Unusual Romance

Unusual Romance
11 - Bahagia di atas Penderitaaan Orang



Hallow, update lagi nih 😁


Happy reading, please ramein kolom komentar πŸ«ΆπŸ»πŸ–€πŸ˜—


Next nanti kita mulai uwu2 setelah drama tarik urat πŸ˜›


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


"Kenapa kamu pergi ke sekolah duluan? Aku sudah peringatkan berkali-kali kalo kamu harus tunggu aku, sampe aku datang ngejemput. Tapi apa? Tadi pagi kamu pergi duluan. Kamu pasti pergi sama cowok parasit itu lagi 'kan! Kamu pergi sama Austin 'kan? Jawab jujur, Virgo! Berengsek!" bentak Leo membuat Virgo mengkeret di tempatnya berdiri.


"Kamu ini bebal banget kalo dikasih tau." Leo mendorong dahi Virgo dengan telunjuknya.


Virgo mengepalkan kedua telapak tangan dan memberanikan diri untuk mengangkat wajah, menatap Leo di hadapannya. Gadis itu sudah muak. Dirinya sudah tidak peduli lagi akan keberlanjutan hubungannya. Bagi Virgo, Leo sudah sangat keterlaluan.


"Cukup, Le! Kamu gak seharusnya ngumpat pacar kamu sendiri dengan kata-kata kasar. Memperlakukan aku kayak hewan peliharaan kamu. Hampir setiap hari kamu ngatain aku. Hell! Kamu sakit jiwa!" Virgo tanpa ragu untuk mengeluarkan semua yang ia pendam dalam hati.


Leo terpaku di tempatnya berdiri, menatap Virgo dengan kedua bola mata membulat. Sedetik kemudian, pemuda itu terkekeh tampak meremehkan ucapan Virgo.


"Aku ... memperlakukan kamu kayak hewan peliharaan? Aku itu sayang sama kamu. Aku ngejagain kamu dengan baik, biar kamu gak direbut orang lain. Kamu punya aku dan aku gak mau orang lain ngeganggu milik aku. Apa itu salah?" Leo memandang lekat Virgo yang menggeleng pelan tidak habis pikir dengan pemikiran Leo.


"Ngejaga? Kamu ngehapus semua kontak cowok di hape aku tanpa permisi. Begitu juga di media sosialku, kamu hapus semua pertemanan. Kamu ngelarang aku buat bertegur sapa, apalagi ngobrol sama temen-temen cowok di kelasku atau kelas lain. Kamu juga ngebatesin aku buat temenan sama temen cewek. Kamu cuma ngebolehin aku, temenan sama orang-orang di circle kamu. Kamu over possessive, Le!" beber Virgo.


Leo menatap tajam Virgo. "Itu tandanya aku sayang sama kamu. Aku gak mau lihat kamu sama orang lain. Apa kamu pernah mikir perasaanku? Pas aku buka galeri hape kamu yang isinya foto cowok lain semua. Fotoku bahkan cuma bisa dihitung pake jari."


"Aku pikir, setelah kita jadian, kamu bakal fokus ke aku aja. Ternyata enggak! Setiap pembicaraan, selalu kamu bawa nama orang lain. Setiap ngelakuin sesuatu, kamu juga selalu nyebut nama orang lain. Bahkan dikontak darurat kamu pun, nama dia yang paling atas. Kamu rela berantem sama aku cuma karena aku hapus semua foto dia di hape kamu," murka Leo.


Virgo memejamkan mata sambil mengatur emosinya yang terpancing karena kata-kata Leo.


"Cuma?! Kamu bilang cuma? Kamu ngehapus semua foto di hape aku dan kamu bilang cuma?" lirih Virgo menatap nyalang kedua bola mata Leo.


"Kamu ngehapus semua kenangan indah yang aku punya. Kenangan yang aku kumpuli susah payah dan bukan dalam waktu yang singkat. Rasa rindu aku terobati dengan ngeliat foto itu dan sekarang ... kamu bilang 'cuma'! Kamu jahat!" bentak Virgo.


"Aku ... memang jahat!" Leo menunjuk dirinya sendiri.


"Dan kamu egois! Cowok mana yang rela kalo pacarnya nyimpen foto cowok lain di hape, di dompet, di laptop dan di mana-mana! Kamu bandingin pacar kamu dengan cowok lain. Aku gak sebaik itu bisa nerima semua hal itu terjadi sama aku," hardik Leo.


Virgo menggeram. "Lantas, dengan alibi itu kamu bisa memperlakukan aku semena-mena? Bukannya apa yang aku ucapin itu fakta. Cowok yang deket sama aku, gak pernah kasarin aku. Semenjak pacaran sama kamu, tangan aku lebam, memar. Wajar kalo aku bandingin kamu sama orang lain," serang Virgo.


"Aku sudah mengorbankan waktuku, uangku, perasaanku dan kamu tetap ngeduain aku!" teriak Virgo melampiaskan kemarahannya.


"Selama ini aku pikir, kalo aku ngikuti semua kemauan kamu, kamu bakal setia. Awalnya aku nerima semua keposesifan kamu karena aku pikir, itu bentuk rasa kasih sayang dan penjagaanmu, tapi ternyata aku salah duga. Kamu ngeblokir semua temen-temen aku, ngelarang aku berteman, selain circle kamu, ngehapus semua kontak di hape aku, gunanya supaya aku buta informasi tentang kamu yang punya cewek lain di luar sana. Kamu emang cowok yang luar biasa." Virgo menyapu air mata yang menetes di pipinya.


Emosinya bercampur aduk. Hal yang ia harapkan tidak akan pernah terucapkan, justru keluar begitu saja dari mulutnya tanpa terkontrol. Leo diam, bergeming di tempat. Terlihat shock karena pemuda itu tidak menyangka jika Virgo sadar jika dirinya berselingkuh.


"Vi, enggak! Aku gak selingkuh. Fiona cuma temen aku, gak lebih dari temen. Kamu cuma salah paham aja. Iya ... kamu salah paham!" Leo mencoba meraih telapak tangan Virgo dan ditepis begitu saja oleh gadis itu.


Virgo menggeleng dan tersenyum miris. "Aku bahkan enggak nyebutin orang yang aku maksud sebagai selingkuhan kamu, tapi ternyata ... kamu sendiri yang nyebutnya secara gak sadar." Leo mendesah. Pemuda itu merutuki diri karena terpancing oleh kata-kata Virgo dan membongkar kebohongannya sendiri.


Virgo menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Mengatur emosi yang bergejolak di dada. Gadis itu sudah membulatkan tekadnya untuk berpisah dengan Leo. Dirinya tidak ingin lagi menjalani hubungan toxic dengan pemuda itu. Setelah ini, mungkin Scorpio akan tertawa puas karena ucapannya terbukti. Hubungannya kandas secepat kilat dan Leo bukan pacar yang baik untuknya. Itu pun, jika Scorpio masih sudi bersahabat dengannya.


"Aku sudah lelah dengan semua ini," lirih Virgo.


Leo mengerutkan dahi dan bertanya, "Apa maksud kamu?"


Virgo menatap wajah Leo tanpa ekspresi. "Kita putus. Aku nyerah sama hubungan ini. Aku sudah gak kuat lagi ngejalaninya. Maaf kalo aku belum bisa jadi pacar yang baik. Mulai sekarang, kita gak perlu berhubungan apa pun lagi. Terima kasih buat semuanya."


Leo segera meraih lengan Virgo dan menggeleng panik. "Enggak! Aku gak mau kita putus. Kita bisa bicarain baik-baik lagi, Vi. Aku minta maaf. Aku ngaku salah. Aku mau memperbaiki semuanya dari awal. Please, kita jangan putus!" bujuk Leo dan Virgo berusaha keras untuk melepaskan cekalan tangan pemuda itu.


Leo semakin mengeratkan pegangannya dan Virgo akhirnya bereaksi dengan membentak. "Lepas, Leonidaz Samuel!"


"Gak ada lagi yang perlu diperbaiki. Sudah cukup. Semuanya selesai di sini! Lepasin tangan aku, biarin aku pergi!" Virgo mengisyaratkan lewat tatapan tajam matanya ke arah cekalan Leo pada lengannya.


Pemuda itu melepaskannya tidak rela. Virgo melangkah pergi meninggalkan Leo yang bergeming.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Pada akhirnya, Scorpio tidak membantu apa pun pada masalah Virgo dan Leo. Pemuda itu memilih untuk menjadi pendengar perselisihan pasangan kekasih itu. Meskipun sudah memprediksinya jika Virgo akan menderita bersama Leo karena sikap pemuda itu, tetapi Scorpio tidak menyangka jika Virgo bisa bertahan dan menyimpan semuanya sendirian. Scorpio juga merasa takjub dengan sikap berani Virgo membalas semua perkataan Leo.


Lebih membahagiakan lagi bagi Scorpio, ternyata Virgo menganggap semua hari-hari yang sudah dilewati bersamanya adalah kenangan yang indah. Scorpio tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Pada akhirnya, Scorpio harus meminta maaf pada Virgo dan Leo karena sangat merasa senang karena hubungan keduanya telah berakhir.


Scorpio bergerak cepat untuk bersembunyi saat Virgo berlari meninggalkan Leo sendirian. Pemuda itu tahu ke mana perginya Virgo, tetapi Scorpio lebih tertarik untuk datang menemui Leo terlebih dahulu.


Leo menendang tumpukan meja dan kursi rusak di sana untuk melampiaskan amarahnya dan sedikit terkejut dengan kehadiran Scorpio yang tiba-tiba di belakangnya. Mantan pacar Virgo itu menatap nyalang ke arah Scorpio yang berdiri dengan kedua tangan di dalam kantong celananya.


"Oh, jadi dari tadi lo nguping? Gimana? Seneng dong lo sekarang?" cemooh Leo dengan tangan terkepal kuat.


Scorpio tersenyum penuh kemenangan. "Jelas seneng dong. Akhirnya, sahabat gue lepas dari cowok toxic kayak lo!" balas Scorpio santai.


"Bangsat! Lo pasti yang nyuruh Virgo mutusin gue!" tuduh Leo.


"For your information, gue gak ada waktu buat menghasut dia. Semua waktunya udah lo sita sampe gak tersisa lagi. Bahkan lo udah berhasil buat gue dan dia perang dingin. Gimana caranya gue nyuruh dia mutusin lo. Jangan asal nuduh, Bro!" jelas Scorpio.Β 


Leo mendengkus.


"Tapi penyebab putusnya gue dan dia itu karena lo. Sial!" tuding Leo tetap bersikukuh menyalahkan Scorpio.


Scorpio maju melangkah mendekati Leo berdiri. Pemuda itu sama sekali tidak ada rasa gugup ataupun takut saat berhadapan langsung dengan Leo. Scorpio tersenyum sambil menyapukan tangannya ke bahu Leo sambil berkata, "Itu tandanya gue jauh lebih berkesan dan berharga di mata dia dibanding elo."


Scorpio berbalik dan melangkah dengan senyum lebar meninggalkan Leo sendirian di belakangnya. Scorpio memilih untuk tidak membuat kekacauan di sekolah dengan memukul Leo meskipun pemuda itu sudah sangat ingin melakukannya.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€