
Happy weekend everyone 🥰
Jangan lupa komen dan vote buat bab ini yah 🖤
Ailafyuu 😍❤️
Happy reading
🖤🖤🖤
Virgo bergegas turun meninggalkan Scorpio sendirian di balkon saat mobil mama pemuda itu masuk ke dalam pelataran rumah. Scorpio mengerutkan dahi melihat tingkah Virgo. Dirinya ingin mengikuti Virgo, mencari tahu alasan mengapa gadis itu cepat-cepat pergi darinya dan menemui mamanya. Akan tetapi, niat Scorpio urung begitu saja. Pemuda itu masih dalam keadaan kesal, tidak ingin memperkeruh suasana hatinya.
Di lantai bawah, Virgo membukakan pintu lebar untuk mama Scorpio masuk. Wanita paruh baya itu terkejut, tetapi segera tersenyum melihat kehadiran Virgo di depannya.
"Astaga, anak cantik mama. Kamu bikin kaget aja." Mama Scorpio memegang kedua sisi lengan Virgo dengan lembut. Virgo menampilkan deretan gigi putih bersihnya.
"Kangen sama mama. Vi mau ngajak mama belanja. Mama sibuk gak?" tanya Virgo manja.
Mama Scorpio menggeleng cepat sembari tersenyum. "Kebetulan banget, mama juga pengen ngajak kamu hangout. Kita udah lama gak jalan berdua 'kan. Nanti Taurus biar, Sco aja yang jemput sekolah." Virgo berbinar gembira.
Entah mengapa, tujuannya hari ini ingin sekali menghabiskan waktu bersama mama Scorpio yang sudah ia anggap menjadi orang tua angkatnya sendiri. Mereka bersiap-siap sebelum pergi. Virgo kembali ke kamar Scorpio untuk memberitahu pemuda itu jika dirinya akan pergi berbelanja dengan mamanya dan nanti siang, Scorpio harus menjemput Taurus di sekolahnya.
"Aku mau pergi sama mama. Mau belanja, mumpung gak sekolah, gak les hari ini," kata Virgo memberi tahu Scorpio.
Pemuda itu mengerutkan dahi. "Tumben banget, tiba-tiba mau pergi berdua," selidik Scorpio.
Gantian Virgo yang menautkan kedua alis mendengar perkataan sahabatnya itu. "Loh, 'kan emang biasanya aku sama mama suka jalan berdua. Kok kamu bilang tumben?"
Scorpio menggeleng samar dan menghela napas. "Enggak apa-apa. Mendadak aja mau jalannya. Kenapa gak ngajak aku aja buat nemeni kamu belanja? Biasanya juga aku yang nemenin."
Virgo memajukan bibirnya. Cemberut. "Sejak kapan beli pakaian dalam, aku ngajak kamu? Kamu gak malu apa, nemeni aku beli underwear?" tanya Virgo dengan mata melotot.
Scorpio memutar bola mata kesal. "Kamu gak bilang kalo mau beli underwear. Aku pikir belanja biasa, keperluan rumah."
Virgo mencubit gemas pipi Scorpio. "Kalo belanja keperluan rumah, sudah pasti aku ngajak kamu. Soalnya kamu berperan penting buat angkat barang," canda Virgo.
"Ya udah, aku pergi dulu yah. Nanti mama kelamaan nunggu di bawah. Jangan lupa jemput Taurus tepat waktu." Virgo berpamitan dan tak lupa memberi kecupan pada pipi kanan Scorpio.
🖤🖤🖤
Virgo dan mama Scorpio berjalan berdampingan. Virgo melingkarkan lengannya tanpa canggung pada wanita paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai mamanya sendiri. Keduanya berjalan santai memasuki beberapa toko baju, sepatu, serta pakaian dalam silih berganti mencari yang cocok untuk mereka kenakan atau inginkan. Selera Virgo dan mama Scorpio nyaris sama.
Virgo sudah menenteng beberapa paperbag berisi pakaian dalam, baju, sepatu dan juga tas. Sebagian besar dibeli memakai uang pribadinya, tapi beberapa item dihadiahi oleh mama Scorpio. Wanita paruh baya itu begitu senang bisa mendandani Virgo karena dirinya tidak memiliki anak perempuan.
Tempat pemberhentian paling menyenangkan bagi keduanya adalah salon. Keduanya kompak melakukan perawatan sembari bercerita satu sama lain.
"Vi, apa tadi Sco cerita sesuatu sama kamu?" tanya mama Scorpio mencoba membuka percakapan dengan memancing Virgo.
Gadis itu melihat wajah mama Scorpio dari pantulan kaca dan segera menggeleng. "Sco gak cerita apa-apa, Ma. Apa Sco lagi ada masalah, Ma?" Virgo bertanya balik karena penasaran.
Terlihat mama Scorpio menghela napas dan termenung sejenak. "Tadi pagi, kami bertengkar hebat. Papa yang marah besar sama Scorpio." Virgo mengerutkan dahi dalam.
Sepertinya permasalahan yang dihadapi Scorpio adalah sesuatu yang besar dan cukup serius karena papa Scorpio sampai marah besar. Kesalahan apa yang dibuat oleh pemuda tampan itu? Virgo menatap mama Scorpio seolah menantikan lanjutan perkataan wanita paruh baya itu.
"Sco nolak penerimaan kampus bergengsi di Amerika. Dia bilang, dia mau ke Paris atau Australia, ngikut ke mana kamu pergi." Virgo shock dan tercekat mendengar semua itu.
"Beberapa bulan lalu, dia minta izin mama dan papa buat apply di Columbus University jurusan bisnis sesuai dengan impiannya. Mama, papa sangat support dan langsung mengabulkan permintaannya, tapi beberapa minggu ini, Sco selalu menghindari pembicaraan tentang perkuliahan. Kemarin sore, mama kebetulan pinjam laptop Sco dan ngeliat isi emailnya. Pengumuman penerimaan sudah dikirim sejak dua minggu lalu, tapi Sco sama sekali gak bilang apa pun sama mama dan papa." Mama Sco menceritakan rincian permasalahan yang terjadi.
Gadis itu kehilangan kata-kata dan kesulitan berpikir. Gadis itu ingat beberapa hari yang lalu saat mereka berlibur dan menyinggung tentang perkuliahan, pantas saja jawaban Scorpio ambigu. Virgo dan Scorpio dulu pernah membahas tentang kuliah impian mereka berdua. Scorpio ingin mengambil jurusan bisnis dan di Amerika, sedangkan Virgo ingin kuliah di bidang tata boga atau ekonomi, di mana pun tempat terbaik.
'Kenapa Sco jadi kayak terobsesi sama aku? Kenapa dia malah ngelepasin kampus impiannya?' batin Virgo.
"Kami gak bermaksud ngelarang kalian buat terus bareng-bareng, sama sekali enggak, tapi diterima di Columbus University itu suatu pencapaian besar yang gak semua orang bisa dapetin. Kamu paham 'kan maksud mama." Virgo mengangguk.
Gadis itu meraih telapak tangan wanita paruh baya di hadapannya dan memberi elusan lembut dengan jempol tangannya.
"Mama gak usah khawatir, Vi bakal pastiin kalo Sco bakal kuliah di sana. Vi juga pengen yang terbaik buat Sco. Nanti coba Vi bicara pelan-pelan dengan Sco." Virgo mencoba menenangkan kegundahan mama Scorpio.
Gadis itu menarik napas panjang dan mulai berpikir bagaimana cara menyakinkan Scorpio. Virgo sama sekali tidak memiliki keinginan untuk terus bersama Scorpio mengingat tujuan perkuliahan mereka sejak awal berbeda, tetapi Virgo tidak mengerti mengapa Scorpio kini mengganti keinginannya untuk mengikuti jejaknya.
🖤🖤🖤
Scorpio mendatangi rumah Virgo dan gadis itu menghidangkan makan malam untuk mereka berdua.
"Makanan favorit aku," seru Scorpio. Virgo hanya tersenyum. Gadis itu tampak sedang berpikir, kapan baiknya dirinya menanyakan perihal masalah yang diceritakan mama Scorpio tadi siang.
Virgo menghela napas panjang membuat Scorpio mengerutkan dahi menatap lekat gadis itu.
"Kamu kenapa?" tanya Scorpio dan Virgo tampak gelagapan.
Gadis itu segera menggeleng. "Enggak, gak ada apa-apa kok."
Keduanya kembali makan dengan hening, tidak ada percakapan yang terjadi. Virgo membereskan semua peralatan bekas makan mereka. Gadis itu menolak bantuan ART-nya.
Kini Virgo dan Scorpio duduk di taman belakang rumah Virgo. Gadis itu memegang sebuah majalah masakan internasional, membacanya dengan fokus sampai tidak sadar jika Scorpio menatapnya lekat di sebelahnya.
"Kamu mau kuliah di mana, Vi?" Virgo menoleh dan matanya bergerak, tampak gugup mendengar pertanyaan Scorpio. Pemuda itu mengerutkan dahi dalam seolah sedang membaca apa yang ada dalam pikiran gadis di sampingnya.
Virgo menutup majalah di tangannya dan menaruh di sebelahnya. "Belum tau, Sco. Mama masih nyari-nyari yang pas," jawab Virgo tidak sepenuhnya berbohong.
"Kamu gak pengen kuliah di Amerika?" Virgo menoleh Scorpio dan berkedip lantas tersenyum.
"Kamu diterima di Amerika?" Virgo mencoba memancing Scorpio dengan balik bertanya. Pemuda itu menelan air ludah terlihat dari gerakan jakunnya, gugup, tetapi berusaha untuk tetap terlihat santai ketika memberikan jawaban pada Virgo.
"Enggak. Emang aku apply kuliah di sana? Aku juga sama, masih nyari-nyari tempat kuliah yang enak dan nyaman. Aku mau kita satu kampus nanti." Scorpio menoleh Virgo dengan senyum menawannya.
Gadis itu membeku. Ekspresi wajahnya begitu terlihat tidak suka dengan kata-kata Scorpio. Apalagi sahabatnya itu berbohong padanya, tidak mengatakan sejujurnya.
Virgo menatap lurus ke depan. "Kenapa kita harus satu kampus? Apa kita anak kembar?" Perkataan Virgo singkat, tapi cukup menggores perasaan Scorpio.
Pemuda itu mengerutkan dahi, dengan telapak tangan terkepal kuat menatap lekat Virgo. Gadis itu menoleh, kedua bola matanya bersirobok dengan Scorpio.
"Kita bukan anak kembar, yang ke mana-mana harus bersama. Kita punya impian masing-masing yang harus dikejar. Aku gak mau satu kampus sama kamu. Lagi pula, bidang yang kita pilih sangat bertentangan satu sama lain. Masa depan bukan sesuatu hal yang bisa dijadikan mainan. Aku mau mandiri, Sco. Aku harap, kamu bisa nentuin kampus impian kamu sendiri, enggak ngikut ke mana aku pergi." Perkataan Virgo cukup keras, tersirat penolakan tegas di sana. Virgo melakukan semua itu demi kebaikan Scorpio dan keluarganya. Meskipun mungkin setelah ini, Scorpio akan mulai membencinya karena sikapnya yang terlihat arogan.
"Kamu ngomong kayak gini karena mama yang ngasih tau permasalahan tadi pagi. Iya 'kan?" desis Scorpio menahan amarah.
Virgo menggeleng. "Sama sekali enggak. Aku emang gak mau satu kampus lagi sama kamu. Aku bosan, aku pengen mandiri juga. Aku mau hidup bebas. Sudah cukup aku terkekang dari kecil sampe sekarang."
Scorpio menggeleng tidak percaya dengan ucapan Virgo. Bagaimana mungkin gadis itu sama sekali tidak mengharapkan kehadirannya. Bahkan secara tegas mengatakan bosan dengan kebersamaan mereka. Pemuda lantas berpikir, jika kedekatan intim mereka, sama sekali tidak berharga di mata Virgo. Scorpio merasa kecewa berkali lipat atas perkataan dan pemikiran Virgo.
"Jangan ikuti aku, Sco. Kita cuma sebatas sahabat. Sahabat bisa berkomunikasi lewat virtual, di mana pun dan kapan pun. Kita bukan pasangan."
Scorpio menggigit dinding mulutnya kuat bahkan telah berdarah. Rasa asin darah yang mengalir, diabaikan begitu saja. Hatinya jauh lebih sakit dan hancur. Virgo berhasil menamparnya dengan kenyataan jika mereka hanyalah sebatas sahabat dengan kata-kata tegas dan tanpa perasaan yang berarti. Scorpio menyadari jika dirinya hanya cinta sendirian, berharap sendirian. Pemuda itu mundur perlahan tanpa mengucapkan sepatah kata pun lalu melangkah pergi meninggalkan Virgo yang menatapnya nanar.