
**Halo kakak semuanya!
Selamat membaca!! Hehehe ππ**
"Kakak, bagaimana dapat izin dari ayahanda?" tanya putri Mayangsari, si bungsu.
Kenanga menyimpan telunjuknya di dagu dan matanya melihat ke arah langit, sedang mengingat kejadian tempo hari.
"Em ...."
πΉ πΉ πΉ πΉ
Mentari sudah tepat berada di atas kepala. Kenanga duduk berhadapan dengan sang Maha Patih, menurut hati kecilnya dia adalah ayah rasa mertua, oke kalau dipikirkan kembali itu memang seperti kenyataan.
Jika dibandingkan dengan kehidupannya yang lalu saat di abad ke-21, karakter dan kewibawaannya sangat ... sangat persis dengan mertuanya dahulu.
Ekhem!
Maha patih berdehem membersihkan tenggorokkannya, dia masih menatap Kenanga yang tengah menunduk tak berani mengangkat wajahnya barang sedikit pun. Padahal yang sebenarnya adalah ....
"Apa-apaan maha patih ini? Kenapa dia terus menatap kepadaku?" batin Kenanga mulai bertanya-tanya.
Dia mengangkat sedikit pandangannya ke arah maha patih, matanya benar-benar tajam setajam elang.
"Em ... maaf a-ayahanda," Kenanga mulai mengangkat bicara. Sebenarnya dia sih tidak peduli, namun mengingat ini adalah sebuah permainan agar dia bisa mnyelesaikannya dan kembali ke zamannya di abad 21. Mungkin. Mungkin saja sih.
Ya ... mau tak mau Kenanga harus mengikuti sandiwara ini sampai tuntas.
"Apa yang akan ayahanda katakan?" ucapnya bertanya dengan nada pelan.
Sopan nggak sih?
"Hm, ayahanda mengizinkanmu untuk kembali ke pelatihan calon permaisuri. Namun ayahanda minta untuk menjaga dan mengawasi adikmu. Karena ayahanda mendapat laporan dari beberapa pengawal mata-mata jika putriku Mayangsari selalu ditindas oleh beberapa calon."
"Apa?!"
"Iya."
"Baik, ananda akan menjaga putri ketiga dengan baik. Terima kasih ayahanda."
πΉ πΉ πΉ πΉ
" .... Oke, kurang lebih seperti itu." Kenanga berucap sambil menjentikkan jari dan hanya dibalas dengan anggukkan kecil dari putri Mayangsari.
"Huft! Ayahanda selalu menganggapku anak kecil saja. Padahal aku sudah besar!" gerutu putri Mayangsari. Dia berjalan ke arah jendela.
"Kakak, kakak harus berhati-hati di sini. Aku tidak mau kakak kembali diracuni oleh salah satu calon ...." ucap putri Mayangsari. Terlihat di wajahnya ada banyak sekali kekhawatiran yang tersirat.
Kenanga berjalan mendekatinya kemudian memegang bahunya, "tenang saja! Percayalah pada kakakmu ini. Aku berjanji akan melindungimu!" kata Kenanga dengan percaya diri.
Putri Mayangsari betbalik menatap kedua mata Kenanga dengan lekat. "Benarkah? Terimakasih , kakak. Aku akan percaya padamu karena kau adalah kakakku." Putri Mayangsari memeluknya dengan erat, wajahnya kembali ceria.
Sangat polos. Ingin sekali menodainya. Tidak! Tidak! Sekarang ini dia adalah adikmu, jenderal! Ah sayang sekali.
.... *WTF! Kuy lupa! Sekarang aku juga wanita. Hiks.
Tapi ... ehehe, aktingku semakin hari semakin bagus saja*.
"Selamat datang kakak, ini adalah ruangan khusus untukku. Di dalamnya ada kamar tidur, ruang tamu, kamar para dayang, pemandian air hangat, dapur, kolam ikan, taman bunga, ruang belajar khusus kultivasi dan mansion untuk acara minum teh."
"Ini ... untuk satu orang saja?" tanya Kenanga sedikit tak percaya.
"Iya. Semua para calon juga mendapatkan pelayanan yang sama." Balasnya.
"Se-semua?" Kenanga mulai menelusuri tempat yang ditunjukkan putri Mayangsari.
Benar-benar deh .... Kenanga berjalan mengorek telinganya dengan pikiran tak habis pikir.
Bahkan pavillium Cahyan juga kalah dari ini. Seberapa kayanya sih kerajaan Nusantara ini? Ya ampun! Bahkan dindingnya pun ditaburkan zambrud. Astaga naga! Demi semur jengkol ceu Edoy! Ini mah super luxury!
Kenanga terus menggelengkan kepalanya, tak henti-hentinya dia berdecak kagum menikmati kemewahan ruangan tersebut.
"Btw, tempat untukku di mana?" tanya putri Kenanga.
"Alamak cik! Lupa. Ayo ikut!" ajak Putri Mayangsari menggandeng tangannya.
"Oh ya! Di pavillium Mustika selatan dihuni oleh 5 calon termasuk aku." Lanjutnya.
Nih bocah maen tarik aja. Untung cantik, kalo enggak tampiling nih muka. Sabar ... sabar ....
"Di setiap gerbang kediaman diberi bendera warna-warni. Kakak bisa liat sendirikan! Punyaku warnanya merah muda,"
"di sebelah sana yang hijau itu milik putri Kinanti putri bungsu senopati agung, kalau yang Jingga milik putri Srirahma dari Kahyangan, warna merah milik putri Wiloka Diah putri Adipati Mahardika dan yang warna magenta yang di sebelah sana dan jaraknya paling jauh dari gerbang pavillium adalah kediaman milik putri Diani, putri bupati B." Jelas putri Mayangsari menunjuk satu persatu ke arah kediaman orang lain.
"Ah iya-iya ...." Kenanga mencoba menanggapi dengan santun, padahal ....
Nih bocah perasaan nyeroscos aja dari tadi. Gak cape apa tuh mulut senam mulu? Haus-haus kek ... untung statusnya adik, kalau orang lain nih lakban tuh mulut.
"Eh, tadi siapa aja namanya?"
"Ih kakak, kakak dengerin aku gak sih?"
"Ehehe, dengerin sih dengerin tapi gak fokus."
"Em ... gini aja deh. Apa password telepati kakak?"
"Hah? Password? Telepati ada passwordnya? Masa iya sih? Bukannya tinggal yakini hati mau telepati ke siapanya, tinggal cus langsung jadi. Lah ini ada passwordnya?"
"Kakak kenapa sih? Kalo telepati gak ada passwordnya entar malah salah sambung gimana?"
Lah, kok ni orang malah ngawur? Tapi pas aku telepati sama si ayam gak buruh yang namanya password tuh. Ini .... Beneran harus ada passwordnya?
"Itu karena kita ada perjanjian darah." Sahut Ryu, berbicara dalam benaknya.
"Kamu ngapain maen nyahut gitu?!"
"Cuma memberi sedikit pencerahan saja gak usah galak-galak gitu!"
"Apaan sih! Hus sana jangan ngajak ribut!"
"Asiyap!"
"Asyiap-asyiap. Tau dari mana?"
"Ya karena tuan kalo sedang mandi selalu senandung asyiap ... asiyap ...." Ryu memeragakan senandungan tuannya melewati telepati.
"Kamu nguntit aku mandi?! Awas loh ya mata kamu bintitan! Lagian suaraku gak kayak kaleng rombeng gitu."
"Iya lah iya .... Up to you!"
"Widih! Kamu udah bisa bahasa alien kuy?" goda Kenanga.
"Apaan sih!" gerutu Ryu di balik telepatinya.
"Kak ...."
"Kakak .... "
Kenanga tersadar dari kegiatannya, dia menoleh ke arah adiknya. Dia mendapati seorang wanita yang tak kalah elok parasnya dengan dirinya. Ya iyalah sombong dikit ngapa, emang fakta kalau Kenanga itu cantik.
"Salam putri, semoga Sanghyang selalu memberkatimu. Apa kabarmu, putri Kenanga?" ucap wanita tersebut.
"Baik." Balasnya.
Kenanga kembali bertelepati dengan si ayam. "Bagaimana cara membuat password telepati?"
"Tinggal cus aja langsung jadi."
"Hah, apa?"
"Itu passwordnya."
"Oh."
Kenanga berbisik pada adiknya, "passwordnya, 'tinggal cus aja langsung jadi' itu."
"Oke."
**Terima kasih banyak udah nyempetin waktu buat baca karya aku, hehehe ππ jangan lupa buat ninggalin jejak jempolnya ya!!
Makasih.
To be continue**.