
**Selamat Membaca !!
❤ ❤ ❤**
Saat semua orang telah terlelap, Kenanga diam-diam melangkah menuruni peraduannya menghampiri 5 gulungan yang diberikan oleh si tua kepadanya sebelum kembali ke kediamannya.
Dia melangkah melewati si ayam yang tengah tertidur lelap di sebelah peraduannya.
A few hours before ....
"Sebaiknya kau menyamar saja menjadi seorang budak!" usul Kenanga kepada si ayam.
Byur!
Refleks, Ryu yang sedang meminum air tak sengaja menyemburkannya tepat ke arah wajah Kenanga.
"OMG!" batin si ayam terkejut sekaligus menahan tawa.
Kenanga melongo mendapati wajahnya yang sudah basah kuyup terkena semburan air. Dia kira ini sedang bermain permainan mbah dukun?
Inhale ... ekshale ....
"Sial*n kau si ayam!" geramnya dalam hati.
Sementara si ayam, dia menunduk memasang ekspresi ketakutan. Namun beda lagi dengan isi hatinya, "hahaha lucu sekali wajahmu yang sudah seperti terasi itu, sangat eksotis. Hehe."
Wajah Kenanga mulai merah padam menahan amarahnya, dia berjalan menuju Ryu dan menyentil kupingnya dengan sedikit keras.
"Aww!" Ryu meringis mengusap-usap telinganya yang terlihat memerah.
"Galak sekali." Batinnya.
"Huh!" Kenanga memalingkan wajahnya dengan kesal.
"Jangan marahlah tuan, itu salahmu sendiri karena sudah mengagetkanku dengan permintaan konyolmu itu." Pekik si ayam memasang wajah tanpa dosa.
Kenanga mendelik tak suka, tiba-tiba terbesit ide nakal di benaknya. Hehehe, kamu memang brilliant!
"Aku akan memotong jatah makanmu menjadi 15% selama setahun penuh. Itu hukuman karena kau sudah menolak permintaan tuanmu." Ancam Kenanga kembali berkacak pinggang di samping tempat duduk Ryu.
Apa? Tidak bisa! Ryu.
Mendengar hal itu, refleks dia meloncat dari atas kursi dan memohon dengan memeluk kaki tuannya. "Jangan tuan ...." Ryu berucap memelas.
"Tidak bisa tuan! Itu terlalu berat untuk cacing-cacing di perutku. Jika jatah makanku dikurangi, mereka akan menggerogoti perutku sampai habis." Celoteh si ayam panjang lebar.
"Aku tak PE-DU-LI!" balas Kenanga masih menampakkan wajah kesalnya. Ryu masih belum kehabisan akalnya, dia memasang tampang memelas seperti seekor anak anjing.
Heh, kau kira aku akan bisa tertipu dengan trik murahanmu? Mimpi!
Kenanga menghempaskan si ayam menjauhi dirinya dengan sebelah kaki.
BRUK! Hiks. Ryu meringis kecil, berpura-pura kesakitan.
"Eh? Apa ini keterlaluan?" batin Kenanga tanpa menoleh ke arah suara.
"Kau jahat tuan!" rengek Ryu tersungkur di atas lantai.
"Sebenarnya aku tak sudi melakukan sandiwara yang menyedihkan ini, tapi tekadku sudah bulat! Ini semua demi makanan!" batin Ryu mengepalkan tangannya menyemangi dirinya sendiri.
Kenanga sama sekali tak menggubrisnya, dia tetap memasang ekspresi kesal di wajahnya. "Biar tau rasa kau, ayam!" gumamnya kecil.
Mendengar Ryu yang terus merengek di lantai, Kenanga memutar tubuhnya malas. Dia mendudukkan bokongnya di atas kursi dan menyilangkan kakinya.
"Heh. Jika kau mematuhi saranku tadi, mungkin saja aku akan melipat gandakan jatah makanmu menjadi dua kali lipat, asalkan hatiku sedang baik. Ini kesempatan terakhirmu." Kenanga menopang dagunya tersenyum licik.
"Baik, deal!" sahut Ryu dengan cepat sebelum tuannya berubah pikiran. Hehehe. Kenanga tertawa penuh kemenangan dalam hatinya.
Dia berjalan ke arah lemari pakaian, mengobrak-abrik semua barang di dalamnya. "Seingatku, di sini ada sebuah baju yang sudah terlihat lusuh dan kumuh, tapi dimana ya ...?" gumam Kenanga terus mengacak lemari pakaian.
"Tuan, lihat ini!"
Saat Kenanga berbalik ....
Eng!
Ing!
Eng!
"Hahahah konyol sekali kau menguncir rambutmu seperti mimi peri yang ada di yutub!" Kenanga menahan tawanya hingga gemetaran. Dia berguling-guling di atas peraduannya menertawai penampilan si ayam.
Bayangkan saja, wajahnya yang terbilang lumayan tampan itu menguncir rambutnya dan tubuhnya yang tinggi dipaksakan memakai pakaian seorang budak peerempuan. Bahkan yang paling kocak adalah ... ada dua benjolan yang sama di dadanya seperti halnya dirinya. Hahahaha. Kau tau itu apa? Itu adalah sebuah roti yang dibagi dua. Hahaha.
"Jangan lupa dengan ja-tah-ma-kan-ku!" ucap si ayam dengan oenuh penekanan.
"Oke-oke." Tuannya masih saja cekikikan di balik bantal. Sedangkan Ryu, dia hanya bisa
pasrah demi makanan.
🐌 🐌 🐌 🐌 🐌 🐌 🐌 🐌 🐌
Kenanga melangkah menuju taman belakang pavillium Cahyan dengan mengendap-ngendap karena daerah tersebut jarang dimasuki prajurit yang tengah berpatroli.
"Oke di sini aman." Kenanga celingak-celinguk mengecek keadaan.
"Aman." Ulangnya menghela nafas panjang. Dia mulai membuka gulungan berwarna merah.
"Wah!"
Benar saja apa yang dikatakan si tua waktu itu, gulungan tersebut bukan berisi dengan segudang tulisan kuno. Melainkan sebuah hologram yang lengkap dengan berbagai ilmu kultivasi.
Kenanga takjub melihat tampilan hologram tersebut, "endol surendol takendol-kendol ngeunah! Eh maksudnya mantul! Mantap betul!"
Dia mulai mempelajari gerakan-gerakkan tersebut, tak ada kegiatan menghafal materi karena semua materinya sudah masuk merangkap ke dalam memorinya begitu saja.
Andai teknologi ini ada saat jaman dia masih bersekolah dulu, mungkin saja dia tak akan bersusah payah untuk menghafal rumus menghadapi ujian mata pelajaran si guru killer.
Matahari sudah mulai menampakkan wujudnya di ufuk timur. Cahayanya mulai menyinari sebagian belahan bumi.
"Tu-tuan putri?" panggil Sari, salah satu dayang yang selalu menempel kepada mboknya.
Grok ... grok ... grok ....
Kenanga masih anteng mengorok, dia tertidur di atas bangku dengan posisi terlentang. "Mhehe ...." dia juga tertawa di sela-sela tidurnya.
Sari dan dayang lainnya saling menatap dan mengendikkan bahu. Mereka mengangguk ke arah Sari. "Kami serahkan padamu!" ucap dua dayang di sampingnya serempak.
"A-apa?!" Sari menelan salivanya susah oayah. Dia mulai berjalan mendekati Kenanga yang masih tertidur pulas.
"KEBAKARAN ...!" teriak Sari di samoing telinga Kenanga.
"Apa? Dimana? Mana kebakarannya?" tanya Kenanga terkejut, dia kehilangan keseimbangan yang akhirnya tersungkur ke tanah.
"OMG! PUTRI!" teriak mereka serempak.
🐌 🐌 🐌 🐌 🐌 🐌 🐌 🐌
Kamar, Pavillium Cahyan ....
Kenanga sudah rapi memakai kebayanya dan terduduk di depan cermin rias. Di sampingnya sudah ada tiga dayang yang sedang melayaninya. Dan tiga dayang tersebut adalah tak lain adalah TIGA DAYANG LUCKNUT. Itu menurut Kenanga.
"Kenapa kamu tadi berteriak membohongi saya?" tanya Kenanga dengan anggun sekaligus ketus.
Mendengar Kenanga mengangkat suara, kegiatan tiga dayang tersebut berhenti dan itu tidak luput dari penglihatan si ayam yang betada di belakang tuannya.
"Ka-kami ...." ucap mereka terpotong.
Tiba-tiba mereka bersujud di kaki Kenanga yang mebuatnya heran.
"Maafkan kami tuan putri! Tadi kami melihat anda tertidur di atas bangku, ka-kami membangunkan anda karena ka-kami menerima surat ji-jika ... Maha Patih akan berkunjung ke Pavillium Cahyan," ucap Sari tergagap-gagap.
"APA?!" refleks, Kenanga berdiri dan menjatuhkan sepiring makanan yang dia pegang.
Prang!
"Astaga!"
"Mubazir ... itu mubazir ...." Ryu mengepalkan tangannya dengan lesu, memandang makanan yang berserakkan di lantai.
Kenapa? Kenapa?!
**Terima kasih banyak udh luangin waktu buat baca karya aku.
Jangan lupa buat tinggalin jejaknya ya! Mhehe**....