
Annyeong!
Hallow!
Jangan lupa komen komen komen!
Voteeeeeee yahπ«Άπ»
Ailafyuuu
Mari kita beruwu-uwu dahulu sebelum uwu uwu lagi π
Happy Reading
π€π€π€
Secara alamiah, Virgo dan Scorpio berbaikan. Scorpio sengaja memilih untuk tidak mengorek lebih lanjut bagaimana ke-toxic-an Leo pada Virgo. Dirinya yakin jika nanti saat di perjalanan pulang atau di rumah Virgo akan menceritakannya sendiri. Bagi Scorpio, saat di sekolah seperti ini, dirinya harus membuat Virgo senang terlebih dahulu. Melupakan kesedihan yang baru saja gadis itu rasakan.
Tatapan terkejut, senang sekaligus takjub diberikan oleh teman-teman sekelas mereka saat Scorpio dan Virgo berjalan bersisian bersama-sama. Hampir satu bulan terakhir ini, Virgo dan Scorpio tidak berbicara satu sama lain di kelas maupun di lingkungan sekolah.
Scorpio memberi kode pada Pika, Dewi dan Desi semua baik-baik saja dengan acungan jempolnya. Virgo kembali pindah tempat duduk bersama Scorpio. Tusukan pena di belakang punggung Scorpio membuat pemuda itu menoleh.
"Kalo akur gini 'kan enak!" puji Aris, teman main PSP Scorpio di kelas.
Scorpio hanya diam tidak menanggapi, lalu tusukan kedua membuat pemuda itu kembali menoleh. Aris dengan Wawan berbisik, "Kenapa gak dipacari aja sih?!"
Scorpio dan Virgo menjawab bersamaan. "Sinting! Enggak!" Pasangan sahabat itu saling menatap satu sama lain dan kembali fokus pada buku di hadapan mereka.
Aris dan Wawan terkekeh geli dan melakukan high five.
"Kompak amat!" sindir Aris.
"Biasanya jodoh!" goda Wawan.
Scorpio diam-diam mengaamiinkan godaan Wawan. Pemuda itu mengulum senyum saat mendengarnya, sedangkan Virgo hanya memberikan dengkusan. Keduanya kembali fokus mengikuti pelajaran. Pada akhir kelas, Desi meminjamkan catatan pada Virgo untuk mata pelajaran yang sempat tertinggal tadi karena dirinya membolos.
Virgo memanjangkan leher sambil mengemasi peralatan alat tulisnya. "Kamu cari siapa? Masih ngarep Leo datang ke sini buat ngajakin kamu balik bareng?" sungut Scorpio dengan ekspresi wajah tidak suka.
Virgo berdecak dan cemberut. "Dih, ogah! Siapa juga masih ngarep dia. Gak sudi!" elak Virgo.
"Gak sudi-gak sudi juga dia mantan PA-CAR kamu!" sindir Scorpio dengan nada kesal.
Virgo mencebikkan bibir. "Kebiasaan banget! Ngungkit kesalahan orang mulu. Kemarin itu cuma gak sengaja tau!" balas Virgo tidak terima di pojokkan.
Scorpio mendorong kepala Virgo dengan telunjuk kanannya. "Iyain aja, gak sengaja sampe satu bulan. Hangout terus, foto berdua mulu, gandengan tangan sana sini, cium-ciuman pula. Bener-bener gak sengaja yang disengaja." Scorpio semakin kesal karena jawaban Virgo.
Virgo memajukan bibirnya. Cemberut. "Ya udah sih, anggap aja kemarin lagi eror otak aku, mangkanya gak bisa bedain mana yang siluman sama yang malaikat. Semuanya salah aku. Udah jangan ngatain lagi." protes Virgo.
"Siapa yang siluman? Siapa yang malaikat?" pancing Scorpio. Virgo melirik sekilas lalu mengubah arah duduk menjadi menghadap Scorpio.
Virgo menaruh kedua tangannya pada sisi kanan dan kiri pipi Scorpio dan menatapnya lekat. "Silumannya Leo. Malaikat baik hati, tidak sombong, rajin menabung, cakep, ya siapa lagi kalo bukan Austin Scorpio, sahabat kesayangan Virgonia Melody." Scorpio mengulum senyum senang, dan Virgo memutar bola mata kesal.
"Gimana udah seneng sekarang? Puas?" tanya Virgo dengan mata melotot dan Scorpio mengangguk bersemangat.
"Ya udah, ayo pulang! Nanti Mira kelamaan nunggu kamu di parkiran." Air muka Scorpio mendadak kembali keruh saat mendengar Virgo menyebut nama Mira. Sudah bisa dipastikan jika gadis itu belum tahu atau tidak menyadari jika dirinya sudah lama putus dengan Mira.
Scorpio sengaja menabrak tubuh Virgo yang berjalan lebih dulu di depannya, membuat tubuh gadis itu oleng. Virgo menganga melihat Scorpio yang berjalan cepat, meninggalkannya tanpa berucap apa pun.
"Ih, salah makan obat apa sih? Sebentar-bentar happy, trus gak lama ngambek. Dasar aneh!" gerutu Virgo berjalan menyusul Scorpio dengan sedikit berlari.
Keduanya sudah duduk manis di dalam mobil. Virgo melirik Scorpio yang masih menekuk wajah, marah tanpa sebab pada Virgo. "Kamu kenapa sih? Aku salah apa?" tanya Virgo kebingungan.
Scorpio tetap bungkam. Virgo menarik ujung baju seragam Scorpio dan merengek agar pemuda itu membuka mulut menjawab pertanyaannya. "Ih, Austin Scorpio! Aku salah apa sih? Kenapa diemin aku. Gak cukup apa sebulan diem-dieman," rajuk Virgo.
Virgo cemberut sambil bersedekap tangan di depan dada. Gadis itu melirik Scorpio yang tetap tenang dan diam mengendarai mobilnya. "Scorpio ganteng, aku minta maaf yah kalo ada salah. Maafin yah," bujuk Virgo sambil menggoyang-goyangkan lengan Scorpio.
"Aku udah lama putus sama Mira. Jadi, gak usah sebut nama dia lagi." Scorpio berkata tanpa ekspresi dan menoleh ke arah Virgo.
"Hah?! Sejak kapan? Kok aku gak tau?" Scorpio melirik sinis. Virgo kembali mengguncang lengan Scorpio, memaksa pemuda itu untuk menjawab pertanyaannya.
"Nanti aja di rumah. Laper! Gak ada tenaga buat ngomong," jawab Scorpio membuat Virgo berdecak kesal.
π€π€π€
Mama Devi melihat Scorpio bergegas berganti pakaian dan merapikan diri lantas mengerutkan dahi.
"Mau kencan?" tanya Mama Devi penasaran.
Scorpio menaikkan sebelah alis menatap mamanya bingung. "Kencan sama siapa?" Scorpio balik bertanya.
Mama Devi berdecak kesal. "Lah, kamu itu rapi amat, mana pake minyak wangi sampe ke sini aromanya. Mau kencan 'kan? Siapa pacar kamu sekarang? Emang punya pacar?" Rentetan pertanyaan penuh rasa ingin tahu diberikan mama Devi pada Scorpio.
"Gak ada yang mau kencan. Aku mau ke rumah Vi. Mau numpang makan," jawab Scorpio begitu santai.
Raut wajah Devi mendadak semringah. "Oh, udah baikan sama Vi ternyata. Pantes mulai gak betah di rumah lagi."
"Emang Vi gak sibuk lagi sama pacarnya? Kok bisa main sama kamu sekarang?" Mama Devi mulai mengorek informasi.
Scorpio menuruni anak tangga dan berdiri di depan mamanya dengan wajah tersenyum lebar. "Dia udah putus!"
Kedua bola mata mama Devi tampak berbinar mendengar kata-kata Scorpio. "Ayo! Kamu gercep tembak. Nanti ketikung sama orang lain lagi." Mama Devi mendorong Scorpio antusias membuat anak sulungnya itu mengerutkan dahi tidak percaya.
"Apaan sih mama. Tembak-tembak, tembak apaan? Pake senapan?Β Suka ngaco," elak Scorpio dengan wajah tersipu.
Mama Devi memukul lengan Scorpio cukup kencang membuat pemuda itu meringis kesakitan. "Gak usah pura-pura bego deh. Gak usah ngeles banyak alasan. Gak usah juga pura-pura gak paham. Mau berapa lama lagi kamu nyembunyiin perasaan kamu?"
"Aku gak ngerti mama ngomong apaan. Jangan kebanyakan ngaco deh." Scorpio mencium pipi kanan mamanya dan berjalan pergi agar mamanya tidak berbicara yang menjurus lagi.
π€π€π€
Virgo dan Scorpio baru saja selesai makan sore bersama. Hari ini mereka libur les dan memilih untuk menghabiskan waktu bersantai di rumah, tidak ingin pergi ke mana-mana. Keduanya kini duduk di Gazebo halaman belakang rumah Virgo.
Virgo menyandarkan kepala di bahu Scorpio, sedangkan pemuda itu menyandarkan punggung di pagaran Gazebo sambil memainkan PSP di tangannya. Virgo menyuapkan potongan buah melon ke dalam mulut Scorpio.
"Jadi, kenapa kamu putus sama Mira? Kamu mau cari cewek yang modelan gimana lagi sih? Padahal Mira udah cantik, masuk kriteria cewek idaman." Virgo kembali membahas perihal putusnya hubungan Scorpio dan Mira.
Scorpio melirik sekilas ke arah Virgo dan menjawab dalam batinnya. 'Cewek kayak kamu!'
"Gak cocok!" Jawaban berbeda keluar dari mulut pemuda itu.
Virgo mendengkus. "Gak ada alasan lain apa, yang lebih kreatif. Masa setiap putus, alasannya selalu aja gak cocok," rutuk Virgo.
Scorpio mematikan PSP dan meletakkan di samping tubuhnya. Pemuda itu meraih kedua tangan Virgo dan memperhatikan lekat-lekat semua luka yang ada di sana.
"Sakit gak?" tanya Scorpio sambil mengelus lembut dengan jempolnya salah satu bekas lebam membiru di pergelangan tangan Virgo. Gadis itu menggeleng dan hendak menarik tangannya dari pegangan Scorpio, dan tidak berhasil.
Scorpio mengoleskan salep yang sudah ia bawa dari rumahnya untuk mengobati lebam Virgo. "Aku nyesel gak nonjok dia tadi siang," sesal Scorpio.
"Gak perlu kotori tangan kamu buat dia. Yang terpenting sekarang aku udah lepas dari orang toxic kayak dia." Virgo mencoba menenangkan sahabatnya yang tampak kesal dan juga marah.
Virgo menyandarkan kembali kepala di bahu Scorpio dan memeluk lengan pemuda itu. "Foto-foto liburan kita udah diapus semua sama Leo. Aku belum sempet nge-back up datanya, jadi gak ada sisa lagi sekarang. Aku gak nyangka kalo dia separah itu posesifnya." Curhat Virgo.
"Ada foto kita yang di pantai, pas sunset itu bagus banget. Siluet muka kamu juga kece banget, malah dihapus juga gak bersisa. Ngeselin banget!" keluh Virgo dengan wajah cemberut.
Scorpio mencubit pipi Virgo gemas. "Weekend kita pergi liburan lagi. Aku bakal minta beliin mama kamera baru buat kita foto-foto." Virgo menegakkan tubuh mendengar ucapan Scorpio.
"Serius? Kamu gak bohong 'kan?" tanya Virgo meyakinkan. Scorpio mengangguk sambil tersenyum.
"Serius! Janji, gak bohong." Scorpio mengangkat jari telunjuk dan tengah bersamaan membentuk huruf V.
Virgo secara spontan memeluk Scorpio dan mencium pipi pemuda itu dengan wajah bahagia.
π€π€π€