Unusual Romance

Unusual Romance
18 - Halusinasi



Happy happy, Bebs 🫢🏻


Semoga sehat dan bahagia selalu ❀️


Jangan lupa komen dan vote yah 😁


Happy reading πŸ–€


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Semua mata tertuju pada Virgo, Scorpio saat keduanya melangkahkan kaki di koridor sekolah menuju kelas. Keduanya sudah menyiapkan mental jika dipanggil oleh guru perihal keributan beberapa hari yang lalu bersama Leo. Virgo menatap sekeliling yang sedang memandangnya dengan tatapan mencemooh.


"Liat aja lurus ke depan. Gak usah lirik sana sini," kata Scorpio tanpa ekspresi. Aura dingin selalu terpancar dari pemuda tampan itu. Ketika masuk ke dalam lingkungan sekolah, sikap Scorpio berbeda dengan kesehariannya di rumah bersama keluarga dan juga Virgo.


"Kenapa semua orang ngeliat kita sinis banget?" tanya Virgo penasaran.


"Kenapa semua hal harus kamu pikirin? Gak perlu nebak-nebak pemikiran orang lain yang nantinya jadi beban otak kamu sendiri," ketus Scorpio.


Virgo mencebikkan bibir. Cemberut ketika mendapat omelan dari Scorpio. Akhirnya, Virgo menurut. Gadis itu melangkah lurus tanpa melihat ke kanan kiri mencari tahu apa yang terjadi.


Ketika sampai di dalam kelas, Pika, Dewi dan Desi segera menarik Virgo untuk bergosip bersamanya.


"Kamu tau gak?" Virgo segera menggeleng dan Pika berdecak kesal, tetapi Dewi membenarkan tindakan Virgo.


"Kamu gak boleh kesel, Pik, Virgo bener, dia jawab gak tau karena kamu belom ke inti topik pertanyaannya." Dewi memberikan penjelasan.


"Ya udah, tadi kan belom kelar emang nanyanya. Duh, iya deh, maaf, salah aku. Emang salah banget aku ngajakin Virgo gibah, gak satu frekuensi," keluh Pika sambil memijat dahinya yang mendadak pening.


Desi menyenggol lengan Pika agar gadis itu kembali fokus ke inti pergibahan mereka.


"Kamu tau gak kalo Leo mau nantangi Austin duel di luar sekolah. Dia mau ngambil alih kamu lagi," kata Pika dengan mata berapi-api mengatakannya.


Virgo mengerutkan dahi mendengar perkataan Pika. Gadis itu segera menoleh ke arah Scorpio yang sedang sibuk mengobrol dengan teman lainnya.


"Aku gak nyangka kalo Leo tipe cowok muka badak. Udah tau banyak salah, masih aja mau ngejer lagi terus ngajakin berantem pula. Dasar gak tau malu," sungut Desi.


Dewi mengangguk menyetujui. "Aku kira dia bakal ngajuin perpindahan sekolah karena malu banget aibnya dibongkar di depan umum, tapi dugaan aku meleset jauh banget. Dia gak ada rasa malu, malah makin menjadi-jadi," timpal Desi.


"Kamu dapet info itu dari mana?" tanya Virgo pada Pika.


Pika menghela napas berat. "Udah kesebar di grup cewek sekolah. Dari fans garis kerasnya Leo. Ya pantes sih, kamu gak akan tau soalnya kamu cuma punya grup kelas ini doang. Gak pernah gabung sama grup gibah," jelas Pika.


Virgo berdiri, beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju kelas Leo. Gadis itu akan bertanya dan berbicara langsung dengan mantan kekasihnya mengenai kebenaran kabar yang tersebar itu. Jika benar, Virgo tidak segan untuk melaporkannya ke pihak sekolah mengenai rencana perkelahiannya dengan Scorpio. Scorpio memandang heran ke arah Virgo yang diikuti oleh beberapa temannya berjalan cepat keluar kelas.


Semua mata tertuju pada Virgo yang berjalan tanpa ekspresi melewati semua orang yang ada di koridor melakukan aktivitas masing-masing. Kedua bola mata Virgo menangkap keberadaan Leo yang sedang asyik bercanda gurau bersama teman sekelasnya. Gadis itu dari ambang pintu memanggil Leo.


Pemuda yang dipanggil menoleh dan terkejut saat melihat gadis pujaan hatinya mendatanginya. Leo bergegas mendekati Virgo dengan senyum lebar seolah tidak terjadi apa pun pada mereka berdua.


"Hai, kamu ngapain ke sini? Kangen sama aku?" sapa Leo dengan nada gurau.


Virgo memasang ekspresi datar, menatap lurus Leo mengabaikan sapaan ramah tamah pemuda itu.


"Kita harus bicara." Virgo berbalik dan melangkah, Leo dari belakang mengekor.


Kini keduanya berdiri berhadapan di balik tembok kelas paling ujung.


"Apa berita yang beredar itu benar? Lo mau ngajakin Austin berantem di luar sekolah?" Tanpa basa-basi Virgo mengajukan pertanyaan.


Leo terkekeh lalu berusaha untuk mengambil tangan Virgo untuk ia genggam, tetapi segera ditepis oleh gadis itu.


"Jawab pertanyaan gue!" geram Virgo.


"Dia udah nonjok gue dua kali kemarin. Mana mungkin gue diem aja. Tentu aja, gue harus bales perlakuannya." Jawaban Leo membuat Virgo tercengang. Gadis itu sejenak kehilangan kata-kata, tidak habis pikir dengan cara berpikir Leo.


"Apa otak lo masih waras?"


"Leoniza Samuel!"


Virgo berdiri dengan gemetaran, sekujur tubuhnya keluar keringat dingin. Gadis itu menatap deretan orang yang ada di belakang tubuh Leo. Beberapa guru, teman sekelas Virgo dan juga Scorpio berdiri menatapnya.


"Kalian semua, ikut ke ruangan saya!" perintah wakil kepala sekolah.


Leo menunduk dan berjalan mengekor di belakang guru-guru yang mendatanginya. Virgo sendiri, ditatih oleh beberapa teman sekelasnya diikuti oleh Scorpio di belakangnya. Gadis itu sungguh tidak berharap jika masalah pribadinya bisa akan membesar seperti ini dan melibatkan pihak sekolah.


Semuanya berbaris berjajar sambil menunduk. Tatapan tajam wakil kepala sekolah diarahkan pada semua murid yang ada di dalam ruangan itu.


"Bisa jelaskan duduk permasalahannya pada saya?" tanya Bu Susi, wakil kepala sekolah.


Tidak ada yang berani menjawab. Namun, setelah hening lima menit, Virgo bergerak maju untuk memberikan penjelasan. Leo, Scorpio, Pika, Desi dan Dewi terkejut melihat keberanian Virgo.


"Maaf, Bu, sebelumnya atas keributan ini." Virgo dengan sopan meminta maaf kepada bu Susi.


"Jelaskan pada saya."


"Saya mendengar kabar yang beredar jika Leo akan mengajak Austin untuk berkelahi di luar sekolah. Saya mencoba untuk mencegah hal itu terjadi dengan memastikan kebenaran kabar tersebut pada Leo langsung," jelas Virgo jujur.


"Lalu? Apa kabar itu benar?"


Virgo menoleh Leo yang menunduk dalam. "Jika sesuai dengan jawaban Leo, maka hal itu benar adanya, Bu. Silakan ibu konfirmasi ulang pada yang bersangkutan."


Scorpio mengepalkan kedua telapak tangannya mendengar penjelasan Virgo. Lagi-lagi, gadis itu tidak mengatakan apa pun padanya dan berusaha melindunginya. Scorpio melirik sinis ke arah Leo yang bungkam bergeming.


"Bagaimana Leo? Apa benar yang dikatakan Virgo?" Bu Susi mencoba memastikan.


Leo mengangguk tanpa ingin membuka mulutnya.


"Kamu sudah merasa jadi jagoan? Kamu tahu jika tindakanmu itu bisa berakibat fatal? Apalagi saat ini kamu sudah duduk di kelas XII yang sebentar lagi, dalam hitungan bulan akan ujian kelulusan?" Bu Susi mengamati Leo dengan saksama.


"Apa alasan kamu ingin mengajak Austin berkelahi?" tanya bu Susi dengan nada cukup tegas. Bu Susi melirik Scorpio sebelum gantian mencecar pemuda itu .


Leo diam, memilih menutup mulutnya rapat. Bu Susi menaikkan sebelah alis menatap Leo.


"Kenapa kamu diam saja? Mulut kamu sudah tidak berfungsi lagi?" sindir bu Susi.


"Kalian merebutkan Virgo?" Scorpio dan Leo menunduk bersamaan. Pandangan bu Susi beralih pada Virgo.


"Jadi, sepertinya benar tebakan saya jika masalah ini dipicu karena seorang gadis." Bu Susi menggeleng lalu menghela napas. Bukan hal yang mengherankan lagi bagi guru itu mendapati permasalahan tentang percintaan remaja. Hampir 50% perkelahian di sekolah disebabkan karena percintaan.


"Saya sudah melihat CCTV kejadian beberapa hari yang lalu. Kalian bertiga saya akan berikan skorsing selama tiga hari dan masuk ke dalam daftar buku hitam sekolah." Bu Susi menunjuk Virgo, Scorpio dan Leo berurutan.


Virgo dan Scorpio tampak pasrah dengan hukuman tersebut, sedangkan Leo maju selangkah memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya memandang guru di depannya.


"Hukumannya cukup berikan pada saya saja, Bu. Saya yang memulai semua permasalahan itu. Austin memukul saya karena tindakan saya memprovokasinya. Virgo juga tidak bersalah karena dia hanya ingin membela diri karena rumor yang beredar selalu memojokannya, dia dibully karena perbuatan saya. Jadi, saya lebih pantas untuk mendapatkan hukuman itu, bukan mereka." Leo menjabarkan panjang lebar pemikirannya.


Bu Susi tersenyum tipis mendengar perkataan Leo. "Kamu yakin dengan ucapan kamu?" Leo mengangguk tegas. "Kamu rela jika Austin dan Virgo tidak mendapatkan hukuman apa pun?" Leo kembali mengangguk.


"Baiklah. Saya tidak akan mengorek informasi lebih lanjut dari permasalahan ini. Saya hanya ingin mengingatkan jika masa depan kalian masih panjang. Tingkah laku kalian hari ini, bisa mempengaruhi kehidupan kalian di masa yang akan datang, jika tidak cepat diperbaiki. Saya ingin, kalian semua berdamai, berjanji tidak akan melakukan keributan lagi, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah." Bu Susi mempersilakan mereka semua berjabat tangan sebagai tanda damai.


Hukuman penuh hanya diberikan pada Leo, sedangkan Virgo dan Austin hanya mendapat skorsing selama 1 hari dan namanya tidak masuk dalam daftar buku hitam murid bermasalah.


Saat keluar ruangan, Leo menghampiri Scorpio.


"Jangan merasa di atas angin. Gue bakal rebut Virgo lagi. Mungkin gak sekarang, tapi gue bakal berusaha buat dia kembali percaya sama gue." desis Leo keras kepala dengan tekadnya.


Scorpio tersenyum tipis. "Selamat berhalu ria. Selama gue masih ada, gue gak akan ngasih lo celah sedikit pun. Harus lo inget di dalam otak lo yang penuh halusinasi itu, kalo Virgonia Melody milik Austin Scorpio!" Scorpio menepuk pundak Leo dan berjalan meninggalkan Leo yang sedang menahan emosi mendengar pengakuan tak terduga dari Scorpio.


πŸ–€πŸ–€πŸ–€