnya tidak aktif. Virgo mengambil risiko untuk pergi diantar oleh Pak Abdul dengan motornya. Di dalam hati gadis itu berdoa semoga Leo tidak marah dengan keputusannya ini.
Semenjak berpacaran, Leo selalu melarang Virgo untuk pergi sekolah sendiri. Pemuda itu selalu mengingatkan untuk Virgo menunggunya sampai datang menjemput. Sudah dua kali dalam satu bulan belakang ini, Virgo terlambat datang ke sekolah akibat Leo yang selalu telat menjemputnya. Selama Virgo bersama Scorpio, gadis itu tidak pernah dihukum oleh pihak sekolah karena terlambat.
Hari ini, tepat ketiga kalinya Virgo terlambat datang ke sekolah. Gadis itu dihukum menyapu halaman sekolah selama dua jam mata pelajaran pertama dan namanya dicatat dalam buku hitam karena sudah melanggar peraturan sekolah tiga kali.
Keringat membanjiri dahi Virgo dan gadis itu begitu terlihat kelelahan. Virgo tidak sempat sarapan. Tubuhnya sedikit oleng dan beruntungnya ada Desi dan Santi yang dihukum bersamaan dengan Virgo yang memapah gadis itu untuk duduk di kursi koridor.
"Minum dulu, Vi." Desi menyodorkan botol air minum miliknya yang sengaja ia bawa dari rumah pada Virgo.
Gadis cantik itu meneguknya hingga tandas dan mengucapkan terima kasih pada teman satu kelasnya itu. "Makasih yah, Des. Nanti airnya aku ganti," kata Virgo.
"Santai aja, Vi. Kalo kamu gak kuat, kamu minta izin ke UKS aja. Istirahat di sana, nanti kamu pingsan," ucap Desi khawatir. Virgo menggeleng.
"Aku gak apa-apa kok. Sekarang udah kuat," tolak Virgo halus. Mereka semua kembali ke halaman untuk menyelesaikan hukuman yang diberikan.
Scorpio yang mengintip dari balik tembok meremas kuat botol air mineral dalam genggamannya membuat air di dalamnya tumpah di lantai dan sebagian mengenai celana panjang yang dipakainya.
"Sial!" umpat Scorpio kesal.
π€π€π€
Virgo pergi ke kantin dengan Pika, Desi dan Dewi. Kali pertama mereka pergi bersama setelah Virgo resmi berpacaran dengan Leo. Sebelum berpacaran dengan Leo, Virgo selalu ke kantin bersama-sama teman satu kelasnya, baik itu cewek atau cowok.
"Akhirnya, kita bisa ke kantin bareng-bareng lagi!" ucap Dewi saat mereka semua selesai memesan makanan dan minuman masing-masing.
"Iya nih, udah hampir sebulan kita gak pernah gini," timpal Desi.
Pika menyangga kepalanya dengan sebelah telapak tangan sambil menatap Virgo yang duduk di sampingnya. "Tumben kamu gak sama bebeb Leo? Biasanya tiap hari lengket kayak perangko," tanya Pika penasaran.
Kedua teman lain, Desi dan Dewi pun ikut menunggu jawaban Virgo. Gadis itu tersenyum lalu menatap satu per satu teman-temannya. "Apaan sih kalian! Aku kangen sama kalian semua." Virgo menjawab singkat.
"Kamu gak lagi berantem 'kan sama Leo?" tanya Dewi.
Virgo tersenyum gugup, seolah ada sesuatu yang ingin ia sembunyikan. "Baik. Kami baik-baik aja kok. Emang kalo gak barengan, tandanya kami gak baik gitu yah?" Ketiga temannya kompak mengangguk.
"Buktinya kamu sama Austin gak pernah bareng-bareng lagi. Kamu minta pindah tempat duduk. Gak pernah ngobrol, gak pernah berangkat bareng, gak pernah berinteraksi lagi kayak dulu. Kamu sama Austin kenapa?" Desi memberikan penjelasan atas pemikirannya.
Virgo kembali terkekeh terpaksa. "Biasa kok, namanya juga antar sahabat, kadang ada problem dikit yang bikin kita renggang."
Pika mengerutkan dahi, di dalam kepalanya berputar-putar pemikiran yang pernah ia tanyakan pada Virgo. Akankah itu yang memicu perselisihan antar sahabat itu. 'Apa jangan-jangan gara-gara ciuman? Austin masih pengen ciuman, tapi ditolak Virgo. Atau ... malah sebaliknya? Hmm ... mencurigakan,' pikir Pika.
Saat Virgo hendak memulai menyuapkan bakso ke dalam mulutnya, tangannya ditarik paksa oleh seseorang dari samping. Keempat orang di meja itu menoleh bersamaan dan terkejut dengan tindakan yang dilakukan Leo pada Virgo.
Leo menarik tangan Virgo, memaksa gadis itu untuk berdiri dan ikut dengannya. Ekspresi Leo terlihat sedang menahan emosi. Tatapannya tajam, sorot matanya memancarkan kemarahan yang tidak biasa.
Ketiga teman Virgo mengerutkan dahi saling memandang satu sama lain.
"Aku takut Virgo diapa-apain sama Leo," bisik Desi cemas.
Dewi dan Pika kompak mengangguk.
"Kalian ikuti ke mana perginya mereka. Aku balik ke kelas mau kasih tau Austin," perintah Pika.
"Oke. Nanti aku kirim chat di mana posisi kami." Ketiga orang itu berpencar. Bergegas berlari ke tujuan masing-masing. Mereka rela mengurungkan makan demi kebaikan temannya.
Pika mencari keberadaan Scorpio. Pemuda itu sedang asyik berbincang dengan teman-teman cowok sekelasnya. Pika menerobos lingkaran para cowok itu dan menarik lengan Scorpio tanpa permisi membuat pemuda itu terkejut. Pika mendekatkan diri saat tubuh Scorpio sedikit merendah. Gadis itu berbisik agar tidak semua orang mendengar ucapannya.
"Virgo diseret Leo dari kantin, kayaknya mereka mau berantem karena muka Leo keliatan marah banget. Tolongi Virgo, please!" bisik Pika.
Kedua bola mata Scorpio terbelalak. "Di mana sekarang?"
"Di dekat gudang perpustakaan," jawab Pika. Secepat kilat Scorpio berlari meninggalkan teman-teman sekelasnya yang kebingungan dan penuh pertanyaan.
"Eh, lo bisikin apa ke Austin? Kenapa dia pergi?" tanya Martin pada Pika.
Pika melirik sinis ke arah musuh bebuyutannya itu. "Kepo banget lo! Gak akan gue kasih tau." Pika melenggang ke luar kelas, mencari keberadaan Dewi dan Desi.
"Dasar pelit, nenek gerandong!" umpat Martin kesal.
π€π€π€
'Awas aja lo macem-macem sama Virgo. Gue bakal bikin perhitungan sama lo! Sialan!' batin Scorpio saat berlari menuju tempat yang disebutkan Pika tadi.
Gudang dekat perpustakaan, letaknya paling ujung dan jarang dikunjungi oleh siswa. Gudang penyimpanan kursi meja dan peralatan kelas yang sudah rusak diletakkan di sana. Sepanjang jalan menuju ke lokasi itu, Scorpio hanya bertemu dengan beberapa orang saja yang baru saja keluar dari perpustakaan bawah. Kebanyakan murid pergi ke perpustakaan atas yang bukunya jauh lebih lengkap dan tempatnya lebih nyaman.
Scorpio melihat dua teman kelasnya ada di depan pintu perpustakaan. Mereka tampak cemas dan khawatir. Scorpio menepuk pundak Desi membuat gadis itu menoleh.
"Austin, ayo cepet ke sana. Leo lagi marahi Virgo, serem banget!" ucap Desi dengan suara pelan.
Scorpio mengangguk, menyuruh kedua temannya untuk kembali ke kelas dan meminta mereka merahasiakan permasalahan ini dari banyak orang.
"Makasih yah. Kalian balik ke kelas aja. Biar aku yang bantu selesaiin masalah ini. Aku minta, jangan dibuat heboh tentang ini. Tolong rahasiain dulu dari orang-orang," pinta Scorpio dan kedua temannya mengangguk patuh.
Scorpio berjalan mendekati gudang. Terdengar suara tinggi Leo yang memaki Virgo. Kedua tangan Scorpio terkepal kuat. Pemuda itu tidak terima jika sahabatnya diperlakukan seperti itu, tetapi dirinya juga tidak ingin bertindak gegabah untuk langsung muncul dan ikut campur. Scorpio memilih untuk mendengarkan pembahasan mereka terlebih dahulu agar tidak terjadi salah paham .
"Kamu bisa gak sih, jangan kasar ke aku? Aku ini pacar kamu!" Terdengar suara Virgo gemetar. Suara khas yang sangat Scorpio kenali saat gadis itu sedang menahan tangisannya.
"Kasar? Aku cuma pegang tangan kamu, kamu bilang kasar? Dasar manja!" ejek Leo.
"Tangan aku memar akibat cekalan kamu, Leo. Berapa banyak lagi plester yang aku pake buat nutupi memar ini. Dari dulu, aku gak pernah diperlakukan kayak gini sama orang," balas Virgo.
"Halah, whatever!"
"Kenapa kamu pergi ke sekolah duluan? Aku sudah peringatkan berkali-kali kalo kamu harus tunggu aku, sampe aku datang ngejemput. Tapi apa? Tadi pagi kamu pergi duluan. Kamu pasti pergi sama cowok parasit itu lagi 'kan! Kamu pergi sama Austin 'kan? Jawab jujur, Virgo! Berengsek!" bentak Leo membuat Virgo mengkeret di tempatnya berdiri.
π€π€π€
Ganteng banget ayang Shin π€