
Mikey x Reader x all character
..........
[name] mencoba keluar sejenak untuk membeli air minum di mesin minuman rumah sakit. Namun pada saat dirinya menekan tombol pilihan minumannya, ia mendengar bisik-bisik perawat yang lewat mengatakan sekumpulan anak geng tengah menuju arah Yokohama, dan mereka takut pada anak-anak itu ketika berpapasan di stasiun kereta.
"Anak geng, Yokohama.. Jangan-jangan." gumam [Name] mencerna informasi dari orang yang lewat berbisik-bisik tadi.
Gadis itu merogoh ponselnya segera, menekan tombolnya memanggil nama seseorang di ponsel.
"Hanagaki.. angkat." Gumam [name] yang pikirannya mulai kacau.
Sedangkan Hanagaki Takemichi di sana tengah bertarung dengan anggota Tenjiku. Pertarungan Toman dan Tenjiku sudah mulai sejak beberapa jam yang lalu. Takemichi ingin mengangkat panggilannya, namun ia tak bisa sebab saat ini dirinya sedang berjuang bersama teman-temannya.
"Tidak diangkat.. " Gumam [name] yang panggilannya kini harus terputus.
"Aku harus kesana.. Aku harus menghentikan Kisaki. Izana tak boleh mati, Mikey tidak boleh berubah seperti dalam cerita aslinya." ucap [name] yang akhirnya membuat keputusan.
[Name] pun segera bersiap-siap setelah kembali ke kamar rawat inapnya. Ia mengenakan Hoodie untuk menutupi tubuh dan kepalanya yang masih terbalut perban. Padahal dirinya belum sepenuhnya pulih, dan rasa sakit serta pening dikepalanya masih terasa tapi [name] tak mau diam saja melihat akhir dari perseteruan Toman dan Tenjiku. Ia tak menginginkan akhir seperti cerita aslinya.
"Bertahan ok [name], kau pasti bisa." gumamnya yang saat sedang mengendap-endap keluar dari rumah sakit sambil menahan pening di kepalanya akibat kondisinya yang belum pulih sepenuhnya.
.
.
[name] berhasil keluar dari rumah sakit, tetapi ia harus bertemu Emma dan Hinata di jalan pada saat mereka berdua akan menjenguk sembari membawakan titipan dari ibu [name] yang tidak bisa datang sebelum jam tutup besuk.
Tanpa sengaja [name] menabraknya karena kondisinya yang kembali menurun akibat memaksakan diri. Dengan sigap, Emma membantu [name] bangun yang dibantu Hinata.
"[Name], kau harus kembali ke rumah sakit. lihatlah, kondisi mu semakin buruk jika begini." Ujar Emma yang sudah cemas setengah mati.
"iya, lagipula Takemichi dan lainnya pasti akan memenangkan pertarungan ini." ucap Hinata menambahkan.
"tidak Emma, Hinata, tidak semudah itu. Ini akan lebih buruk lagi.. Izana akan mati jika aku terlambat."
Emma terdiam, ia tak percaya akan ucapan [name].
"Apa maksudmu, [name]?"
"Emma, kau tahu.. Kisaki melakukan percobaan pembunuhan padamu dengan memanipulasi Izana. kau ingat kan aksi pemukulan itu, aku memberitahu Draken agar dia disisimu."
Emma mengingat itu, Draken bersamanya saat kejadian Kisaki akan memukul dirinya dengan tongkat bisboll.
"[name], sebenarnya kau siapa?" tanya Hinata.
"Aku akan memberitahukan pada kalian nanti, sekarang bantu aku pergi menuju pelabuhan Yokohama. kita hentikan perseteruan Mikey dan Izana."
Emma tergerak hatinya, ia memang ingin menghentikan perselisihan saudaranya itu.
"baiklah, ayo kita kesana. Aku tidak mau perselisihan ini mengakibatkan korban untuk saudara-saudara ku."
"Aku juga ikut."
[Name] mengangguk, dan mereka pun segera pergi menuju pelabuhan di Yokohama.
..........
Sepanjang perjalanan ketiga gadis itu resah dan takut terutama [name] yang kepalanya semakin berdenyut sakit diakibatkan oleh lukanya yang belum sepenuhnya pulih. [name] sepanjang jalan hanya bisa menahan sakit, keringat dingin mengucur disekitar tubuhnya. Emma dan Hinata menyadari itu hanya membantu gadis itu.
"[name] kau yakin dengan kondisimu?"
"tidak perlu khawatir Emma, aku akan baik-baik saja."
Sedangkan Hinata yang membantu [name] mengelap keringat dingin yang sejak tadi mengalir di dahinya.
"Aku benar-benar berhutang budi padamu, [name]. Kau tak hanya menjaga Izana tapi kau membantu Mikey dalam hal ini."
"Emma, aku melakukan ini, karena aku menyayangi kalian. Aku tidak ingin kehilangan kalian semua."
Emma menangis, begitupun dengan Hinata yang mendengarnya. [name] begitu sama seperti Takemichi yang sekarang tengah berjuang menyelamatkan hidupnya. Hinata sudah tahu jika Takemichi yang sekarang adalah Takemichi dari masa depan.
.
Ketiga gadis itu pun sampai pada tujuan, dan segera saja menuju lokasi dimana Tenjiku dan Toman berselisih.
..........
Mikey sudah nampak babak belur ketika bertarung dengan Izana. Sedikit banyaknya, Mikey tetap mengalah dalam pertarungan ini. Ia tetap tidak bisa melawan saudaranya meskipun tahu Izana sudah menyakiti saudara perempuannya dan juga [name].
"Kenapa kau tak serius Mikey! Kau meremehkan ku!" kesal Izana yang berhasil menghajar Mikey dengan perasaan marah.
"Aku tak pernah meremehkan mu. Aku hanya tidak ingin bertarung denganmu. Meskipun aku marah, aku tak bisa menyakiti saudaraku."
"Saudara? Kau pikir aku saudaramu. Kita tidak pernah memiliki hubungan darah. Baik Shinichiro, kau dan Emma, Aku tak memiliki hubungan darah dengan keluarga Sano. Jadi, untuk apa kau mati-matian memperbaiki semuanya."
"Aku tak peduli kita tidak memiliki ikatan darah. Kau tetap saudaraku Izana, kau tetap kakakku."
Izana mengepalkan tangannya, perasaan marah semakin bergejolak dihatinya. Ia tak pernah lupa bagaimana Shinichiro membohonginya dengan mengatakan bahwa dirinya adalah saudaranya. Namun kenyataan pahit ketika Izana tahu ia tak memiliki hubungan darah dengan keluarga Sano, tidak seperti Emma yang jelas memiliki hubungan darah bahkan Shinichiro lebih memilih Mikey dan menelantarkan dirinya begitu saja.
"Omong kosong! Semua omong kosong! Tidak kau, Shinichiro bahkan [Name] mengatakan hal omong kosong. Kalian semua benar-benar sialan, Kalian benar-benar merusak hidup ku."
Izana yang tersulut emosi, entah mendapatkan senjata darimana, remaja itu merogoh senjata api didalam saku toppoku nya. Moncong senjata api itu mengarah pada Mikey yang tetap berdiri memandang sedih Izana.
"Lebih baik kau mati saja daripada aku harus melihatmu. Aku sudah muak dengan semuanya."
Tangan Izana gemetar ketika ingin menarik pelatuknya. Tetapi Kakucho berusaha menghentikan aksi nekat Izana itu.
"Izana hentikan! kau bisa membunuhnya."
"Diam Kakucho! Kau hanya seorang pelayan.. Kau tidak pantas menghentikan ku! "
"Pantas atau tidak, aku tidak akan membiarkan mu membunuh seseorang Izana. Sadarlah, Kau sudah menyakiti [name] dan sekarang kau ingin menyakiti orang yang menjadi saudaramu."
"Dia bukan saudara ku, Kakucho. [Name] juga dia mengkhianati ku."
"Dia sama sekali tak mengkhianati mu. Dia benar-benar tulus peduli padamu Izana. Apa hanya karena kebencian mu pada Mikey, kau menutup semua kebaikan [name] untukmu?"
Izana mengeratkan senjatanya, ia ingin melupakan itu tapi tetap saja kebaikan [name] masih terbayang dibenaknya.
"inilah mengapa aku tidak suka kau ikut campur, Kakucho." gumam Izana.
"Izana.." gumam Kakucho sedih.
Mata violet Izana berkilat, perasaan marah seolah-olah memakan dirinya. Remaja itu sungguh kehilangan akal sehatnya. Namun Kakucho tetap bersikeras menghentikan Izana, ia tidak mau Izana sampai membunuh Mikey karena egonya. Izana memang ketua Tenjiku tetapi Kakucho tak ingin Izana menjadi seorang pembunuh.
Sedangkan Kisaki merasa kesal dengan keadaan ini. Menurutnya, Izana sangatlah plin-plan. Jika seperti ini terus tujuannya untuk mencapai puncak tidak akan pernah terjadi dan ia akan kalah oleh gadis asing yang beberapa hari lalu ia sudah ketahui identitasnya.
"Brengsek! ini lama sekali. Seharusnya cepat selesaikan." Teriak Kisaki yang sudah tidak sabaran. Pada akhirnya Kisaki merogoh senjata api didalam saku seragam Tenjiku-nya. Kisaki mengarahkan senjata api itu pada Izana yang masih tengah berdiri dengan keraguan ketika akan menembakkan senjata apinya.
Tanpa pikir panjang Kisaki menembakkan isi senjata api itu, Namun tembakan itu meleset karena Kakucho menghalanginya dan tembakan itu mengenai selangka Kakucho.
Izana sendiri terkejut, ia melepaskan senjata api itu ke tanah berpasir. Raut Izana panik, ia tak menyangka Kakucho akan melakukan perlindungan padanya.
"Kisaki!!" marah Mikey ketika ia menyaksikannya. Mikey ingin menghajarnya namun Kisaki masih memegang senjata apinya.
"brengsek kau Kisaki! " ucap Kakucho terbata-bata menahan rasa sakit akibat luka tembak. Kakucho hanya bisa terduduk di tanah berpasir sambil menutupi lukanya.
Izana terpaku, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ini tidak ada dalam rencana. Kemudian Izana ingat perkataan [name] tentang rencana Kisaki dan penghianatannya, juga kematiannya di hari yang sama.
"Apakah kematian ku akan benar-benar terjadi?" Batin Izana.
"Izana, apa kau akan tetap diam begitu saja? Bukankah kau ingin menjadi yang terkuat se-Jepang? Tapi kenapa sekarang kau malah lembek sekali." kesalnya.
Izana tak menjawab, hatinya terombang ambing. Di satu sisi Kakucho adalah orang kepercayaan yang tak bisa ia abaikan, disisi lain ia memang ingin menjadi yang terkuat setelah mengalahkan Mikey.
"Kalau begitu, biar aku saja yang mengakhirinya Izana. Kau tidak bisa membunuh Mikey kan? Biar aku saja yang melakukannya." ucapnya menyunggingkan senyum jahat.
Mikey sendiri ikut terpaku, tak bisa melakukan apapun perihal kejadian di luar dugaan ini. Sedangkan Izana masih terdiam, ini bukan keinginan hatinya yang sesungguhnya. Izana hanya ingin mengendalikan Mikey, menjadikan Mikey sebagai bonekanya di masa depan. Namun, keraguan hatinya membuat ia tak bisa melakukannya sekarang.
pelatuk kembali diaktifkan, dan Mikey masih menatapnya tajam Mikey. Mikey memikirkan bagaimana menghadapi Kisaki yang tengah memegang senjata api itu. Ia tak bisa sembarangan maju begitu saja dengan tangan kosong.
Ketika akan di tembakkan, sebuah batu bata terlempar ke kapala Kisaki.
'buk..'
Kisaki terpelanting, senjata terlempar ke sembarang arah. Pelipisnya berdarah dan ia berusaha bangun dan melihat siapa pelakunya.
"Kena.. kau Kisaki! " Ucap gadis itu dengan lantang.
Semua terkejut, begitupun dengan Izana dan Mikey yang sama terkejutnya dengan kemunculan [name] yang sertai dengan Emma dan Hinata.
"[Name]." ucap Mikey dan Izana serempak.
"Emma.." Gumam Draken.
"Hinata.." Gumam Takemichi dari arah lain.
"Kau.." kesal Kisaki ketika mendengar suara [name].
"Brengsek!" umpat Kisaki sambil arah matanya mengarah pada senjata api yang terlempar diarah tak jauh darinya.
[Name] yang menyadari arah mata Kisaki pun turut bersiap untuk mengambilnya meskipun pandangannya samar-samar mulai memburam.
Gadis itu mengambil langkah untuk segera mengambil senjata api itu, begitupun dengan Kisaki yang melakukan hal yang sama. Namun Kisaki lebih cepat dari [Name], sedangkan [name] tak hilang akal. ia sekuat tenaga menendang keras lengan Kisaki ketika remaja itu berhasil memegang senjata api tersebut.
Senjata api itu terlempar jauh, dan [name] roboh terduduk tak jauh dari Kisaki.
"Dasar pengganggu. Kau hanya figuran yang tak pernah ada dari kehidupan ini. " Teriak Kisaki.
Semua terkejut dengan ucapan Kisaki, begitupun dengan [Name] yang tidak menduganya Kisaki sudah tau identitas dirinya. Berbeda dengan Izana, Takemichi dan Draken yang sudah diberi tahu lebih awal, mereka sudah tidak kaget dengan ucapan Kisaki.
"fiuh.. Jadi kau sudah tahu? baguslah.. biar figuran sepertiku ini yang akan menjadi MC yang akan mengalahkan mu." ucap [name] yang percaya diri ketika menatap Kisaki dan menyunggingkan senyum liciknya.
"Sialan!! Kenapa pukulan ku tidak membuatmu mati juga?" Ucap Kisaki mengepalkan tangannya.
[Name] tertawa, menertawakan kegagalan Kisaki kali ini. Gadis itu tetap bertahan dari luka yang belum pulih. Mereka melihat gadis itu berlaga layaknya seperti Baji Keisuke ketika di pertarungan Valhalla kala itu.
"Dia seperti Baji-san." Gumam Chifuyu ketika melihatnya.
Kedua kubu kini terhenti setelah melihat tindakan Kisaki, mereka menyaksikan bagaimana Kisaki mengkhianati ketuanya, Izana . Bahkan hal terduga, mereka harus menyaksikan rahasia gadis itu sebenarnya.
"Kau ingin tahu kenapa aku tidak mati, Kisaki?"
Kisaki berdecih kesal akan omongan gadis, [name] dengan kata-katanya mengejek kisaki yang kalah strategi. [Name] kemudian berdiri tegap meskipun kepalanya kembali mengalami pendarahan hebat dibalik perban yang dipakainya
"Karena.. aku sudah mati satu kali dan Tuhan ternyata masih mengasihi ku." Ucap [Name] yang berdiri tanpa mempedulikan kondisinya sambil menunjuk dirinya sendiri dan tersenyum kemenangan.
Mendengar kata-kata itu Kisaki semakin murka terhadap [name], kebenciannya tersirat dimatanya. Namun gadis itu sama sekali tak takut dengan kisaki, ia sudah siap untuk melawan remaja laki-laki berkacamata itu.
"Apa maksud dari semua ini?" tanya Mikey yang tak mengerti.
"Mikey.. Bukan saatnya menanyakan hal itu, lebih baik kau yakinkan Izana, lindungi dia sebelum si manusia manipulatif ini melakukan hal yang diluar di dugaan. Kau lupa si Kacamata sialan ini punya seribu cara untuk memanipulasi orang, benar kan mikey?" Ucap [name] serius pada Mikey dengan mata yang mengatakan bahwa kau juga sudah tahu siapa Kisaki, Mikey.
Mikey tak dapat menjawab, [name] sangat cermat dalam hal ini. Mikey memang sudah tahu sejak awal, namun ia menutupi itu semua demi kedamaian teman-temannya.
Izana sendiri terdiam, ia tak percaya [name] akan datang kesini untuk melindunginya dalam kondisi tak baik-baik saja. Padahal Izana berkali-kali menyakiti perasaannya bahkan hampir saja membunuhnya. Tapi gadis itu tetap saja datang untuknya.
"Kenapa? Kenapa kau masih saja menyelamatkan ku [name]?" Tanya Izana.
"Izana, apa kau lupa dengan ceritaku dulu? Mana mungkin aku membiarkanmu di manipulasi oleh dia dan kau mati begitu saja diakhir dengan menyedihkan. Kau tahu, ada orang yang akan lebih sedih dariku."
Izana ingat itu, [name] pernah mengatakan bahwa Mikey lah yang paling sedih diantara yang lain.
Mikey sendiri cemburu melihat percakapan keduanya yang terlihat tulus, tetapi ini bukan saatnya mengurusi perasaannya.
Seandainya jika [name] memilih kakaknya pun, ia akan menerima itu. Sedangkan Izana mencerna kata-kata gadis dihadapannya.
"dan.. Kau jahat tidak menjengukku, Izana." Ucap [name] pada Izana yang masih terpaku.
"Maaf..."
"Aku ingin marah pada mu tahu, kau itu jahat sekali tak menjengukku."
Kisaki semakin kesal dengan percakapan mereka, ia pun segera mengambil kesempatan dengan mengambil senjata api itu, tetapi Mikey yang menyadari pun langsung saja menghajar Kisaki hingga terlempar beberapa meter.
"Izana, cepat lindungi [name]."
Izana menghampiri [name], tubuh gadis itu mulai ambruk. Izana pun menopang tubuhnya agar gadis itu tak jatuh. Sedangkan Kakucho sendiri dibantu oleh Takemichi dan Hinata.
"Kau masih sakit, tapi kau berusaha datang untukku. terima kasih, kau sudah menyadarkan ku kali ini."
"Sudah ku bilang bukan, aku tidak akan membiarkanmu mati."
Gadis itu tersenyum, dan hati Izana pun luluh akan [name].
Kisaki sendiri kini mulai terdesak, banyak anggota Tenjiku yang berbalik memusuhi Kisaki.
"akhirnya ketahuan busuk juga ya." ucap Ran yang memegangi batonnya.
"kau benar aniki." timpal Rindou sang adik.
.
Izana menggendong [name], gadis itu terlihat makin pucat dan Izana sangat khawatir padanya.
"Oi Mikey.. sepertinya kita harus hentikan semua ini. Ada orang yang lebih berbahaya dari ini." ucap Izana menatap Kisaki penuh amarah.
Mikey yang mendengarnya mencerna ucapan Izana dan ia mulai mengerti maksud Izana, yaitu Kisaki.
Kisaki yang kalah kali ini pun tak bisa berbuat apapun, ia terdesak. Tetapi sebuah motor melintas dengan si pengendara membawa Kisaki untuk menaiki motornya dan melarikan diri.
"Sampai kapan kau berdiam diri? Kau tak ingin mati oleh mereka bukan?" ucap Hanma yang membawa Kisaki.
Kisaki berdecih, ia pun akhirnya ikut dengan Hanma.
"Jangan biarkan Kisaki melarikan diri." ucap Takemichi yang mengejarnya bersama dengan Draken dan Chifuyu.
..........