
Hallo Readers!
Happy Reading !! 😊
"Hei kau si ayam, jangan terlalu melebih-lebihkan! Itu sangatlah lebay." Decak putri Kenanga bersungut-sungut memelototkan matanya.
Mendengar teriakkan tuannya, Ryu menciut dan berkata dengan nada yang sangat rendah. "Hiks, mahkotaku hilang ...." Ryu menunduk memainkan tanah dengan kakinya. Persis anak kecil. Kenanga jadi teringat pada anaknya ketika kehidupannya masih normal. Seingatnya anak lelakinya itu tidaklah bodoh dan manja seperti si ayam ini.
Kenanga mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafas kasar, "anak baik, aku yang telah menghilangkan tandukmu itu untuk sementara. Kau jangan sedih!" ucap Kenanga penuh penekanan di setiap kalimatnya diiringi senyum terpaksa.
Geram yang dirasakan Kenanga saat ini, jika saja si ayam tidaklah idiot seperti sekarang, dia ingin langsung menimpuk kepalanya dengan batu guna memperbaiki otaknya yang geser dan mencolok matanya agar bisa terbuka dari gelapnya cahaya kebodohan.
Sementara suara hatinya, "kau bodoh! Bodoh! Bodoh!" jahat sekali dia berkata begitu kepada makhluk yang masih suci. Suci? Hahaha Ryu bukanlah anak ayam yang ada dalam cangkang.
Sebenarnya dia adalah Naga Emas Neraka generasi ke - 4. Semua ini karena orang tua itu, yang tak lain adalah Mpu Gong yang salah menyebutkan mantra pembangkit jiwa. Dia salah menyebutkan satu kata yang malah membuatnya membangkitkan jiwa tersegel Naga Emas Neraka yang tersegel di bawah samudra selama puluhan abad. Dengan kata lain usia Ryu sekarang tidaklah main-main. Dia sudah sangat tua melebihi usia tuannya.
Mpu Gong saja sampai tak bisa memprediksi informasi tentang Ryu, dia sengaja memasang mantra kepada orang tua tersebut. Karena dirinya masih berada dalam pengawasan 2 dewa samudra.
Ryu sengaja mengikuti sandiwara ini, dan berpura-pura idiot. Sebenarnya hatinya benar-benar muak tapi lumayanlah ini bisa dijadikan hiburan untuknya selama dalam keadaan memulihkan tenaga dalamnya.
"Hei si ayam! Kau kenapa melamun? Jangan cengeng atau aku akan menghukummu." Kenanga berucap dengan ketus tetapi masih menampakkan senyum palsunya.
"Tu-tuan jangan hukum aku .... " lagi-lagi aku harus bersandiwara dengan manusia idiot ini.
Kenanga menarik bibirnya ke atas merekahkan senyuman. " Jadilah anak baik!" suaranya melemah tanda pasrah.
Kenanga kembali menatap sepasang mata hitam di sampingnya, Mpu Gong. "Aku akan kembali ke kediaman Maha Patih, tapi sebelum itu kau antarkan aku sampai ke pasar tadi tanpa sepengetahuan orang lain." Pintanya.
"Padahal ada cara yang lebih mudah dari itu." Mpu Gong menjentikkan jari.
"Apa? It - - -" perkataannya terpotong belum sempat ia mengatakan sesuatu, dirinya sudah berada di kamarnya. Pavillium Cahyan.
"Dasar orang tua seenaknya saja padaku, padahal aku akan membeli dulu baju di pasar, masa aku akan memakai baju lelaki seperti ini. Aku akan memukuli orang tua itu sampai babak belur." Gerutu Kenanga dengan suara rendah, tetapi masih bisa didengar oleh si ayam.
"Tu-tuan bajumu! Kau sudah memakai baju perempuan." Desis Ryu menunjuk pakaian yang tengah dikenakan oleh tuannya, Kenanga.
Kenanga melayangkan matanya pada pakaian yang tengah ia kenakan. "Ku tarik kata-kataku kembali." Ucapnya.
"Tuan, kau jangan menjilat ludahmu kembali." Ryu berkata setengah menertawakan tuannya.
"Diam kau!" Geram Kenanga.
"Dasar transgender." Lanjut Ryu dalam benaknya.
Author : Kau kira dia Luc***a L**a?!😆
Jangan lupa buat tinggalin jejaknya😉
Terima kasih udh nyempetin baca karyaku😊