Tokyo Revengers: Change the Future

Tokyo Revengers: Change the Future
Bagian 26



Mikey x Reader x All Character


......................


Mikey POV


Sejak [name] jadian dengan saudara ku, aku semakin menjauh darinya. Sungguh hatiku sangatlah sedih. Aku sering berfikir mengapa harus menjauh darinya, padahal kami selalu dekat. Apakah aku tak bisa dekat lagi seperti dulu? Kami saling mencintai, tetapi mengapa dia malah memilih saudaraku ketimbang diriku yang jelas nyata mencintainya.


Aku masih belum mengerti sungguh.


Aku sampai rumah, namun langkahku terhenti ketika aku mendengar Ken-chin yang sedang membahas [name] bersama Emma.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada [name]. Semenjak dia bergabung dengan Tenjiku, dia jarang berbicara lagi dengan kita bahkan seolah menjauhi kita. apa kau tahu Emma?"


Adikku Emma hanya menggeleng.


"Aku juga tidak tahu, tapi ketika kami berbelanja waktu itu [name] terlihat sering melamun. Apa mungkin karena kak Izana?"


"Izana? bukankah dia pacarnya?"


"Memang, tapi [name] terlihat tidak bahagia."


Emma menunduk, menyimpan sejenak pekerjaan rumahnya.


"Kita tak bisa apa-apa. Ditambah dia sudah berkhianat pada Toman dan membuat sebagian orang di Toman marah padanya."


"[name] tidak mungkin melakukan itu. Bahkan aku tak sengaja melihat [name] menangis sendirian keitka Toman diserang tiba-tiba."


"Dia mengatakan Izana berbohong terhadap dirinya." lanjut Emma.


"Apa kau bilang, Emma."


"Aku pun tidak tahu dengan jelas, namun dia mengatakan itu. Maaf harusnya aku mengatakannya langsung padamu Draken."


Sesuai dugaanku, dia menyembunyikan sesuatu dariku. Aku secepatnya pergi dari rumah.


"Sial! Kenapa aku tidak menyadarinya sama sekali."


Aku harus segera mencarinya, akan kupaksa dia berkata jujur padaku.


......................


Author POV


Rapat Tenjiku telah usai, [name] memisahkan diri setelahnya. Sungguh ia sangat lelah hari ini.


"[name]-san." Panggil Kakucho.


"Iya, ada pada Kakucho?"


"Boleh kita bicara?"


Gadis itu mengangguk, kemudian mengikuti langkah Kakucho menuju dermaga yang tak jauh dari markas Tenjiku.


"Kau baik-baik saja?"


"Aku baik."


"Jangan memaksakan diri. Aku tahu sebenarnya Izana mengekangmu kan?"


[name] hanya tersenyum miris.


"Tolong bersabarlah pada Izana, hanya kau yang mungkin bisa merubahnya."


"Aku tahu. Makanya aku tetap bertahan bersama Izana."


"Terima kasih. Jika kau memang lelah akan sikap Izana, kau bisa melampiaskannya padaku. Aku siap manampung keluh kesahmu akan Izana."


Gadis itu tersenyum samar.


"Terima kasih. Tapi aku baik-baik saja. Kau tak usah khawatir, Kakucho."


"Ya sudah, aku mau pulang dulu. Tolong kau terus awasi Izana, Kakucho. Jangan sampai Kisaki mengatakan hal-hal yang membuatnya emosi Mental Izana masih labil, apalagi menyangkut Mikey. Saat ini aku hanya bisa berusaha menenangkan emosinya itu."


"baik, [name]-san."


.


Setelahnya, [name] pergi dari markas Tenjiku untuk pulang. [Name] diantar Izana sampai stasiun.


"Hati-hati." Ucap Izana yang mengelus pucuk kepala [Name] dengan penuh sayang.


Gadis itu hanya mengangguk sambil tersenyum, kemudian melambaikan tangan ketika ia menaiki kereta menuju Shibuya.


Sebelum kerumahnya, gadis itu berkunjung sejenak ke toko jajanan untuk membeli seporsi takoyaki. [name] membeli itu untuk mengganjal perutnya sebelum makan malam tiba. Setelah takoyaki sudah jadi, [name] membayarnya. lalu, ia melanjutkan perjalanan sambil memakan takoyaki yang dibelinya tadi.


Takoyaki pun telah habis, sampah bekasnya gadis itu masukkan kedalam tas yang digendongnya.


Ketika sampai di wilayah apartemen rumahnya, [name] melihat Mikey sedang duduk pada babu miliknya, menunggu [name] pulang.


Tatapan mereka saling bertemu, jantung [name] bergetar ketika tatapan kosong pria itu melihatnya.


"Tenangkan hatimu, [name]. " Batin [name]


Mikey yang melihat kehadirannya, langsung turun dari motornya dan menghampiri [name] yang masih terpaku dihadapannya yang berjarak sekitar beberapa meter.


"Akhirnya kau pulang. Aku ingin bicara denganmu."


"Bicara denganku? Apa ada masalah?"


"Naiklah.. Kita bicarakan ditempat lain."


[Name] mengangguk mengikuti saja, ia lebih baik ikut daripada harus beradu mulut dengan Mikey.


[Name] menaiki motor milik Mikey, dan diboncenginya.


Mikey membawa [name] ke kuil Musashi yang terlihat sudah sepi dan hening. Kemudian [name] dan Mikey duduk di atas tangga kuil.


"Jadi, apa yang ingin kau katakan Mikey."


"Katakan dengan jujur, apa yang kau sembunyikan dariku?"


"Hah? Apa maksudmu? Aku tak mengerti."


"Kau berbohong padaku kan?"


"Aku berbohong? Berbohong apa, Mikey?"


Mikey langsung menatap mata [name] kemudian memegang kedua pundak [name] dan mengguncangnya.


"Kau bukanlah pelaku penyerangan Toman kan? jawab!"


Mendengar itu [name] terdiam, pikirnya darimana Mikey tahu itu. Tapi [name] membantah itu dan tetap berbohong demi orang-orang di Toman.


"Bukankah aku sudah mengakui bahwa aku pelakunya."


"Kau bohong! Karena aku sudah tahu semuanya. Kau berbohong [name]!"


Mikey memegang erat pundak [name] hingga gadis itu meringis kesakitan. [Name] tahu Mikey sedang emosi padanya. tidak hanya itu [name] bahkan hanya bisa menelan ludahnya, menatap mata gelap kosong itu.


"Kumohon jujurlah.. Aku tahu kau melakukan ini demi Toman. Tapi jangan korbankan dirimu untuk kami. Aku tidak ingin kehilanganmu, seperti aku kehilangan kakakmu Baji."


Mikey menunduk, meskipun tak bisa menangis tapi pria itu merasakan sakit dihatinya.


[Name] sendiri merasakan hal yang sama dengan Mikey, namun ia harus tetap pada tujuannya yaitu melindungi Mikey dan Toman. [Name] pun menghela nafas.


"Cukup Mikey, kau jangan terus-menerus memberi ku pertanyaan." ucapnya berusaha bersikap tenang, matanya mulai berkaca-kaca.


Mikey menatap mata itu tak percaya, ia melihat [name] berkaca-kaca.


"Begini lebih baik, Kau adalah musuhku sekarang Mikey. Jadi tolong jangan Katakan apapun lagi." Ucap [name] mendorong perlahan tubuh Mikey, lalu [name] pergi meninggalkan pria itu sendirian dikuil Musashi.


.


Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, [name] menangis. Ia berjalan sambil menghapus airmatanya yang sudah berjatuhan. Ini bukan hal yang dia inginkan, dia tak mau menangis seperti ini. tetapi rasa sesak dihatinya membuat dirinya menjadi orang yang begitu cengeng. Padahal [name] bukan orang yang cengeng akan sebuah masalah. tetapi menyembunyikan sebuah kebohongan dari Mikey merupakan hal yang paling berat untuknya.


Mikey sendiri menunduk, melihat pijakan dibawahnya dengan perasaan berkecamuk.


"Kenapa kau terus-menerus menyembunyikan dariku? Tidak kau, tidak Baji. Kalian berdua sama-sama membuatku seperti ini." Gumam Mikey yang tatapannya sangat kosong, tangannya memegang dadanya yang berdenyut sakit.


......................


Namun seseorang menghampirinya dan berdiri dihadapannya. Orang itu adalah Kisaki Tetta yang tengah berdiri dihadapannya.


"Ada apa kau kemari?" Tanya Izana.


"Izana, apa kau yakin dengan [name]?"


"apa maksudmu Kisaki?"


"Apa kau yakin dia tak akan mengkhianati mu?"


"Heh.. Dia sudah berjanji padaku, Kisaki. Bahkan dia menerima semua permintaanku."


Kisaki duduk disamping Izana.


"Apa kau yakin?"


"Ya. Aku yakin."


"Tapi aku tidak yakin, sebab wanita itu lebih menyukai Mikey daripada dirimu."


"Mungkin memang benar. Tapi dia milikku sekarang."


"Kau tahu Izana, kau menyedihkan. Kau mencintai gadis itu tapi dia tidak mencintaimu karena Mikey."


Izana sedikit kesal dengan ucapan Kisaki kali ini.


"Kau tetaplah kalah dari Mikey."


Izana menarik syal Kisaki yang dikenakannya.


"Sekali lagi kau mengatakan itu, aku akan membunuhmu."


"Aku hanya mengatakan kebenaran Izana. [Name] tidak menyukaimu, dia hanya menyukai Mikey. Apa kau tak sadar juga?"


"Diam sialan! Aku tak butuh pendapat mu."


"Tapi itu kenyataannya. [Name] tidak menyukai mu. Suatu saat dia akan meninggalkan mu juga, sama seperti Shinichiro dan saudaramu perempuanmu itu."


Kakucho yang baru saja datang, ia mendengar ucapan kurang ajar Kisaki.


"Apa yang kau katakan pada Izana, Kisaki!" ujar Kakucho.


"Jangan dengarkan dia Izana, [name]-san sudah berjanji padamu. Dia tidak akan meninggalkanmu." ucap Kakucho lagi, agar hati Izana tidak goyah.


Izana masih menarik syal Kisaki, ia masih sangar kesal dengan ucapan pria berkacamata itu.


"Hadapi lah kenyataan, [name] tidak menyukaimu karena dia menyukai mikey. Jika memang [name] tak ingin pergi darimu seharusnya kau bertindak. "


"Kisaki bajingan kau jangan mengatakan hal-hal yang aneh pada Izana." ucap Kakucho penuh emosi.


Izana mulai mengingat masa lalu itu. Dimana semua orang meninggalkan dirinya. Terlebih ketika Shinichiro meninggalkan dirinya, dan lebih memilih Mikey. begitupun dengan saudara perempuannya, Emma yang ikut meninggalkan dirinya.


"pikirkan lah baik-baik Izana."


Izana mulai melepas tarikan syal pada Kisaki, ia mulai kembali goyah.


"Diam kau Kisaki!" Teriak Kakucho yang marah dan akan menghajar Kisaki.


"Hentikan Kakucho." Ujar Izana yang menunduk.


"Izana, jangan dengar kan kata-katanya." Ucap Kakucho yang berusaha membujuk Izana.


"Mikey dan Mikey. Aku sungguh membencinya." gumam Izana.


Kisaki bisa menyaksikan reaksi Izana yang mulai goyah. Ia tersenyum menyungging.


Sedangkan Kakucho masih mencoba membujuk Izana agar ia tak terpengaruh kata-kata dari Kisaki.


"Izana.. Tolong percayalah pada [name]-san. Dia sudah berjanji tidak akan meninggalkanmu Izana."


"Kau diam Kakucho! Selama ada Mikey, dia tidak akan melirikku. Aku tahu dia menerimaku karena terpaksa! Padahal aku bersungguh-sungguh menyukainya Kakucho, apa kau tahu itu."


"Izana itu tidak benar.."


Ucapan Kakucho terpotong ketika akan mengatakan sesuatu pada Izana. Ia ingin mencegah Izana agar tidak melakukan hal yang lebih jauh lagi.


"Cukup Kakucho.. Aku tidak akan membiarkan [name] pergi dariku. Benar kata Kisaki, aku harus melakukan sesuatu pada Mikey. Dia harus tahu bagaimana rasanya kehilangan. Mikey akan ku buat menjadi cangkang yang kosong."


"Izana, tolong jangan seperti itu.."


"Kakucho.. kau adalah pelayanku. Kau tak berhak mengaturku. "


Kisaki makin menyunggingkan senyum kemenangan. rencananya kali ini berhasil dan dia akan menertawakan [name] nantinya.


"Aku sarankan, untuk menghancurkan Mikey dimulai dari saudara perempuanmu lebih awal dan jangan lupa [name] jangan sampai tahu akan hal ini." bisik Kisaki yang membuat Kakucho dibuat penasaran.


"baiklah.. aku serahkan padamu. Biar aku yang mengurus Mikey dan [name]. " Ucap Izana yang memilih pergi dengan perasaan tak karuan dihatinya.


Kakucho sendiri memilih mengikuti Izana dari belakang. Ia hanya akan mencoba berbicara kembali dengan Izana tentang hal ini. Kakucho masih ingat dengan perkataan [name] ketika diawal, yaitu kematian Izana karena ulah Kisaki.


.


[name] sendiri menatap foto mendiang Baji Keisuke yang terselip dibuku catatannya. airmatanya berjatuhan ketika melihatnya. ia sangat merindukan sosok itu, sosok seorang kakak yang penyayang baginya.


"Aku harus bagaimana, kak Keisuke. Aku tidak bisa berbohong pada Mikey." ungkapnya sambil menghapus air matanya yang sejak tadi keluar.


'ting..'


terdengar bunyi pesan dari ponselnya. [name] mengambil ponselnya dan mengeceknya.


itu adalah pesan dari Kakucho, ia segera menghapus airmatanya dan membacanya.


'[name], tolong hentikan Izana. Izana berusaha mengikuti cara Kisaki. Dia berencana menyakiti saudara perempuan Mikey..


Hanya kau yang bisa ku mintai tolong.


Kakucho* '


[name] melebarkan matanya, ia berdiri dan mulai ingat bagian ini.


"Tidak.. Tidak boleh terjadi. Aku harus melindungi Emma." panik [name].


"Takemichi.. ya Takemichi."


[name] buru-buru menelpon partnernya, Takemichi.


.


'moshi-moshi''


'Takemichi, ini aku.'


'[name]-san.. Ada apa?'


'Takemichi, rencana Kisaki sudah dimulai. Tolong sebisa mungkin kau jaga Emma.. Kisaki akan mengincar Emma. Tolong jangan biarkan Emma disakiti olehnya.'


'he? apa? memang apa yang akan mereka lakukan pada Emma.'


'Emma akan menjadi target mereka, mereka akan mencelakai Emma.'


[Name] menceritakan detailnya pada Takemichi ditelepon. Mulai dari tanggal kejadian hingga akhir dari perseteruan mereka.


Takemichi yang berada diseberang sana hanya bisa terdiam, ia sendiri sungguh tak percaya akan hal itu. Namun pada kenyataannya semua yang dikatakan oleh [name] adalah nyata sesuai apa yang dialami Takemichi diberbagai timeline.


'Takemichi hanya kau yang bisa ku mintai tolong.'


'Baik, aku akan berusaha [name]-san."


'Terima kasih Takemichi. Mohon kerjasamanya.'


Setelah [name] menjelaskan semuanya, [name] menutup telponnya dan ia duduk dengan tubuh yang tiba-tiba menjadi lemas.


"Aku harus bagaimana sekarang?" batin [name].


......................