Unknown

Unknown
Bagian 21 Tiba



Halo semuanya, selamat membaca!!


Ngik!


Anggaplah suara kuda yha!


Kenanga, Ryu dan Sari turun dari kereta kuda, mereka melihat daerah sekeliling keraton sebelum tiba di depan gerbang.


"Widih ... keren!" Kenanga berdecak kagum setelah tiba di depan gerbang. Dirinya disambut oleh beberapa pengawal dan dayang kerajaan.


"Salam sejahtera Putri Kedua Maha Patih Wahyuda semoga Sanghyang memberkatimu," mereka membungkuk hormat sambil berucap.


"Tengkyu-tengkyu ...." Balas Kenanga mengangguk kecil ke arah mereka. Dan yang mendapat balasan tersebut saling memandang satu sama lain.


Benar kata tuan Patih, putri Kedua Maha Patih jadi sedikit belok kelakuannya.


Dari kejauhan sudah terlihat seseorang berlari kecil ke arah mereka dengan dua orang dayang di belakangnya.


"Kak! Kakak! Kak Kenanga!" panggilnya melambai-lambai.


Kenanga memutar otaknya berusaha menggali memori, "itu pasti adiknya si pemilik tubuh ini." Batin Kenanga.


"Kakak, kau sudah sampai?" tanyanya dengan ceria.


"Ehehe, sudah." Kenanga berusaha memainkan peran Kenanga asli dengan lebih baik. Dia mengambil tangan adik ketiga dan mengelusnya.


"Ternyata halus juga!" batin Kenanga terkezoot mesra. Ehehe.


Adik ketiga atau putri bungsu maha patih Wahyuda adalah seorang gadis yang sangat lembut dan polos hingga bisa dibilang terlalu naif.


Disamping itu, dia juga memiliki julukan lain bagi dirinya yaitu putri Mayangsari adalah manusia terceroboh di muka bumi.


"Ayo, ikut denganku!" ajaknya kepada Kenanga.


Dia hanya mengangguk menanggapinya. Tetapi sebelum melangkah, Putri Mayangsari berucap, "dayang baru?" tanyanya. "Siapa namanya?" dia menunjuk ke arah Ryu.


Ah iya, aku lupa memikirkan nama samaran si ayam. Ampun deh! Em .... Kenanga berfikir keras. Dia melakukan telepati dengan si ayam. Lumayanlah gak butuh pulsa atau kuota. Cukuo energi spiritual doang. Gratis gaes.


"Yam, kedengeran gak?"


"Yam-yam ... yam BR!" umpat Ryu dalam benaknya.


"Iya,"


"Jubaedah oke gak?" tanya Kenanga.


"Maemunah?" tanyanya lagi.


"Gak! Yang bagusan dikit kek!"


"Maesaroh?"


Geleng-geleng.


"Marpuah?"


Geleng-geleng.


"Munaroh?"


"No!" tolaknya dengan tegas. Gak habis pikir dia, masa tuannya oon banget cuman kasih nama doang sesusah itu ya?


"Terus maunya apa, bel ...?" Kenanga sudah kesel dibuatnya.


" Siti Ropeah? Icih? Ijah? Ijem?" lanjutnya dengan cepat.


"Woy, serius napa! Yang imut dikit kek!" Ryu berucap dengan jengkel.


"Em ... aha! Entuy! Iya, Entuy namanya lumayan imut." tawar Kenanga sumringah.


"Beloon! Bodo lah!" umpat Ryu dalam hati.


"Perkenalkan nama saya Ratih, putri." Ryu memperkenalkan diri dengan sok manis.


"Kok jadi ilfil ya ...," batin Kenanga bergidik.


"Ratih ... nama yang bagus." Putri Mayangsari kembali menuntun Kenanga diikuti Ryu, Sari dan beberapa pengawal serta dayang kerajaan.


Tibalah dia di depan pavillium Mustika selatan, tempat yang dipakai para calon permaisuri untuk merehatkan diri.


Sebenarnya ada 4 pavillium yang disediakan kerajaan sebagai tempat perehatan para calon permaisuri, pavillium Mustika Utara, Selatan, Barat dan Timur. Dengan masing-masing 5 sampai 6 calon beserta dua dayang yang melayaninya.


Tempatnya terbilang luas hanya untuk dihuni belasan orang termasuk para calon dan dayangnya masing-masing. Bahkan sangat super luas.


Tak kebayang seluas apa Kerajaan Nusantara ini. Ck, luasss banget.


Terima kasih banyak udah nyempetin waktu buat baca karya aku, hehehe 😊😊😊