Unusual Romance

Unusual Romance
12 - Selalu Ada



Part yang bikin darah tinggi


Dimohon dengan hati-hati baca part ini


Emosi tidak ditanggung penulis πŸ₯Ί


Happy reading


Jangan lupa spam komentar dan juga vote 🫢🏻


Tengcuuu


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Virgo berjalan cepat sambil menunduk ke arah atap gedung laboratorium. Di sana tempat persembunyian membolos beberapa orang murid, termasuk Virgo dan juga Scorpio tentunya. Di atas sana, teriknya matahari tidak akan terasa karena mereka bisa berlindung di salah satu sudut yang teduh, ditambah lagi dengan angin sepoi-sepoi yang bertiup.


Virgo berdiri di sudut dinding sambil berpegangan pada pagar dinding. Gadis itu meluapkan tangisannya. Rasa sakitnya kali ini terasa bertubi-tubi. Sakit karena diselingkuhi, sakit karena putus, sakit karena pengorbanannya terasa sia-sia dan sakit karena bertengkar dengan sahabat baiknya.


Gadis itu menyadari jika dirinya selalu bersikap gegabah dalam mengambil suatu keputusan. Tidak pernah berpikir panjang sebelum bertindak, tidak berusaha mendengarkan nasihat orang lain dan selalu keras kepala. Kini Virgo hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri.


Virgo menangis dalam diam, air matanya saja yang terus mengalir deras di pipi. Gadis itu tidak menghiraukan suara bel yang menandakan pelajaran akan segera dimulai. Virgo tidak peduli lagi jika nanti dirinya akan diberi hukuman, yang Virgo inginkan sekarang hanya menenangkan diri agar bisa kembali ke kelas dengan terlihat baik-baik saja. Virgo tidak ingin semua orang tahu tentang kejadian hari ini terutama, Scorpio.


Satu pack kecil tisu terjulur dari samping tubuh Virgo membuat gadis itu terlonjak kaget dan cepat menyeka wajah dengan telapak tangannya. Gadis itu menunduk, menyembunyikan wajahnya dari balik rambut yang tergerai. Virgo mengerutkan dahi dalam, saat menatap sepasang sepatu yang begitu dikenalinya. Perlahan ia mengangkat wajah dan menoleh, tetesan air mata kembali jatuh melihat sosok yang kini berada di sampingnya menatap tanpa ekspresi.


Tisu kembali disodorkan, tapi Virgo tidak kuasa untuk mengambilnya. Gadis itu justru menangis terisak sehingga Scorpio menarik Virgo ke dalam pelukannya. Scorpio mengelus lembut rambut belakang gadis itu tanpa berucap.


Hampir sepuluh menit berlalu, Virgo seakan sudah puas menangis. Gadis itu merenggangkan pelukan mereka dan menunduk, tidak berani menatap wajah Scorpio. Pemuda tampan itu mengembuskan napas dan memegang ujung dagu Virgo agar menatapnya balik.


"Dasar cengeng!" ejek Scorpio.


Virgo mencebikkan bibir dan melingkarkan kedua lengannya di pinggang ramping Scorpio, menyandarkan kepala di dada pemuda itu.


"Maaf. Maafin aku, Sco," lirih Virgo dan kembali menangis terisak.


Scorpio tersenyum geli. "Kamu gak capek nangis terus dari tadi? Mata kamu udah kayak mata panda gitu. Ada lingkaran hitamnya," usil Scorpio sambil menunjuk bagian mata Virgo.


Secepat kilat ekspresi Virgo berubah. Gadis itu berhenti menangis dan memasang wajah polos sambil memegangi matanya. "Masa iya baru sebentar udah kayak panda?"


Scorpio mengulum senyum bahagia. Virgo yang dirinya kenal sudah kembali ke wujud aslinya, perpaduan polos, sedikit lemot dan juga manja. Scorpio memberi toyoran pada dahi Virgo dan gadis itu sadar jika Scorpio hanya mengusilinya. Virgo hanya berdecak lalu kembali muram sambil menggigit bibirnya kuat.


Scorpio menaruh jempolnya tepat di bibir Virgo untuk menghentikan tindakan yang mengundang pikiran jahatnya. "Nanti kamu sariawan, jangan digigit!" Scorpio memberikan alibi yang cukup masuk akal dan Virgo menurutinya.


"Kenapa kamu ke sini?" tanya Virgo penasaran.


Scorpio tersenyum sambil menatap Virgo di sebelahnya yang kini sedang memandang lurus ke arah depan. "Nemeni orang yang baru aja patah hati dan putus cinta." Virgo menoleh dan mengerutkan dahi dalam.


"Kamu ... tau?" Scorpio mengangguk santai.


"Aku denger semuanya malahan." Scorpio meraih kedua pergelangan tangan Virgo dan memeriksa keadaannya. Ada beberapa bekas lebam di pergelangan tangan kanan dan kiri Virgo, ditambah bekas merah tercetak jelas di dekat siku kanannya yang baru beberapa menit yang lalu diberikan oleh Leo.


Scorpio menggemeretakan gigi, mengumpat di dalam hati melihat bekas perlakuan kasar Leo pada Virgo. Pemuda itu akan membuat perhitungan pada Leo.


"Kamu pacaran atau cosplay jadi samsak?" sindir Scorpio sambil melepas perlahan tangan Virgo. Embusan napas berat Scorpio membuat Virgo menunduk semakin dalam.


"Maafin aku karena aku gak dengeri kata-kata kamu. Aku ngaku, aku gegabah." Scorpio mengacak puncak kepala Virgo.


"Aku sudah tau kalo tentang itu. Sudah hafal sekali, malah."


"Kamu maafin aku gak? Kita baikan?" Virgo menyodorkan telapak tangannya ke depan Scorpio agar pemuda itu berjabat tangan dengannya.


"Kenapa kamu cium aku?" tanya Virgo kebingungan. Scorpio salah tingkah, pemuda itu merutuki dirinya yang tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium Virgo yang ia rindukan.


Scorpio menggosok tengkuk kepalanya sambil berpikir mencari alasan yang logis. Namun, tiba-tiba Virgo berjinjit dan mencium balik Scorpio. Pemuda itu terbelalak, jantungnya berdebar kencang. Virgo mencium Scorpio, persis seperti yang pertama kali Scorpio lakukan padanya. Ciuman pertama yang berkedok latihan.


Virgo menarik diri, menatap lekat Scorpio yang masih mematung terkejut dengan tingkah Virgo yang tidak bisa ditebak. Gadis itu menyunggingkan senyum manis dan menggosok lembut pinggiran kepala Scorpio seperti sedang menyayangi hewan peliharaan.


"Kalo kamu tanya kenapa aku cium kamu, jawabannya karena aku suka. Aku suka sama tekstur bibir kamu. Jadi, kamu harus ngebolehin aku kapan aja buat cium kamu." Scorpio semakin tercengang mendengar perkataan Virgo. Scorpio tahu jika Virgo sedang tidak berakting polos padanya.


Hanya cowok bodoh yang menolak keinginan Virgo dan tentunya Scorpio bukanlah kategori cowok bodoh itu. Dirinya dengan senang hati menerima permintaan Virgo.


"Sinting!" Scorpio dan Virgo terkekeh bersama.


"Kamu gak masuk kelas?" Virgo kembali menanyakan perihal kehadiran Scorpio di sana, yang ikut membolos dengannya.


Pemuda itu menyandar di tembok dan menggeleng. "Aku udah minta izin dengan guru. Aku bilang, kamu lagi kambuh sakit jiwanya, mangkanya aku harus nemenin kamu. Takutnya kamu ngamuk-ngamuk keliaran ke seluruh sekolah bikin heboh."


Virgo mendengkus dan melayangkan jurus pukulan bertubi-tubi kepada Scorpio. "Kamu yang sakit jiwa, enak aja ngatain orang sakit jiwa! Selalu aja kamu bikin alasan yang malu-maluin aku, Austin Scorpio sinting!" rutuk Virgo.


Scorpio memang berkata demikian pada guru jaga yang sudah mengenal baik mereka berdua. Di sekolahnya, murid diizinkan untuk tidak mengikuti 1 mata pelajaran setidaknya dalam 1 bulan 1 kali, dengan catatan, mereka tetap memiliki catatan dan mampu mengikuti mata pelajaran itu di hari atau minggu berikutnya.


(Note: Ini sekolah fiksi yang aturannya cuma dibuat oleh penulis demi kepentingan alur cerita. Jadi, jangan cari di sekolah nyata yang begini yah)


"Sesama orang sinting gak boleh saling ejek. Bolehnya saling rangkul." Scorpio melingkarkan lengannya di sekitaran bahu Virgo.


"Ayo, balik ke kelas. Panas banget di sini. Lama-lama ntar gosong!" Scorpio memicingkan mata menatap ke arah matahari.


Virgo menahan langkah Scorpio dan melepas rangkulan sahabatnya itu. "Aku gak pede sama muka aku. Pasti jelek banget abis nangis dari tadi. Nanti disangka beneran ODGJ," keluh Virgo sambil membenahi rambut dan menggosok wajahnya.


Scorpio menaikkan sebelah alis dan tersenyum mengejek. "Pas dong sama alasan yang aku kasih ke guru tadi. Jadi, gak sia-sia aku bikin alasan." Satu pukulan melayang di lengan pemuda itu.


"Udahlah. Kamu tuh masih baik-baik aja. Kalo jelek, ya kan udah dari lama, susah buat diperbaiki. Semua orang juga udah tau fakta itu. Gak usah sok gak pede lagi deh." Scorpio berupaya untuk mengembalikan mood Virgo. Gadis itu memanyunkan bibir tidak terima dengan cibiran Scorpio.


Scorpio kembali merangkul bahu Virgo mengajak gadis itu melangkah meninggalkan atap gedung. "Udahlah, gak usah banyak mikir lagi. Kayak otak ada isinya aja!" Candaan Scorpio sama sekali tidak pernah membuat Virgo tersinggung.


Scorpio dan Virgo berjalan bersisian melewati koridor kelas-kelas termasuk kelas Leo dan Mira. Mantan pacar Virgo dan Scorpio sama-sama tidak sengaja melihat pasangan sahabat itu melangkah bersama. Leo mendengkus, merasa sangat marah dan menaruh dendam, sedangkan Mira, tersenyum sekaligus iri.


Mata pelajaran yang mereka tidak ikuti belum selesai, untuk itu Virgo dan Scorpio pergi ke kantin untuk mengisi perut sebelum kembali ke kelas dan mengikuti mata pelajaran selanjutnya.


"Mau makan?" tanya Scorpio. Virgo mengangguk tanpa ragu. "Iya, laper. Tadi baru aja mau makan, udah digeret-geret pergi. Jadi, sekarang laper banget." curhat Virgo.


"Jadi, mau makan apa?" Scorpio bertanya pada Virgo.


"Hm, bakso 1 porsi sama mie ayam 1 porsi juga." Scorpio menaikkan sebelah alisnya menatap takjub Virgo.


"Yakin abis?" Scorpio mencoba meyakinkan ulang.


Virgo mendorong tubuh besar Scorpio. "Udah sana pesenin. Aku udah laper banget."


Scorpio berdecak sambil menggeleng pelan menatap Virgo. "Ck ... ck ... ck, body merci muatan tronton ternyata!" ejek Scorpio.


Virgo memutar bola mata. "Bacot banget!"


Scorpio meninggalkan Virgo sendirian di tempat duduk sambil memperhatikan punggung Scorpio yang berjalan di depannya, di tempat stan makanan pesanannya. Hanya spontan yang mau melakukan semua hal untuk Virgo.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€