Unknown

Unknown
Bagian 9 Tujuh Pilar Utama



Sesampainya di tempat tujuan, pandangan putri Kenanga ditakjubkan dengan 7 buah pilar yang menjulang tinggi mengelilingi sebuah batu besar yang sangat cocok untuk dijadikan tempat untuk berkultivasi.


"M - mm ...." Mulut putri Kenanga masih dalam keadaan tersumbat. Orang tua yang dikenal sebagai Mpu Gong itu tertawa melihat gelagat perempuan di dekatnya yang sudah tak sabar untuk mengangkat suara.


"Hohoho, aku lupa dengan penyumbat mulutmu ini." Dia tertawa melirik putri Kenanga yang terlihat sedang memelototinya meminta untuk melepaskan penyumbat dari mulutnya.


"M- m - mmm." Berontak putri Kenanga semakin memelototi wajah orang tua itu dengan kesal.


Wush!


Orang tua itu mengangkat tangannya ke udara dan tak lama kemudian energi spiritualnya yang digunakan untuk menyumbat mulut putri Kenanga berangsur-angsur menghilang.


"Akhirnya aku bisa kembali berbicara." Pekik putri Kenanga kegirangan.


"Hohoho." Orang tua itu tertawa sambil mengelus-elus jenggotnya yang kian memutih.


Putri Kenanga melayangkan pandangannya kepada orang tua yang berada di sampingnya tersebut dan menatap matanya dengan lekat tanpa ampun.


"Kau dasar si tua bangka! Lihat saja jika energi spiritualku sudah lebih tinggi dari mu aku akan memerintahkan lima prajutir untuk memukul bokongmu selama 3 hari 3 malam tanpa ampun. Hehehe." Putri Kenanga senyam-senyum sendiri terbawa dengan dunia miliknya.


Pandangannya kembali dialihkan pada 7 pilar yang menjulang tinggi itu. "Hei kau si tua! Untuk apa membawaku ke sini?" ucap putri Kenanga dengan polosnya bertanya.


Orang tua itu berjalan ke arahnya dan menoyor kepala putri Kenanga dengan lembut tetapi agak keras lalu berkata, "kau idiot! Ya tentu saja untuk melatihmu kultivasi, bodoh! Tapi sebelum itu kau harus bisa melakukan kontrak darah dengan hewan spiritual, mereka berguna untuk mentransfer energi spiritualnya kepadamu." Jelas orang tua bangka itu sesekali tertawa mengusap-usap jenggotnya yang kian memutih.


"Eh? Bukannya kontrak darah hanya dilakukan oleh seorang kultivator yang sudah mencapai pencapaian peringkat langit? Apa manusia biasapun bisa melakukannya?" Tanya putri Kenanga heran.


"Hoho ... sepertinya sebelum kau melakukan kontrak darah dengan hewan spiritual, kau harus memperbaiki otakmu yang sedikit gesrek itu! Kau benar-benar idiot sekarang." Ucap orang tua itu sedikit kesal menyikapi kebodohan perempuan di depannya.


Dia mulai berjalan ke arah tengah diikuti putri Kenanga di belakangnya. "Duduklah di sini!" tunjuk orang tua itu pada sebuah batu besar.


Putri Kenanga mengangguk tanpa bertanya dengan cerewet dan duduk di atas batu yang ditunjuk orang tua itu begitu saja. Awalnya dia kesusahan dengan kebayanya yang sedikit kepanjangan, namun menyadari hal itu Mpu Gong mengubah pakaian Kenanga dengan pakaian yang lebih sederhana dan mudah digunakan untuk bergerak dengan bebas. Lebih tepatnya dia mengganti kebaya tersebut dengan pakaian lelaki pada masa itu dengan menggunakan energi spiritual miliknya.


Wushh!


"Ini jauh lebih baik dari pakaian ketat tadi." Gumam putri Kenanga menyadari pakaiannya menjadi lain.


"Haha sama-sama." Ucap orang tua itu kegirangan.


"Aku tidak mengucapkan terima kasih padamu." Tukas putri Kenanga lalu menyeringai penuh kemenangan.


Mpu Gong hanya berdecak kesal menyikapi kelakuan kekanakkan Kenanga kepadanya. Tanpa aba-aba dia melukai tangan Kenanga dengan energi spiritul miliknya. Sontak saja itu membuat putri Kenanga membelalakan matanya.


"Kau menyakiti tangan indah ini, kakek tua!" ucapnya dengan gemulai.


Namun perhatian orang tua itu masih pada lengannya, dia mengeluarkan sebuah telur besar dari balik cincin penyimpanan yang seperti dimensi itu. Tak heran dengan pemandangan itu, putri Kenanga sudah mengetahuinya dari gulungan kuno jika semua orang memiliki sebuah cincin penyimpanan yang sesuai dengan tingkat pencapaiannya, kecuali dirinya yang baru saja tiba di jaman ini tak punya apa-apa.


Orang tua itu meletakkan telur besar tersebut di bawah tangan Kenanga yang sudah mulai meneteskan darah.


"Hei tua bangka, apa yang kamu lakukan? Apakah ini kontrak darah? Tapi ini ... aku lakukan dengan telur? Tidak salah ya?" ucap putri Kenanga terus menghujani pertanyaan pada pria tua di sebelahnya dengan tatapan polos seakan tak bersalah.


Orang yang disebut Mpu Gong itu sama sekali tak menghiraukan celoteh putri Kenanga, dia masih terfokuskan pada satu titik. Mulutnya berkomat-kamit seperti sedang merapalkan mantra seperti penyihir dalam dunia dongeng dengan sapu lidi terbangnya.