Unknown

Unknown
Bagian 10 Kontrak Darah



Cress!


Darah dari tangan putri Kenanga menetes tepat mengenai cangkan telur bagian atasnya. Tiba-tiba ketujuh pillar tersebut memancarkan cahaya dengan warna berbeda. Mereka mengarahkan cahaya pada telur besar yang menjadi titik pusat ritual tersebut, yaitu ritual kontrak darah dengan hewan spiritual. Hewan? Tapi ini ... telur? Kok bisa?


Kontrak darah yang dilakukan oleh putri Kenanga adalah kontrak darah bersama hewan spiritual tingkat legenda. Karena pada dasarnya induk dari hewan spritual berjenis legenda, akan pergi meninggalkan anaknya setelah selesai berkembang biak. Karena semua hewan spiritual legenda akan mudah ditaklukan jika sedang berada dalam fase tersebut. Ya mau tidak mau induk harus bisa pergi meninggalkan keturunannya dalam bentuk telur.


Telur tersebut digunakan sebagai pelindung bagi sesuatu di dalamnya, material cangkang telur yang membungkus bayi hewan spiritual di dalamnya yang digunakan sang induk untuk membuat pelindung berwujud telur itu berasal dari energi spritual miliknya digabung dengan energi spiritual sang jantan.


Krekk! Krekk!


Sesaat kemudian, cangkang telur itu retak membentuk celah dan menjalar ke seluruh permukaannya. Dan ....


Ciap! Ciap!


"He?" Kenanga dibuat kaku seketika mendapati seekor anak ayam. Dia melirikkan mata ke arah orang tua itu meminta penjelasan.


Menyadari dirinya tengah dimintai penjelasan, Mpu Gong juga merasakan hal yang sama bingungnya dengan putri Kenanga. Bibirnya tertarik ke atas menyembunyikan kebingungan.


"Ekhem - - - " orang tua itu berdehem melayangkan pandangan pada hewan kecil di hadapannya." Kau bercanda?" Tanya Kenanga membuka keheningan.


Tangan orang tua itu memainkan jenggot putih panjangnya, demi kerang! Kenapa bisa begini? Padahal mantranya sama, tepat, dan dijamin akurat berkualitas nomor satu se-ibu kota, what's happening? Dia berucap dalam hatinya sesekali mengangguk anggun.


Kenanga yang terus menatapnya ikut bingung dengan orang tua di hadapannya.


"Ini si tua kenapa mangut-mangut gak jelas? Kerasukan setan?" dirinya membatin.


"Hei tua bangka!" Panggilnya, namun orang tua yang disebut Mpu Gong itu sama sekali tak menggubrisnya.


"Tua!"


"Bangka,"


"Mpu,"


"Gong."


"Woy!" Untuk kesekian kalinya dia memanggil orang tua di hadapannya. Hening tidak ada sahutan darinya hanya suara anak ayam yang terus berciap dari dalam cangkang telur besar itu.


Putri Kenanga turun dari atas batu besar menghampiri orang tua tersebut dan menepuk bahu Mpu Gong yang sepertinya sedang asyik dengan pikirannya.


"Woy tua!" Teriak putri Kenanga tepat di samping telinga orang tua itu sehingga membuatnya terkejut hampir terjengkang ke belakang.


"Dasar bocah tengik ga da akhlak!" Ucap Mpu Gong bersungut-sungut, "aku itu orang tua bambang!" lanjutnya lagi menoyor kening Kenanga dengan cukup kuat.


Tak terima diperlakukan begitu, Kenanga balik mencubit tangan orang tua itu dengan keras sehingga Mpu Gong mau tak mau harus mengalah. "Dasar manusia hina gak ada akhlak pada orang tua." Runtuk Mpu Gong dalam hatinya dengan kesal.


Putri Kenanga kembali melirikkan matanya pada anak ayam itu. Warnanya cerah bak pelangi, sepertinya ini anak ayam dipilox dulu oleh induknya. Hm sepertinya ini benar. Ucapnya dalam hati.


"Hei tua apa maksud dari anak ayam ini? Katanya hewan legenda, tapi ini ... wahahaha ini anak ayam saja di sebut hewan legenda. Kocak." Kenanga tak henti - hentinya tertawa mengejek ke arah Mpu Gong.


Sementara Mpu Gong dibuat terkesima melihat hal yang istimewa tepat di belakang tubuh Kenanga.


Dia menyaksikan anak ayam itu berubah menjadi besar besar dan BESSARRR!


"N-nak!" Bibir orang tua itu tergagap-gagap saat memanggil Kenanga. Jari telunjuknya terus mengarah ke arah belakang Kenanga.


"Apa?" Kenanga tak kunjung berbalik, masih mencerna ucapan orang tua itu karena nadanya sangatlah rendah sangat sulit di dengar.


"Si tua ngomong apa?" Tanyanya dalam hati.


ROARR!


(jangan kira itu suara macan atau sesuatu semacamnya).


Mendengar auman tersebut sontak membuat putri Kenanga membalikkan badan. "Huwaa!" Teriaknya membelalakkan mata pada sosok di depannya.


"Ini ... JANGAN MAKAN AKU! DAGINGKU TIPIS KURUS KERING KRIUK KRIUK LEBIH BAIK MAKAN SI TUA ITU!" Dia berteriak hampir ngompol di celana. Bagaimana tidak, di hadapannya sekarang ada sepasang mata besar yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam setajam silet.


Tubuh Kenanga mulai bergetar bukan karena ketakutan, tapi dia kaget. Seumur-umur dia belum pernah melihat mata yang begitu besar sangat besar.


"T-tua .... " Bisik Kenanga tak mampu ngalihkan pandangannya dari mata besar itu.


" Ini setan dari mana? Jangan bilang dia - - - "


" Itu benar, " orang tua itu menjeda ucapannya mrngambil nafas dalam-dalam.


"Si anak ayam! Selamat anda mendapatkan item LEGENDA!" Sambungnya cerah ceria menampakkan deretan giginya yang putih bersih tanpa noda kinclong - clong bak iklan pepsoden.


"NA-NI?!"


* * *


"Hei tua! Kira - kira untuk berapa minggu kita jadikan si ayam stok makanan?"


"Hm, kira-kira 3 sampai 5 minggu. Tergantung bagaimana kau mengolahnya."


"Hei jangan ngawur ya! Aku hanya menyuruhmu untuk menggendongku saja, jangan cerewet sepeeti mak lampir."


"Tapi kau berat."


"Jangan banyak cingcong atau dirimu yang akan ku cincang!"


"Kakiku sakit." Ringisnya.


"Jangan banyak ngeluh! Atau aku beri hukuman yang lebih kejam dari ini."


"Apa?"


"Mencabuti kumis nagamu untuk dijadikan cambuk kuda."


"Kau kejam sekali, tuan."


"Kau memperbudakku."


"Kau memang budakku dan terlahir untuk jadi budakku."


" Kau - - - "


" Shut up! " Bentak Kenanga sudah tak tahan meladeni hewan spiritualnya itu yang terus mengoceh tanpa henti.


" Huhuhu! Kau jahat! Jahat! Jahat! Mama ... hua ...."


"Lah?"


"Tua, kenapa bocah ingusan ini menangis?"


"Tubuhnya memang besar dan terlihat perkasa, namun hatinya masih seperti bocah. Itu biasa karena efek terlalu lama terkurung dalam cangkang."


"Jadi?"


"Kau uruslah dia!"


"Bagaimana?"


"Terserah kau saja. Anggaplah itu adikmu,"


"Tidak mau! Dia terlalu cengeng untuk jadi adikku."


"Heh. Anggaplah anakmu!"


"Apa?! Enak saja! Dia terlalu lembek untuk jadi anakku."


"Yasudah pikirkan sendiri saja." Mpu Gong berjalan mendahului mereka mengangkat tangannya kemudian menjentikkan jari.


Ctak!


Wushh.


Bukan sulap bukan sihir, secara tiba-tiba hewan spiritual miliknya muncul secara mendadak dengan wujud manusia.


"Ayo!" Ajaknya kemudian naik ke dalam gendongan.


"Siapa yang sampai duluan di bawah sana akan mendapatkan makan gratis selama seminggu." Ucapnya langsung dibawa lari oleh hewan spritual berwujud manusia itu.


"Eh? Kau curang." Teriak Kenanga dari kejauhan.


Sesaat kemudian ....


" Hah hah, haus sekali." Ucap Kenanga dengan peluh di keningnya.


"Kau kalah." Ucap Mpu Gong mengibaskan rambut panjangnya yang penuh uban.


"Semua ini karena kau terlalu berat." Ucap Kenanga menimpuk kepala hewan spiritualnya.


Pasalnya dia harus berlari dari atas bukit sambil menggendong hewan spiritualnya yang lemah gemulai itu.


"Aku begitu lemah dengan tubuh ini."


 


\*


 


Oke terima kasih. Jangan lupa STAYHEALTHY di rumah aja jangan pada bandel.


Oya, kalo ada yang gak ngerti sama jalan ceritanya bodo amatin aja biar cepet. Sekian terima ampau. Hehe.