
"Aku cocok nggak pakai gaun yg warna biru ini?" tanya Zea antusias meminta pendapat Lay namun tak ditanggapi dengan humble oleh Lay.
Lay tetap fokus memainkan smartphonenya dan tak mengindahkan pertanyaan Zea yang diajukan kepadanya.
"Kamu kenapa diem aja sih, kamu masih marah sama aku karena ucapan nathan yang tadi?" tanya Zea kembali dengan jengkel kepada lay ketika pertanyaannya tak mendapat irespon dari lay.
Zea yang sudah tidak sabar dengan sikap lay yang dingin kepadanya, dengan rasa emosi yang berkorbaran ditambah lagi dengan siklus tamu bulanannya membuat Zea berani untuk meluapkan kekesalannya dengan mengambil paksa benda yang lebih menarik perhatian suaminya dibandingkan dirinya.
"Sebel banget tahu nggak dicuekin, aku lebih suka kamu ngomel dari pada bersikap dingin gini. Kamu kenapa sih sebenernya atau jangan-jangan kamu cemburu lagi sama nathan?." tanya Zea kepada lay sambil mengambil posisi duduk tepat diatas pangkuan lay dengan muka manja yang sangat menggemaskan.
"Aduh kalau sudah begini, mana bisa gua marah sama Zea. Tahu aja nih, bini gua kalau gua paling nggak bisa liat dia sedih ditambah dengan memasang mata kucing seperti itu lagi" gurau lay di dalam benaknya untuk mengalah dengan rasa ego dalam dirinya.
Tanpa pantang menyerah Zea berusaha untuk membuat lay kembali humble kepadanya seperti sebelumnya. Zea rela mempermalukan dirinya di depan para karyawan butik yang kebetulan milik orang tuanya dengan bertingkah seperti anak kucing yang sedang bermanjaan kepada tuannya.
Untuk mendapatkan kembali perhatian lay, tanpa memikirkan rasa malu lagi. Ia bergelayut manja dipangkuan lay sambil memeluk erat lay dengan berbisik pelan ditelinga lay "I'm your mine and also you're my mine too honey, don't jealous with my ex boyfriend because you're my future" berbisik pelan tapi terdengar jelas ditelinga lay, sambil terus mengusel manja di dada bidang suaminya.
"Ih itu kan sama aja, kamu posesif banget sih. Lagian juga aku udah nggak ada perasaan apapun lagi sama Nathan" jujur Zea kepada Lay
"Tapi yang aku liat nih ya, dia itu masih ada perasaan ke kamu. Keliatan banget deh, dari caranya dia menatap kamu. Awas aja ya kalau kamu berani ketemuan berdua sama mantan tanpa aku."
"Iya-iya mana berani juga aku liat macan ngamuk, bakalan ribet urusannya, yaudah jangan marah dan cuekin aku lagi. Sedih tahu di cuekin sama kamu." jawab Zea spontan dan mendapatkan senyuman manis lay yang hanya akan diperlihatkan kepada orang terdekatnya saja. Membuat para karyawan butik iri melihat dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu.
"Gadis pintar, muka kamu gemesin banget sih. Pengen aku makan kamu sekarang. Tapi, nggak sinkron sama tempat kita sekarang. Pulang aja yuks lanjutin lagi di rumah." goda lay sambil mencubit pipi Zea gemas
"Kamu sih ngambekkan, tuh kan gara-gara kamu nih kita menjadi tontonan gratis karyawan. Hmmm,... yaudah yok kita pulang aja. Lagian aku juga sudah selesai belanja bajunya."
Lay beranjak dari tempat duduk butik menuju kasir untuk membayar semua belanjaan istrinya di butik, meskipun butik itu milik mertuanya. Bagi Lay business adalah business, keluarga adalah keluarga.
€€€€€