Unknown

Unknown
Bagian 17 Titah Raja



**Hai kakak, semoga suka ceritanya hehe πŸ˜†


Happy Reading !! 😊**


Hening menjalar ke seisi ruangan, suasana canggung ini begitu mengerikan pikirnya.


Sesaat sebelumnya ....


"Saya Patih, orang yang dianggap sebagai seorang gay olehmu."


"---terus apa peduliku?"


"Saat saya tertangkap basah saat menindih Yang Mulia pangeran kedua."


"---hah? Terus? masa bodo denganmu. Kenapa aku harus mengurusi aibmu."


"Dan anda---" Kenanga memotong ucapannya.


Kenanga berucap dengan malas. "Oke-oke aku sudah mengingat anda sekarang. Anda bernama Patih dan di masa lalu aku memergokimu saat sedang menindih Yang Mulia pangeran kemudian aku salah paham denganmu dan mengatakan kamu dan Yamg Mulia pangeran seorang gay." Jelas Kenanga seakan benar-benar mengingatnya, padahal dia mengetahui itu masih dari orang di hadapannya.


Aku memang sangat pintar menyimpulkan sesuatu. Batinnya menepuk dada dengan bangga.


"Sepertinya anda sudah ingat." Kenanga membalasnya dengan sebuah anggukan malas.


"Kau bilang anda membawa surat titah dari baginda raja?"


"Iya, ini." Orang tersebut menyodorkan sebuah gulungan berukuran kecil tapi dilihat dari diameternya pasti itu surat yang lumayan panjang.


"Terima kas---" Lagi-lagi ucapan Kenanga terpotong saat manusia bernama Patih itu dengan sekilas kabur dari pandangannya.


"Dasar manusia tak beretika!" umpatnya dalam hati.


Tanpa disadari olehnya sebuah rombongan pelayan sudah menghampirinya. "Ndoro putri!" panggil seseorang.


"Dari mana saja kau Ndoro? Kami mengkhawatirkanmu." Mbok Minah berkata dengan cemas.


"Kami sudah mencarimu dari pagi, mengapa kau bisa menghilang begitu saja dari pengawasan kami." Lanjutnya.


"Kemana saja kau seharian ini? Kau sudah sangat keluyuran pulang petang sekali. Dan kembali membawa seorang lelaki tampan. Hiks." Mbok Minah berkata seperti sedang menceramahi anaknya saja. Kenanga ingin jungkir balik menangani kepalanya yang pusing diterjang banyak pertanyaan dari mulut mbok Minah.


Kenanga menggaruk tengkuknya yang tsama sekali tidak gatal. "Ahaha baik-baik aku akan menjelaskannya di dalam." Kenanga berjalan meninggalkan Mbok Minah dan beberapa pelayan masuk ke kediamannya. Pikirannya benar-benar dibuat pusing. Dia kira ini sedang wawancara ya? Konyol sekali. The Power of Lambe Emak.


πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ (monyet sebagai penyekat alur hahaha πŸ˜†)


Kenanga duduk berdampingan bersama si ayam di bibir peraduannya, sementara Mbok Minah dan beberapa pelayan muda berdiri menghadap Kenanga.


".... "


" Ndoro ...." Lirih Mbok Minah tak sabar diberikan penjelasan. Meskipun hanya seorang pelayan untuk nonanya, tapi hatinya benar-benar menganggap Kenanga sebagai anaknya sendiri.


Kenanga memegang tangan Mbok Minah, dia benar-benar keren saat melakukan akting memasang wajah teduh. Tolong seseorang beri dia penghargaan sebagai juara menenangkan emak-emak yang sedang khawatir anaknya terpeleset masuk ke dalam kubangan air got.


"Mbok, Kenanga akan jelaskan. Mbok jangan khawatir." Lirih Kenanga dengan suara lembut.


Namun ucapan berikutnya dia sedikit ragu mengatakannya. "Em .... Mbok ... Bisakah kita membicarakannya hanya enam mata - - - "


Mbok Minah mengganggukan kepalanya. "Baiklah ." Jawab Mbok Minah cepat, padahal dalam benaknya dia mengatakan mengapa nonanya ini terasa sangat sungkan kepadanya. Tidak biasanya dia bersikap begini.


Kenanga menghela nafas panjang. " Oke. Tolong tinggalkan kami bertiga!" Dia berucap mengibaskan tangan kanannya mengintruksikan pelayan lainnya untuk pergi.


"Baik putri." Balas mereka serempak lalu meninggalkan mereka tanpa suara.


**Jangan lupa buat tinggalin jejaknya πŸ˜‰


Terima kasih udh nyempetin baca karyaku😊**