Unknown

Unknown
Bagian 13 Si Ayam



Happy Reading !!


Tak habis pikir mengapa Kenanga bisa-bisanya dikelilingi orang bodoh. Terlebih lagi dengan hewan spritualnya yang ikut-ikutan bodoh.


"Dasar bodoh!" decak Kenanga.


Tanpa disadari, dirinya pun sama-sama bodoh. Fase ini menunjukkan bahwa 'bodoh teriak bodoh'.


Ah sudahlah jangan membahas itu, itu tidaklah penting. Yang paling penting sekarang adalah memikirkan nama untuk si ayam.


Tunggu!


Kenanga mulai merasa ada yang salah dengan takdirnya. Awal mula dia tak sengaja menginjak kotoran ayam kemudian dia berjingkrak-jingkrak sambil sumpah serapah. Setelah itu dia tersambar petir hingga melintas waktu.


Ah ya, berarti si ayam ada sangkut pautannya dengan kejadian ini. Coba bayangkan saja ada hal yang ganjil untuknya, bisa-bisanya di mendapatkan hewan spiritual seperti si ayam.


Kalau dipikir-pikir lumayan menyesal juga. Mengapa waktu itu dia tidak menginjak cacing saja. Mungkin hewan spiritual yang dia miliki sekarang adalah CACING BESAR ALASKA seperti dalam film Spongebob SquarePants. Itu benar-benar keren menurutnya. Belum pernah ada manusia yang bisa menunggangi cacing, jenderal pikir itu akan membuat dirinya tercatat dalam rekor dunia sepanjang sejarah.


"Eh! Mengapa diriku selalu menghayal di saat begini? Jangan-jangan ini terlalu banyak mendapat asupan sinetron sehingga membuat otak tidak bekerja dengan baik. Iya mungkin saja." Pikir Kenanga mengangguk anggun.


"Tuan kau kenapa? Otakmu geser?" tanya si ayam dengan polos.


"Sembarangan! Otakmu tuh yang geser!" sahut Kenanga berapi-api.


"Galak sekali tuanku, hiks." Gumam si ayam mulai meratapi nasibnya di masa depan.


Mungkin saja setiap hari dia bisa habis dicaci maki oleh tuannya yang sudah masuk ke dalam daftar orang kejam di benaknya.


"Oh ya! Kau si ayam!" Kenanga memandang wajah si ayam yang menunduk kaku. Perlahan-lahan si ayam memberanikan dirinya untuk menatap mata majikannya itu.


"Kau kenapa? Lapar?" tanya Kenanga tak peka.


"Aku marah. Aku sangat marah kepadamu. Aku ingin memukulmu, memakimu, meninjumu, menyeleding kepalamu, aku ingin menggigit bibirmu yang terus mengoceh tak jelas sambil meneriakiku." Itulah unek-unek yang ingin si ayam sampaikan kepada tuannya yang tempramental.


Namun apalah daya, dia hanya bisa menyumpahi tuannya hanya dalam hati. Dia tak berani. Bukan tak berani untuk melawan, namun dia tak berani mengotori kulitnya yang mulus bak pantat bayi untuk melawan seorang wanita.


"Hei!" panggil Kenanga tanpa ada sahutan.


"Ada apa dengan si ayam? Dia ketularan budeg orang tua itu ya?!" ucap Kenanga dalam hati.


"Wah parah nih anak, aku harus mengkorek kupingnya sampai bersih supaya tidak pada budeg. Benar-benar ... sudah idiot budeg lagi, huh!"


"HEI AYAM! APA YANG KAMU PIKIRKAN? Kau mendengarkanku tidak?" teriak putri Kenanga sudah sangat geram karena hidupnya dipenuhi kacang.


Terbesit sesuatu yang gila di benaknya, dia tertawa kecil. "Oh ... jangan-jangan kau sedang memikirkan sesuatu yang gila bersamaku ya?" goda putri Kenanga menyunggingkan senyum licik di wajahnya.


"Bukankah sudah jelas jika dia yang pikirannya sangat mesum?!" Batin si ayam sudah geram.


Kenanga mengedipkan sebelah mata ke arah si ayam yang membuatnya terbatuk-batuk seketika.


Uhuk uhuk!


"Tuanku benar-benar sudah gila. Dia keraksukan arwah siapa?" batin si ayam merinding. Bulu kuduknya berdiri seketika saat mendapatkan kedipan mematikan itu.


"Hei-hei kau mendapat item langka 'wanita cantik' selamat ya!" tambah Mpu Gong menaik turunkan alis tebalnya. Kemudian menyalami si ayam, dengan semangat mengguncang-guncangkan tangan super duper mulusnya.


"Apa?! Kenapa manusia ini? Mereka benar-benar keraksukan arwah setan gesrek." Teriak si ayam membatin lagi, tak hanya tuannya yang sedang diterpa angin kegilaan bahkan si tua bangka juga ikut-ikutan miring.


" Hei tuan, kau bisa mematahkan tanganku." Ucap si ayam menahan tangan kanan yang sudah lemas dibuatnya.


Mpu Gong melepaskan tangannya dan tertawa, "hehehe maaf. Secara disengaja." Balasnya tanpa merasa salah.


"Orang lemah akan selalu tertindas oleh orang kuat. Kelak suatu hari nanti, aku akan memasukkanmu ke kandang macan, biar tau rasa rasanya menderita." Batin si ayam jengkel.


"Hei, aku bisa membaca pikiranmu lho. Jangan pernah macam-macam dengan orang tua ini. Atau aku akan mencabuti bulu kaki dan bulu hidungmu tanpa ampun."


"Hah? Ma-maafkan aku tuan. Hiks." Ucap si ayam memelas.


Sementara dalam hatinya, "payah bener orang tua ini. Mamiii."


"Hei aku masih bisa mendengar suara hatimu lho." Pekik orang tau itu tertawa riang dalam hati.


"Haha, anak muda memang seru untuk dijahili." Tukasnya dalam hati.


Terima kasih udah menyempatkan waktunya buat baca karyaku. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. 😊😊