Unusual Romance

Unusual Romance
24 - Kejutan



🤭🤭🤭


Hallo!


Selamat baca 😗


Jangan lupa komen yah 😗😘


🖤🖤🖤


Hari ini adalah hari yang ditunggu oleh Virgo, hari di mana ia resmi menyandang gelar sarjana. Wanita itu sudah siap untuk masuk ke dunia baru yaitu dunia kerja yang sangat ia dambakan. Virgo sudah memantapkan hati untuk memilih menetap dan bekerja di mana.


Virgo sudah memoles wajahnya dengan make up tipis, memakai kebaya khas Indonesia. Dirinya ingin memamerkan kebudayaan Indonesia di depan teman-temannya yang berasal dari berbagai negara. Senyum tidak hilang dari wajah cantiknya. Virgo terlihat sangat bersemangat hari ini, bahkan Disty pun terlihat heran melihat ekspresi Virgo yang begitu semringah.


"Ekspresimu menunjukkan kau seperti orang yang baru saja memenangkan lotre jutaan dolar. Kau tampak bahagia sekali," puji Disty.


Virgo melirik Disty lalu tersenyum. "Tentu saja, bahagia. Akhirnya, aku tidak dipusingkan dengan berbagai tugas lagi." Tangan Virgo dengan cekatan menutup koper yang sedang ia bereskan.


"Cih! Kau tidak memiliki bakat berbohong. Kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku? Apa Bixton hari ini datang?" Disty menopang wajahnya dengan sebelah telapak tangan memandang Virgo lekat.


Virgo menggeleng lalu mengedikkan bahu tampak acuh tak acuh. "Kau sudah pasti tahu apa jawabannya. Dia tidak akan meninggalkan kuliahnya hanya demi aku. Dia begitu mencintai kampusnya." Terkandung kekecewaan dari kata-kata yang diucapkan Virgo meskipun dengan nada penuh candaan.


"Itu alasan, mengapa aku tidak ingin berkencan dengan mahasiswa jurusan kedokteran. Kau tahu, mereka membosankan. Aku salut, kau bisa bertahan cukup lama dengannya apalagi menjalani hubungan jarak jauh. Ah, aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi padaku," keluh Disty dan Virgo terkekeh.


"Memiliki pacar calon dokter adalah sesuatu yang keren. Jangan lupa, kau salah satu yang mendukung untuk menerimanya jadi kekasihku." Virgo menepuk pundak Disty yang sedang mencebikkan bibir.


"Aku akan mengunjunginya ke Zurich setelah acara wisuda hari ini. Aku akan bermalam di Zurich, satu malam dan melanjutkan perjalananku ke Indonesia."


Disty berdiri dan berjalan mendekati Virgo. "Oh sial! Aku baru sadar, jika hari ini adalah hari terakhir kau tinggal bersamaku. Kau akan meninggalkanku." Virgo tersenyum dan memeluk Disty erat.


"Kau memang pelupa. Aku minta maaf, karena harus merepotkanmu untuk menjaga sebagian barang-barangku yang belum sempat aku bereskan untuk dibawa pulang. Orang tuaku, menginginkan aku untuk pulang bersama mereka." Disty mengangguk mengerti.


Disty tampak sedih. "Aku iri padamu yang bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu," keluh Disty.


Virgo menaruh kedua telapak tangannya pada kedua sisi wajah Disty. Kedua jempol Virgo diletakkan pada ujung sudut bibir Disty dan menariknya ke atas. "Jangan bersedih. Kau harus optimis. Musim depan, kau bisa lulus, menyusulku. Semangat!"


Disty menatap kedua bola mata Virgo. Wanita di depannya itu, sejak pertama ia kenal, selalu menebarkan positive vibe. Virgo selalu disiplin waktu. Meskipun berpacaran, dirinya tidak lantas melupakan semua tugas perkuliahannya. Virgo begitu tegas pada tujuannya datang ke sana, wanita itu tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan buruk yang ada di sekitarnya. Disty senang memiliki teman baik seperti Virgo.


"Kau cantik dengan pakaian ini," puji Disty tiba-tiba saat menyadari pakaian yang dikenakan oleh Virgo.


Virgo mengamati penampilannya dari atas kepala sampai ujung kaki dari pantulan cermin. "Aku akan mengirimkannya nanti untukmu pakaian ini." Wajah Disty tampak semringah mendengar janji Virgo.


Keduanya berjalan keluar apartemen. Disty membantu Virgo untuk membawa kedua koper berukuran besar menuju mobil jemputan mereka. Mobil itu, sengaja dipesankan oleh orang tua Virgo untuk mempermudah anaknya membawa barang bawaannya.


🖤🖤🖤


Suasana kampus begitu ramai dengan banyaknya orang yang tertawa bahagia, bercanda gurau satu sama lain. Ceremony kelulusan kuliahnya telah selesai. Saat ini, Virgo tengah berfoto bersama teman-teman kampusnya. Kedua orang tua Virgo, tidak bisa hadir karena pekerjaan mereka yang begitu padat, apalagi mereka akan mengambil cuti panjang untuk berlibur bersama ke Indonesia. Mereka akan bertemu di Abu Dhabi, tempat pesawat mereka transit.


Tidak ada gurat kesedihan terlihat di wajah Virgo. Wanita itu terlihat baik-baik saja dan semakin baik ketika seseorang memberikan buket bunga. Disty yang berdiri di samping Virgo, membuka mulutnya sedikit melihat penampakan orang asing di depannya.


Virgo tersenyum lebar ketika menerima bunga tersebut, berbeda dengan Disty yang segera menyenggolnya dan berbisik, "Mengapa wajahnya begitu familier di mataku. Aku seperti pernah melihat wajahnya, tapi entah di mana." Virgo melepaskan cekalan tangan Disty dan berjalan mendekati si pemberi bunga.


Empat tahun tidak bertemu dan hari ini, Scorpio datang menghadiri wisuda Virgo. Pria itu tampak gagah dengan kemeja putih yang melekat di tubuh proporsionalnya. Virgo berlari ke dalam dekapan hangat sahabat baiknya.


"Congratulations, Vi," bisik Scorpio sambil mengusap kepala belakang Virgo.


"Thank you, Sco." Virgo tersenyum bahagia menatap pria di hadapannya.


Virgo menarik Scorpio agar mendekat ke arah Disty untuk dikenalkan sebelum mereka pamit untuk ke Zurich menemui Bixton.


"Scorpio, sahabat baikku." Disty melotot dan kembali tercengang mendengar ucapan roommate-nya.


"Kau berhutang cerita padaku, Vi," bisik Disty dengan delikan tajam. Namun, ekspresi Disty terlalu jelas jika wanita itu mengagumi ketampanan Scorpio.


"Aku akan cerita nanti. Kami harus segera pergi. Aku tidak sabar menemui kekasihku." Virgo mengedipkan sebelah matanya pada Disty. Terbelalak, hanya itu ekspresi yang ditunjukkan Disty saat mendengar ucapan Virgo. Dirinya tidak percaya jika Virgo berani pergi menemui kekasihnya bersama sahabatnya. Tindakan Virgo patut diacungi jempol.


🖤🖤🖤


Virgo kembali membuka akun media sosial lamanya. Wanita itu pikir, sudah tidak perlu lagi dirinya bersembunyi. Virgo ingin menghubungi Scorpio dan meminta maaf pada pria itu. Akan tetapi, dirinya tercengang melihat ratusan pesan yang dikirimkan Scorpio untuknya. Ujung bibirnya tertarik ke atas saat mengetahui jika pria itu tidak marah atau menaruh dendam padanya.


Tanpa pikir panjang, Virgo membalas semua pesan yang dikirimkan Scorpio dan memberikan nomor telepon agar mereka bisa berkomunikasi kembali dengan lancar melalui video call atau sekadar lewat suara.


Virgo pikir akan terasa canggung ketika mereka kembali memulai pembicaraan setelah sekian lama berpisah tanpa kabar. Akan tetapi, dugaannya salah, keduanya seolah telah melupakan permasalahan lamanya dan asyik bercerita mengenai kehidupan masing-masing saat ini.


Scorpio menanyakan keberadaan Virgo dan mereka berjanji untuk bertemu satu sama lain. Virgo pikir, Scorpio akan menunggunya di Indonesia, tetapi ternyata, pria itu mendatanginya ke Lausanne dan menjadi pendamping wisudanya. Kejutan yang menyenangkan untuk Virgo.


"Kamu sudah ngehubungi Bixton?" tanya Scorpio saat mereka di hotel, tempat menginap Scorpio selama di Lausanne. Virgo ikut serta ke sana karena wanita itu ingin berganti pakaian sebelum pergi ke Zurich menemui kekasihnya.


"Aku mau kasih dia kejutan. Lagi pula, kalo dihubungi sekarang pasti ponselnya tidak aktif." Scorpio mengangguk samar dan kembali sibuk membereskan semua kopernya.


"Aku pikir, kamu udah gak bisa lagi pake bahasa Indonesia. Aku sampe mau kursus bahasa Perancis kemarin buat ketemu kamu secara langsung gini." Virgo memukul lengan Scorpio.


"Lebay. Mana mungkin bisa lupa sama bahasa ibu sendiri. Lagi pula, kalo ngomong sama mama papa, aku tetap pake bahasa Indonesia kok."


Scorpio menaikan sebelah alisnya menatap Virgo. "Kamu ngomong sama Bixton pake bahasa apa? Perancis atau Jerman? Jangan bilang pake bahasa kalbu."


"Dia bisa bahasa Perancis, Jerman, Inggris, jadi kami ngobrol sesuai mood aja." Scorpio hanya membulatkan mulutnya menanggapi jawaban Virgo.


Keduanya menuju ke stasiun dengan membawa tiga koper, satu koper kecil milik Scorpio, dua koper besar milik Virgo. Sepanjang perjalanan, Virgo menjelaskan pada Scorpio tentang tempat-tempat yang mereka lewati. Seperti kembali ke masa di mana mereka sering liburan bersama, Virgo dan Scorpio asyik dengan dunia mereka sendiri.


"Jadi, kamu rencana mau tinggal di London?" Virgo menatap lekat Scorpio.


Pria tampan itu menggeleng. "Aku bakal di Indonesia aja. Kerjaanku udah banyak di sana." Scorpio sengaja tidak bertanya balik pada Virgo mengenai kelanjutan kerja wanita itu. Padahal, Scorpio ingin sekali tahu, di mana pilihan Virgo.


"Emang paling enak di negeri sendiri yah."


🖤🖤🖤


Setelah dua jam lebih perjalanan dengan kereta. Virgo dan Scorpio tiba di Zurich. Mereka memilih untuk langsung ke hotel untuk menaruh semua barang bawaan dan menghubungi Bixton, mengajak bertemu.


Virgo mencoba menghubungi kekasihnya sudah lebih dari tiga kali, dan pada saat sambungan keempat, panggilannya diterima oleh Bixton. Scorpio menyandarkan tubuhnya di pinggir jendela menunggu Virgo bercakap-cakap dengan kekasihnya. Seolah masa lalu terulang kembali, tetapi dengan pasangan yang berbeda. Pria itu tersenyum miris, menyadari nasib percintaannya yang ternyata tidak kunjung berubah.


"Apa kau sibuk sekarang? Aku sedang berada di Zurich saat ini."


"Mengapa tidak mengabariku, Babe? Kau pasti kerepotan dengan koper-koper besarmu itu."


"Aku ingin memberimu kejutan, Babe. Aku bersama sahabatku. Seseorang yang pernah aku ceritakan dan aku ingin mengenalkannya padamu."


"Oh, GOD! Kau benar-benar sukses mengejutkanku, Babe. Apakah dia ... Scorpio?"


"Ya, benar. Apa kau ada waktu? Aku menginap tidak jauh dari apartemenmu."


"Maafkan aku, Babe. Aku tidak bisa menemui kalian. Aku sedang dalam perjalanan menuju Bern bersama beberapa teman kampusku dalam keperluan tugas kampusku."


"Apakah kau tahu jika besok, aku akan pulang ke Indonesia? Kita tidak akan bertemu dalam waktu yang lama."


"Saat liburan nanti, aku akan pergi ke Indonesia untuk mengunjungimu. Kau tidak perlu khawatir. Bukankah kita sudah terbiasa menjalani hubungan jarak jauh? Jaga dirimu baik-baik di sana. Aku akan mengabarimu seperti biasanya."


"Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan."


"Aku pasti akan merindukanmu, Babe. Sampai bertemu lagi, beberapa bulan ke depan. Tunggu aku. I love you."


Ekspresi penuh kekecewaan tampak di wajah Virgo. Keinginan wanita itu untuk bertemu dan memeluk Bixton sebelum dirinya pulang ke Indonesia ternyata tidak berhasil tercapai. Namun, sebisa mungkin Virgo menutupi kekecewaannya dari Scorpio yang berdiri menyandar menatap jalanan lewat jendela kamar hotel.


Virgo berjalan mendekati Scorpio dan memukul pundaknya pelan. "Ayo, kita makan malam!" Scorpio berbalik dan mengangguk patuh.


"Bixton lagi dalam perjalanan ke Bern, jadi gak bisa ketemuan sama kita hari ini. Dia janji bakal ke Indonesia nanti kalo udah liburan. Nanti pas liburan aja, kamu kenalan langsung sama dia." Scorpio mengamati wajah Virgo lekat, tetapi pria itu memilih hanya mengangguk tanpa ingin bertanya lebih lanjut tentang alasan detailnya.


'Aku gak tau harus seneng apa prihatin sama keadaan ini, Vi,' batin Scorpio.