
Diluar terdengar suara tas yang menghantam lantai Toja sudah tau bahwa itu pasti kakaknya
Selesai membuka sepatu Sina berjalan menuju kamarnya untuk mengganti pakaian, lalu menuju dapur untuk makan siang karena ia sudah tak tahan mencium wangi bawang yang memasuki hidungnya dengan sopan
"wes kayaknya masak telor dadar spesial ni" ucap Sina yang sedikit memuji
"iya ni kebetulan sambal tahu semalam cabainya masih banyak sisa ya ibu campur aja ke telor dadar kan kamu suka pedas" balas ibunya halus
"ayo makan telornya udah masak" ajak ibu Sina
Ibu Sina memotong telor dadar menjadi beberapa potong, karena telor dadar tersebut dibuat dari 2 butir telur jadi terlalu besar untuk dimakan oleh satu orang
sedangkan Toja 2 butir telur hanya untuknya seorang
begitulah perlakuan yang selalu didapatkan oleh Toja dikarenakan ia anak bungsu
Sina sebagai kakak tidak pernah mempermasalahkan hal-hal seperti itu karena ia harus terima bahwa beginilah nasib menjadi seorang anak sulung
ketika menonton televisi pun Sina harus selalu mengalah dari adiknya, jika tidak dituruti adiknya akan mengamuk dan menangis
sehabis makan Sina langsung mengambil piring adiknya yang sebenarnya sedari tadi sudah habis,cuman karena sangking asiknya nonton dan tak mau ketinggalan film favoritnya Toja tak sempat menaruh piringnya ke dapur
"taruh piring ke belakang aja gak mau, huu manja" ucap Sina sedikit kesal kepada adiknya
Toja tak merespon sedikitpun perkataan kakaknya tadi karena baginya, merespon perkataan kakaknya hanya akan membuatnya ketinggalan film favoritnya tersebut
Sina membantu ibunya yang sedang mencuci piring
"udah Sina ibu aja kamu nonton tv aja" ucap ibu Sina sambil sedikit terharu melihat anaknya yang begitu peduli terhadapnya
"nggak ah Bu Toja gak mau tukaran, maunya film kesukaan dia terus"
Sina meneruskan membantu ibunya mencuci piring ya meskipun tugasnya hanya menaruh piring yang sudah bersih ke raknya
setelah semua beres Sina berjalan menuju ruang keluarga dan disitu ia merasa bahagia karena Toja sudah tertidur pulas,
Sina sudah tau betul adiknya sudah tak lagi berada di dunia nyata sebab jika Toja belum tidur pasti ia tak akan menonton iklan
dengan perlahan Sina mengambil remote dari tangan Toja dengan harapan semoga Toja tidak bangun, dan akhirnya kemerdekaan menonton televisi pun Sina dapatkan, karena si penguasa sedang tidur.
Ibu yang melihat toja tidur di karpet langsung menaruh bantal di bawah kepala Toja sebegitu penuhnya perhatian yang Toja dapatkan di masa kecilnya.
Toja dreta sudah seperti menjadi laki-laki terakhir yang dicintai ibunya di muka bumi ini, betapa beruntungnya Toja memiliki Ibu yang sebegitu peduli terhadapnya
Sayangnya kasih sayang, perhatian itu tak bertahan lama setelah Toja menginjak usia 10 tahun tepatnya ketika Toja duduk di bangku kelas 4 SD
semula yang dia selalu mendapat perhatian kini ia harus menerima bahwa ia harus sadar bahwa kondisi keluarganya sedang tidak baik
Toja berusaha mencoba untuk tetap menyembunyikan
kecurigaannya terhadap apa yang terjadi pada keluarganya, ia tak pernah menanyakan kepada ibunya, tentang penyebab kepergian ayahnya dari rumah, ia hanya bisa menyimpan pertanyaan itu