Unknown

Unknown
Bagian 11 Nih Makan Cacing



Selamat Membaca !!


"TURUN! Mau sampai kapan kau akan terus mencekik leherku, hah?!" Teriak putri Kenanga sudah tak kuat menggendong hewan spiritualnya itu.


"Eh iya. Aku lupa, hehe." Sahutnya cengir kuda memasang wajah tanpa dosa.


Kampr*t beut nih siluman pengen jitak tuh pala, buntung ya buntung peduli amat sama nih manusia jadi-jadian.


"Perasaan nih hidup udah kayak sinetron legenda. Hayduhh nasib kok gini amat. Kangeng bini. Huhuhu." Batin putri Kenanga meronta-ronta.


"Tuan ... aku lapar. Mau makan, boleh?" pinta hewan spiritualnya itu. Entah kenapa, saat melohat wajahnya yang memelas hati putri Kenanga seakan luluh seketika. Seperti melihat adegan ibu tiri menyiksa anaknya. Kasihan.


"Tuan ..., " wajahnya semakin memelas, sontak hati Kenanga sudah benar-benar meleleh dibuatnya seperti es krim terpapar sinar matahari.


Iyah dalam sekejap mencair sebelum sempat dijilat.


(Author jadi inget masa TK saat makan es krim hahaha dijilat dulu sama mama sebelum aku makan. Katanya bonus buat buka kemasannya πŸ˜‚).


Kenanga menghela nafas kasar frustasi. Dia berjalan ke arah timur. Lalu dia berjongkok mengambil ranting dan mulai mengorek-ngorek tanah.


"Tu bocah kenapa?" Tanya Mou Gong pada hewan spiritualnya, Gingga.


"Tidak tahu." Sahutnya dengan gelengan kecil.


Hewan spiritual Kenanga berjalan ke arahnya dan ikut mengambil ranting, "tuan kau sedang apa?" tanyanya dengan begitu polos.


"Wait and see!" Kenanga tetap fokus pada kegiatannya.


"A-apa artinya, Tuan?" Tanya hewan spiritualnya kembali.


Kenanga memutar bola matanya jengah.


"Dasar siluman bodoh! Idiot! Kau terus mengganggu konsentrasiku yang tinggi ini. Lihat saja dan bungkam saja mulutmu. Dasar payah! " Balas putri Kenanga bersungut-sungut.


" Hiks, aku hanya bertanya saja. Kau galak .... Kau mirip medusa." Runtuk hewan spirirualnya dengan nada rendah. Namun masih bisa didengar oleh pendengaran Kenanga yang terkenal tajam.


"Coba katakan lagi aku seperti apa?! " Teriak putri Kenanga tepat di telinganya.


"AH TUAN KAU MENGAGETKANKU!" sahut hewan spiritualnya setengah berteriak.


Tangan putri Kenanga sudah sangat gatal untuk menjitak seseorang.


Plak! Plak! Plak!


"Aw sakit! Itu sangat sakit tuan. Kau mesum sudah memukul bokongku yang mulus ini."


"Ah aku tidak tahan lagi dengan semua ini. Tolong keluarkan aku dari mimpi buruk ini, Tuhan." Batin putri Kenanga berteriak histeris.


Dia mengambil sesuatu daruli tanah dan menyodorkannya tepat di depan wajah hewan spiritnya.


Hweekk!


"Kau kira aku ini unggas yang dengan senang hati menelan hewan menjijikkan ini? Aku tak mau!"


"-Itu binatang yang paling aku benci!"


"-Tubuhnya terus menggeliat kesana kemari dan menari di udara. Menjijikkan."


"-Aku ingin muntah."


Hweekk!


Hweekk!


"Bukannya ini makananmu ya?" Tanya putri Kenanga dengan polosnya. Entah polos atau idiot. Yang pasti otaknya sedang geser karena frustasi mendengar ocehan hewan spiritualnya itu yang dari tadi tidak bisa mengerem mulut naganya itu.


"Hei anak muda! Kau kira hewan spiritualmu akan memakan cacing itu? Dia seperti kita, memakan makanan yang layak konsumsi. Ingat! 4 sehat 5 sempurna." Ucap Mpu Gong yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya diikuti oleh Gingga di belakangnya.


Dia mengangjat jari jempolnya tanda membenarkan perkataan tuannya.


"...." Seketika Kenanga melongo. Mulutnya ternganga.


*Bisa-bisanya siluman juga makan makanan manusia. Jika terus begini aku harus membawanya kembali ke kediaman Maha Patih ayahku. Maksudku ayah pemilih tubuh ini.


Di sana akan ada banyak makanan dan tak perlu repot aku mengeluarkan uang nantinya*.


Kenanga melayangkan matanya pada hewan spiritualnya yang sesang merajuk kesal.


Benar, hal yang paling pertama adalah menyembunyikan dulu tanduk nanganya itu.


Dia melangkah menghampiri Mpu Gong, "ada mantra atau semacamnya untuk menyembunyikan tanduk naga siluman itu?" tanya putri Kenanga menunjuk hewan spiritualnya.


"Siluman?" Mpu Gong ternganga mendengar panggilan Kenanga pada hewan spiritualnya.


"Kau kira dia dedemit?! Berilah nama yang pantas seperti hewan spirit milikku, ya kan sayang?" lanjutnya diberi anggukkan oleh siluman di sampingnya.


"Sa-sayang?"


"Iya, Gingga. Dia sayangku."


Benar-benar akalnya sudah tak lagi waras. Dia adalah manusia yang menyukai sesama jenis. Tunggu! Maksudnya sesama gender.


"Haha." Putri Kenanga tersenyum kikuk menanggapuli tingkah orang tua di hadapannya.


Dia seperti kakek Sugi**o. Sebelas dua belas.


Terima kasih sudah menyempatkan waktunya. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Aku padamu readers 😊