Unusual Romance

Unusual Romance
19 - Ungkapan Isi Hati



Happy reading Bestiee 🖤


Siap-siap kita pindah haluan yah 🤭🤭


Jangan lupa vote dan komennya!


Tengcuuu 🫶🏻❤️


🖤🖤🖤


Virgo menghela napas lega karena masalahnya tidak diperpanjang dan dikorek lebih lanjut. Bagi Virgo, masalah kemarin adalah suatu pengalaman berharga untuk ia jadikan pelajaran ke depanny nanti. Dirinya juga tidak ingin membuat khawatir orang-orang terdekatnya dan memancing emosi orang tuanya jika mendengar perihal perlakuan kasar Leo padanya.


Saat kembali ke dalam kelas, Scorpio dan Virgo tidak saling berbicara. Scorpio kembali marah dengan Virgo yang gegabah mengambil keputusan sendiri, sedangkan Virgo takut dengan kemarahan Scorpio dan memilih untuk diam.


🖤🖤🖤


"Mama kapan pulang?" Virgo kini sedang melakukan video call dengan mamanya.


"Nanti yah, Sayang. Mama lagi cari universitas buat kamu. Mama masih mau ke Australia dulu, mau lihat di sana. Di Paris, oke juga. Nanti tinggal kamu pilih mau di mana? Kita persiapkan persyaratannya dan cari apartemen buat tempat tinggal kamu," jelas mama Virgo panjang lebar.


"Mama jangan bilang sama Sco, Vi mau kuliah di mana. Vi gak mau mempengaruhi Sco buat ikut pilihan Vi. Sco punya pilihan universitas sendiri." Virgo mengingatkan mamanya.


Mama Virgo mengangguk. "Kali ini, mama janji, mama akan diem, jaga rahasia kamu karena kamu selalu patuh sama ucapan mama. Eh, tapi mama bakal khawatir kalo nanti kamu gak sama Sco. Kamu gak ada yang jagain."


Virgo berdecak kesal. Mencebikkan bibir. "Vi, bisa jaga diri Vi sendiri, Ma. Gak mungkin selamanya Sco mau jadi penjaganya Vi. Vi mau coba hidup mandiri. Mama harus percaya sama Vi."


Terlihat ekspresi cemas dan ragu di wajah cantik mama Virgo. Wanita paruh baya itu akhirnya, mengangguk lesu. "Nanti kita bicarain lagi yah. Kita diskusiin lagi, gimana bagusnya."


"Kamu harus mempersiapkan diri dengan baik. Jaga kualitas nilai pelajaran kamu. Jangan lupa, istirahat yang teratur. Makan juga jangan bolong-bolong nanti kamu sakit, mama papa di sini kepikiran. Oke!" Virgo membentuk simbol oke dengan jempol dan telunjuknya.


"Mama bakal kirim ke email kamu, universitas yang udah mama survei langsung. Kamu nanti pelajari, cari yang kamu suka terus bilang sama mama papa, biar kita diskusiin dan nyiapin persyaratannya." Mama Virgo kembali mengingatkan anak semata wayangnya.


Virgo menatap mamanya dengan mata berkaca-kaca. "Mama kenapa gak nentang kemauan Vi? Apa mama happy sama pilihan Vi?"


Raut wajah wanita paruh baya di layar terlihat kurang suka dengan pertanyaan Virgo. "Kenapa harus ditentang? Yang mau sekolah itu kamu. Kamu yang mau ngejalani bertahun-tahun menimbah ilmu. Sesuatu yang dipaksain itu gak enak, mama papa tahu rasanya gimana. Jadi, gak ada alasan buat mama atau papa buat maksain kehendak kami. Kamu anak satu-satunya yang mama punya ... selama kamu bahagia, mama papa ikut bahagia sama pilihan kamu. Kamu sudah mulai dewasa, sudah harus bisa bertanggung jawab dengan pilihan kamu sendiri. Kalo kamu mau baik, berarti kamu harus jalani dengan sebaik mungkin. Kalo kamu mau jadi buruk, ya silakan hancurin di tengah jalan. Pilihan semua ada di tangan kamu." Penjelasan panjang lebar mama Virgo berhasil membuat gadis itu menangis terharu.


Virgo bersyukur memiliki orang tua yang bekerja keras untuk membahagiakannya. Meskipun awalnya terasa berat, harus hidup mandiri berjauhan dengan kedua orang tuanya, tapi sekarang Virgo sadar jika orang tuanya melakukan semua itu demi masa depannya. Buktinya, sekarang Virgo bisa bebas memilih universitas luar negeri mana pun yang ia inginkan yang tentu bisa dibiayai sepenuhnya oleh kedua orang tuanya. Semua keluarga memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dan kini Virgo menyadari semua itu.


"Makasih, Ma. Virgo bakal berusaha buat bangga mama dan papa." Tekad Virgo.


Mama Virgo tersenyum tulus. "Mama, papa selalu bangga dengan semua pencapaian kamu dari dulu hingga sekarang. Yang terpenting, kamu bisa jadi manusia yang bermanfaat untuk semua orang." Virgo mengangguk dan tersenyum lebar sambil merentangkan tangan seolah ingin memeluk tubuh mamanya yang jauh di sana.


Virgo mematikan sambungan video call-nya dan melamun.


'Selama ini aku iri dengan kehidupan orang yang bisa kumpul dengan keluarganya. Aku juga sering marah karena nganggap mama papa gak pernah perhatian atau nelantari aku sendirian di sini, sibuk kerja di luar negeri ngurusin bisnis mereka. Hmm ... tapi sekarang aku sadar, semua itu mereka lakuin buat aku. Kerja keras mereka buat ngebahagiain aku. Aku gak pernah kekurangan materi, kasih sayang pun aku selalu dapetin dari mereka biar pun jauh. Mama papa gak pernah sehari pun, gak nanyain kabar aku lewat pesan, telepon atau video call. Kayaknya, aku memang kurang bersyukur aja sama kehidupan aku sendiri.'


Gadis itu tersenyum lebar dan menghela napas lega. Bola matanya bergerak menatap layar laptop, membaca semua kiriman informasi tentang universitas yang baru saja dikirimkan oleh mamanya.


🖤🖤🖤


Virgo memilih untuk mendatangi rumah Scorpio di hari mereka terkena skorsing. Suasana hening menyambut kedatangan Virgo. Mama Scorpio baru saja pergi meninggalkan rumah, adiknya sedang sekolah dan papa Scorpio pergi ke kantor.


Gadis cantik itu melangkah ringan menuju kamar Scorpio. Virgo mengayunkan tangannya untuk mengetuk pintu.


"Sco, kamu lagi apa?" teriak Virgo dari depan pintu kamar Scorpio.


Tidak ada jawaban.


Virgo kembali mengetuk pintu sambil berteriak kencang. "Sco! Kamu gak telanjang di dalem 'kan? Aku mau masuk. Aku hitung sampe lima yah."


Hening. Tetap tidak ada jawaban.


Virgo mulai menghitung dari belakang. "Scorpio, aku mulai hitung yah. Lima ... empat ... tiga ... dua ... sa ... Sco, aku masuk beneran yah ini!" Virgo menggerakkan gagang pintu dan pintu terbuka lebar.


Gordeng melambai-lambai ke dalam ruangan karena tertiup angin dari luar. Pintu balkon kamar Scorpio terbuka lebar, menandakan jika pemilik kamar sedang berada di sana. Pantas saja jika Scorpio tidak mendengarkan panggilan Virgo. Gadis itu berjalan mendekati pintu balkon dan mengintip keadaan Scorpio.


Pemuda itu menyandarkan punggung pada tembok, kedua telinganya ditutupi dengan earphone, dan wajahnya mengadah ke atas, terpejam menikmati alunan lagu ditemani sejuk udara yang menyapa wajah tampannya.


Virgo mengerutkan dahi, sangat jarang melihat Scorpio bersikap demikian. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa mungkin Scorpio kesal karena hari ini mereka di skorsing tidak masuk sekolah? Virgo melangkah pelan mendekati Scorpio dan ikut duduk di sebelahnya. Scorpio sepertinya tidak peka dengan kehadiran Virgo di sana. Gadis itu menekuk kedua kaki dan membaringkan kepalanya di atas lutut memperhatikan dalam diam wajah tampan Scorpio.


'Kamu ganteng banget. Diliat dari sudut mana pun tetap ganteng.' Virgo tersenyum kecil sembari membatin memuji ketampanan Scorpio yang duduk di sebelahnya.


Virgo menyentuh pundak Scorpio dan pemuda itu membuka mata, sedikit terkejut dengan kehadiran Virgo yang sudah duduk di sebelahnya. Scorpio melepas earphone dan menghadap Virgo sepenuhnya.


"Kamu udah lama di sini?" tanya Scorpio memastikan. Virgo mengangguk.


"Aku udah ketuk pintu berkali-kali. Teriak-teriak manggil kamu, tapi gak ada jawaban, mangkanya aku nyelonong masuk aja. Aku liat pintu ini kebuka, jadi aku ke sini deh." Virgo menjelaskan dengan detail. Scorpio tersenyum.


"Kamu kenapa? Ada masalah?" tanya Virgo ragu, takut menyinggung perasaan sahabat tampannya.


Bola mata Scorpio bergerak, tampak gugup, tetapi berhasil ia sembunyikan dengan baik. Pemuda itu terkekeh pelan. "Aku? Emang masalah apa yang bisa aku punya? Masalah aku itu paling kamu yang keras kepala, susah dibilangi." Scorpio mengacak puncak kepala Virgo.


Kedua bola mata Virgo membulat dan mengedip sambil menatap Scorpio. Pemuda itu tampak salah tingkah ditatap oleh Virgo.


"Kenapa kamu liatin aku kayak gitu sih?"


Virgo menaruh kedua telapak tangannya ke sisi pipi Scorpio. "Kalo ada masalah, kamu bisa curhat sama aku. Aku siap dengerin dan kasih saran terbaik kok." Virgo memperhatikan lekat pergerakan kedua bola mata pemuda di depannya.


Scorpio segera menurunkan telapak tangan Virgo dan menggenggamnya erat, mencoba menyakinkan gadis itu.


"Everything is okay. Aku gak ada masalah apa pun. Aku duduk di sini karena gabut doang. Lagian udah lama banget gak duduk di balkon ini. Kebetulan hari ini ada libur, aku jadi bisa santai di sini." Scorpio mencoba menyakinkan Virgo. Berusaha kuat agar gadis itu mempercayai ucapannya.


'Kamu bohong 'kan, Sco? Kenapa kamu gak pernah mau berbagi masalah sama aku?' batin Virgo.


Scorpio meluruskan kaki Virgo dan merebahkan kepalanya di atas paha gadis itu. Scorpio juga memasangkan sebelah earphone di telinga kanan Virgo agar keduanya bisa menikmati lagu bersama.


Girl I can be your sunshine


You can be my blue sky


I'm falling for your brown eyes


Easy going my type


I like your imperfection


I like our crazy laughter


I like my world better


When I'm here with you


That's why I like you


Lagu Eric Chou- That's why I like you, mengalun seolah memberi tahu isi hati Scorpio pada Virgo. Pemuda itu terhanyut dalam setiap bait lagu sehingga secara spontan menarik leher Virgo lalu kepalanya sedikit menunduk. Scorpio mengambil kesempatan itu untuk mencium bibir Virgo untuk kesekian kali.


Mereka berdua menyudahi ciuman dan saling melempar senyum satu sama lain. Virgo membelai lembut rambut Scorpio, sedangkan pemuda itu memainkan jari Virgo yang bebas.


"Lagunya bagus banget. Aku suka," kata Virgo memberi respon lagu yang didengarkannya. Scorpio memejamkan mata dan menghela napas.


'Itu ungkapan isi hati aku, Vi.' Scorpio membatin.


🖤🖤🖤