
Saat Grey hendak membuka pintu, tiba- tiba ....
"Yo! Pakabar ege? " Sapa Alfin dari depannya dengan wajah tololnya.
"Eh? Elu ngapain di sini? Belom puas ngeledekin guenya? " Tanya Grey memutar bola matanya.
" Elah gitu aja ngambek. "
" Dih. Lagian lu ngapain sih di mari?"
"Eh sableng gue itu disuruh mak lo nemenin lo SHOPING. Oke? "
" Lah kok?"
"Ya katanya takut lo mati keinjek, ya kan? Lagian gue mau mastiin lo gak beli stick ps yang LIMITED EDITION ."
"Kampret. Itu mah bukan limited edition atuh. Kalo yang gituan mah mahal koplak. Duit gue cuma 2 juta, 2 JUTA woy. Mana cukup buat beli yang gituan."
"Oh. Jalan yuk!"
"Motor gue aja."
"Gue bawa mobil, ege."
"Oh."
Sesampainya di mall XXX....
"Beb, gue parkir dulu."
"Paan sih bubabebeb gitu. Jijik gue."
"Yah lagian lu dari tadi cemberut aja."
"Gue badmood."
"Palingan lo lagi pms kan? Ya kan?"
"Dengkul lo pms! Gue stress, cebol."
"Hah? Why?"
"Stress karena diikutin makhluk yang tak kasat mata."
"Masa sih?"
"Iyah. Sekarang aja lagi duduk disamping gue."
"Kampret. Itu mah gue, ege."
"Noh yang bilang bukan gue ya. Hehe."
"Aish .... "
"Fin fin, stop!" Teriak Grey refleks menepuk pundak Alfin dengan keras.
"Apaan sih bikin kaget setengah mati aja? Kalo nabrak orang gimana?"
"Fin liat tuh!" Tunjuk Grey ke arah jendela.
"Apaan sih?" Gumam Alfin melihat ke arah yang ditunjuk Grey.
"Abang es cendol?" Lanjut Alfin.
"Bukan, cebol. Noh itu gebetan lo bukan?" Kesal Grey menaikan suarnya.
"Nia." Gumam Alfin.
"Eh dia ngapain di situ ya?" Tanya Grey penasaran melihat Nia sedang terduduk di kursi dengan wajah pucat dan matanya yang sembab seperti habis nangis.
"Ya lagi shoping lah, dasar ege."
"Hadeuh, lu mikir pake otak dong dasar cebol! Otak lu ditaruh di dengkul ya? Noh liat! Kayaknya dia lagi nangis tuh. Buruan samperin gih! Ini kesempatan bagus buat lo ngedeketin dia. Biar gue yang markirin mobilnya." Ucap Grey menjitak kepala Alfin.
"**** sakit." Ucap Alfin mengelus-elus kepalanya yang dijitak Grey.
"Lol." Sahut Grey menjulurkan lidahnya.
"Ck."
"Hai Nia! Kamu kenapa? " Tanya Alfin dengan ragu.
" Oh eh? Kak Alfin. Mari duduk kak," sahut Nia menyeka air matanya dan beranjak dari tempat duduknya.
"Eh gak apa-apa kok, kita duduk barengan aja. Dan-- ya fak usah terlalu formal. Kita kan di luar sekolah." Alfin terduduk di bangku.
"Benarkah? Terima kasih, kak."
"Iya sama-sama."
"Em-- ngomong-ngomong, kakak lagi ngapain yah di sini? Lagi belanja? Tanya Nia dengan perasaan canggungnya.
"Oh, tadi aku nemenin temen ke sini. Taunya eh ada kamu yang lagi sedih, terus aku samperin karena takut ada apa-apa." Jawab Alfin dengan nada lebaynya.
"Oh gitu ya."
Canggung ... Canggung ....
Drtt drtt .... Handphone Alfin berdering.
"Maaf ya, aku permisi sebentar."
" Ah iya kak."
Alfin berjalan menjauhi Nia yang sedang terduduk di kursi besi tersebut.
"Grey...." Gumam Alfin menjawab telponnya.
"Oy udah belom PDKTnya? Gue mau balik nih." Ucap Grey dari seberang telpon.
"Lah kok cepet amat, emang udah ya?"
"Yah gue jadi ogah deh ke sananya, gue cuma beli es cendol doang nih jadinya. Gue juga beliin buat lo."
"Lah kok?"
"Lah kok-lah kok. Mau balik kagak? Atau gue tinggalin nih? "
" **** itu mobil gue yang lo bawa yah. Gue yang punyanya masa mau ditinggal? Oh atau lo cemburu yah ama kedeketan gue sama Nia?"
"Cih. Lo pikir gue demen apa ama lo? Mimpi! Ya udah lah gue pulang duluan, entar lo baliknya make ojol aja."
"Eh-eh bentar kunyuk. Gue ke sana deh. Please jangan tinggalin gue di sini, gue males mesen ojolnya."
"Tunggu! Itu gebetan lo kenapa, Fin? "
" Enggak tau tuh."
"Dasar idiot! Tanyain gih! "
" Lah katanya mau pulang sekarang, kok malah nyuruh gue nanya-nanya segala? Emang gue detektif Connan yah?"
"Ah males dah gue ribut ama lo. Sakarepmu lah mau ditanyain ato kagak. Gue tungguin ma menit yah. Soalnya gue mau berak, udah gak tahan."
"Dasar gak tau malu lo. "
" Iyah muka gue udah tebel kalo ngehadepin lo."
"Ya udah ah. Bye."
Tut tut.
Alfin pun segera beranjak dari tempat ia berdiri dan segera menghampiri Nia.
"Duh gue tanyain gak ya? Ah udah deh gak usah." Batinnya.
"Em Nia, aku pulang duluan ya. Maaf gak bisa nganterin kamu."
"Iya kak gak papa."
"Kalo gitu duluan ya, Nia. Bye." Pamit Alfin meninggalkan Nia.
"Ya kak. Hati-hati di jalan."
"Yeah."