
**Hai kakak semua! Semoga suka ceritanya ya hehe π
Happy Reading** !!
Kenanga membuka matanya bulat-bulat, dia terus mengawasi setiap gerak-gerik manusia di luar kediamannya.
"Tuan kau sedang apa?" tanya Ryu dengan santainya duduk di bibir peraduan putri Kenanga.
"Tidak lihatkah aku sedang mengawasi?!"
"Mengawasi siapa tuan?"
Kenanga memutar tubuhnya menghadap si ayam, "diamlah kau mengganggu konsentrasiku!" Kenanga berucap setengah teriak karena kesal. Kemudian kembali memfokuskan pandangannya pada celah jendela.
"Tidak tahu apa yang sedang dilakukan manusia bodoh itu." Ucap Ryu dalam benaknya. Dia mengangkat kakinya ke atas meja dan merebahkan diri bak seorang raja. Benar-benar nyaman, pikirnya.
"Hei si ayam! Kau tunggu di sini. Aku akan mengambil makanan ke dapur." Ucap Kenanga setelah sekian lama terdiam mengawasi.
"Kenapa? Tidak bisakah aku ikut denganmu?" tanya Ryu dengan super polos. Dan gilanya Kenanga salah fokus dengan terpesona oleh otot tangan yang tak sengaja terlihat olehnya. Ryu menggulung melonggarkankan lengan bajunya karena udara di kamar ini sangat sumpek, pengap dan gelap. Bau lagi.
"Pikiran macam apa ini?" gumam Kenanga menggelengkan kepalanya supaya normal kembali.
Padahal saat di dunianya yang masih normal, dia sudah terbiasa melihat otot tangan yang kekar karena sudah sering melihat banyak tentara membuka bajunya saat pemanasan.
Bahkan diapun memiliki otot lengan kekar dan perut kotak-kotak seperti itu. Kenapa bisa-bisanya dia tergiur hanya dengan melihat otot lengan yang terbilang biasa saja untuknya.
Apa jangan-jangan ... apa yang dikatakan oleh orang tua itu nyata? Aku akan sepenuhnya menjadi seorang wanita! What the hell! Kenanga terus berteriak dalam hatinya, sangat menakutkan jika itu terjadi pikirnya.
"Tuan kau kenapa? " tanya si ayam seolah-olah tak tau apa yang ada di pikiran tuannya. Padahal dari tadi dia tak berhenti cengengesan saat melihat eksperesi ketakutan Kenanga yang bercampur dengan rasa kesal.
Kenanga tersentak kaget saat si ayam bertanya, dengan cepat dia segera menutupi ekspresi gelapannya. Dirinya kembali memasang ekspresi galaknya.
"Aku tidak apa-apa." Balasnya dengan ketus.
"Tapi kulihat kau seperti ada apa-apanya, tuan. Kau sakit?" tanya Ryu kembali, padahal dia ingin sekali jungkir balik saat melihat wajah merona Kenanga saat ini.
"Hei, kau terlalu banyak tanya kepadaku. Sebagai hukumannya kau ambillah makanan ke dapur!" tanpa sadar dia mengatakan itu pada si ayam.
Ryu bergegas pergi meninggalkan Kenanga yang masih menatapnya cengo. "Bodoh!" lontaran kata itu cukup untuk menggambarkan ekspresi Kenanga saat ini.
"Bisa gawat kalau begini. Bisa-bisa para pelayan akan salah sangka kepadanya, bagaimana kalau dia disangka sebagai pria ****** yang aku bawa pulang ke rumah?! Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Kenanga tak henti-hentinya menjedotkan kepala ke tiang.
Bodoh!
"Bagaimana pandangan masyarakat kepadaku nantinya? Ayah eh maksudku Maha Patih? Putra pertama dan putri bungsu? Apalagi anggota kerajaan? Habislah aku ... aku ingin menggali kuburku sekarang saja kalau kesalah pahaman itu terjadi." Kenanga berfikir terlalu jauh, sampai dia tak menyadari ada sepasang mata yang sudah memandanginya dari arah gerbang masuk yang berhadapan langsung dengan pintu kediamannya.
Saat berbalik, Kenanga terlonjak kaget mendapati orang tersebut sudah berada di sampingnya. "Astaga naga!" Dia berteriak tepat di telinga orang tersebut.
"Siapa kau?" Kenanga bertanya kepada orang itu setengah berteriak masih dalam keterkejutannya.
"Aku hanyalah penyampai pesan. "
" Penyampai pesan ...?" Kenanga mengulangi kalimat orang tersebut.
"Seperti kurir paket?" lanjutnya bertanya.
"Apa itu kurir paket?"
"Sudahlah lupakan saja itu. Anggap saja angin lewat. Apa maksud kedatanganmu ke sini?"
"Saya mendapatkan titah dari raja untuk menyampaikan pesan ini secara pribadi kepadamu tanpa diketahui orang lain."
"Tanpa diketahui orang lain? Bahkan dilihat dari pakaiannya saja sudah menarik beberapa perhatian pasang mata. Apanya yang tidak menarik perhatian orang lain?" pikir putri Kenanga mengamati makhluk di hadapannya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Ada yang salah?"
Kenanga mengalihkan pandangan dan menatap ke wajah orang tersebut. "Tidak!" balasnya secepat kilat.
"Kenapa perasaanku familiar dengan wajah ini ya ...?" batin Kenanga berucap, berusaha mengingat wajah ini diantara miliaran wajah yang ada di muka bumi.
"Sepertinya kau sudah lupa siapa saya, baiklah saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu."
Kenanga mengangkat sebelah alisnya, dia menyunggingkan bibir membentuk senyuman penuh tanda tanya. "Memangnya aku kenal dengan manusia ini?" gumam putri Kenanga dengan suara nyaris tak terdengar. "Apa peduliku." Lanjutnya dalam hati.
Jangan lupa buat tingalin jejaknya ππ
Terima kasih udh nyempetin baca karyaku π