
Mikey x Reader x All character
..........
[Name] dalam masa-masa perawatan. Gadis itu mengalami koma akibat serangan Kisaki beberapa waktu lalu. Hingga suatu hari terjadi perseteruan yang tak bisa dihentikan.
Mikey begitu murka pada Izana. Remaja itu berani datang sendiri menuju sebuah apartemen kecil yang di tinggali oleh Kurokawa Izana. Izana berada disana, ia sendiri berwajah muram ketika mendapat berita dari bawahannya bahwa [name] mengalami koma.
Izana sendiri merasa bersalah pada [name] ketika target sasaran Kisaki berubah menjadi [name]. Ia begitu marah pada Kisaki pada saat itu. Namun tetap saja Kisaki pandai memanipulasi Izana sehingga niatnya semakin tak terhentikan untuk menghancurkan Mikey. Keegoisannya semakin memuncak ketika Kisaki memanas-manasi hubungan asmaranya dengan [name] yang akan tetap memilih Mikey dibandingkan dirinya. sehingga Izana mengenyampingkan nalurinya, dan tetap menyalahkan Mikey atas semua peristiwa yang terjadi.
"Kaulah penyebabnya.. Seharusnya kau sadar itu, Mikey." tuduh Izana pada Mikey.
Mikey awalnya tak ingin menanggapi itu, tapi Izana sudah diluar batas. Mikey tidak peduli Izana menyalahkan dirinya tentang apapun tetapi jika menyangkut dengan [name] bahkan sampai sudah menyakiti gadis itu, Mikey tidak bisa menerimanya.
[Name] dibuat koma oleh Kisaki yang merupakan bawahan Izana, dan yang membuat Mikey marah adalah semua itu atas perintah Izana sehingga saat ini gadis itu terbaring koma dan entah kapan akan bangun dari tidur panjangnya itu.
"Padahal aku membiarkanmu bersama [name] agar kau selalu menjaganya. Tapi kau malah menyakitinya." ucap Mikey marah.
"Terus kau mau apa? Membunuhku?"
Mikey mengepalkan tangannya. Dark Implusive muncul disaat dirinya merasakan rasa marah yang memuncak.
"Tidak hanya Emma yang akan kau sakiti, bahkan kau melukai [name] yang menjadi kekasih mu. Aku tak bisa memaafkan mu." Ucap Mikey sekali lagi.
Izana terkekeh pada akhirnya, ia berhasil memancing emosi ketua Toman itu, meskipun sebenarnya Izana sendiri marah terhadap dirinya sendiri karena tak bisa menjaga [name].
"Lalu, apa mau mu, Mikey? Balas dendam demi kekasihku?"
Rasa cemburu semakin membakar hati Mikey, ia mencoba menahan amarahnya untuk tidak membuat keributan di apartemen milik Izana.
"Bukankah waktu itu kau menantang Toman?" Ucap Mikey yang akhirnya keluar itu dari mulutnya.
Izana ingat itu, namun hal itu tertunda sebab rencana tersebut gagal karena ulah [name] yang membocorkan rahasia itu pada Draken yang menyebabkan Emma tetap hidup. Padahal ia bersusah payah membuang persaudaraannya itu demi tujuan utamanya, Mikey. Namun hari ini, Mikey menanyakan tatangan itu kembali saat [name] yang menjadi korban.
"Ah ya, aku ingat itu. Jadi kau akan menerima itu, Mikey?"
"Tentu saja, aku akan menghancurkan Tenjiku. Aku tidak akan menyerahkan [name] padamu jika dia sudah pulih."
Izana terkekeh, namun sebenarnya hati Izana ikut marah dan tidak terima jika [name] harus bersama Mikey. Gadis itu hanya miliknya dan bukan milik Mikey.
"Baiklah, tepat tanggal xx. aku Tunggu kalian, Toman di pelabuhan. Kita akan bertempur disana untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemenang."
Keduanya berpandangan tajam. Aura Mikey dan Izana tak terelakkan, mereka berdua akan mengakhiri perselisihan tersebut seusai dengan tanggal yang sudah ditentukan.
..........
[Name] POV
Aku terbangun dalam sebuah ruangan putih yang awalnya hanya kosong. Lama kelamaan, ruangan putih itu berubah menjadi sebuah kawasan perbukitan dengan pemandangan indah yang mengarah kepusat kota hingga terlihat sebuah lautan disana.
Seorang remaja berdiri dengan rambut hitam panjang yang tergerai tertiup terbawa angin. tubuhnya mengarah ke pemandangan itu, ia terlihat tenang sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Kau berada disini [name]-san?" tanyanya padaku yang menggunakan nama asliku.
Aku sendiri cukup terkejut, dia pun berbalik mengarah padaku. ya.. Remaja itu adalah Baji Keisuke yang saat ini berada di alam bawah sadarku.
"Baji.." Gumamku.
Aku sungguh senang bisa melihatnya bercampur sedih dan menyesal karena tidak bisa menyelamatkannya. Meskipun ini hanya di dalam alam bawah sadar seorang [name], aku begitu tidak bisa berkata-kata ketika bertemu tokoh fiksi favorit ku yang dikategorikan telah mati oleh si penulis.
Dia menghampiriku, memelukku memberikan ketenangan layaknya seorang kakak yang melindungi adik yang sesungguhnya.
"Aku dan adikku sudah memberi beban berat untukmu. Maafkan aku yang tak bisa membantumu."
Tanpa sadar aku mengeluarkan air mataku, kata-kata Baji memang benar.. ini terlalu berat untukku yang tengah berjuang di dalam dunia komik fiksi ini untuk bertahan hidup.
"Seandainya aku masih hidup, aku pasti akan membantumu. Namun nyatanya, aku mati. Tujuanku pun gagal untuk menghentikan Kisaki, dan sekarang malah kau yang berada di tempat ini.. tempat di mana antara hidup dan mati."
Baji benar, aku berada diantara tengah-tengah itu. Jika seandainya Tuhan harus membuat mati dua kali. Aku hanya bisa pasrah dan mengakhiri semuanya, meskipun hatiku sedih jika harus meninggal teman-temanku terutama Mikey.
"Aku harap tuhan memberikan kesempatan untukmu lagi, agar kau bisa menjaga Mikey, [name]-san. Nampaknya sejak dulu dia menyukaimu ketika kau masuk ke dalam tubuh adikku."
"Kau benar, Mikey menyukaiku dan aku juga memiliki perasaan yang sama setelah aku mencoba untuk bertahan hidup di duniamu dengan mencoba menyelamatkanmu dari kematian saat itu."
"Kau terlalu jujur.. tapi baguslah. Mikey akan senang mendengar itu."
"Tapi sayangnya tidak semudah itu.. diantara kami telah terjadi banyak hal."
Baji melepas pelukannya, menghapus air mataku. Dengan senyuman khas bergigi taringnya dia menepuk-nepuk kepalaku semaunya. Namun Baji melakukan itu karena aku dianggap sebagai adiknya. Padahal usiaku hampir sama dengan hanagaki Takemichi di masa depan tapi Baji mengabaikan itu.
"Aku tahu.. Tapi aku yakin kau bisa mengatasinya. Buktinya, kau bisa merubah Mikey dan kau bisa merubah Kazutora menjadi orang yang lebih baik."
Aku sedikit tersenyum "Bukan aku yang melakukan itu, tapi aku dibantu Takemichi."
"Tapi pengaruh mu yang lebih besar untuk Mikey. Kau bisa dibilang, pengganti Shinichiro dalam kehidupan Mikey."
"Aku tidak bisa menggantikan posisi Shinichiro-san, Baji. Aku hanya sekedar orang yang menyukainya saja."
"Tapi kau berarti baginya. Kau yang membuat semangat hidup Mikey kembali."
"itu terlalu berlebihan."
Tanggapanku hanya tersenyum ketika Baji dengan polosnya mengatakan itu. Kemudian ia memegangi kedua pundakku.
"Padahal kau adalah orang dewasa, tapi setelah kau masuk ke tubuh adikku. Kau sungguh bisa menyesuaikan seperti remaja SMP, [name]-san. " Ucapnya.
"Ya... Seperti yang kau lihat, ini semua karena aku terbiasa dengan kehidupan disini sehingga melupakan aku ini orang dewasa. Ini memang merepotkan tapi mau bagaimana lagi, Baji. Aku harus menggantikan peran adikmu kan."
"Ya.. Aku tahu. Setidaknya adikku yang sebenernya sudah damai sekarang. Ini semua berkatmu, dan aku sudah bertemu dengannya."
Angin berhembus dalam keheningan, aku tak menyangka Baji sudah bertemu dengan jiwa pemilik tubuh asli adiknya, Baji [name].
"syukurlah.." gumamku.
Baji tersenyum sambil mengucapkan terima kasih padaku.
"[Name]-san, sepertinya kau harus kembali. Aku mendengar suara ibu yang sedang menangis sambil berdoa untukmu dikuil.. dan juga sepertinya Mikey memanggil namamu sejak tadi."
aku memandang ke arah Baji tak percaya, tapi samar-samar aku memang mendengar suara seseorang memanggil namaku dan berharap diriku kembali.
"Kau mendengarnya? Sepertinya si bodoh itu menangis untukmu. Baru kali ini dia menangis lagi seperti itu." ucap Baji yang tersenyum sambil arah kepalanya menengadah memandang ke arah langit cerah.
Aku memang mendengar suara panggilan Mikey yang menyebut namaku. Tapi aku tidak bisa melakukan hal diluar kuasa ku.
"Kembalilah.. Dia menunggumu.."
Sosok Baji Keisuke perlahan menghilang dan tergantikan oleh tangan seseorang menggenggam erat pergelangan tanganku, orang itu menarikku dari lorong putih kosong itu dan aku hanya bisa mengikutinya sampai arah cahaya paling terang.
Saat aku kembali sadar, Mikey menggengam tanganku. Matanya terlihat sembab, bahkan ia tak percaya saat aku membuka mata untuk pertama kalinya.
"Mi..key.." ucapku lemah ketika melihat Mikey yang pertama didekatku.
"[Name]... Syukurlah.. Akhirnya kau bangun." Ucap Mikey yang airmatanya terjatuh. Namun aku teringat kata-kata Baji tadi, Mikey menangis untukku dan itu nyata sekarang. Aku berusaha menggerakkan tanganku untuk menghapus airmatanya.
"Baji benar, Kau menangis Mikey."
"Baji.."
"Ya, Aku bertemu Baji dan dia mengatakan kau menangis sambil memanggil namaku."
Mikey menatap tak percaya ketika aku mengatakan tentang Baji secara terbata-bata.
.
Tak lama tim medis pun datang memeriksa kondisiku setelah Mikey memencet tombol didalam ruanganku. Hal itu membuat Mikey harus keluar sebentar untuk melakukan pemeriksaan kondisi ku lebih lanjut.
Sedangkan Mikey sendiri hanya duduk bersandar di kursi tunggu sambil memikirkan kata-kataku tadi.
"Baji.. benarkah kau bertemu [name]?" batinnya.
..........
Author POV
Beberapa hari kemudian, [name] membaik. Namun ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.
Hari ini Mikey tak datang seperti biasanya, begitupun dengan teman-teman dari Toman pun tak kunjung datang hari ini.
"Kenapa dengan mereka ya?" batin [name].
.
Malam harinya, [name] hanya melamun ditempat tidurnya, ia hanya melihat atap-atap langit rumah sakit sambil memikirkan bagaimana kelanjutan perseteruan Toman dan Tenjiku yang lama tidak terdengar semenjak dirinya masuk rumah sakit.
Bahkan Izana sendiri tidak pernah mengunjunginya, untuk menanyakan keadaannya dirinya dipesan pun tidak ada. Padahal remaja bermata violet berambut putih undercut itu adalah kekasihnya tetapi ia sama sekali seperti orang yang tidak peduli.
"hah.. lagipula kami jadian karena terpaksa. Tapi bukan itu yang aku khawatirkan. Aku mengkhawatirkan konflik Tenjiku dan Toman. " Gumam [name]
"Aku takut ini terjadi seperti cerita aslinya.."
..........
Toman berdiri berhadapan dengan Tenjiku di pelabuhan. Sang ketua kini saling berhadapan dengan tatapan tajam.
"Kupikir kalian pengecut, nyatanya tidak. Namun sayangnya, kalian akan tetap kalah." ucap Izana.
"... Dan [Name] akan tetap bersamaku, Mikey." bisiknya.
Mikey hanya mengepalkan tangannya, ada perasaan marah dihatinya. Padahal Mikey menginginkan perdamaian antar saudara ini, ia rela memberikan apapun pada Izana asalkan perselisihan ini berakhir tanpa menyakiti orang-orang terdekatnya. Namun, kebencian Izana membuat semua itu menjadi tak berguna dan membuat [name], gadis yang disukainya harus masuk rumah sakit.
"Izana, sebenarnya aku tak ingin melawan mu. Tetapi aku sangat marah ketika kau ingin membunuh Emma, bahkan kau melukai [name]."
Mikey memejamkan matanya sebentar, ia mencoba mengendalikan dirinya agar tak dikuasai oleh dark Implusive-nya. Sedangkan Izana sendiri nampak menyunggingkan senyum remeh pada Mikey.
"Kalau begitu kita mulai akhiri saja.. Aku tidak suka berbasa-basi." Ucap Izana yang akhirnya menunjukkan wajah seriusnya.
Mikey pun membuka matanya menanggapi tantangan itu.
"Ya.. Kita akhiri semuanya disini."
..........