
Mikey x Reader x All Character
......................
"Draken-kun, aku ingin bicara denganmu."
"Ada apa [name]?"
[Name] mengeratkan kedua tangannya yang berkeringat. Ia takut, sebab baru kali ini [name] mencoba berbicara kembali dengan wakil kapten Toman yang sekarang menjadi musuh gengnya.
"Ini mengenai Emma. Apa kau ada waktu ?"
"Emma? Hm.. baiklah."
Draken yang mengerutkan dahinya, ia berusaha tetap positif thinking pada [name] setelah melihat bagaiman Mikey membela [name]. Bahkan Mikey begitu percaya bahwa gadis itu selama ini tak pernah mengkhianatinya. Mikey menyadari bahwa [name] berbohong padanya.
"Baiklah. Ayo ikut denganku."
Draken mengajak [name] ketempat yang lebih aman untuk di ajak mengobrol. Draken memilih tempat disebuah taman dimana dulu mereka sering bermain bersama ketika kecil. Taman itu merupakan kenangan masa kecil dirinya, Mikey, Mitsuya, Baji, pah-chin dan [name].
.
Mereka berdua pun sampai, [name] duduk di ubin bangunan yang membentuk sebuah gazebo. Begitupun dengan Draken, Mereka berdua duduk berdampingan dengan jarak beberapa meter.
"Jadi, apa yang ingin kau katakan padaku tentang Emma?" tanya Draken yang menikmati suasana hening dan dinginnya suasana musim dingin .
"Bolehkan aku membuat suatu permintaan padamu? tenang saja, aku hanya memintamu untuk menjaga Emma."
"Kenapa permintaan mu bisa sama seperti permintaan Takemichi?" Batin Draken yang mengingat ucapan Takemichi dua hari yang lalu.
Saat itu Draken yang sedang sendirian diajaknya mengobrol oleh Takemichi dan mengatakan jika sesuatu akan terjadi pada gadis yang disukai Draken itu. Takemichi mengatakan secara garis besar suatu peristiwa akan terjadi pada Emma nantinya.
Draken yang kebingungan antara percaya dan tidak pun hanya bisa mengiyakan Takemichi. Mengingat bagaimana melihat ekspresi wajah yang begitu serius bahkan takut dari Takemichi pada saat itu.
Draken memang tak tahu pasti alasannya tetapi ia menyanggupinya, lagipula Draken pasti akan melindungi Emma dengan segenap hatinya.
"Kenapa baik kau dan Takemichi mengatakan hal serupa padaku?"
"Karena suatu peristiwa akan terjadi padanya dan aku tak ingin kehilangan Emma."
"Suatu peristiwa?"
[Name] mengangguk, sedangkan Draken hanya menghela nafasnya setelah mendengarkan. Remaja laki-laki masih tetap mendengarkan [name] yang masih terlihat ingin banyak sekali menjelaskan sesuatu.
"Sebenarnya kau dan Takemichi tahu sesuatu kan?"
[Name] menatap si lawan bicara dengan serius, dan kembali mengangguk membenarkan.
"Jika aku katakan itu memanglah benar, apakah kau akan percaya padaku?"
"Tergantung dari ucapanmu, kalau kau jujur aku akan percaya padamu, tapi kalau tetap berbohong... maaf saja, lebih baik kau tak mengatakan apapun padaku. terlebih kau sekarang ada dipihak musuh Toman."
"Aku tak akan bohong padamu, sesuatu yang lebih buruk akan terjadi. Makanya aku meminta bantuan mu Draken. bahkan kali ini Emma lah yang akan dalam bahaya."
"Kenapa kau bisa yakin Emma akan dalam bahaya padahal disisi Emma ada aku dan Mikey."
[Name] tersenyum kecut, yang dikatakan Draken memang benar tapi tetap saja pada kenyataannya yang tertulis dalam kisahnya, Sano Emma meninggal dalam peristiwa perselisihan antara Tenjiku dan Toman.
"Kau memang benar, tapi tetap saja kan kalian tidak bisa bersama dengan Emma setiap hari. Maka dari itu aku akan memberitahu suatu kejadian. Anggap saja aku memberitahu mu rencana Izana dan Kisaki."
Draken melebarkan matanya, ia sungguh tak percaya gadis disampingnya akan membeberkan rencana Izana. Padahal dia adalah anggota paling penting di Tenjiku bahkan ia adalah kekasih Izana.
"pada tanggal xx bulan xx, Emma akan dihabisi oleh Kisaki dan Hanma. Semua itu adalah rencana Izana untuk menghancurkan Mikey."
Draken terkejut, ia melebarkan matanya tak percaya.
"Emma? Kau jangan bercanda, [name]."
"Aku tidak bercanda tapi itu akan terjadi, Draken. Makanya aku berani memberitahu mu."
Draken terdiam terpaku.
"Jika pertarungan Tenjiku dan Toman itu terjadi, aku tak masalah tapi masalahnya adalah Emma. Dia bukanlah anggota geng tapi dia terlibat dalam keegoisan Izana. Makanya aku ingin kau menjaga Emma, dan aku sebisa mungkin akan menghentikan Izana. Apa kau sekarang paham Draken."
.
Tanpa sadar, [Name] mengeluarkan airmatanya. Draken sendirian tak percaya ketika gadis itu sungguh serius mengatakannya bahkan sampai menangis.
"Jika itu terjadi, maka segala yang aku korbankan sia-sia Draken. Aku tak hanya tak bisa melindungi Emma tapi aku juga tak bisa melindungi Mikey."
[Name] terisak dan berusaha menghapus airmatanya kasar agar air matanya tak terjatuh lagi.
"Jadi, selama ini kau..."
"Itu tak penting Draken, yang terpenting tetaplah disisi Emma pada hari itu. Lindungilah dia, tidak hanya kau yang akan menyesal tapi itu akan berimbas pada Mikey nantinya."
[Name] berusaha untuk tenang, namun airmatanya tetap saja masih mengalir.
"Seharusnya kau mengatakan ini juga pada Mikey. Dia berhak tahu."
"Aku tak bisa mengatakan ini pada Mikey. Mikey tak akan bisa mengendalikan dirinya, Draken. Peristiwa kematian kakakku saja dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Apalagi tentang Emma... Makanya aku hanya bisa mengandalkan mu untuk menjaga Emma. "
"Lalu bagaimana dengan dirimu, jika Tenjiku tahu rencana ini bocor darimu, kau yang akan kena imbas, [name]. "
"Aku sudah siap dengan segala resikonya, Draken. Yang penting kau jaga Emma dengan baik."
Draken mengerutkan dahinya, ia cukup emosi dengan sikap [name] yang membahayakan dirinya.
"kau tidak boleh seperti itu, kau bisa mati oleh Izana."
"Aku tahu. Tapi Draken, aku akan mengatakan suatu fakta tentang diriku sini. Hanya kau, Takemichi, dan Izana yang tahu tentangku."
"Hah? Apa?"
"Draken coba kau dengarkan aku dengan baik. Aku tidak pernah ada dalam cerita kalian, jadi akan ku selamatkan kalian semua." batin [name].
Draken terdiam, ia tak ingin percaya.
"Kau bercanda kan?"
"Tidak, itu benar. Aku hanya karakter yang tak pernah ada. Dalam duniaku, kau, Mikey dan yang lainnya hanyalah sebuah karakter manga."
" Apa?"
"Ya.. kau ingin tahu apa yang akan terjadi pada Mikey dimasa depan?"
Draken masih terdiam bahkan meneguk ludahnya.
"Dia akan menjadi kriminal karena kehilangan semua keluarganya. "
"Kriminal?"
"iya.. bahkan lebih buruk dari masa depan Toman. "
[Name] hanya tersenyum kecut.
"Takemichi pun sudah ku beritahu, makanya ia menjadi sekutuku saat ini Draken. "
[Name] menatap ke arah pepohonan yang hanya tangkainya saja.
"Maka dari itu Draken, aku mohon kerjasama mu. Tanpa bantuan darimu, maka semua yang aku dan Takemichi lakukan akan menjadi sia-sia."
Draken mengepalkan tangannya, antara percaya dan tidak tapi gadis itu sungguh-sungguh serius. Draken sendiri tak ingin percaya bahwa [name] adalah orang dari dunia lain. Tapi baginya, [name] sudah seperti teman bahkan saudara didunia ini. Bahkan Draken baru paham bahwa apa yang dilakukan gadis itu adalah sebuah pengorbanan untuk Toman.
"Baiklah, aku akan melakukannya, tapi kau harus kembali ke Toman."
"Aku tidak tahu Draken."
"Pokoknya kau harus kembali dan aku akan menyeret mu kembali."
[Name] tersenyum bahkan terkekeh.
"terserahmu saja dan... Terima kasih."
Kemudian gadis itu berdiri.
"Aku akan pulang. Terima kasih sudah mau mendengarkanku dan sampai jumpa Draken."
[Name] membungkuk pamit dan langsung saja meninggalkan Draken sendirian ditaman itu. sedangkan remaja bermarga Ryuguuji itu masih duduk merenung disana.
"Mengapa kau melakukan sampai sejauh ini, [name]? kau mengorbankan segalanya untuk kami." Batin Draken yang akhirnya paham dengan mengapa gadis itu memutuskan keluar dari Toman.
"Aku tidak bisa membiarkan [name] dalam bahaya. Mikey harus tahu ini."
......................
Saat dalam perjalanan pulang, [name] melewati gang-gang yang biasa ia lalui. Namun langkahnya terhenti ketika seseorang sedang berdiri bersandar dibalik gang selanjutnya. Sanzu Haruchiyo tengah melipat kedua tangannya sambil berdiri dan menunggu [name].
"Rupanya urusan mu dan Draken selesai. "
"Kau tahu itu?"
"Ya.. aku mengikutimu dan aku tahu semuanya."
[Name] hanya tersenyum saja ketika Sanzu diam-diam mengikuti.
"Oh begitu, apa kau akan menghentikan ku?"
"Tidak.. Karena tujuanku juga sama sepertimu."
"Ah begitu. Aku mengerti sekarang mengapa seorang Sanzu berkhianat."
"Kau memang menyebalkan, tapi kali aku akan ikut dalam rencanamu."
"He.. ikut rencanaku?"
Sanzu menganggukkan.
"Kenapa? bukankah kau tidak menyukaiku."
"Kata siapa? asal kau tahu ya.. Jika Mikey suka padamu, aku juga akan menyukainya. "
[Name] langsung tertawa, rupanya dibalik karakter kejamnya Sanzu sangatlah lucu seperti sekarang.
"jangan tertawa!"
"baik.. baik.. Maaf. Jadi apa yang ingin kau bicarakan, Sanzu?
"Fiuh.. Sampai sejauh mana kau melakukan misi penyelamatan Mikey?"
"Kau tahu itu?" tanya [name] pada Sanzu yang terlihat santai menanggapi gadis itu.
"Tentu saja, karena aku selalu mengawasimu. Kau itu sejak awal sudah mencurigakan semenjak keluar dari rumah sakit sebab aku tahu adik Baji seperti apa."
"Wow.. Kau memang hebat. Pantas saja dimasa depan kau diandalkan oleh Mikey."
"Rupanya kau benar-benar wanita mengerikan sampai tahu masa depanku."
"Tapi kau lebih mengerikan dariku loh Sanzu."
"Terserahlah.. cepat katakan atau kita tidak jadi bersekutu."
"Sabar dong!"
[Name] merogoh sesuatu dalam tasnya dan memberikan sebuah catatan pada Sanzu.
"Bacalah, didalam catatan itu adalah semua rencana yang aku buat."
Sanzu mengambilnya dan membaca isinya. saat membacanya dengan serius, alangkah terkejutnya ketika membaca bagian kematian Sano Emma.
"Kisaki brengsek!" Gumam Sanzu yang membaca bagian itu.
[Name] sendiri sudah tahu itu, jadi ia paham bagaimana seorang Sanzu mengikuti Mikey. Ia juga adalah pelompat waktu yang bersumber dari Sano Shinichiro.
Tujuan Sanzu di timeline ini adalah sama seperti [name] menyelamatkan Mikey. Hanya saja cara gadis itu berbeda dengan dirinya. Mengingat Sanzu menyaksikan bagaimana Mikey mati di timeline sebelumnya, membuat pria itu mengikuti Mikey sampai ke ujung kegelapan yaitu menjadi Bonten dimasa depan.
"Aku akan membunuh si brengsek itu." ucap Sanzu penuh amarah sambil mengembalikan buku catatan itu pada [name].
"Tidak, jangan sekarang Sanzu. Jika kau mengutamakan emosi mu sekarang, maka semuanya akan berantakan. Lebih baik, kau menghentikan Kisaki pada saat dia akan menembak Izana. Kau tahu, Izana juga penting dalam hal ini, jangan biarkan dia mati di pertempuran Tenjiku dan Toman nanti."
Sanzu hanya mengepalkan tangannya, apa yang dikatakan gadis itu memang ada benarnya. Ia harus mengikuti rencana yang gadis itu dibuat. Ia harus melindungi Mikey seperti janjinya pada Shinichiro. Ia tak mau melihat Mikey tertidur didalam peti mati seperti ditimeline sebelumnya.
"Fiuh.. baiklah."
[Name] tersenyum lega, rupanya Sanzu Haruchiyo ditimeline sekarang lebih bisa dikendalikan. Untung saja, dia tidak masuk dalam timeline Bonten yang jauh lebih mengerikan.
"Berarti urusan kita sudah selesai, dan [name] kau harus berhati-hati pada Izana."
"Memang kenapa?"
"Izana merencanakan penyekapan mu di hari pertempuran nanti. Pastikan, kau tak keluar rumah sebelum pertempuran itu dimulai. Jika pun pergi, minta lah padaku untuk menemanimu."
"Hm.. baiklah. Terima kasih, Sanzu. Aku akan mengingatnya."
"Hm.."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Sanzu pun pergi dari hadapan [name].
......................
Beberapa hari kemudian, rencana Izana pun dijalankan. Dimalam tanggal xx bulan xx, Kisaki dan Hanma akan memulai aksinya. Mereka berdua sudah siap dengan rencana yang matang. Kisaki sudah siap dengan tongkat bisbol nya, sedangkan Hanma sudah memeriksa motor yang akan mereka berdua gunakan.
"sudah siap kan, Hanma?"
"Tentu saja, ini akan menjadi malam penentuan."
Hanma kini menaiki motornya, kemudian disusul oleh Kisaki yang diboncengi dibelakangnya. Mereka segera menuju ke lokasi dimana Izana memberikan pesan untuk memulai rencananya.
.
Mereka berdua sampai di lokasi yang ditentukan, tentunya menunggu target yang akan muncul. Tak lama, ia melihat gadis bernama Sano Emma bersama dengan Mikey dan Takemichi. Mereka bertiga baru saja keluar dari area pemakaman keluarga Sano.
"Adiknya Mikey sudah keluar, ayo cepat Hanma."
.
Sedangkan malam ini, [name] baru saja pulang dari rumah temannya.
"Bye.. [name]. kapan-kapan main lagi ya kerumahku."
"iya. terima kasih jamuannya."
.
Setelah berpamitan, [name] melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Namun pada saat diperjalanan, ia mulai ingat kejadian ditanggal ini. Hari ini adalah hari yang akan menjadi kematian Emma bahkan Izana.
"Draken." Gumamnya.
[Name] segera mengirimkan pesan pada Draken. Untung saja Draken membalas dengan cepat dengan mengatakan bahwa ia sudah berada di lokasi dan sedang mengawasi Emma.
[Name] merasa lega, untung saja Draken telah berada disana. [name] hanya bisa berdoa, semoga Emma benar-benar selamat kali ini. Namun, langkah [name] terhenti ketika Madarame Shion dan beberapa anggotanya menjegal dirinya di perjalanan pulang.
"Apa-apaan ini?"
"Aku hanya diperintah Izana, agar kau ikut denganku."
"jadi ini maksud Sanzu." batinnya.
"Sudahlah ikut dengan kami baik-baik. " Ucap Mochizuki kanji yang bersamanya.
"Seharusnya bukan kalian yang mengatakan itu padaku, tapi Izana. jika seperti ini kalian sama saja dengan menculikku."
"Huh.. Terserahlah, aku hanya menjalankan tugas yang diberikan Izana saja. Kalau kau tidak mau, terpaksa menggunakan jalan kekerasan."
Setelah Shion mengatakan itu, [name] menjadi waspada pada anggota Tenjiku yang menghadangnya.
"Aku harus melarikan diri dari mereka. Mereka tidak boleh menangkapku." Batin [name]
.
Di lokasi Mikey sendiri, mereka dikejutkan oleh aksi Kisaki dan Hanma yang hampir saja membunuh Emma. Draken dengan cepat meraih Emma ketika Kisaki mulai mengangkat tongkat pemukul nya kepada Emma. Seandainya saja Draken tak datang menolong Emma, mungkin adiknya akan mati oleh kedua orang itu.
"Cih gagal.. bagaimana bisa Draken datang. Jangan-jangan dia.." Gumam Kisaki yang mengarah curiga pada [name].
Kisaki dan Hanma pergi melarikan diri sebelum Draken dan Mikey balik menghajar mereka berdua. Sedangkan Takemichi sedang menjaga Emma yang ketakutan karena hampir saja musibah besar terjadi menimpanya.
"Emma, sudah tidak apa-apa. Jangan menangis lagi ok.." Ujar Draken yang menghampiri gadis Sano itu dengan rasa cemas.
"Draken.. aku takut." ujar Emma yang langsung memeluk Draken sambil menangis tersedu-sedu.
Mikey melihat bagaimana adiknya begitu ketakutan, ia hanya bisa menunduk, merasa dirinya tak berguna.
"Emma maaf seharusnya aku bisa melindungimu." Ujar Mikey yang merasa bersalah.
"Mikey, ini bukan salah mu. " ucap Emma yang masih menangis menatap sang kakak yang merasa bersalah.
"Oi.. Mikey, jangan merasa bersalah seperti itu. yang terpenting sekarang kau cari [name]. Dia yang mungkin dalam bahaya. Sepertinya si brengsek Kisaki mulai menyadari rencananya gagal karena [name]."
"Apa kau bilang, Ken-chin?"
"[Name] yang membocorkan ini, aku dan Takemichi sudah tahu akan ini. Jadi, kau segeralah cari dia."
Mikey mengepalkan tangannya, ia tidak tahu ini. Lagi-lagi gadis itu melakukan pengorbanan ini untuknya dengan cara seperti ini.
"Aku akan mencarinya."
"syukurlah Draken-kun bisa tepat waktu." lega Takemichi dalam hati.
Ketika langkah Mikey akan meninggalkan tempat ini, seseorang pun muncul menemui Mikey dan yang lainnya. Padahal sebelumnya mereka sudah bertemu di atas pemakaman Sano Shinichiro, namun sekarang ia muncul dengan rasa kesal. Siapa lagi kalau bukan Kurokawa Izana yang kini tengah menghentikan langkah Mikey.
"kenapa bisa gagal? Padahal rencana ku begitu sempurna." gumamnya.
mendengar kata-kata itu darinya, membuat Emma dan yang lainnya terkejut tak terkecuali Mikey.
"Izana." ucap Emma sedih.
Izana tidak peduli, sedangkan Mikey sendiri merasa marah pada pria yang menjadi kakak tirinya itu.
"kenapa kau melakukan itu? Jika itu masalahmu denganku, seharusnya aku yang kau bunuh bukan Emma." marah Mikey.
"Aku hanya ingin melihat kehancuran mu, Mikey." Ucapnya yang kembali terlihat santai.
Mikey yang mendengarnya terlihat mengepalkan tangannya.
"Izana, kenapa kau berkata jahat seperti itu. Bukankah kita bersaudara?" ucap Emma.
"Saudara? Jangan bercanda." Ucap Izana bernada tinggi.
Izana pun berbalik dari orang-orang yang ada dihadapannya.
"Akan ku pastikan kau hancur." Ucapnya pada Mikey.
Izana pun memilih untuk pergi daripada dirinya semakin kesal akan kegagalan rencananya. Namun sebelum menjauh dari mereka Izana pun kembali berkata.
"Jangan lupakan pertarungan kita Mikey... aku tunggu kalian, Toman di pelabuhan Yokohama."
"Aku tidak ingin bertarung denganmu." Gumam Mikey yang masih bisa didengar Izana.
"Jika kau tak datang, maka [name] yang akan ku bunuh. Apa kau lupa dia berada dalam genggamanku."
Semuanya terkejut, terutama Mikey yang mulai merasa cemas bahkan marah pada Izana. Sedangkan Izana mulai menyunggingkan senyum melihat ekspresi Mikey.
"Pilihan.. Bertarung denganku, atau kau tak akan bisa melihatnya lagi didunia ini."
Dengan berat hati, Mikey pun menyanggupinya.
"Baiklah.. Toman akan datang. Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya."
"Baguslah."
Izana pun pergi, sedang Mikey sendiri ikut beranjak pergi setelah nya untuk mencari [name]. Ia merasakan perasaan cemas pada gadis itu.
.
Sedangkan [name] mulai kelelahan, ia terpaksa harus melawan anggota Tenjiku. Tubuhnya memar bahkan terdapat luka sobek pada pelipisnya. Madarame Shion dan Mochizuki Kanji sama sekali tak memberi ampun dirinya dalam bertarung. Mereka berdua benar-benar kasar dalam pertarungan bahkan Shion menggunakan alat bantu pada kedua jemarinya sehingga [name] mudah terluka.
"Menyerah saja, [name]. Izana hanya akan mendisiplinkanmu."
"Cih.. aku tidak tahu apa yang direncanakan Izana. tapi ini sudah kelewat batas. Jika memang dia ingin aku datang, seharusnya dia sendiri yang datang." Ucap [name] yang menyeka darah dibibirnya.
"Siapa peduli, aku hanya menjalankan perintah. Oi.. Mochi, ayo kita bereskan gadis keras kepala ini."
Mochizuki Kanji hanya mengangguk saja, ia sudah terlalu kesal karena Shion terlalu bertele-tele untuk menangkap kekasih Izana itu.
"Tak perlu kau katakan pun aku sudah mengerti Shion." jawabnya.
[Name] sendiri kembali bersiap melawannya, ia tak ingin kalah dari mereka berdua. Gadis itu memasang kembali kuda-kuda nya, begitupun dengan kedua orang dihadapannya.
.
'bukk...'
Tanpa disadari [name], Gadis itu mendapatkan pukulan tongkat bisbol dikepalanya dari seseorang. Orang yang melakukan pemukulan itu adalah Kisaki Tetta yang datang bersama Hanma Shuji. Mereka berdua datang disaat Shion dan Mochi baru saja akan kembali memulai pertarungan melumpuhkan gadis dihadapannya.
"Oi.. yang benar saja." Ujar Shion yang terkejut.
"Dia adalah pengkhianat Tenjiku yang merusak rencana Izana."
[Name] yang setengah sadar dapat mendengar percakapan Kisaki dan yang lainnya. Ia tergeletak dengan darah yang bersimbah dikepalanya.
"Lagipula, Izana juga akan melakukan hal yang sama bukan?" ujar Kisaki menyeringai.
"Sialan kau Kisaki tapi Izana hanya ingin kita menyekapnya tanpa membunuhnya... Dan lihat sekarang, ia mengalami pendarahan, dia bisa mati." Ujar madarame Shion yang memeriksa keadaan [name] yang memejamkan mata menahan rasa sakit. Ia masih sadar, namun perlahan-lahan kesadarannya mulai melemah.
"Pada akhirnya, akulah yang mati disini. Maaf.. Mikey aku hanya bisa membantumu sampai disini." batinnya.
[name] tak sadarkan diri. Sedangkan Kisaki hanya memandang gadis itu dingin bahkan tersenyum kemenangan.
.
"Oi.. Kisaki, dia tidak bergerak." ucap Shion lagi yang mulai panik.
"Sudahlah, biarkan dia mati. Aku yang akan bertanggung jawab pada Izana. Lebih baik kita pergi sebelum orang lain melihatnya."
Mereka pun memutuskan pergi meninggalkan [name] sendirian dalam keadaan tak sadarkan diri dengan darah yang semakin banyak mengalir.
.
Mikey sendiri masih mencari keberadaan [name] dengan mengelilingi seluruh penjuru kota dengan meminta bantuan anggota Toman lainnya.
Sampai akhirnya, ia menemukan seseorang tergeletak dijalanan. Terlihat, barang-barangnya berserakan dimana-mana dan Mikey mulai menyadari barang-barang itu.
Barang-barang itu milik [name], lalu Mikey menghampiri segera sang korban.
Alangkah terkejutnya, Mikey harus menyaksikan [name] yang bersimbah darah dengan keadaan tak sadarkan diri.
"[Name]!" Ucap Mikey yang berusaha membangunkan gadis itu. Ia secepatnya menggendong gadis itu secara posesif bahkan Mikey segera membawa [name] kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
"Tidak.. Kau tidak boleh pergi, [name]. Kumohon jangan tinggalkan aku. "
......................