
Mikey x Reader x All Character
......................
Izana semakin dekat dengan Kisaki saat ini, bahkan [name] sengaja ia abaikan didalam geng. Pria berambut putih undercut itu sengaja melakukannya agar dirinya tidak goyah akan kebenciannya pada Mikey.
Menurutnya, Kisaki benar. Jika ia terlalu patuh pada [name], gadis itu mungkin akan merusak segala rencananya. Maka dari itu Izana membuat keputusan itu. Izana hanya akan menanggapi gadis itu ketika berada diluar geng.
"Izana benar-benar mengabaikan pendapatku." Batin [name] yang masih tengah berkumpul diantara anggota lainnya.
Kakucho sendiri merasa kasihan pada [name], namun ia tak bisa membantah Izana bahkan tak bisa membantu [name]. Ia hanya bisa melindungi [name] dalam lingkungan anggota gengnya. Bagaimana pun [name] adalah kekasih Izana.
"Aku akan menyatakan perang pada Toman pada tanggal xx bulan xx. Jadi kalian semua persiapkan performa kalian. Aku hanya ingin kemenangan untuk Tenjiku." Ujar Izana.
"Itu adalah tanggal yang sama dengan kematian Izana dan Emma. Aku tidak bisa tinggal diam." Batin [name].
"Dan Baji [name]. Kau tidak akan ku izinkan ikut dalam pertempuran itu. Kau akan diawasi oleh bawahan Shion saat hari itu terjadi."
"Bukankah itu tidak adil Izana, kau tak memperbolehkan ku ikut bahkan kau mengabaikan pendapatku."
"Tidak adil? Aku mendengarnya [name]. Tapi pendapatmu sama sekali tak berpihak pada Tenjiku. Kau hanya berpihak pada musuhku, Toman. Jadi, aku tidak butuh pendapatmu."
Kisaki tersenyum kemenangan, sedangkan Hanma Shuji hanya terkekeh mendengarnya. Bahkan [name] sendiri hanya mengepalkan tangannya.
"Jika kau berani mengatakan keluar dan membangkang. Aku tak akan segan menyakiti orang-orang terdekatmu." Ancam Izana dengan nada serius. Pria itu mendekat pada [name] sambil mengelus surainya lembut.
"Nah semuanya selesai. Silahkan bubar." Ucap Izana sambil merangkul [name] mengajaknya pergi seusai rapat Tenjiku.
......................
Didalam Toman sendiri, telah terjadi penghianatan yang tengah dilakukan oleh Yasuhiro Muto alias Mucho. Pria itu tiba-tiba saja menyerang Takemichi beserta Inupi, mereka berdua disekap. Alih-alih Tenjiku ingin merekrut Kokonoi Hajime.
Keduanya tidak bisa apa-apa, sebab mereka berdua telah terikat bersamaan Kokonoi Hajime yang tengah menyaksikan bagaimana sahabatnya, Inupi tengah dalam masalah. Inupi tengah mendapat siksaan agar Koko menyanggupinya untuk bergabung dengan Tenjiku.
Koko sangat pandai dalam keuangan, maka dari itu Tenjiku begitu membutuhkan kemampuan pria bermata kucing itu.
"Baik aku akan bergabung, tapi lepaskan mereka."
"Koko... Kau jangan melakukan itu." Ucap Inupi yang tidak terima.
Namun Koko tetap dalam pendiriannya, ia tak mau kehilangan Inupi. Inupi adalah satu-satunya yang ia miliki, tempatnya untuk kembali. Ia memilih mengikuti Mucho daripada ia harus mengorbankan nyawa satu-satunya orang yang menjadi keluarganya.
.
Usai peristiwa perekrutan Kokonoi Hajime, Sanzu didalam hatinya tak dapat menerima penghianatan Mucho pada Mikey. Mikey adalah sosok raja baginya.
Meskipun Mucho menganggap dirinya adalah saudara, namun Sanzu tidak serta merta mengikuti keinginan pria itu. Sanzu akan mengeksekusi siapapun yang mengkhianati Mikey bahkan itu berlaku untuk gadis yang Mikey sukai, [name].
Saat ini Mucho bersama dengan Sanzu disebuah gudang bekas yang jarang orang kunjungi. pria berambut panjang lurus dengan warna rambut pirang pucat itu turun terlebih dahulu dari mobil yang dikendarai Mucho tadi. Ia memegang erat katana-nya, menunggu pria bertubuh tinggi itu turun dari mobilnya.
Ketika Mucho akan menghampiri Sanzu, tiba-tiba saja Sanzu membuka sarung katananya dan menebas pria itu.
"Berani sekali kau mengkhianati Mikey." Ucap Sanzu yang menatapi dingin pada Mucho yang terlihat sekarat.
"Sa..Sanzu.." ucapnya sekarat.
"Aku berterima kasih padamu, tapi orang yang mengkhianati Mikey adalah musuhku. "
Mucho yang diambang kematian hanya menatap sayu Sanzu yang menatapnya dingin.
"Jadi itulah balasan untukmu." ucapnya lagi kemudian meninggalkan Mucho yang menghembuskan nafas terakhirnya.
.
Mikey sudah mendengar bagaimana Takemichi dan Inupi mendapatkan pengeroyokan dari anggotanya di divisi 5. Bahkan pengkhianatan Mucho membuat Mikey tak dapat berkata apa-apa. Begitu pun dengan anggota lainnya, hal ini menjadi topik perbincangan diantara anggota petinggi Toman.
"Bahkan Koko bergabung dengan Tenjiku. Maafkan aku Mikey." ujar Inupi Seishu
"Itu bukan kesalahanmu."
"Jadi, bagaimana sekarang?" Tanya Draken yang mewakili anggota yang lain.
"Tentu saja melawan Tenjiku."
......................
Dihari berikutnya, [name] kembali berdiskusi dengan Takemichi. Mereka membicarakan hal yang terjadi di Tenjiku.
Seperti yang dikatakan [name], Kokonoi Hajime benar-benar masuk menjadi anggota Tenjiku. pria itu bagian yang mengelola keuangan Tenjiku. Bahkan [name] sendiri sempat berbicara bersama pria bermata kucing itu.
"Jadi, dia melakukan itu untuk melindungi kami."
"Hm.. Maka dari itu Takemichi, kali ini kita harus berhasil. Pokoknya, pada tanggal xx bulan xx, bagaimanapun caranya kau harus bisa menyelamatkan Emma. Izana berencana akan membunuhnya agar Mikey menjadi kosong. "
"Aku akan berusaha, [name]. Sudah cukup dimasa depan aku kehilangan orang-orang yang kusayangi. Akkun, Hinata, Mikey bahkan kau, aku tidak ingin kalian mati."
"Terima kasih, Takemichi. Ayo kita berusaha lebih lagi. Kita harus menjadi pemenang disini."
"Benar [name]."
.
Setelah pertemuannya dengan Takemichi, seperti biasa [name] pergi ke markas Tenjiku. Rupanya ketika sampai [name] berpapasan dengan Sanzu Haruchiyo didepan markas Tenjiku.
"Seperti yang aku duga dia ikut mengkhianati, Mikey." batin [name].
[Name] berpura-pura saja tak mengenal Sanzu, gadis itu memang jarang berbicara dengan Sanzu meskipun Sanzu mengenal [name] sebagai adik temannya Baji Keisuke sekaligus orang yang penting bagi Mikey.
"Rupanya kau disini menjadi jalan*nya Izana." ucapnya sekali bicara.
[Name] yang akan memasuki markas Tenjiku pun langkahnya terhenti. Itu adalah perkataan kasar yang diungkapkan Sanzu Haruchiyo pertama kali pada [name].
"Terus kau disini sedang apa? Apa kau ikut mengkhianati Mikey juga?"
"Tch.. Itu bukan urusanmu. "
Sanzu memilih pergi ketimbang berdebat dengan [name]. Pria itu tidak akan mengatakan hal sesungguhnya pada gadis itu. Ia di Tenjiku tentunya demi Mikey.
"Huh.. Aku tahu Sanzu hanya ingin melindungi Mikey. Tapi cara dia sangatlah salah, jika dia harus membunuh orang lain." Batin [name] yang sedikit mengingat karakter yang menjadi antagonis di arc Bonten.
Padahal Karakter Sanzu menurut [name] sangatlah cantik untuk ukuran laki-laki. Namun sayangnya, sang Author menjadikan karakter pria itu menjadi psikopat.
[Name] pun memilih masuk, terlihat anggota lain tengah bersantai sebelum masa perang tiba. Izana sendiri tengah meminum cola-nya sendirian. Ketika melihat [name] datang, Izana langsung memanggil nama [name] untuk mendekat.
"Kau mau cola?" Tawarnya
[Name] hanya menggeleng dan memilih untuk duduk saja, menemani Izana yang tengah santai meminum.
"Apa aku harus kembali membicarakan rencana Izana? Aku tahu ini akan gagal. Tapi aku tidak bisa membuat Emma berakhir."
Izana yang tadinya sedang memperhatikan anggotanya, kini pandangannya teralih pada [name].
Izana menepuk pelan kepala [name] yang membuat gadis itu tersentak kaget dan menatap Izana yang tengah memperhatikannya.
"Apa yang tengah kau pikirkan? "
[Name] hanya menggeleng.
"oh ya, bagaimana setelah ini kita berkencan. Aku punya tiket bioskop." Tawar Izana yang memberikan satu tiketnya pada [name]
[Name] hanya menatapinya dalam diam ketika menerima tiket itu, namun Izana terlihat senang ketika [name] yang menjadi gadisnya mau menerima ajakannya.
"Izana, apa kau yakin dengan keputusanmu?"
mimik Izana berubah, dia tak suka [name] membahas urusannya dengan Toman.
"Sudah ku katakan, kau tak punya andil [name]. Kau memang kekasihku, tapi bukan berarti kau bisa menghentikan tujuanku mengalahkan Mikey."
"Tapi Iza..."
mulutnya gadis itu langsung ditutup oleh tangan Izana.
"Jangan membuat suasana hatiku jadi rusak, [name]."
Pria itu memilih untuk berdiri dan pergi menuju anggotanya ketimbang mendengar [name] memelas yang ingin menghentikan dirinya.
.
Hari sudah sore, sebagian anggota Tenjiku memilih membubarkan diri. Begitupun dengan izana dan [name], mereka berdua memang sudah berencana akan berkencan dengan menonton film di bioskop.
Ketika sampai, mereka berdua menukar tiket kemudian masuk sambil membawa camilan yang sudah dibelinya tadi.
[Name] duduk disamping Izana, dengan lengan digenggamnya.
"Kenapa kau memilih film horor-thriller sih Izana?"
"Karena aku menyukainya."
"Kau curang, tapi aku kan tak terlalu suka film horor-thriller tahu."
"Jadi kau takut?"
"Aku bukannya takut, tapi aku ngeri saja pas adegan pembunuhannya."
Izana hanya terkekeh mendengar penjelasan sang kekasih yang terlalu jujur.
"Bukankah kau selalu menonton anime horor-thriller juga."
"Anime beda lah sama live action seperti ini, izana. Live action terlihat seperti nyata dan aku suka merinding melihatnya."
"Baiklah..Baiklah... Jika kau takut, kau bebas memelukku."
"itu sih kesempatan dalam kesempitan Izana."
"tapi tidak apa-apa. aku senang kok dipeluk olehmu."
Izana tersenyum tulus pada [name] yang membuat gadis itu tersipu.
"Sudah, jangan menggodaku terus. Filmnya akan segera dimulai." Ucapnya yang malu sebab tengah diperhatikan oleh orang dibelakang tempat duduknya.
.
Film pun tengah dimulai, pada saat adegan pembantaian oleh sang hantu [name] benar-benar tegang menontonnya. Bahkan gadis itu memegang lengan Izana sambil menyembunyikan wajahnya pada bahu Izana disampingnya.
Izana menatap gadisnya, ia tersenyum sambil mengelus sayang sang gadis yang ketakutan.
"Sudah tidak ada adegan pembunuhannya." bisik Izana.
[Name] menatap layar bioskop nya dan benar saja adegan itu sudah tidak ada.
Mereka berdua benar-benar menghabiskan diri untuk menonton seperti ini, Izana tentu saja menjadi tempat berlindung [name] dari adegan-adegan pembantaian dalam film tersebut. Padahal dirinya adalah mantan polisi tetapi tetap saja rasa takut ada dalam hal ini. [Name] terlalu membayangkan jika posisinya itu adalah dirinya, hingga film itu berakhir.
Ketika keluar, Izana terlihat senang sehabis menonton film yang ingin dia lihat dari kemarin. Sedangkan [name] terlihat kusut karena ia benar-benar tidak suka dengan adegan sadis seperti tadi.
"Filmnya sudah selesai, kamu terlihat kusut sekali." Ujar Izana yang merangkul [name].
"Lain kali jangan ajak aku menonton film seperti itu."
"Hahaha.. tapi aku lebih banyak dapat pelukan darimu." Ucapnya senang.
"Dih.. Bisa-bisanya kau ini Izana." Ucap [name] mengerucutkan bibirnya.
"Jangan cemberut kaya gitu.. Iya lain kali kita gak akan nonton film begitu lagi. " Ucap Izana yang mencubit hidung gadisnya.
"Jangan mencubit hidungku juga dunk."
"Aku gemas saja. kau lucu soalnya."
"Gombal. Sudah ah, kita pulang ini sudah jam 7 malam."
"Ayo, aku akan antar kau sampai stasiun."
Mereka berdua pun berjalan bersama menuju stasiun sambil berpegangan tangan. Izana tak mau melepas pegangan gadisnya. Ia begitu posesif akan [name].
.
Mereka berdua telah sampai di stasiun. [name] menaiki kereta selanjutnya dan mengucapkan salam perpisahan ketika jadwal kereta akan berangkat.
Setelah gadis itu sudah tak terlihat, raut Izana kembali berubah serius. Ia akan menjalankan aksinya lusa.
Sedangkan [name] yang duduk didalam kereta memikirkan hari lusa yang merupakan penentuan terakhir perjuangannya.
"Tuhan, tolong bantulah aku." ucap [name] didalam hati.
......................