Unknown

Unknown
Bagian 19 Izin Maha Patih



Happy Reading !!


"Aku akan menulis surat untuk Maha Patih, bagaimana pun dia adalah ayahku dan dia sudah menggantikan aku di pelatihan oleh adik bungsu," gumam Kenanga melangkah menuruni bibir peraduannya.


Ryu yang melihatnya hanya bisa tetap bertengger di atas peraduan sambil memakan beberapa cemilan.


"Sandiwara manusia kolot ini lumayanlah," ucap Ryu si ayam dalam batin.


"Ngomong-ngomong makanan manusia juga lumayan enak." Lanjutnya terdengar oleh pendengaran Kenanga.


"Jangan dihabiskan! Kau sudah makan hampir 3/4 bagian toplesnya. Kau itu lapar atau rakus?!" Kenanga kembali mendekati Ryu dengan membawa pena dan gulungan kertas kuno.


Dia mendudukkan bokong di kursi dekat peraduannya. "Turunkan kakimu dari atas meja! Kau tidak sopan pada bosmu," ketus Kenanga menurunkan paksa kaki si ayam.


"Seharusnya saat kau bertransfortasi jadi manusia, kakimu harus masih menjadi ceker ayam ...."


"Kenapa?"


"Agar aku bisa dengan mudah memasakmu saat kau sudah membuatku benar-benar jengkel," balas Kenanga disambut demgan gidikan ngeri si ayam.


"Kau sangat kejam padaku tuan. Hiks." Si ayam berkata sambil memeragakan sakit hati.


Amboy-amboy .... Si ayam mulai kerasukan setan lagi.


"Eh Suparjo! Jaga kelakuan kemayumu saat bersamaku ya! Kau akan tetlihat sint*ng dengan badanmu saat ini." Geram Kenanga.


Tuhan ... berikanlah hamba kesabaran atas kebodohan makhlukmu Tuhan ....


"Apa maksud manusia kolot ini?" tanya Ryu di benaknya.


Kenanga segera mengambil tinta dan mencelupkan pena ke dalamnya. Dengan berusaha keras dia menulis sesuatu dengan hati-hati.


A few moments later ....


"...."


Kenanga merentangkan hasil karyanya.


"Pfft! Bhahahaha ...." Ryu terus menahan tawanya dari tadi dan akhirnya ia membeludakkan juga tawanya hingga menggema di dalam ruangan.


Sementara orang di sebelahnya .... "Kenapa?" tanya Kenanga sewot.


Ryu menyeka air mata bahagia di atas kesengsaraan orang lain itu dengan kasar. "Hahahaha itu tulisan tanganmy, tuan?" tanyanya sedikit tak percaya.


Mendengar jawaban tuannya, Ryu malah kembali tertawa terbahak-bahak. "Hahaha tulisan tanganmu benar-benar payah! Masa tulisanmu sudah seperti ceker ayam ... hahaha."


"Apa! Ceker ayam, palamu yang ceker ayam! Aku sudah berusaha keras menulis belasan kalimat dalam waktu hampir dua jam. Kau pikir ini mudah? Hah?" Kenanga berteriak geram melemparkan pena ke atas lantai.


"Ha-ha-ha, ma-ma-maaf tuan. Aku hanya bercanda ..., " ucap Ryu menyatukan telapak tangannya di hadapan Kenanga.


"Huh!" Kenanga malah memalingkan wajah kesalnya ke arah lain. Dia bersidekap dada dengan kedua tangannya yang dilipat.


"Mulai sekarang kau yang akan memijit kakiku selama seminggu penuh sebagai hukumannya!" tegas Kenanga menaiki peraduannya.


"Sebelum itu, kau antarkan surat ini kepada salah satu prajurit gerbang untuk menyampaikannya pada Maha Patih. Setelah iru kau kembali ke sini untuk memulai hukumanmu." Sambungnya menjatuhkan diri di atas kasur.


Lembut sekali ....


"Baik tuan." Ryu berjalan ke arah pintu data n meninggalkan Kenanga sendirian.


Sesaat kemudian ....


"Ah lebih kuat ah .... "


"Ini sudah kuat,"


"Ah sakit hah hah, lebih lembut ...."


"Tahan sebentar! Sedikit lagi keluar ah ..."


Apa?! Kenapa aku merasa ini ada yang aneh?


*****! Ahh!


"Hei pelankan suaramu! Aku hanya sedang membantumu memencet jerawat. Jangan berlebihan!"


"Ini sakit tuan! Hiks."


"Kau tak perlu mendesah segala! Kau lihat para prajurit di depan pintu sedang meruncingkan pendengarannya. Itu akan membuatku dalam masalah, tol*l!"


"Kamu kasar sekali padaku, kau seperti bukan wanita saja."


Waduh! Jangan sampai ketahuan!


Jangan lupa buat tinggalin jejaknya! Terima kasih banyak.