Unknown

Unknown
Bagian 23 Kediaman Khusus



Hallo readers, happy reading!!


Kenanga berbisik pada adiknya, "passwordnya, 'tinggal cus aja langsung jadi' itu." Bisiknya pelan-pelan.


"Oke." Hehehe, kakak emang mudah ditipu. Masa iya telepati ada passwordnya, dia kira ini atm mesti harus ada passwordnya.


"Kak, kedengeran gak?" Putri Mayangsari berucap melalui telepati.


"Iya-iya, ngomong-ngomong manusia itu siapa namanya?" balas Kenanga diakhiri dengan pertanyaan.


Sekejap putri Mayangsari terdiam. "Manusia? Maksud kakak, putri Wiloka Diah?" tanyanya.


Kenanga mengangguk tanpa suara. "Oh namanya putri Wiloka Diah toh .... Cantik banget ya?"


"Iya." Balas putri Mayangsari.


Kenanga menggelengkan kepalanya.


Eh, putri Wiloka Diah itu ... putri tertua adipati Mahardika. Berarti dia .... Kenanga mulai mengingat gulungan peninggalan putri Kenanga yang asli.


'*Saya tak tau siapa yang meracuni saya, namun saya mendapat gejala setelah saya meminum teh saat mengikuti jamuan dari putri tertua adipati Mahardika. Tak habis pikir jika memang dia yang menaruh racun pada cangkir saya. Soalnya dia merupakan putri yang terkenal dengan kemurah hatiannya.


Dia juga sangat pintar mendapatkan perhatian dari permaisuri Purbalingga dan ibu suri. Meskipun saya menaruh curiga kepadanya, saya masih tak yakin karena belum menemukan bukti apapun.' itulah penggalan isi dari gulungan pertama*.


Kenanga menyipitkan mata menilai putri Wiloka Diah dari atas hingga ke bawah. Putri Wiloka Diah hanya tersenyum saat sepasang matanya saling bertemu.


"Biasa aja, gak ada yang mencurigakan." Batin Kenanga.


Dia berjalan ke arah putri Wiloka Diah dan tersenyum manis, "semoga sanghyang memberkatimu, putri." Ucapnya penuh penekanan pada kata terakhir.


"Terima kasih." Balas putri Wiloka Diah masih tersenyum. Padahal batinnya mengatakan yang lain dari mulutnya. "Ada apa dengan dia?" ucapnya bertanya-tanya.


"Em ... putri Kenanga, aku dengar saat tempo hari kau keracunan, apakah itu benar?" tanya putri Wiloka.


Refleks Kenanga melihat ke arahnya. Kenapa dia bertanya seperti itu, bukankah yang orang lain tahu Kenanga itu didiskualifikasi karena tidak datang ke pelatihan? Mencurigakan ....


"Ya, dari mana kau tahu jika aku keracunan?"


"Tidak, aku hanya menebak saja lewat ekspresi wajahmu yang sedikit pucat waktu itu. Ternyata benar dugaanku jika kau benar-benar keracunan."


Apa yang akan ular ini mainkan?


"Wah jika begitu kau memang sangat teliti terhadap apapun. Mungkin jika kau menjadi seorang penjahat, kau tak akan meninggalkan bukti apapun. Bukankah begitu?"


"Apa dia sudah curiga kepadaku?" batin putri Wiloka Diah.


"Hahaha, putri Kenanga ada-ada saja. Tak mungkin jika seorang putri menjadi seorang penjahat. Ya kan?"


"Seorang penjahat pun bisa berlaku baik dan yang baik bisa berlaku jahat."


"Em ...."


Kenanga melanjutkan langkahnya disusul dengan putri Mayangsari dan juga beberapa dayang di belakangnya termasuk Ryu yang menyamar menjadi Ratih dan juga Sari, salah satu dayang kepercayaannya.


"Dayang Sari," panggil Kenanga setelah jarak mereka sudah cukup jauh dari putri Wiloka dan para dayangnya.


"Iya. Ada apa kak?" tapi yang menyahut bukanlah dayang Sari melainkan putri Mayangsari. Dayang sari yang hendak berucap malah ternganga menggantungkan ucapannya di udara.


Kenanga berbalik menatap mata adiknya. "Bukan kamu tapi dia!" Kenanga berucap menunjukkan tangannya ke arah dayang Sari.


Putri Mayangsari menepuk jidatnya, "kiranya aku ... hehehehe maaf terlalu fokus pada jalanan." Ucap putri Mayangsari nyengir kuda.


Bola matanya menuju ke arah dayang Sari berisyarat untuk cepat menjawabnya. "Ah iya-iya ...." Gumam dayang Sari sebelum mendekat ke arah Kenanga.


"Ada perlu apa, putri?" tanyanya.


"Ryu, kau bisa mendengarku?"


"Iya, ada apa?"


"Tolong awasi gerak-gerik putri Wiloka Diah dari batang sampai ke akar."


"Hah? Maksudnya?"


"Maksudnya sampai ke orang-orangnya sekalian ...."


"Oh oke."


"Good!"


Putri Mayangsari berjalan mendahului Kenanga saat hampir sampai di gerbang dengan bendera Kuning. Sedikit berlari dia menghampirinya.


"Jeng-jeng-jeng!"


"Ta-da ... ini kediaman khusus untuk kakakku, putri Kenanga. Bagus gak? Ini aku lho yang mendesain tata letak perabotannya. Dan aku juga yang memlih berbagai interiornya. Hebatkan? Kan?"


"Eee ... ini ...." Kenanga menghentikan kalimatnya saat melihat bendera kuning di atap pintu masuk kediaman khusus untuknya.


Apa-apaan bendera kuning?! Dia kira kediaman ini untuk orang berduka? Sekalian sewa para pelayatnya.


"Ayo masuk!" ajak putri Mayangsari menarik tangannya.


"Kebiasaan." Gumam Kenanga mengikuti langkah kaki adik bungsunya.


Seorang prajurit gerbang membuka pintu masuk kediaman khusus untuk ditempati putri Kenanga.


"Woah ...." Putri Kenanga berdecak kagum melihat kediaman khusus untuknya.


"Baguskan? Siapa dulu dong? Aku!" ucap putri Mayangsari berbangga diri menepuk dadanya.


Kenanga mulai menelusuri setiap tempat di kediaman khususnya dia mengangguk kecil setelah menilainya dalam benak.


Setelah merasa cukup mengelilingi kediamannya dan semua orang telah pergi ke kediamannya masing-masing kecuali dayang Sari dan si ayam, dia terbaring di peraduan. "Ah capeknya ...." Ucapnya merentangkan tangan.


"Biasanya aku tak akan mudah lelah ketika masih menjadi seorang jenderal. Mungkin ini efek dari tubuh wanita ini yang lemah." Gumamnya lagi merentangkan tangannya menghadap langit-langit.


"Ah iya! Kelima gulungan itu." Kenanga terlonjak dari atas kasur menghampiri kursi rotan.


Dia membuka cincin ruang dimensi, tempat menyimpan berbagai barang atau segala sesuatu termasuk manusia dan hewan spiritual.


Tetapi ruang di dalamnya ditentukan dengan seberapa besar kekuatan spiritual seseorang. Namun lain dengan milik Kenanga, itu adalah cincin ruang istimewa pemberian si tua bangka.


Kenanga mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkan semua barang bawaannya secara bersamaan. Alhasil dirinya kewalahan tertimpa karung beras.


Bruk! Karung beras itu menimpa kaki mulusnya.


"Astaga naga! Aku lupa jika aku membawa sekarung beras." Ucapnya mengelus kaki kirinya. "Sakit sekali." Gumamnya.


Seharian itu dia terus mempelajari satu persatu gulungan yang tersebut hampir habis.


"Seperti streaming youtube." Ucapnya.


"Gak akan bosen, serasa nonton Jakie Chen." Tuturnya saat mempelajari berbagai jurus kultivasi dari hologram yang berada di atas gulungan tersebut.


**Terima kasih banyak udah nyempetin baca karya aku. Semoga menghibur.


Jangan lupa buat tinggalin jejaknya ya**!