Unknown

Unknown
Bagian 18 Titah Raja II



Happy Reading!!


Setelah para dayang itu keluar, tinggallah Kenanga, Ryu si ayam dan Mbok Minah.


Kenanga menghela nafas panjang kemudian menoleh pada Mbok Minah yang dari tadi menunggunya untuk membuka suara.


"Mbok, mbok jangan khawatir begitu! Saya sudah besar Mbok. Duduklah!" Kenanga berucap sambil menepuk-nepuk kasur supaya duduk bersebelahan dengannya.


Mbok Minah menghampirinya dan terduduk, "Ndoro, tapi usiamu masih 17 tahun - - -"


Apa tu-tujuh belas tahun? Muda sekali! Kenanga berteriak dalam hati saking terkejutnya.


Pantesan kulitnya putih mulus bersih aduhay hehe .... Pikirannya menjadi terbang pada hal yang aneh-aneh. Hehe.


" - - Wajar jika mbok khawatir padamu. Mbok sudah menganggapmu sebagai anak Mbok sendiri, ndoro." Ucap Mbok Minah menundukkan wajah menahan air matanya agar tidak merembes membasahi pipi. Tangannya sudah bergetar ketakutan.


Matanya sendu, membuat hati Kenanga merasa tersayat mungkin ini yang akan dirasakan sang pemilik tubuh ketika melihat Mboknya sedih.


Kenanga melirik kecil pada si ayam, seolah mengerti, si ayam mengangguk dan memberikan senyuman.


Eh? Si ayam kenapa? Beneran mau ngikutan akting nih ceritanya?


Kenanga menggelengkan kepalanya. Apa untungnya coba? Sudahlah sudah, biarinlah.


Dia menggenggam tangan Mbok Minah, "Mbok, saya tadi tersesat saat di pasar hehe. Kenanga lupa jalan pulangnya. Terus pas di tengah jalan kebetulan ada pengemis laki-laki baik yang menolong saya - - -"


Pengemis baik?! Tangan si ayam sudah terasa gatal ingin menjitak kening tuannya sampai puas.


"Dan lelaki itu namanya tuan Ryu." Jelas Kenanga dengan penuh kebohongan.


Parahnya lagi Mbok Minah mempercayainya, wah-wah segitu bagusnya ya aktingku? Akhirnya usahaku nonton drama tak sia-sia. Lumayan bisa dipakai untuk sandiwara. Hehe.


Kenanga tersenyum bangga dengan tatapan sendu, padahal dalam hatinya ia mungkin saja sedang berjoged ria merayakan kemenangan. Seseorang tolong kasih dia reward.


"Terima kasih tuan Ryu, kami berhutang budi padamu. Sekali lagi terima kasih," berkali-kali Mbok Minah menundukkan kepalanya mengucapkan terima kasih kepada si ayam.


"Tidak apa-apa Mbok, saya anggap ini sebagai salah satu perwujudan cinta kepada negri dengan membantu putri yang lupa arah pulang." Ryu melirik Kenanga dan berkata dengan penuh penekanan.


Apa?! Ternyata ayam kerempeng ini punya sifat pendendam. Bisa-bisanya si ayam sial*n ini berkata begitu pada tuannya. Awas saja ya aku akan memukul bokongmu dengan tangan ini sebagai hukumannya.


"Baiklah jika begitu ndoro, saya izin pergi untukelapor kepada putra pertama maha patih, jika ndoro putri baik-baik saja."


"Baiklah."


"Tunggu! Kakak juga mengetahuinya?" dengan refleks Kenanga memanggil putra pertama maha patih dengan sebutan 'kakak'.


"Ia, ndoro. Dia mengetahuinya dari prajurit bayangannya." Keceplosan, mbok Minah sudah salah bicara.


Dasar mulut! Gak bisa direm. Mbok Minah.


"Ah iya." Kenanga mengangguk tampil berpura-pura polos lagi.


Mbok Minah pamit undur diri dan bergegas menyampaikan pesan pada kediaman putra pertama.


Sementara di kediaman Cahyan ....


Kenanga memalingkan wajahnya yang sudah merah padam tak sabar ingin menyiksa si ayam.


"Ayam sial*n tak berguna! Aku akan memberimu pelajaran." Teriak Kenanga sudah siap melayangkan tangannya pada bokong si ayam.


Hap.


Dengan sigap, si ayam memasukkan sepotong kue yang sedang ia makan agar tuannya berhenti mengomel.


Hwekk!


"Apa-apaan ini?!" Kenanga berucap menahan amarahnya. "Kau sudah sangat tidak sopan pada tuanmu. Aku akan menghukummu dua kali lipat."


"Hei pelankan suaramu, tuan. Jangan sampai mereka curiga pada kita!" bisik si ayam menunjuk ke arah jendela. Di sana ada dua prajurit yang bertugas menjaga keamanan pavillium Cahyan.


Sial*an! Aku ingin membunuhmu sekarang!


Kenanga melayangkan pandangannya ke arah gulungan yang diberikan manusia bernama Patih itu. Dia membuka dan membacanya.


Β 


πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’


Β 


"Apa isinya, tuan?" tanya Ryu penasaran.


Padahal tanpa membaca pun sebenarnya dia akan sudah tahu, namun kekuatan spiritualnya masih belum sempurna kembali padanya.


Kenanga mengendikkan bahu, "baginda raja menyuruhku untuk kembali ke pelatihan calon permaisuri." Balasnya.


Ini bagus untukku agar bisa menguak kelicikkan si ular. Ngomong-ngomong siapa namanya .... Putri tertua adipati Mahardika mungkin ya?


Oh. Batin si ayam.


Jangan lupa buat tinggalin jejaknya ya hehe.